- Peran utama manajer dalam organisasi adalah memastikan sumber daya manusia dan proses bekerja selaras guna mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
- Ada tiga kategori peran manajer menurut Mintzberg: peran interpersonal, peran informasional, dan peran pengambilan keputusan.
- AI tidak serta-merta menghapus peran manajer dalam organisasi, tetapi bobot perannya bergeser. Manajer makin berperan mengawasi, menguji, dan memvalidasi pekerjaan AI, dengan tingkat perubahan yang berbeda di tiap organisasi.
- Tiga keterampilan yang perlu dikuasai manajer di era AI, yaitu literasi AI yang cukup, kemampuan mendiagnosis proses, dan kemampuan merancang pengawasan.
Peran manajer dalam organisasi mencakup merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengontrol proses kerja guna mencapai tujuan tertentu. Namun, ketika sebagian pekerjaan eksekusi mulai beralih ke AI, fungsi manajer pun dipertanyakan: apakah AI dapat menggantikan peran manajer?
Jawabannya tidak sesederhana itu. Menurut Gartner (2026), 75% CHRO melaporkan bahwa manajer lebih kewalahan daripada sebelumnya, sementara manajer juga makin berperan mengawasi kerja agen AI. Pada artikel ini, Anda akan mendalami peran manajer dalam organisasi menurut Mintzberg, bagian mana yang mulai bergeser karena AI, hingga keterampilan yang dibutuhkan.
Apa Saja Peran Manajer dalam Organisasi
Peran utama manajer dalam organisasi adalah memastikan sumber daya manusia dan proses bisnis bekerja selaras guna mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Untuk menjalankannya, manajer memakai empat fungsi utama, yaitu perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian. Penjelasan lengkap tentang tugas, peran, dan skill manajer dapat Anda baca terpisah, sedangkan ringkasan keempat fungsinya adalah sebagai berikut:

- Perencanaan: menetapkan tujuan, prioritas, dan strategi yang akan ditempuh tim.
- Pengorganisasian: membagi pekerjaan dan mengalokasikan sumber daya, termasuk anggaran, waktu, dan orang.
- Kepemimpinan: mengarahkan, memotivasi, dan menyelesaikan konflik di dalam tim.
- Pengendalian: memantau kerja, mengevaluasi hasil, dan melakukan koreksi bila hasil menyimpang dari target.
Dalam mengambil keputusan, manajer menjadi titik temu informasi dari banyak arah. Dari titik inilah keputusan seperti alokasi sumber daya, penentuan prioritas, hingga penanganan situasi tak terduga diambil. Misalnya, ketika anggaran kuartal tiba-tiba dipangkas, manajer harus memutuskan proyek mana yang tetap berjalan, mana yang ditunda, dan bagaimana menyampaikan keputusan itu kepada tim tanpa menurunkan motivasi mereka.
Manajer juga memegang peran penting dalam perencanaan strategis, yaitu menerjemahkan arah organisasi yang besar menjadi rencana kerja kecil yang dijalankan anggota tim sehari-hari. Dari penjelasan tersebut, peran manajer berada di antara strategi dan eksekusi. Ketika cara kerja berubah, peran inilah yang paling besar terdampak dan berpotensi bergeser.
10 Peran Manajer Menurut Henry Mintzberg
Dalam buku The Nature of Managerial Work (1973), Henry Mintzberg menyebutkan 10 peran manajer yang dikelompokkan ke dalam tiga kategori: peran interpersonal, peran informasional, dan peran pengambilan keputusan. Kesepuluh peran ini menggambarkan apa yang benar-benar dilakukan manajer sehari-hari.

Peran interpersonal
- Figurehead: mewakili tim atau organisasi dalam acara dan urusan formal.
- Leader: memotivasi, membimbing, dan mengembangkan anggota tim.
- Liaison: membangun jejaring dengan pihak di luar tim untuk membuka akses informasi dan dukungan.
Peran informasional
- Monitor: mengumpulkan informasi tentang kondisi internal dan eksternal.
- Disseminator: menyebarkan informasi penting kepada anggota tim.
- Spokesperson: menyampaikan informasi tim kepada atasan, mitra, atau pihak luar.
Peran pengambilan keputusan
- Entrepreneur: memulai perubahan dan inisiatif baru untuk memperbaiki kinerja.
- Disturbance handler: menangani konflik dan situasi tak terduga.
- Resource allocator: memutuskan ke mana anggaran, waktu, dan tenaga dialokasikan.
- Negotiator: bernegosiasi dengan pihak internal maupun eksternal atas nama tim.
Anda mungkin mengira ketiga kategori ini berdiri sendiri-sendiri. Mintzberg justru menegaskan bahwa ketiganya saling terkait. Peran interpersonal membuka akses ke informasi, informasi itu menjadi bahan peran informasional, dan hasilnya dipakai untuk mengambil keputusan.
