Ada “Dua Dunia” di Pikiran Kita

Ketika kita bertanya hasil dari dua ditambah tiga pada anak umur lima tahun, maka ia akan butuh beberapa saat untuk berpikir sebelum benar-benar bisa menjawab. Tapi, jika pertanyaan yang sama ditanyakan pada orang dewasa, tanpa perlu proses berpikir yang disadari pun ia sudah tahu apa jawabannya.

Ada “Dua Dunia” di Pikiran Kita


Ketika kita bertanya hasil dari dua ditambah tiga pada anak umur lima tahun, maka ia akan butuh beberapa saat untuk berpikir sebelum benar-benar bisa menjawab. Tapi, jika pertanyaan yang sama ditanyakan pada orang dewasa, tanpa perlu proses berpikir yang disadari pun ia sudah tahu apa jawabannya. 

Pada kasus lain, seorang yang jarang memasak akan butuh waktu lama untuk sekadar membuat sepiring nasi goreng. Berbeda halnya dengan tukang nasi goreng. Ia tidak perlu menguras pikirannya untuk melakukan hal yang sama. 


Dari contoh tersebut, kita sering memakai istilah “di luar kepala” untuk menggambarkan kemampuan si orang dewasa dan tukang nasi goreng. Sesuai arti harfiahnya, proses berpikir yang mereka lalui untuk menyelesaikan hitungan pertambahan dan membuat nasi goreng seakan-akan tidak perlu diolah di dalam otak atau kepala. 

Tapi, tahukah kamu kalau rangkaian kegiatan tersebut sebenarnya memiliki nama lain? Daniel Kahneman, seorang pemenang penghargaan Nobel di bidang ekonomi, menyebutnya sebagai Sistem 1 atau fast thinking.

Dalam tindakan-tindakan fisik, proses Sistem 1 ini sering disebut muscle memory. Anggota gerak tubuh dalam melakukan suatu rangkaian kegiatan secara cepat tanpa melalui proses berpikir yang disadari. Tindakan yang dilakukan seakan tidak membutuhkan kepala atau pikiran.  

Dalam bukunya berjudul Thinking, Fast and Slow, Kahneman menjelaskan, sistem 1 merupakan sistem yang memproses sesuatu secara cepat dan otomatis, namun aktif di luar kesadaran. 

Sistem ini bertanggung jawab atas segala respon, refleks, dan segala sesuatu yang kita putuskan atau lakukan dengan spontan tanpa sadar. Kita memakai sistem ini ketika jalan kaki, mengendarai sepeda, membaca, berhitung, dan lain sebagainya.

Sedangkan, satu sistem lainnya, yang dikenal sebagai Sistem 2 atau slow thinking, merupakan sistem berpikir yang memproses sesuatu secara lambat dan hati-hati. Semua proses berpikir yang melibatkan kesadaran penuh memakai sistem ini. 

Sistem 2 ini sesungguhnya sangat telaten, logis, dan perhitungan, namun sangat lamban dan pemalas. Karena sifatnya itu, Sistem 2 membutuhkan energi yang besar untuk bisa aktif. 

Coba kalian hitung 237 dikali 316. Kemungkinan besar kalian sudah malas untuk mencari tahu hasilnya kan? Akan tetapi, ketika diaktifkan, sistem ini bisa menghasilkan output yang sangat presisi. 

Sistem 2 sering dikaitkan dengan tindakan-tindakan sederhana. Misalnya, merencanakan agenda satu pekan, mendengar guru di kelas, mencari alamat, mencari barang hilang, belajar sesuatu yang baru, dan lain sebagainya.

Pada awalnya, semua hal yang kita pelajari akan diproses di Sistem 2. Baik itu berbahasa, berjalan, menulis, memakai sepatu, membaca rambu lalu lintas, hingga mempelajari setiap mata pelajaran yang kita dapatkan di sekolah.

Itulah kenapa, sekolah, atau secara umum belajar, merupakan hal yang kerap membuat kita malas dan mudah jenuh secara alamiah. Sebab, secara natural, Sistem 2 memiliki sifat yang lembam dan pemala. Untuk mengaktifkannya, dibutuhkan energi. 

Tapi, ketika Sistem 2 dapat dipaksa untuk terus aktif, kelamaan proses berpikir itu menjadi lebih cepat dan otomatis karena mulai dilakukan oleh Sistem 1. 


Keduanya Saling Koordinasi

Meski memiliki ‘sifat’ yang kontras, Sistem 1 dan 2 tidak berkonflik. Keduanya justru bekerja sama dengan perannya masing-masing. 

Sistem 1 murni dapat diibaratkan sebagai hewan yang banyak mengandalkan insting, sementara Sistem 2 murni ibarat komputer/robot. Seandainya semua hal harus diproses dengan Sistem 2, maka manusia akan selalu mengerjakan segala sesuatu dengan sangat lambat. 

Sebaliknya, seandainya semua hal harus diproses dengan sistem 1, maka manusia menjadi seperti hewan. Kita hanya mengandalkan insting dan refleks tanpa proses pengambilan keputusan yang sistematis. 

Koordinasi antara dua sistem inilah yang menjadi kelebihan manusia. Kedua sistem mampu berkembang seiring dengan proses belajar. Sistem 2 akan secara presisi memperhitungkan segala sesuatu bila ada hal baru yang harus dilakukan atau hal yang jarang dilakukan. Apabila Sistem 2 dipaksa untuk terus aktif pada suatu tindakan, maka tindakan tersebut perlahan akan pindah ke Sistem 1. 

Sebagai contoh, sebagaimana disebutkan di awal tadi. Anak kecil yang baru mengenal bilangan akan butuh usaha lebih untuk berhitung karena memakai Sistem 2. Seiring waktu, proses berhitung lama-lama menjadi sebuah kebiasaan yang bisa dilakukan secara cepat, dan proses berpikirnya pun pindah ke Sistem 1.

Menariknya, ini berlaku untuk semua keterampilan. Seseorang yang jarang memasak akan bisa membuat nasi goreng secara cepat dan di luar kepala apabila sudah terbiasa melakukannya. 

Join Our Newsletter and Get the Latest Posts to Your Inbox

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.