- McKinsey & Company menyebut sebanyak 81% dari 88% perusahaan yang memakai AI gagal melihat dampak bottom-line di pekerjaan. Hanya sekitar 1% perusahaan yang yakin sudah punya penerapan matang di lapangan. Baru ada 14% pemimpin yang konsisten mengadopsi AI ke pekerjaan.
- Kegagalan adopsi AI ke pekerjaan bukan semata-mata terjadi karena teknologi yang kurang canggih. Bottle neck-nya ada pada ketidaksiapan transformasi organisasi beserta sumber daya manusianya yang tertinggal.
- Skill kepemimpinan baru di era AI yang harus dimiliki: judgment, empathy & psychological safety, systems thinking, AI fluency, dan kemampuan mengelola perubahan.
- Pelajari kerangka memimpin tim hibrida yang terdiri dari manusia dan AI serta cermati cara menyiapkan tim dalam menghadapi transformasi AI.
Adanya agentic AI memang mempermudah pekerjaan manusia. Namun lebih dari itu, leadership di era AI juga menuntut skill baru ke Anda, yaitu memimpin manusia bersamaan dengan agen AI. Laporan lengkap dalam The State of Organizations 2026 dari McKinsey & Company menyebut dari 88% perusahaan yang sudah memakai AI, 81%-nya belumlah berdampak nyata karena minimnya kepemimpinan yang tepat.
Teknologi bukanlah jaminan kesuksesan penerapan AI di perusahaan maupun bisnis. Kuncinya ada pada pemimpin yang mampu mengarahkan manusia dan AI bersama-sama. Kenyataannya, banyak manajer justru merasa tertekan karena harus beradaptasi dengan keberadaan AI. Oleh sebab itu, artikel ini akan membahas apa itu agentic AI, skill kepemimpinan baru yang mesti dimiliki, sampai cara menyiapkan tim yang melek AI.
Apa Itu Agentic AI dan Kenapa Mengubah Cara Memimpin
Agentic AI adalah sistem yang mampu mencapai tujuan tertentu dari suatu pekerjaan dengan pengawasan yang terbatas. Cakupan kerjanya dapat berupa merencanakan, menalar, sampai mengeksekusi tugas. Penggunaan AI tidak terbatas pada hanya “menjawab”, melainkan berpijak pada peran penting yakni “bertindak”.
Lantas, apa dampak agentic AI tersebut ke dalam kepemimpinan Anda di perusahaan? Coba bayangkan, agen AI mulai membantu tim Anda dalam mengerjakan tugas administratif, analitis, hingga koordinasi. Di sisi lain, Anda juga masih memiliki tenaga manusia yang mengerjakan tugas-tugas lebih penting lainnya. Maka, Anda sejatinya memimpin sebuah tim hibrida, yaitu paduan dari manusia dan penggunaan AI.
Implikasinya, dalam sebuah tim hibrida tersebut akan muncul peran baru, yaitu agent orchestrator dan AI coach. Agent orchestrator bertugas merancang sekaligus mengawasi alur kerja agen AI, sementara AI coach berperan membantu tim mengintegrasikan penggunaan kecerdasan buatan ke pekerjaan. Dari sini, Anda bisa melihat bagaimana seorang pemimpin bakal punya peran baru mengelola sistem AI dalam tahun-tahun mendatang.
Secara ringkas, kepemimpinan di era AI mengharuskan Anda jeli dalam memutuskan tugas mana yang mesti dikerjakan manusia dan mana yang bisa diserahkan ke AI. Tak hanya itu, manajer di masa ini juga perlu mempertanggungjawabkan hasil kerja dari keduanya.
Mengapa 81% Adopsi AI Gagal Berdampak (Masalah Kepemimpinan)
McKinsey & Company (2026) menyebut banyak penggunaan AI di dalam perusahaan yang justru gagal memberi dampak baik bagi bisnis. Sebanyak 81% dari 88% perusahaan yang memakai AI gagal melihat dampak bottom-line di pekerjaan. Ironisnya, hanya sekitar 1% perusahaan yang yakin sudah punya penerapan matang di lapangan. Sementara, baru ada 14% pemimpin atau manajer yang konsisten mengadopsi AI ke dalam bagian strategi bisnis.
