- The Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum menunjukkan bahwa sebelum tahun 2030, 59% tenaga kerja di dunia memerlukan peningkatan dan pelatihan ulang terkait dengan tuntutan skill yang terus meningkat.
- Reskilling adalah proses pembelajaran keterampilan baru guna menjalankan peran yang berbeda di pekerjaan (pindah karier).
- Sementara, upskilling artinya mempelajari keterampilan yang lebih tinggi tingkatannya agar kian mahir di peran yang ditekuni saat ini (naik level).
- Pelajari langkah menyusun program reskilling maupun upskilling sekaligus cara mengukur dampak keberhasilannya.
Reskilling dan upskilling adalah dua strategi yang kini wajib HR miliki untuk mengembangkan sumber daya manusia yang ada di perusahaan. The Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum menunjukkan bahwa sebelum tahun 2030, 59% tenaga kerja di dunia memerlukan peningkatan dan pelatihan ulang terkait dengan tuntutan skill yang terus meningkat. Jika perusahaan enggan mengembangkan timnya, besar kemungkinan bisnis tersebut akan mengalami kemunduran akibat lemahnya talenta yang ada.
Di sisi lain, banyak pebisnis menganggap reskilling dan upskilling adalah hal yang sama. Padahal, tujuan dari keduanya sejatinya benar-benar berbeda. Artikel kali ini akan membahas mendalam mengenai reskilling dan upskilling, apa pentingnya bagi HR, langkah menyusun programnya, hingga cara mengukur dampaknya bagi bisnis.
Pengertian Reskilling dan Upskilling serta Perbedaannya
Secara definisi, reskilling adalah proses pembelajaran keterampilan baru guna menjalankan peran yang berbeda di pekerjaan (pindah karier). Sementara, upskilling artinya mempelajari keterampilan yang lebih tinggi tingkatannya agar kian mahir di peran yang ditekuni saat ini (naik level).
Anda bisa lebih mudah membedakan keduanya dengan contoh spesifik. Misalnya, seorang marketer belajar mengenai AI marketing untuk meningkatkan perannya, hal tersebut dinamakan upskilling. Sementara, staf administrasi yang belajar tentang analisis data merupakan contoh dari reskilling (pindah jalur dari staf admin ke data analyst).
Sebagai HR, proses pengembangan mana yang sebaiknya Anda pilih? Reskilling umumnya punya tujuan jangka panjang untuk menyiapkan talenta dari peran yang menyusut ke peran yang sedang bertumbuh. Di sisi lain, upskilling bertujuan memperkuat peran karyawan di posisi saat ini. Jadi, entah itu reskilling atau upskilling, Anda harus melihat tujuannya.
Berikut tabel perbandingan perbedaan reskilling dan upskilling yang akan mempermudah pemahaman Anda:

Mengapa Reskilling dan Upskilling Wajib bagi HR di Era AI
Peningkatan teknologi melalui AI dan otomatisasi berdampak pada perubahan kebutuhan skill dalam bekerja, bahkan lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya. World Economic Forum sendiri menyebut setidaknya ada 39% skill inti yang berubah sebelum tahun 2030 (The Future of Jobs Report 2025). Ini menandakan betapa pentingnya melakukan pengembangan keterampilan, terutama jika ingin mempertahankan bisnis jangka panjang.
Berkenaan dengan transformasi skill sebelum 2030 tersebut, sebanyak 59% karyawan dunia memerlukan peningkatan melalui upskilling maupun reskilling. Pasalnya, gap skill menjadi hambatan besar dalam transformasi bisnis. Data World Economic Forum menunjukkan 85% tenaga kerja di dunia lebih memprioritaskan upskilling guna beradaptasi dengan perubahan di masa mendatang.
Perusahaan yang terbiasa mengembangkan keterampilan bagi karyawan tidak hanya memperoleh manfaat peningkatan produktivitas. Merujuk pada data dari SHRM, program pengembangan karyawan dapat turut mereduksi biaya rekrutmen talenta baru sehingga bisa hemat hingga $2,5 miliar. Mengembangkan sumber daya internal jauh lebih efisien daripada mengeluarkan banyak biaya untuk merekrut talenta eksternal.
Dari situ, Anda bisa melihat bagaimana reskilling maupun upskilling dapat menjadi sebuah investasi dengan ROI yang jelas terukur. Maka, salah besar jika Anda selama ini memandang program pengembangan karyawan hanya dari kacamata biaya saja. Perhatikan pula manfaat jangka panjang yang dapat perusahaan dapatkan.
