Coba ingat kembali terakhir kali kita mengikuti rapat di suatu perusahaan. Biasanya, ada tantangan yang harus diselesaikan atau target besar yang ingin dicapai.
Apa yang bisa kita kontribusikan saat itu? Apakah kita mampu mengemukakan ide yang strategis?
Kini, kemampuan berpikir strategis termasuk salah satu kompetensi yang paling dicari. Alasannya yakni, bagi individu yang mampu berpikir kritis, logis, dan strategis maka dapat memberikan dampak besar terhadap arah dan perkembangan bisnis. Tentu saja kita akan dilirik dan dibutuhkan untuk perkembangan karir. Yuk, simak!
Apa Itu Strategic Thinking?
Menurut Maree Conway (2013), penulis dari Thinking Futures, strategic thinking adalah cara seseorang mengenali, memikirkan, dan memahami berbagai kemungkinan yang bisa terjadi dengan memanfaatkan pengetahuan yang sudah dimiliki.
Kalau dijelaskan dengan lebih sederhana, strategic thinking itu adalah cara berpikir yang menggabungkan pola pikir kritis dan kreatif untuk menyelesaikan masalah sekaligus menyiapkan solusi jangka panjang. Jadi bukan cuma fokus pada masalah hari ini, tapi juga memikirkan langkah ke depan.
Punya kemampuan berpikir strategis itu sangat penting, apalagi di dunia kerja. Dengan skill ini, kamu bisa menghadapi tantangan yang kompleks, menyusun rencana yang lebih matang, bisa mencapai target bisnis, dan tetap relevan di tengah perubahan yang begitu cepat.
Apa Saja yang Mencakup Strategic Thinking?
1. Analisis Situasi Secara Menyeluruh secara Kritis
Langkah pertama dalam strategic thinking adalah memahami kondisi saat ini secara utuh. Artinya, kita tidak hanya melihat masalah saja, tapi juga mampu menggali data, membaca tren, serta mempertimbangkan risiko dan peluang. Misalnya, ketika penjualan menurun, strategic thinker tidak langsung menyalahkan tim marketing. Mereka akan melihat:
- Apakah ada perubahan perilaku konsumen?
- Apakah kompetitor menawarkan sesuatu yang lebih menarik?
- Apakah harga sudah tidak kompetitif?
- Bagaimana performa dari tiap channel penjualan?
Keputusan yang baik selalu berangkat dari data. Beberapa data yang biasanya dianalisis antara lain:
- Data penjualan dan pertumbuhan
- Tren pasar
- Performa kampanye
- Feedback dari customer
Baca juga: Risk Management: Definisi, Tujuan, dan Prinsipnya dalam Bisnis
2. Memiliki Visi Jangka Panjang
Selain itu, strategic thinking juga melibatkan visi jangka panjang. Artinya, seseorang atau organisasi memiliki tujuan yang jelas tentang arah yang ingin dicapai dalam beberapa tahun ke depan. Visi ini berfungsi sebagai kompas yang membantu menentukan prioritas dan menjaga konsistensi dalam setiap keputusan. Tanpa visi yang jelas, strategi cenderung bersifat datar dan mudah berubah mengikuti situasi.
3. Antisipasi Risiko dan Perencanaan Skenario
Strategic thinking juga melibatkan kemampuan memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.
Seorang strategic thinker sering bertanya:
- Bagaimana jika teknologi berubah?
- Bagaimana jika biaya produksi naik?
- Bagaimana jika kompetitor menurunkan harga?
Daripada menunggu masalahnya muncul, seorang strategic thinker sudah menyiapkan rencana cadangan. Pendekatan ini sering disebut sebagai perencanaan skenario atau “what if analysis”.
4. Kemampuan Memecahkan Masalah Secara Kreatif
Strategic thinking juga mencakup pemecahan masalah yang kreatif. Tidak hanya mampu mengidentifikasi hambatan, tetapi juga merancang solusi inovatif yang relevan dan realistis. Kreativitas di sini tetap didasarkan pada logika dan tujuan jangka panjang, sehingga solusi yang dihasilkan tidak hanya menarik, tetapi juga berdampak. Makanya, yuk mulai berlatih problem solving!
Baca juga: 17 Contoh Problem Solving dalam Perusahaan
5. Pengambilan Keputusan Jangka Panjang
Selanjutnya, ada kemampuan pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil tidak hanya mempertimbangkan hasil instan, tetapi juga efek jangka panjang terhadap bisnis, reputasi, maupun keberlanjutan organisasi. Pendekatan ini membantu menghindari keputusan yang terlihat menguntungkan dalam jangka pendek namun berisiko di masa depan.