Contohnya, saat dua anggota tim berselisih soal pembagian tugas, manajer tidak bisa langsung memutuskan siapa yang benar. Ia perlu mendengar kedua pihak dan memahami konteksnya (peran leader), mengumpulkan fakta tentang beban kerja masing-masing (peran monitor), lalu menata ulang pembagian tugas (peran disturbance handler dan resource allocator). Cara manajer menjalankan peran leader pun sangat dipengaruhi oleh tipe kepemimpinan yang ia pilih.
Kerangka ini masih sangat relevan di era modern. Menariknya, 10 peran tersebut juga berguna untuk melihat bagian pekerjaan manajer mana yang paling terdampak oleh kehadiran AI.
Bagaimana AI Menggeser Sepuluh Peran Tersebut
AI tidak serta-merta menghapus peran manajer dalam organisasi, tetapi menggeser bobot perannya. Peran informasional paling terdampak, peran pengambilan keputusan berubah bentuk, dan peran interpersonal justru menguat karena makin sedikit pekerjaan manusiawi yang bisa diserahkan ke mesin.

- Peran informasional paling terdampak. AI mampu mengumpulkan, merangkum, dan mendistribusikan informasi lebih cepat, sehingga tugas manajer bergeser dari mencari informasi menjadi memeriksa apakah informasi tersebut akurat.
- Peran pengambilan keputusan berubah bentuk. AI bisa memberikan rekomendasi, tetapi manajer tetap menjadi pihak yang menimbang konteks, risiko, dan menanggung akibat keputusannya.
- Peran interpersonal justru menguat. Membangun kepercayaan, memotivasi, dan menengahi konflik tetap membutuhkan kehadiran manusia.
Jangan menganggap hadirnya AI agent yang mengubah cara dunia kerja otomatis meringankan kerja manajer. Gartner (2026) mencatat satu dari empat manajer akan melepaskan perannya jika diberi kesempatan, angka yang naik signifikan dibanding tahun sebelumnya. Di saat yang sama, manajer makin berperan sebagai auditor, penyelesai masalah (troubleshooter), dan titik eskalasi bagi agen AI, sebuah disiplin yang disebut AgentOps. Peran ini berbeda dari sekadar memakai asisten AI, seperti dijelaskan di perbedaan AI copilot dan AI agent.
Dalam artikel Harvard Business Review (Februari 2026), Suraj Srinivasan dan Vivienne Wei memperkenalkan peran agent manager, yaitu pemimpin yang mengelola bagaimana agen AI dilatih, berkoordinasi dengan agen lain dan manusia, dipantau kinerjanya, serta dijaga keamanannya dalam tim campuran manusia dan AI. Artinya, manajer masa kini perlu terampil memimpin manusia sekaligus teknologi. Pendekatan praktisnya dibahas di cara memimpin tim di era agentic AI, dan pergeseran serupa di level eksekutif terlihat dari munculnya Chief AI Officer.
Meski begitu, besarnya pergeseran ini tidak sama di setiap organisasi. Manajer di perusahaan teknologi atau layanan keuangan yang sudah memakai agen AI akan merasakannya lebih cepat dibanding manajer di sektor manufaktur atau UMKM yang proses kerjanya masih banyak dilakukan secara manual. Ukuran perusahaan, jenis pekerjaan, dan tingkat kesiapan AI perusahaan ikut menentukan seberapa jauh peran manajer berubah.
Kesimpulannya, pergeseran ini bukan pengurangan tanggung jawab, melainkan penambahan lapisan baru di atas peran yang sudah ada.
Apa yang Tetap Harus Diputuskan Manajer
Manajer tetap harus memegang keputusan yang menyangkut nasib orang, kepatuhan terhadap regulasi, situasi yang belum pernah terjadi, dan pertimbangan etika. AI dapat membantu menyiapkan analisis, tetapi tanggung jawab atas keputusan semacam ini tidak bisa dipindahkan ke teknologi.
