- Jobdesk menjawab pertanyaan “apa yang dikerjakan”. Pertanyaan “bagaimana cara mengerjakannya” dijawab oleh SOP.
- Lima komponen inti jobdesk: nama posisi, tugas utama, tanggung jawab harian, target atau KPI, dan kualifikasi. Persyaratan administratif biasanya ditulis di bagian terpisah.
- Jobdesk menjelaskan apa yang dikerjakan, kualifikasi menjelaskan kemampuan yang perlu dimiliki, dan persyaratan menjelaskan syarat administratif untuk melamar.
- Skill dalam jobdesk terbaca lewat empat sinyal: keterampilan teknis, keterampilan nonteknis, tools, dan tingkat tanggung jawab.
- Kata “wajib” dan “diutamakan” punya bobot berbeda. Prioritaskan kualifikasi wajib dan skill yang muncul di tugas harian.
Jobdesk adalah rincian tertulis tentang tugas, tanggung jawab, dan cakupan pekerjaan pada suatu posisi di perusahaan. Bagi pelamar, jobdesk punya dua fungsi. Ia menjadi petunjuk skill yang dicari perusahaan, dan sekaligus alat untuk menilai apakah posisi itu cocok sebelum kamu melamar.
Banyak pelamar hanya membaca bagian ini sekilas, lalu langsung melompat ke persyaratan. Akibatnya, ada yang melamar posisi yang kurang sesuai, dan ada juga yang mundur dari posisi yang sebenarnya bisa dikejar. Artikel ini membahas jobdesk dari sisi pelamar, bukan dari sisi HR yang menyusun lowongan. Isinya meliputi komponen jobdesk, contohnya, bedanya dengan kualifikasi dan persyaratan, cara membacanya untuk menemukan skill yang dibutuhkan, serta cara menilai kecocokan diri.
Apa Itu Jobdesk?
Jobdesk adalah singkatan dari job description, yaitu dokumen yang merinci tugas, tanggung jawab, dan cakupan pekerjaan suatu posisi. Perusahaan memakai jobdesk untuk memperjelas ekspektasi kerja. Pelamar memakainya untuk memahami pekerjaan yang akan dijalani sebelum memutuskan melamar.
Jobstreet Indonesia mendefinisikan job description sebagai dokumen yang merinci tugas, tanggung jawab, kualifikasi, dan persyaratan untuk posisi tertentu. Menurut detikFinance, penulisan singkatan yang lebih tepat sebenarnya “job desc”. Meski begitu, bentuk “jobdesk” sudah umum dipakai sehari-hari. Istilah ini merupakan istilah praktik kerja dan bukan istilah baku yang diatur regulasi.
Fungsi jobdesk terlihat dari dua sisi:
- Bagi perusahaan, jobdesk memperjelas ekspektasi dan mengurangi risiko tugas yang tumpang tindih antarposisi.
- Bagi pelamar dan karyawan, jobdesk menjadi acuan untuk memahami apa yang akan dikerjakan dan bagaimana kinerja akan dinilai.
Jobdesk menjawab pertanyaan “apa yang dikerjakan”, sedangkan SOP menjawab “bagaimana cara mengerjakannya”. Jobdesk berfokus pada tugas dan tanggung jawab yang melekat pada jabatan. SOP berfokus pada tahapan kerja yang spesifik untuk satu proses. Jadi, satu jobdesk bisa terhubung dengan beberapa SOP.
Apa Saja Isi Jobdesk?
Jobdesk umumnya memuat lima komponen inti, yaitu nama posisi dan penempatan, tugas utama, tanggung jawab harian, target atau KPI, serta kualifikasi. Nama dan urutan komponen bisa berbeda antarperusahaan, tetapi pola intinya cenderung mirip, terutama untuk posisi yang sama.
- Nama posisi dan penempatan. Bagian ini menunjukkan level dan divisi, misalnya “Social Media Specialist, Divisi Marketing”.
- Tugas utama. Pekerjaan inti yang menjadi fokus posisi, misalnya menyusun strategi konten media sosial.
- Tanggung jawab harian. Kegiatan rutin yang membentuk ritme kerja, misalnya membuat laporan mingguan.
- Target atau KPI. Ukuran keberhasilan yang biasanya berupa angka. Glints memberi contoh meningkatkan engagement media sosial sebesar 20 persen dalam tiga bulan.
- Kualifikasi. Pendidikan, pengalaman, dan keterampilan yang dibutuhkan.
Perlu dicatat, tidak semua lowongan mencantumkan kelima komponen ini secara lengkap. KPI, misalnya, sering baru dijelaskan saat wawancara atau setelah kamu diterima. Selain itu, banyak lowongan menulis persyaratan administratif, seperti ijazah atau lama pengalaman, sebagai bagian terpisah dari jobdesk.
