Bagaimana Memilah Sumber Informasi yang Tepat?

Seperti yang disampaikan dalam artikel “Bagaimana Menentukan yang Benar?”, salah satu sumber pengetahuan paling utama adalah kabar dari orang lain. Karena hal yang kita alami, saksikan atau pikirkan sendiri biasanya sangat sedikit dan terbatas, maka sebagian besar yang kita ketahui bersumber dari orang lain. 

Bagaimana Memilah Sumber Informasi yang Tepat?


Seperti yang disampaikan dalam artikel “Bagaimana Menentukan yang Benar?”, salah satu sumber pengetahuan paling utama adalah kabar dari orang lain. Karena hal yang kita alami, saksikan atau pikirkan sendiri biasanya sangat sedikit dan terbatas, maka sebagian besar yang kita ketahui bersumber dari orang lain. 

Dengan kata lain, seluruh pengetahuan kita tersusun secara kolektif dari semua pengetahuan yang didapatkan oleh orang lain. 

Sebelum era digital, sumber-sumber informasi dari orang lain cenderung lebih dapat dipercaya dan akuntabel mengingat keterbatasan persebaran informasi. Hal yang kita dapatkan pun lebih mudah terkontrol dan terjamin kualitasnya. 

Seiring perkembangan teknologi dan informasi, persebaran informasi semakin deras. Siapapun dapat berbicara yang dapat diakses juga oleh siapapun. Dampaknya, konsep otoritas (pihak yang kita anggap benar dan kita percayai) mulai mengabur. 

Oleh karena itu, memilah sumber informasi yang tepat menjadi hal sangat penting untuk mendapatkan informasi yang benar. Bagaimana caranya? 

Pertama, mengaitkan kepakaran dengan informasi yang dikeluarkan. 

Secara tepat, kita perlu mencari korelasi antara kedua poin tersebut. Apabila ada institusi atau seseorang dengan latar belakang fisika yang kemudian berbicara atau berpendapat terkait agama, maka kita patut untuk ragu.

Begitupun dengan institusi atau seseorang dengan latar belakang ekonomi yang kemudian berbicara atau berpendapat terkait biologi. Kita perlu ragu dengan informasi yang disampaikan. Rasa ragu menjadi penting untuk memastikan bahwa informasi yang diberikan memang sesuai dengan pengalaman dan keahlian dari yang menyampaikan. 

Kedua, cross-check dari banyak sumber.

Proses cross-check di sini adalah memastikan kebenaran suatu sumber dengan melihat sumber lainnya yang berbicara hal serupa. Jika yang disampaikan memang kebenaran, maka semakin banyak sumber akan bercerita narasi yang mirip.

Apabila terjadi banjir dan hanya disaksikan atau dikisahkan oleh satu orang, kita perlu lagu. Akan tetapi, jika banyak orang yang menyaksikan dan menceritakan banjir tersebut, maka kita bisa lebih yakin. 

Selain memastikan keakuratan informasi, cross-check juga akan membantu kita melengkapi cerita. Sebab, satu sumber biasanya hanya menyampaikan satu perspektif dari narasi yang utuh.

Apalagi, seringkali media atau sumber tertentu hanya menyampaikan informasi secara parsial. Ibarat puzzle, bila kita bisa mendapatkan berbagai perspektif, kita bisa lebih utuh melihat keseluruhan kebenarannya.

Ketiga, melihat latar belakang dari sumber.

Setiap orang akan selalu mengaku bahwa dirinya sudah menyampaikan informasi yang benar. Setiap sumber selalu menyajikan sesuatu untuk meyakinkan. Hal ini dapat dengan mudah kita lihat dari iklan-iklan yang tidak mungkin menjelekkan produknya. 

Tapi, jangan mudah percaya pada website yang bagus, konten yang rapi, atau nama organisasi yang kelihatan reliable. Kita patut melakukan investigasi terlebih dahulu, termasuk dengan proses cross-check. Kita bisa mencari sumber lain yang menyediakan informasi terkait latar belakang sumber yang kita temukan.  

Keempat, jangan mudah mengambil kesimpulan dari angka. 

Pada dasarnya, statistik tidak pernah netral. Semua ada konteks dan interpretasinya. Ketika angka disampaikan, itu bukan representasi dari realita, sehingga kesimpulan apapun yang diambil berdasarkan angka bisa dipastikan bersifat parsial. 

Sayangnya, justru banyak orang menggunakan statistik untuk menyederhanakan informasi. Bahkan, tidak jarang juga statistik sengaja dipakai untuk memanipulasi realita. 

Kelima, jangan alergi sama Wikipedia. 

Dengan krisis otoritas, beberapa orang menempatkan Wikipedia justru sebagai sumber yang dipandang sebelah mata. Padahal, Wikipedia memiliki proses kolektif yang menjaga kebenaran informasi yang dimilikinya. 

Sistem referensi dan cross-checking yang diberikan Wikipedia sangat rapih dan reliable. Wikipedia dibangun oleh komunitas yang besar dan saling kontrol. 

Dalam dunia akademik, mungkin Wikipedia memang kurang pantas jadi rujukan karena tidak menggunakan konsep peer-review ilmiah. Akan tetapi, bagi orang umum, Wikipedia termasuk dapat diandalkan sebagai sumber. 

Bahkan, Wikipedia bisa menjadi pintu pertama pencarian. Dari satu halaman Wikipedia, kita bisa menelusuri banyak hal karena dari satu halaman tersebut banyak pranala lanjutan. Untuk lebih memudahkan cross-check, kita juga periksa daftar referensinya, itu akan membuka jalan untuk pencarian sumber berikutnya. 


Join Our Newsletter and Get the Latest Posts to Your Inbox

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.