Mulai Berpikir Kritis dengan Tidak Mudah Percaya

Proses berpikir kritis tidak memiliki prosedur standar atau langkah-langkah yang permanen untuk diaplikasikan. Meskipun begitu, semua cara dalam berpikir kritis berasal dari satu prinsip dasar: tidak mudah percaya. 

Mulai Berpikir Kritis dengan Tidak Mudah Percaya


Proses berpikir kritis tidak memiliki prosedur standar atau langkah-langkah yang permanen untuk diaplikasikan. Meskipun begitu, semua cara dalam berpikir kritis berasal dari satu prinsip dasar: tidak mudah percaya. 

Setiap harinya, kita ‘dibanjiri’ berbagai informasi yang datang dari banyak sumber. Tapi, tidak ada jaminan atas kebenaran dari informasi tersebut. Selalu ada kemungkinan bahwa informasi yang kita terima tidak sepenuhnya tepat, parsial, atau bersifat kontekstual. 

Menempatkan informasi sesuai pada tempatnya menjadi hal yang sangat tricky. Terlebih ketika versi informasi semakin beragam dengan justifikasinya masing-masing.

Kita dapat menganalogikan hal ini seperti bagaimana caranya memastikan orang yang bisa masuk ke suatu bangunan atau area khusus adalah orang yang memang benar-benar punya identitas yang sesuai. 

Prinsip sistem keamanan yang dapat dibangun adalah dengan tidak mudah menaruh kepercayaan pada siapapun. Rasa ini harus dimiliki sampai orang tersebut bisa memberikan bukti identitasnya secara benar. 

Serupa dengan itu, pada dasarnya, pikiran selalu memiliki semacam saringan yang menyeleksi informasi apapun yang masuk. Proses seleksi ini akan selalu terjadi, baik disadari atau tidak. 

Ketika proses ini terjadi di luar kesadaran, maka ibarat sistem keamanan yang tidak punya koordinasi, seleksi informasi terjadi hanya sebatas dalam aturan “kebiasaan”. Jika ada orang yang biasa dikenali, maka dibiarkan masuk. Atau jika ada orang dengan wajah cukup meyakinkan, dibiarkan masuk juga. 

Demikian juga bagaimana mental filter kita secara natural akan cenderung menolak hal-hal baru dan lebih nyaman menerima hal-hal yang biasa. Sebagai contoh, kita tidak akan terkejut ketika melihat burung terbang, semut berbaris di dahan pohon, atau daun yang bergoyang ditiup angin. Tapi, otak kita akan berpikir keras bila kita tiba-tiba melihat sosok manusia melayang atau lampu bergoyang sendiri tanpa adanya angin. 

Dengan mekanisme yang sama juga, kita akan kerap menganggap biasa beberapa hal. Misalnya, menyebrang jalan tidak pada tempatnya, lupa menyalakan lampu sign kendaraan ketika akan berbelok, meloncati prosedur ketika memiliki kenalan birokrasi, dan berbagai hal lainnya.

Dalam konteks pengolahan informasi yang lebih abstrak, mental filter hanya akan secara sederhana mengkorelasikan informasi-informasi yang sesuai dengan preferensi bawah sadar dibandingkan pemetaan yang komprehensif.

Mekanisme yang sama membuat manusia akan lebih mudah mengaitkan berbagai kejadian dengan penjelasan mistis, lebih mudah percaya teori konspirasi, lebih mudah menolak otoritas, atau lebih mudah mengkorelasikan dengan keyakinan atau kebiasaan yang sudah ada. 

Proses berpikir sadar, terutama pikiran kritis, akan memperketat mekanisme saringan ini sehingga tidak sembarangan informasi bisa masuk. Bagaimana caranya? Dengan menganggap tidak ada informasi yang “biasa”. Semua informasi dapat dianggap sebagai sesuatu yang baru, hal yang tetap perlu dipertanyakan.

Dalam hal ini, esensi dari berpikir kritis adalah meragu. Dengan begitu, semua informasi akan diproses dengan baik terlebih dahulu sebelum benar-benar diterima oleh pikiran. Dalam aspek praktikalnya, berpikir kritis berarti banyak mempertanyakan, lebih banyak bertanya “iya gitu?” ketimbang berucap “oh gitu”.


Mencegah Berlebihan

Dalam titik ekstrimnya, berpikir kritis memang dapat berubah menjadi skeptis yang berlebihan. Akan tetapi, perlu ditekankan bahwa mempertanyakan dalam berpikir kritis harus selalu diiringi dengan semangat untuk mencari jawaban. Kita tidak bisa sekadar bertanya dan meragu begitu saja tanpa tindak lanjut. 

Kebanyakan pikiran kritis juga salah diterapkan menjadi mudah mengkritik dan mempertanyakan tanpa ada semangat konstruktif. Padahal, belum tentu. 

Tujuan berpikir kritis adalah menghasilkan pengetahuan seobjektif mungkin, bukan menyangsikan semua informasi. Sifat mudah bertanya ini pada dasarnya dimiliki secara alamiah oleh setiap manusia sejak masih kecil.

Tapi, lingkungan yang cenderung tidak mengakomodasi pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita lebih mudah berkompromi pada informasi baru ketika tumbuh besar. Kita pun lebih mengandalkan  pada saringan bawah sadar dibandingkan memikirkan semuanya secara sadar yang  butuh usaha lebih besar. 



Join Our Newsletter and Get the Latest Posts to Your Inbox

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.