Contoh Jobdesk dan Cara Membacanya
Cara termudah memahami jobdesk adalah membedahnya per bagian. Contoh berikut memakai posisi Social Media Specialist dan menandai fungsi setiap baris. Dengan begitu, kamu bisa membedakan mana tugas, mana target, mana kualifikasi, dan mana syarat administratif.
Contoh ini merupakan ilustrasi yang disusun penulis berdasarkan pola umum lowongan pemasaran digital. Contoh ini bukan kutipan dari perusahaan tertentu.
Dengan memahami struktur ini, kamu tidak lagi membaca lowongan sebagai satu blok teks panjang. Setiap baris bisa dipilah menjadi informasi yang berguna untuk langkah berikutnya, yaitu menyusun daftar skill.
Beda Jobdesk, Kualifikasi, dan Persyaratan Kerja
Jobdesk menjelaskan apa yang akan dikerjakan, kualifikasi menjelaskan kemampuan yang perlu dimiliki, dan persyaratan menjelaskan syarat administratif untuk melamar. Ketiganya sering ditulis berdekatan dalam satu lowongan. Karena itu, ketiganya mudah tertukar, padahal fungsinya berbeda.
Banyak pencari kerja hanya membaca persyaratan lamaran kerja, lalu langsung urung melamar begitu ada satu poin yang belum terpenuhi. Pola ini terlihat dalam survei Tara Sophia Mohr terhadap lebih dari seribu responden yang dimuat Harvard Business Review pada 2014. Alasan yang paling banyak dipilih untuk tidak melamar ternyata bukan kurang percaya diri. Responden mengira kualifikasi yang tercantum harus dipenuhi seluruhnya agar bisa dipekerjakan.
Padahal, jobdesk dan kualifikasi biasanya lebih menentukan apakah posisi itu benar-benar cocok untukmu. Karena itu, baca ketiga bagian ini bersamaan agar gambaran lowongannya utuh.
Cara Membaca Jobdesk untuk Tahu Skill yang Dibutuhkan
Skill yang dicari perusahaan bisa diketahui dengan memilah setiap kalimat jobdesk ke dalam empat sinyal: keterampilan teknis, keterampilan nonteknis, tools, dan tingkat tanggung jawab. Setelah itu, tandai mana kualifikasi yang wajib dan mana yang hanya menjadi nilai tambah. Empat sinyal skill dalam jobdesk, yaitu:
- Keterampilan teknis. Sinyal ini, yang juga dikenal sebagai hard skill, terlihat dari aktivitas spesifik yang harus dilakukan. Misalnya, “menganalisis performa kampanye” berarti kamu perlu bisa mengolah dan membaca data.
- Keterampilan nonteknis. Sinyal ini terlihat dari kebutuhan komunikasi, koordinasi, dan pemecahan masalah. Kalimat “berkoordinasi dengan tim desain dan sales” berarti kamu perlu terbiasa bekerja lintas tim.
- Tools. Nama perangkat lunak yang disebut di lowongan adalah skill paling konkret dan paling mudah dibuktikan, misalnya spreadsheet, aplikasi desain, atau platform analitik.
- Tingkat tanggung jawab. Sinyal ini dilihat dari cakupan pekerjaan, seberapa mandiri kamu mengambil keputusan, apakah kamu membawahi orang lain, dan seberapa besar dampak hasil kerjamu. Kata kerja hanya bisa menjadi petunjuk awal, bukan penentu. “Membantu” dan “melaksanakan” cenderung menandakan peran pelaksana. Namun, “mengelola” atau “menyusun strategi” belum tentu berarti posisi senior. Mengelola satu akun media sosial jelas berbeda dengan mengelola anggaran pemasaran seluruh divisi.
Selain itu, bedakan kualifikasi wajib dan nilai tambah. Kata seperti “wajib”, “harus”, dan “minimal” menandakan syarat yang sulit ditawar. Frasa “diutamakan”, “nilai plus”, atau “menjadi keuntungan” biasanya menandakan kualifikasi tambahan yang tidak mutlak. Membedakan keduanya membantumu memutuskan kapan tetap layak melamar meski belum memenuhi semua poin.
Langkah menyusun daftar skill dari satu lowongan, di antaranya:
- Salin teks jobdesk ke catatan. Pakai teks asli lowongan yang kamu incar, bukan ringkasannya.
- Tandai setiap kata kerja dan nama tools. Kata kerja menunjukkan skill, sedangkan nama tools menunjukkan alat yang perlu dikuasai.
- Kelompokkan hasilnya menjadi skill teknis, skill nonteknis, dan tools.