Menurut McKinsey, lebih dari separuh waktu manajer saat ini habis untuk pekerjaan administratif atau pekerjaan individu yang sebenarnya bukan tugas manajerial. Jika sebagian pekerjaan administratif itu berhasil dikurangi lewat AI, waktu yang terbebas kemungkinan besar dialihkan untuk coaching dan kontrol kualitas, bukan sekadar dipangkas. Di sinilah manajer punya ruang untuk mengevaluasi hasil dan memutuskan dengan lebih tepat. Meski begitu, sebaiknya keputusan dengan kriteria berikut tidak didelegasikan ke AI:
- Keputusan yang berdampak pada karier atau kesejahteraan karyawan dan pihak lain
- Keputusan yang berkaitan dengan regulasi atau kepatuhan
- Keputusan untuk kondisi luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya
- Keputusan yang memerlukan pertimbangan etika dan nilai
Contohnya, AI merekomendasikan pemangkasan anggaran promosi di satu wilayah karena penjualannya turun dua kuartal berturut-turut. Secara data, rekomendasi itu masuk akal. Namun, manajer yang memahami kondisi lapangan tahu bahwa penurunan tersebut terjadi karena distributor utama sedang berganti, bukan karena permintaan melemah. Manajer pun menahan rekomendasi AI, mengonfirmasi penyebabnya ke tim sales, lalu mencatat konteks tersebut agar analisis berikutnya lebih akurat.
Inilah pentingnya human in the loop, yaitu manusia tetap berperan di tengah proses dan praktik penggunaan AI, sehingga tidak ada AI yang sepenuhnya otonom tanpa intervensi manusia. Organisasi sebaiknya sejak awal menentukan di titik mana persetujuan manusia diperlukan, seperti yang dibahas di cara manusia dan AI agent bekerja sama.
Implikasinya, span of complexity ikut meluas. Menurut Gartner, kompleksitas bergantung pada berapa banyak agen yang beroperasi, seberapa otonom mereka, dan seberapa erat hasilnya terkait risiko bisnis. Karena itu, yang perlu dihitung bukan hanya jumlah bawahan, tetapi juga beban kompleksitas dari agen AI di dalam tim.
Menyerahkan terlalu banyak pekerjaan ke AI sekaligus justru berisiko, sehingga AI perlu diuji coba secara berkala sebelum otonominya diperluas. Pada akhirnya, nilai tertinggi seorang manajer terlihat saat ada keputusan yang tidak bisa diserahkan ke teknologi mana pun.
Keterampilan yang Dibutuhkan Manajer di Era AI
Selain keterampilan manajerial dasar, ada tiga keterampilan yang perlu dikuasai manajer di era AI, yaitu literasi AI yang cukup, kemampuan mendiagnosis proses, dan kemampuan merancang pengawasan. Ketiganya makin penting karena skill kerja yang berubah makin cepat:
- Literasi AI yang cukup. Ini bukan tentang membangun sistem AI, melainkan memahami tugas mana yang layak dibantu AI dan mana yang tidak, serta kapan hasilnya bisa dipercaya. Pelajari lebih lanjut di cara verifikasi output AI agar tidak terjebak halusinasi AI.
- Mendiagnosis proses. Manajer harus mampu menganalisis alur kerja yang bermasalah dan menentukan bagian yang benar-benar butuh bantuan AI, bukan sekadar memakai tools yang sedang tren, sebagaimana prinsip AI untuk bisnis yang dimulai dari masalah, bukan dari tools. Langkah awalnya adalah business process mapping untuk menemukan titik AI di tim Anda.
- Merancang pengawasan. Penggunaan AI tetap perlu pengawasan, sehingga manajer perlu menentukan titik yang butuh tinjauan manusia dan bagaimana masalah dieskalasi.
Anda dapat mengadaptasi L.E.A.D by Belajarlagi, yaitu framework empat fase untuk transformasi bisnis berbasis AI yang membantu manager bergerak dari memahami konteks bisnis, mengidentifikasi dan memprioritaskan masalah yang paling bernilai, merancang solusi berbasis AI, hingga mengimplementasikan dan mengukur dampaknya. Keempat fasenya adalah:
- Look Beyond AI: memahami konteks bisnis dan prioritas strategis.
- Explore What Matters: mengidentifikasi dan memprioritaskan masalah yang paling bernilai.
- Architect: merancang transformasi berbasis AI.
- Deliver Impact: mengimplementasikan solusi dan mengukur dampaknya.
Dari pembahasan ini, manajer tidak serta-merta tergantikan oleh AI. Perannya justru naik tingkat, sehingga manajer perlu mempersiapkan diri lewat reskilling dan upskilling agar tetap relevan di era AI.

Setelah memahami perubahan peran ini, Anda membutuhkan keterampilan untuk menerjemahkannya ke dalam keputusan organisasi, dan itu perlu pembelajaran yang terstruktur. Untuk tim yang ingin memulai, panduan pelatihan AI untuk karyawan perusahaan bisa jadi titik awal. Jika Anda mencari pendalaman khusus bagi manajer, program Strategic AI for Managers: Business Transformation membantu mengidentifikasi masalah operasional, menemukan bottleneck, dan menentukan peluang AI yang paling layak dijalankan.
Informasi lebih lengkap dapat Anda cek di Strategic AI for Managers: Business Transformation.
.avif)