Apa yang bisa Anda lihat dari data-data tersebut? Artinya, akar masalahnya bukan pada canggih atau tidaknya teknologi yang dipakai. Persoalan sesungguhnya ada pada organisasi yang belum siap bertransformasi, sementara kualitas sumber dayanya pun belum mengejar kecepatan adopsi AI.
Studi dari McKinsey & Company (2024) menunjukkan bahwa setiap $1 yang dihabiskan untuk teknologi, perusahaan sebaiknya menghabiskan $5 untuk pengembangan sumber daya manusianya. Artinya, kehadiran AI di sebuah perusahaan bukan cuma sekadar alat pembantu pekerjaan. AI harus datang bersamaan dengan kualitas manusia sebagai penggunanya.
2026 Work Trend Index Annual Report dari Microsoft menggambarkan ironi bagaimana banyak perusahaan tidak siap pada sistem AI. Sementara, karyawan malah sering kali bergerak lebih maju dalam penggunaan AI daripada perusahaan. Sebuah teknologi tanpa kepemimpinan yang mumpuni hanya akan mengarahkan perusahaan pada eksperimen mahal tanpa dampak nyata.
Skill Kepemimpinan Baru yang Dibutuhkan di Era AI
Sebuah survei yang dilakukan oleh BCG Split Decisions: CEOs and Boards Survey (2026) menyebut sebanyak 61% CEO yakin dewan direksi perusahaan terlalu terburu-buru melakukan implementasi AI ke dalam bisnis. Padahal, ada kesenjangan pemahaman sekaligus skill terkait AI yang dimiliki oleh CEO maupun dewan direksi. Akhirnya, kesenjangan skill tersebut justru berdampak pada kegagalan AI dalam memberikan hasil maksimal ke pekerjaan.
Dari survei tersebut, Anda bisa menyimpulkan bahwa dengan adanya agentic AI, perlu adanya peningkatan skill kepemimpinan baru. Beberapa skill yang dibutuhkan para leader di era AI antara lain:
- Judgement. AI adalah perangkat yang membantu pekerjaan manusia dan menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan akhir. Maka, seorang pemimpin harus mampu mengambil keputusan dalam hasil kerja AI, termasuk yang berada dalam area abu-abu. Jangan sampai penggunaan AI malah menjadi bias alias tidak valid.
- Empathy, psychological safety. Banyak bekerja dengan AI tidak boleh meniadakan relasi emosi dengan manusia. Oleh sebab itu, skill dasar berupa empati tetaplah harus dimiliki, apalagi jika kaitannya dengan memimpin manusia.
- System thinking. Keberadaan agen AI mampu mengubah sistem atau alur kerja di perusahaan. Seorang pemimpin di era AI mesti mahir dalam memahami alur kerja end-to-end. Meski secara umum banyak tugas menjadi lebih ringkas, alur kerja mesti benar-benar dikuasai.
- AI fluency. Pemimpin mesti paham bagaimana cara memakai AI. Namun, jauh lebih penting juga pemimpin harus mengerti kapan mesti menggunakan AI dan kapan yang tidak. Dengan memahami alur kerja secara menyeluruh, pemimpin bisa menempatkan strategi di titik mana penggunaan AI akan menjadi sangat dibutuhkan.
