Bagaimana Menentukan Mana yang Benar?

Berpikir adalah proses formulasi gagasan dan keputusan secara aktif atau sadar dengan target berupa suatu output yang benar dan terjustifikasi dengan baik. Gagasan atau keputusan yang terbentuk kalau bisa didukung oleh penjelasan dan pertimbangan dari informasi-informasi yang sudah kita anggap benar. 

Bagaimana Menentukan Mana yang Benar?


Berpikir adalah proses formulasi gagasan dan keputusan secara aktif atau sadar dengan target berupa suatu output yang benar dan terjustifikasi dengan baik. Gagasan atau keputusan yang terbentuk kalau bisa didukung oleh penjelasan dan pertimbangan dari informasi-informasi yang sudah kita anggap benar. 

Akan tetapi, bagaimana cara kita tahu mana yang benar dan mana yang tidak? Secara mendasar, hanya ada empat cara untuk kita mengetahuinya.

Pertama, kita saksikan langsung. 

Apabila kita melihat langsung suatu kejadian, apakah itu banjir, kebakaran, kecelakaan, atau apapun fenomenanya, maka kita bisa pastikan bahwa informasi yang kita dapat adalah sebuah fakta. Sebab, dalam hal ini, kita menjadi saksi langsung, paling tidak bagi kita sendiri.

Apalagi jika yang menyaksikan tidak kita sendirian. Kita dapat lebih memastikan bahwa kita tidak sedang berhalusinasi, mengigau, atau ingatan kita salah. Pengetahuan yang kita dapat dari persaksian langsung ini sering disebut pengetahuan empiris.

Kedua, menerima informasi dari orang lain yang kita anggap benar.

Harus diakui, kita tidak bisa menyaksikan semua fenomena. Tentu saja kita terbatasi oleh ruang dan waktu. Oleh karena itu, pada dasarnya, sebagian besar, atau bahkan hampir semua, pengetahuan yang kita miliki berasal dari kabar orang lain. 

Lebih spesifik lagi, kita menerima pengetahuan itu dari orang yang kita anggap benar dan kita percaya. Pihak ini kita kerap sebut sebagai otoritas. 

Misalnya, kita tidak menyaksikan langsung  bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Tapi, kita dengarkan itu dari guru sejarah, buku sejarah atau dari orang tua kita. 

Pengetahuan versi kabar ini mengambil porsi terbesar dalam sistem pikiran kita mengingat hal yang kita saksikan langsung dalam hidup pada dasarnya hanya sedikit. Dalam hal ini, memilih otoritas yang tepat menjadi kunci utama. Kita harus menentukan siapa yang kita percaya atau siapa yang kita anggap benar. 

Kita mendengar banyak kabar setiap harinya, dari teman, tetangga, guru, berita, bahkan orang yang tidak kita kenal. Tanpa mekanisme pemilihan otoritas yang ketat, semua bisa jadi kebenaran dalam kepala kita. Memilah informasi yang benar bisa disederhanakan menjadi memilah sumber yang benar. 

Ketiga, simpulkan dari pengetahuan lain. 

Tidak semua informasi pengetahuan sifatnya konkret dan berasal dari kejadian langsung. Ada banyak pengetahuan yang sifatnya abstrak. Sebut saja teori alam ataupun hubungan antar manusia. 

Kita tidak bisa menyaksikan secara langsung gravitasi, namun kita dapat simpulkan keberadaan gravitasi itu dari kejadian-kejadian lain, di mana benda di permukaan bumi pasti jatuh ke bawah. Kita juga tidak bisa menyaksikan secara langsung “sistem pemerintahan”, tapi itu merupakan hal yang dikonstruksikan dan dirasionalisasi oleh pikiran.

Dalam hal ini, kemampuan reasoning atau rasionalisasi terhadap sesuatu menjadi hal penting. Proses ini membantu kita untuk memformulasikan gagasan baru dengan baik dari pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Pengetahuan versi ini merupakan produk pikiran yang sesungguhnya. 

Keempat, hal yang kita asumsikan.

Bagaimana kita mendapatkan pengetahuan baru dari pengetahuan lain sebenarnya merupakan proses berantai. Kita tidak bisa tiba-tiba menyimpulkan C tanpa ada pertimbangan A dan B. Karena ini proses berantai, maka pasti harus ada awalnya, yakni sesuatu yang sudah kita anggap benar tanpa perlu melalui proses berpikir. 

Premis awal ini bisa berasal dari pengetahuan empiris atau kabar. Akan tetapi, karena keterbatasan keduanya, banyak yang tetap perlu diasumsikan. 

Dalam hal ini, asumsi yang dimaksud bisa berupa keyakinan atau preferensi, sesuatu yang sudah kita anggap benar tanpa perlu bersumber dari apapun. Contoh dari hal ini adalah keberadaan jin atau isi pikiran orang lain. Kita tidak bisa mengetahui kedua hal ini dengan cara apapun selain dengan cukup meyakini atau menduganya.


Perpaduan keempat sumber ini membentuk pengetahuan yang kita miliki dan gunakan untuk berpikir. Dalam proses berpikir yang baik, kita harus menyadari setiap sumber dengan jelas, sehingga kita tahu asal mula pertimbangan pikiran kita tanpa asal berpendapat atau menyimpulkan.

Join Our Newsletter and Get the Latest Posts to Your Inbox

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.