Langkah Menyusun Program Reskilling dan Upskilling
Reskilling dan upskilling adalah upaya terbaik untuk memangkas kesenjangan keterampilan yang muncul di perusahaan. Berikut beberapa cara menyusun program pengembangan yang dapat Anda adaptasikan ke perusahaan:
1. Analisis Kebutuhan Skill
Anda perlu membandingkan skill apa yang dikuasai saat ini dan apa yang dibutuhkan pada masa mendatang. Sebelum melakukan pemetaan, coba lemparkan beberapa pertanyaan kritis terkait kebutuhan skill. Misalnya, Seperti apa strategi bisnis 5 tahun mendatang? Teknologi apa saja yang akan dipakai (AI, cloud, dan lain-lain)? Skill apa yang makin berkurang penggunaannya? Skill apa yang akan menjadi kebutuhan utama?
Gap skill dapat Anda petakan dari berbagai metode seperti evaluasi kinerja, wawancara manajer, asesmen kompetensi, dan lain-lain. Berikut contoh hasil pemetaan kebutuhan skill:

Untuk membekali tim dengan skill AI, arahkan ke penerapan seperti cara pakai Claude AI untuk kerja.
2. Petakan Sumber Daya dan Tentukan Prioritas
Jangan buru-buru membuat program reskilling maupun upskilling sebelum Anda memetakan talenta yang ada di perusahaan. Pahami karyawan mana yang memerlukan reskilling dan karyawan mana yang lebih tepat memperoleh upskilling. Misalnya, desainer grafis butuh reskilling dalam mempelajari pembuatan desain dengan AI tools. Sementara, staf admin mulai butuh upskilling menjadi AI operations specialist.
Setelah memetakan sumber daya, tentukan prioritas pengembangan program yang hendak Anda susun. Tujuannya agar investasi pelatihan lebih tepat sasaran. Anda bisa menentukan prioritas dari beberapa faktor seperti urgensi kebutuhan, kesiapan belajar, hingga dampak terhadap bisnis.
Petakan talenta yang paling siap dikembangkan lewat talent mapping untuk mengidentifikasi karyawan potensial.
3. Buat Rancangan Program
Langkah selanjutnya adalah Anda mulai menyusun rancangan program. Umumnya, Anda akan merumuskan tiga hal penting dalam program pengembangan karyawan, yaitu materi, metode, dan jadwal.
Penyusunan materi harus berdasarkan kebutuhan keterampilan yang dibutuhkan. Untuk metode, pastikan berbasis teori sekaligus praktik. Jadwal program juga mesti Anda buat dengan cermat agar setidaknya tidak mengganggu operasional kerja karyawan.
Susun rancangan program secara terukur lewat 5 cara menyusun program pelatihan karyawan yang terukur.
4. Eksekusi Program dengan Metode Paling Efektif
Salah satu kesalahan umum yang terjadi dalam pelatihan reskilling dan upskilling adalah menjadikannya sebagai sesi ceramah satu arah. Karyawan memang memperoleh pengetahuan baru, tetapi metode tersebut kurang aplikatif untuk pekerjaan. Maka, tugas Anda adalah mengeksekusi program melalui pembelajaran langsung. Manfaatkan hands-on maupun studi kasus nyata untuk membangun keterampilan karyawan secara lebih nyata.
Hindari ceramah satu arah. Gabungkan teori dan praktik lewat metode blended learning untuk corporate training.
5. Ukurlah Dampak Program dan Lakukan Iterasi
Tugas Anda tidak berhenti saat pelatihan selesai. Setelah itu, Anda perlu mengukur dampak pelatihan tersebut ke kinerja karyawan. Cek apakah ada perubahan dalam bekerja melalui beberapa indikator seperti perilaku, produktivitas, pembelajaran, hingga efisiensi bisnis.
Evaluasi harus Anda lakukan secara kontinu agar bisa melakukan perbaikan di area-area yang dianggap kurang. Misalnya, cek apakah metode sudah berjalan efektif, seberapa relevan materi ke aplikasi pekerjaan, skill baru apa yang sekarang dibutuhkan, dan sebagainya.
Ingat, sebuah program reskilling dan upskilling disebut berhasil ketika mengandung unsur praktik nyata dan memberikan hasil yang terukur. Belajarlagi merangkum pendekatan ini sebagai Belajarlagi Practice-First Method, yaitu metode belajar yang menempatkan praktik langsung, studi kasus nyata, dan hands-on assignment di depan, sehingga peserta belajar dengan mengerjakan, bukan sekadar mendengar.
Analisis kebutuhan skill adalah inti training needs analysis, cara menemukan gap kinerja sebelum menyusun program.
Membangun Budaya Belajar agar Program Berkelanjutan
Reskilling adalah upaya tepat meningkatkan kemahiran karyawan dalam bekerja. Di sisi lain, upskilling adalah cara terbaik bagi HR untuk meningkatkan retensi karyawan sekaligus menghemat biaya rekrutmen. Keduanya memang penting dan harus didukung pula dengan budaya belajar di perusahaan yang berkelanjutan.
Budaya belajar tersebut dapat dibangun melalui beberapa cara:
- Dukungan pemimpin. Suka tidak suka, pemimpin mesti menjadi contoh. Jika pimpinan eksekutif maupun manajerial menunjukkan sikap suka belajar, maka program belajar di perusahaan dapat berjalan dengan lebih mudah.