- Kemampuan mengelola perubahan. Teknologi telah membuktikan bagaimana banyak perubahan dapat terjadi dalam sekejap. Pemimpin di era AI haruslah siap mengelola berbagai perubahan yang ada. Pemahaman pemimpin terhadap AI pun perlu terus diperbarui seiring perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
Berikut tabel perbandingan yang menjelaskan secara ringkas skill lama dengan skill baru yang dimiliki pemimpin di era AI:

Meski keberadaan AI memang erat kaitannya dengan teknologi, bukan berarti Anda lupa pada pentingnya human-centric leadership. Pemimpin yang human-centric sangat berpengaruh pada peningkatan kepuasan sekaligus retensi karyawan, penguatan kepercayaan karyawan ke perusahaan, dan perbaikan pengambilan keputusan secara lebih bijak. Secara ringkas, kecanggihan AI akan selalu menuntut kualitas kemanusiaan seorang pemimpinnya.
Pergeseran ini sejalan dengan proyeksi skill kerja yang akan berubah di 2030, yang menunjukkan betapa cepatnya kebutuhan kompetensi karyawan bertransformasi seiring adopsi AI.
Kepemimpinan yang human-centric juga terbukti berdampak langsung pada retensi karyawan, selain memperkuat kepercayaan tim terhadap arah perusahaan.
Kerangka Memimpin Tim Hibrida Manusia dan AI
Setelah memahami penjelasan dengan kaitan agentic AI dengan leadership, kini waktunya Anda belajar memimpin tim hibrida. Berikut kerangka memimpin manusia dan AI yang bisa Anda adaptasikan:
1. Tetapkan Tujuan dan Pembagian Peran
Pemakaian AI dalam tugas-tugas bukan berarti meniadakan peran manusia. Sebagai pemimpin, Anda pertama-tama perlu menentukan tugas mana yang bisa dibantu agen AI dan mana yang harus dikerjakan manusia. Pembagian peran yang baik akan mendorong tercapainya tujuan dalam tim Anda.
2. Redesain Alur Kerja
Rancang ulang alur kerja secara menyeluruh. Studi dari BCG (2026) menunjukkan perusahaan dengan kinerja tinggi 7 kali lebih besar melakukan redesain alur kerja dengan memanfaatkan AI. Itu artinya, Anda tidak hanya sekadar menempelkan AI ke proses lama. Maka, manfaatkan tim lintas fungsi untuk memadukan keahlian di bidang teknologi, bisnis, dan manajemen untuk menciptakan alur kerja paling efektif dan terbaik.
Redesain alur kerja juga perlu dibarengi dengan talent mapping yang jelas, agar Anda tahu siapa yang paling siap mengambil peran sebagai agent orchestrator atau AI coach di dalam tim.
3. Bangun Aturan Mengenai Tata Kelola dan Etika
Sehebat apa pun teknologi AI yang digunakan, pastilah punya keterbatasan. Inilah pentingnya Anda menyiapkan aturan penggunaan AI, termasuk dalam batas-batas seperti apa AI boleh digunakan. Pastikan aturan tersebut juga memuat pengambilan keputusan akhir sekaligus verifikasi yang harus ada di tangan manusia.
4. Kembangkan Tim secara Bertahap
Keterampilan menggunakan AI bukan cuma bicara soal hard skill, tetapi juga soft skill. Maka, kembangkan tim Anda dengan membekali karyawan dengan skill AI maupun soft skill yang mendukung penggunaan AI. Jangan buru-buru mengimplementasikan sistem AI jika Anda sendiri belum yakin pada keterampilan karyawan.
Sebelum menyusun program pelatihan, penting bagi Anda melakukan training needs analysis terlebih dahulu, agar pelatihan yang diberikan benar-benar menjawab kesenjangan skill AI yang paling mendesak di tim Anda.
Data ini juga membantu Anda menghitung ROI training secara lebih meyakinkan kepada jajaran direksi, terutama saat mengajukan anggaran pelatihan AI berikutnya.
5. Ukur Dampak secara Spesifik
Hindari berpuas diri hanya dari “tim ini sudah memakai AI untuk bekerja”. Guna melihat efektivitasnya, Anda harus mengukur dampaknya dengan melihat hasil kerjanya. Misalnya, berapa pekerjaan bisa selesai, apa pengaruhnya ke produktivitas, dan sebagainya. Ingat, adopsi AI gagal jika ternyata tidak memberi dampak ke proses kerja Anda.