Sebagai contoh, diskon besar memang bisa meningkatkan penjualan dalam jangka pendek. Namun jika dilakukan terus-menerus, hal tersebut bisa menurunkan persepsi nilai brand dan margin keuntungan.
Karena itu, strategic thinker selalu mempertimbangkan dampak jangka panjang sebelum mengambil keputusan.
6. Melihat Bisnis sebagai Sebuah Sistem
Terakhir, strategic thinking menuntut sistem perspektif, yaitu kemampuan melihat keterkaitan antarbagian dalam sebuah organisasi atau situasi. Setiap keputusan dipahami memiliki dampak pada aspek lain, sehingga pertimbangan dilakukan secara menyeluruh dan tidak terkotak-kotak. Dengan memahami hubungan ini, strategi yang dibuat menjadi lebih selaras, terintegrasi, dan efektif.
Baca juga: 12+ Karakteristik Seorang Critical Thinker
Siapa yang Biasanya Harus Menjadi Strategic Thinker?

Ternyata tak hanya posisi tertentu yang harus bisa berpikir strategis, lho. Siapa saja yang umumnya memiliki skill ini dalam suatu perusahaan?
1. Manager
Manajer sangat membutuhkan strategic thinking karena mereka bertanggung jawab mengarahkan tim menuju target yang telah ditetapkan. Seorang manajer tidak cuma fokus pada penyelesaian tugas harian, mereka harus mampu merencanakan langkah jangka panjang, mengantisipasi hambatan, serta memastikan strategi tim selaras dengan visi perusahaan. Tanpa pola pikir strategis, manajemen tim akan cenderung reaktif dan kurang terarah.
2. Marketers
Di bidang pemasaran, strategic thinking membantu para marketer merancang strategi yang tidak hanya kreatif, tetapi juga efektif dan berkelanjutan. Mereka perlu memahami tren pasar, perilaku konsumen, hingga pergerakan kompetitor sebelum menentukan kampanye. Jika mereka punya pendekatan strategis, keputusan marketing akan didasarkan pada analisis dan tujuan bisnis jangka panjang.
3. Procurement and Logistics
Untuk tim pengadaan dan logistik, strategic thinking membantu menjaga operasional tetap stabil. Rantai pasok itu sensitif, sedikit gangguan bisa berimbas ke banyak hal. Dengan perencanaan yang matang dan antisipasi risiko, proses distribusi bisa lebih efisien dan risiko kerugian bisa ditekan.
4. Investment and Finance
Di bidang investasi dan keuangan, berpikir strategis hampir seperti kebutuhan dasar. Setiap keputusan menyangkut angka besar dan risiko nyata. Analisis pasar, manajemen risiko, sampai perhitungan pertumbuhan harus dilakukan dengan pertimbangan yang matang. Salah langkah sedikit saja bisa efeknya panjang.
5. Budgeting
Dalam penyusunan anggaran pun begitu. Menentukan prioritas dan membagi sumber daya butuh pertimbangan yang jernih. Anggaran yang disusun dengan pola pikir strategis akan lebih terarah dan mendukung tujuan yang ingin dicapai, bukan sekadar membagi-bagi angka supaya terlihat seimbang.
Elemen Berpikir Strategis
- System Perspective, yaitu kemampuan untuk melihat serta memahami keterkaitan hubungan di dalam organisasi maupun hubungannya dengan pihak eksternal.
- Intelligent Opportunism, yakni sikap terbuka terhadap berbagai ide dan masukan sebagai bahan dalam menyusun strategi ketika menghadapi perubahan.
- Thinking in Time, yaitu kemampuan merancang strategi untuk tujuan masa depan dengan mempertimbangkan pembelajaran dan pengalaman di masa lalu.
- Hypothesis Driven, berarti menyusun hipotesis lalu mengujinya melalui analisis yang dipadukan dengan intuisi dalam proses perencanaan, serta menggunakan pemikiran kritis dan kreatif saat mengambil keputusan.
- Intent Focus, yaitu kemampuan menumbuhkan dan mengarahkan dorongan bertindak yang didasari oleh niat yang jelas.
Bagaimana Cara Berpikir Strategis?
.webp)
Berdasarkan Harvard Business School Online berikut adalah cara berpikir strategis yang bisa kita terapkan:
1. Ajukan Pertanyaan Strategis
Salah satu cara paling sederhana untuk mengasah kemampuan berpikir strategis adalah membiasakan diri mengajukan pertanyaan yang sifatnya strategis. Kebiasaan ini melatih kemampuan perencanaan, membantu melihat peluang, serta membentuk pola pikir yang lebih terarah dalam perjalanan karier kita.