- Beri label prioritas pada setiap poin: wajib atau nilai tambah.
Contoh hasilnya, memakai jobdesk Social Media Specialist di atas:
Daftar inilah yang kamu bandingkan dengan kemampuanmu sendiri di tahap berikutnya.
Cara Menilai Apakah Kamu Cocok dengan Jobdesknya
Untuk menilai kecocokan, bandingkan daftar skill dari jobdesk dengan kemampuanmu sendiri. Kelompokkan setiap skill menjadi tiga: sudah dikuasai, sebagian dikuasai, dan belum dikuasai. Fokuskan penilaian pada kualifikasi wajib dan skill yang muncul di tugas harian, bukan pada nilai tambah.
- Sudah dikuasai dan bisa dibuktikan. Kamu bisa menunjukkan hasil kerjanya, misalnya portofolio kerja, laporan, atau sertifikat.
- Pernah dipakai, tetapi belum mendalam. Kamu paham dasarnya, tetapi belum pernah memakainya untuk pekerjaan nyata.
- Belum pernah sama sekali. Skill ini perlu dipelajari dari nol.
Kamu tidak harus memenuhi setiap kualifikasi yang tercantum untuk mempertimbangkan sebuah lowongan. Lowongan sering ditulis sebagai gambaran kandidat ideal. Glints menyebut, jika kamu memiliki 70–80 persen dari kriteria inti, peluangmu tetap besar. Angka ini sebaiknya dibaca sebagai patokan kasar, bukan aturan yang berlaku untuk semua posisi.
Yang lebih menentukan adalah poin mana yang belum kamu penuhi. Kekurangan pada nilai tambah biasanya masih bisa ditoleransi. Sebaliknya, kekurangan pada kualifikasi wajib atau skill inti tugas harian jauh lebih berisiko.
Jobdesk adalah petunjuk ekspektasi kerja, bukan gambaran lengkap pekerjaan sehari-hari. Ada lowongan yang tidak mencantumkan KPI. Ada yang hanya menyebut sebagian tools. Ada juga yang menulis tugas secara umum karena dipakai untuk beberapa posisi sekaligus. Jika ada bagian yang tidak jelas, tanyakan saat interview user, misalnya “Seperti apa ukuran keberhasilan posisi ini di tiga bulan pertama?”
Cara Menutup Skill Gap Sebelum Melamar
Skill gap bisa ditutup dengan dua cara. Pertama, pelajari skill yang belum dikuasai. Kedua, siapkan bukti untuk skill yang sudah dikuasai tetapi belum terdokumentasi. Bukti itu bisa berupa portofolio, proyek latihan meski belum punya pengalaman kerja, pengalaman relevan, atau sertifikasi kompetensi bila posisinya membutuhkan.
Untuk skill yang sudah kamu kuasai, bukti yang bisa diverifikasi pihak luar akan lebih meyakinkan perekrut. Salah satunya adalah sertifikat kompetensi kerja dari sertifikasi profesi. Menurut Permenakertrans No. 11 Tahun 2013, sertifikat kompetensi kerja adalah bukti tertulis yang diterbitkan lembaga sertifikasi profesi terakreditasi, yang menerangkan bahwa seseorang telah menguasai kompetensi kerja tertentu sesuai SKKNI. Peraturan yang sama mendefinisikan SKKNI sebagai rumusan kemampuan kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan.
Artinya, standar yang diujikan dalam sertifikasi BNSP berbasis SKKNI berkaitan langsung dengan isi jobdesk. Meski begitu, sertifikasi bukan satu-satunya bentuk bukti, dan tidak semua posisi mensyaratkannya. Setelah buktinya siap, masukkan ke CV dengan bahasa yang mengikuti kata kunci di jobdesk agar lolos ATS. Kamu bisa menyusunnya dengan aplikasi pembuat CV gratis dari Belajarlagi.
Jadi, jobdesk sebaiknya dibaca bukan hanya untuk menilai apakah kamu memenuhi syarat. Jobdesk juga menunjukkan arah pengembangan dirimu berikutnya.

Jika kamu ingin memvalidasi kemampuan lewat jalur sertifikasi, CertiHub by Belajarlagi menyediakan program sertifikasi kompetensi dengan pendampingan, mulai dari persiapan materi hingga uji kompetensi. Untuk posisi seperti Social Media Specialist pada contoh di atas, pilihannya antara lain Sertifikasi BNSP Digital Marketing dan Meta Digital Marketing Associate. Pilih sertifikasi yang sesuai dengan posisi yang kamu tuju, lalu periksa cakupan kompetensi dan lembaga penerbitnya sebelum mendaftar.