Penjelasan lima kerangka memimpin tersebut sejalan dengan GROW Framework by Belajarlagi, yaitu empat nilai kerja yang menjadi budaya Belajarlagi: Growth Mindset (berani belajar, berinovasi, dan keluar dari zona nyaman), Respect & Radical Candor (komunikasi jujur, terbuka, dan langsung ke inti dengan tetap saling menghargai), Obsess Over Customers (fokus memberi solusi dan learning experience terbaik bagi customer), dan Win Together (tumbuh bersama sebagai satu tim tanpa sekat antar-divisi).
Memimpin tim hibrida yang terdiri dari manusia dan AI sejatinya tentang merancang ulang proses kerja. Adopsi AI akan sia-sia ketika Anda tidak bisa mengadaptasi kerangka memimpin tadi secara tepat.
Mengukur dampak pelatihan secara spesifik akan lebih akurat jika Anda memanfaatkan people analytics untuk melacak perubahan performa dan produktivitas tim dari waktu ke waktu.
Cara Mempersiapkan Tim Menghadapi Transformasi AI
Pada akhirnya, kepemimpinan di era AI erat kaitannya dengan kesiapan tim Anda sendiri. Agar bisa beradaptasi sekaligus bertahan di perubahan AI yang begitu cepat, Anda perlu melakukan langkah seperti:
- Komunikasikan visi penggunaan AI secara jelas. Jabarkan target pemakaian AI: Apa tujuan Anda mengaplikasikan AI ke dalam tim? Apa hasil yang Anda harapkan? Bagaimana agen AI dapat membantu tugas karyawan?
- Atasi ketakutan karyawan akan kehadiran AI. Tentu akan ada karyawan yang takut posisinya digantikan oleh AI. Tegaskan bahwa AI sebagai augmentasi, bukan sepenuhnya menggantikan peran manusia dalam bekerja.
- Ciptakan budaya belajar berkelanjutan. Sadari bahwa Anda pun tengah belajar tentang AI. Berikan contoh bagaimana Anda terus belajar mengikuti perubahan teknologi yang ada. Dorong karyawan melakukan hal yang sama.
- Lakukan pelatihan terstruktur. Reskilling dan upskilling perlu Anda berikan ke karyawan. Pasalnya, dua per tiga skill yang dipakai saat ini akan jauh berbeda di 5 tahun mendatang. Perencanaan pelatihan harus terstruktur, bukan hanya sebagai review tahunan semata.
Pelatihan yang terstruktur sejalan dengan nilai Impact-Proof Program dari Belajarlagi, yaitu setiap program dilengkapi pengukuran dampak terukur (pre-test dan post-test, skor kepuasan CSAT dan NPS, serta data sebelum dan sesudah), sehingga hasilnya dapat dibuktikan, bukan sekadar diklaim.
Jika Anda menyiapkan tim Anda mulai dari sekarang, Anda berpeluang memenangkan era AI hingga masa-masa mendatang. Jadi, asah skill kepemimpinan Anda dan persiapkan tim yang kian matang untuk agentic AI.
Ciptakan budaya belajar berkelanjutan dengan membangun learning culture yang kuat, sehingga karyawan terdorong untuk terus mengasah kemampuan tanpa menunggu instruksi dari atas.
Memahami agentic AI adalah langkah awal untuk bekerja di era modern sekarang. Memimpin di era AI sangat menuntut penguasaan skill baru bebarengan dengan kesiapan tim. Kabar baiknya, dua hal tersebut bisa Anda lakukan melalui pengembangan terstruktur dan terukur.

Jadikan Corporate Training Belajarlagi sebagai partner terbaik Anda dalam mengasah skill dan mengembangkan kemampuan karyawan. Jangan ragu investasikan kemajuan bisnis melalui pelatihan dengan kurikulum yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan Anda. Untuk konsultasi dan informasi mengenai Corporate Training, silakan cek di Corporate Training Belajarlagi.
.webp)