Dalam program Disruptive Strategy dari Harvard Business School Online, pertanyaan strategis biasanya berkaitan dengan tantangan, peluang, atau ketidakpastian yang sedang dihadapi, baik dalam konteks pribadi maupun profesional. Misalnya saat ingin meluncurkan produk baru, menghadapi kompetitor, atau menyusun struktur organisasi agar lebih inovatif.
Yang terpenting, pertanyaan tersebut relevan dengan peran dan tanggung jawab kita sehingga bisa benar-benar ditindaklanjuti.
Contoh pertanyaan strategis misalnya:
- Bagaimana cara memposisikan diri secara tepat untuk masuk ke new market?
- Ke mana arah pertumbuhan tiap produk atau layanan?
- Dari mana sumber pertumbuhan organisasi dalam lima tahun ke depan, dan bagaimana perbandingannya dengan pola pertumbuhan sebelumnya?
- Bagaimana organisasi sebaiknya merespons ancaman dari kompetitor yang disruptif?
2. Amati dan Refleksikan
Mengajukan pertanyaan saja tidak cukup. Kita juga perlu menjawabnya dengan pendekatan yang matang. Salah satu cara efektif adalah dengan melakukan observasi dan refleksi terhadap kondisi yang sedang terjadi, agar strategi yang disusun berbasis fakta, bukan asumsi.
Bayangkan sebuah perusahaan mulai kehilangan pangsa pasar dari pelanggan lamanya, namun justru mendapatkan pelanggan baru dari segmen berbeda. Mudah sekali untuk langsung menebak penyebabnya. Sayangnya, asumsi yang keliru bisa membawa keputusan yang salah di momen penting.
Daripada terburu-buru menyimpulkan, kita perlu mengumpulkan informasi sebanyak mungkin sebelum menyusun strategi. Misalnya dengan melakukan wawancara pengguna untuk memahami alasan mereka memilih produk tersebut dan kebutuhan apa yang ingin mereka penuhi.
Memahami motivasi pelanggan baru dapat membantu kita menyesuaikan strategi pemasaran maupun pengembangan produk agar lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.
Baca juga: Apa Itu Analytical Thinking? Ketahui Contoh dan Cara Melatihnya!
3. Pertimbangkan Sudut Pandang yang Berlawanan
Setelah menemukan strategi yang dirasa tepat, jangan langsung merasa yakin sepenuhnya. Kita perlu menguji kembali asumsi yang digunakan dan melakukan pengujian secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada alternatif yang terlewat.
Mencoba melihat ide dari sudut pandang berbeda, bahkan berperan sebagai pihak yang kontra dapat membantu menemukan celah dalam argumen sendiri. Cara ini juga membuat kita lebih siap ketika strategi tersebut dipertanyakan oleh pihak lain, sekaligus mengasah kemampuan berpikir logis dan komunikasi.
Biasakan bertanya pada diri sendiri sebelum membuat pernyataan atau keputusan:
Apakah ada perspektif lain yang belum dipertimbangkan? Apakah ada kemungkinan lain yang terabaikan?
4. Ikuti Pelatihan Formal
Latihan mandiri tentu membantu meningkatkan kemampuan berpikir strategis secara bertahap. Namun dalam situasi tertentu, misal ketika organisasi menghadapi tantangan besar, kita sedang mempersiapkan diri untuk posisi baru, atau ingin membangun bisnis sendiri, maka pelatihan formal bisa menjadi pilihan yang tepat.
Salah satu contohnya adalah mengikuti Corporate Training dari Belajarlagi. Dalam program pelatihan karyawan ini, maka perusahaan sedang menyiapkan karyawan yang mampu berkompetisi dan berpikir strategis dalam membangun perusahaan.
Kesimpulan
Strategic thinking adalah kombinasi antara analisis, visi yang jelas, kreativitas dalam solusi, serta kemampuan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Kemampuan ini harus ada pada siapa pun yang ingin berkembang dalam karier dan menghadapi perubahan dengan lebih siap. Perusahaan juga harus peduli terhadap kemampuan ini, karena tak hanya posisi manajerial saja, tetapi hingga posisi staff yang tentu saja masih berperan dalam kemajuan perusahaan. Daftarkan perusahaan Anda ke Corporate Training Belajarlagi, sekarang!


.webp)