- Ketersediaan waktu dan akses belajar. HR dapat memberikan akses ke platform belajar tertentu bagi karyawan. Karyawan mengalokasikan waktunya sendiri per minggu dan rutin membagikan apa yang dipelajarinya ke rekan kerja lain.
- Pemberian penghargaan atas pengembangan diri. Penghargaan tidak hanya diberikan karena pencapaian. Budaya memberi penghargaan bagi karyawan yang aktif mengembangkan diri dapat memantik budaya belajar berkelanjutan secara lebih efektif.
- Menjadikan belajar jadi bagian keseharian. Belajar tidak harus berupa kelas formal. Karyawan dapat belajar dengan sesama rekan kerja lain setiap hari. Entah itu melalui diskusi, obrolan, atau penyelesaian masalah di dalam tim.
Pendekatan pengembangan tim melalui program belajar tersebut sejalan dengan budaya kerja Belajarlagi sendiri, yang kami sebut GROW Framework by Belajarlagi, yaitu empat nilai kerja yang menjadi budaya Belajarlagi: Growth Mindset, Respect & Radical Candor, Obsess Over Customers, dan Win Together. Nilai Win Together, misalnya, memperkuat retensi karena tim yang saling suportif cenderung lebih betah.
Budaya belajar yang berkelanjutan adalah fondasinya. Bangun lewat learning culture, strategi membangun tim adaptif.
Cara Mengukur Keberhasilan Program Reskilling dan Upskilling
Keberhasilan program reskilling maupun upskilling tidak terukur dari bagaimana aktivitasnya saja. Anda mesti jeli mengukur dampaknya melalui beberapa metrik seperti:
- Tingkat penyelesaian pelatihan. Training completion rate biasanya meliputi persentase peserta yang menyelesaikan materi, tingkat penyelesaian tugas, jumlah peserta yang lulus assessment, dan sebagainya. Namun, pahami bahwa angka di sini hanya berada di area penyelesaian pelatihan, bukan penguasaan skill baru.
- Peningkatan skill. Cara Anda mengukur peningkatan skill karyawan salah satunya adalah dengan pre test dan post test. Ada juga assessment berbasis observasi untuk melihat aplikasi keterampilan di pekerjaan.
- Penerapan di pekerjaan. Amati indikator seperti kemampuan memakai teknologi baru, kemampuan menyelesaikan tugas baru, peningkatan kualitas kerja, dan sebagainya. Pengamatan ini bisa Anda peroleh dari observasi atasan, laporan kerja, penilaian kinerja, dan sebagainya.
- Produktivitas. Pengukuran dampak program ke produktivitas dapat Anda lihat dari beberapa indikator bisnis seperti kualitas pekerjaan, target penjualan, jumlah kesalahan kerja, dan lain-lain.
- Retensi. Umumnya program pengembangan karyawan akan berdampak ke retensi karyawan. Ukur pula dampaknya ke angka turnover, peningkatan promosi, keterlibatan karyawan, hingga kesiapan suksesi.
- ROI. Jika Anda memandang program reskilling dan upskilling sebagai investasi, maka jangan lupa ukur ROI secara nyata. Biaya investasi bisa mencakup pengeluaran untuk melakukan pelatihan secara terstruktur dan menyeluruh. Sementara, manfaatnya dapat berupa berkurangnya kebutuhan merekrut tenaga baru sehingga menghemat biaya.
Ukur ROI secara nyata lewat cara mengukur ROI training karyawan dengan metode Kirkpatrick dan Phillips.
Beberapa contoh pengukuran tersebut merupakan bagian dari Impact-Proof Program dari Belajarlagi, yaitu setiap program dilengkapi pengukuran dampak terukur (pre-test dan post-test, skor CSAT dan NPS, serta data sebelum dan sesudah), sehingga hasilnya dapat dibuktikan, bukan sekadar diklaim.
Untuk membangun fleksibilitas lintas peran, padukan dengan cross training karyawan.
Program reskilling dan upskilling adalah bukti nyata dari kerja HR yang dapat turut berkontribusi pada pengembangan perusahaan. Dengan era AI yang makin deras, Anda sebagai HR mesti bersiap-siap menyiapkan karyawan dengan skill baru yang paling dibutuhkan.
Anda tidak perlu cemas dalam menyusun program reskilling dan upskilling yang terukur. Jadikan Corporate Training Belajarlagi sebagai partner terbaik Anda dalam menyelenggarakan pelatihan bagi karyawan. Dengan metode pembelajaran berbasis praktik serta pengukuran dampak yang jelas, Corporate Training Belajarlagi siap membantu Anda. Untuk berkonsultasi terkait Corporate Training, silakan cek di Corporate Training Belajarlagi.
.webp)




