Kenali Sick Leave dari Aturan, Jenis, dan Cara Mengajukannya

Ayu Novia
8 Min Read
Published:
May 27, 2025
Updated:
May 5, 2026

Key Takeaways

  • Sick leave adalah hak karyawan untuk tidak bekerja karena alasan kesehatan yang dilindungi oleh hukum ketenagakerjaan.
  • Terdapat beberapa jenis sick leave, seperti paid sick leave, dengan atau tanpa surat dokter, yang masing-masing punya aturan berbeda.
  • Surat keterangan dokter menjadi bukti penting untuk memastikan hak upah dan perlindungan kerja tetap berlaku.
  • Pengajuan sick leave harus dilakukan secara cepat, resmi, dan disertai komunikasi yang jelas kepada atasan atau HR.
  • Kebijakan sick leave yang adil membantu menjaga kesehatan karyawan sekaligus stabilitas dan produktivitas tim.

Pernah menerima pesan singkat dari rekan kerja yang berbunyi "I'm on sick leave"? Kalimat itu mungkin terdengar sepele, tapi sebenarnya menyimpan makna yang cukup penting dalam dunia kerja. Banyak orang mengira sick leave sekadar izin tidak masuk karena sakit. Padahal, lebih dari itu, ini adalah hak yang dilindungi hukum dan memiliki aturan tersendiri, baik dari sisi karyawan maupun perusahaan.

Artikel ini akan membantu Anda memahami apa itu sick leave secara menyeluruh, mulai dari artinya dalam bahasa Indonesia, jenis-jenisnya, dasar hukum yang berlaku, hingga cara mengajukannya dengan benar.

Arti Sick Leave dan Penggunaannya dalam Konteks Kerja

Sick leave adalah hak karyawan untuk absen dari pekerjaan karena alasan kesehatan, baik fisik maupun mental. Dalam bahasa Indonesia, sick leave artinya setara dengan cuti sakit atau izin sakit. Jadi, arti dari sick leave adalah ketidakhadiran yang diizinkan karena kondisi kesehatan yang sah dan diakui, bukan sekadar tidak masuk tanpa keterangan.

Dalam keseharian, Anda mungkin juga menemukan beberapa variasi istilah yang perlu dipahami. On sick leave artinya seseorang sedang dalam status cuti sakit. Sementara I'm on sick leave artinya lebih bersifat personal, digunakan saat karyawan memberi tahu atasan atau rekan kerjanya bahwa ia sedang tidak bisa masuk. Ada pula istilah sick leave slow response artinya seseorang tetap memantau pesan masuk namun tidak dapat merespons dengan cepat karena kondisi kesehatannya. Sedangkan sick leaves artinya merujuk pada akumulasi hari cuti sakit dalam satu periode tertentu, istilah yang lebih sering digunakan dalam konteks administrasi HR.

Yang membuat sick leave berbeda dari izin biasa adalah dimensi hukumnya. Saat Anda sedang on sick leave, status karyawan Anda tetap aktif. Artinya, kontrak kerja masih berlaku dan Anda berhak atas perlindungan tertentu dari perusahaan. Inilah yang menjadikan sick leave bukan sekadar absen, melainkan bentuk perlindungan nyata bagi pekerja.

Baca juga Kewajiban Perusahaan Terhadap Karyawan yang Wajib Diketahui 

Jenis-Jenis Sick Leave di Indonesia

Memahami sick leave in Indonesia perlu dimulai dari mengenal jenis-jenisnya, karena masing-masing memiliki aturan dan implikasi yang berbeda.

Paid Sick Leave

Paid sick leave adalah bentuk cuti sakit yang paling mendasar dan dijamin oleh hukum ketenagakerjaan Indonesia. Paid sick leave artinya karyawan tetap menerima upah meskipun tidak masuk kerja karena sakit. Ini bukan kebijakan tambahan yang bisa dipilih perusahaan, melainkan kewajiban yang diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan.

Besaran upah yang diterima disesuaikan dengan durasi sakitnya. Empat bulan pertama dibayar penuh, kemudian menurun secara bertahap jika kondisi berlanjut. Penting untuk diingat, cuti sakit tidak boleh memotong jatah cuti tahunan Anda. Selain itu, karyawan juga berhak atas perlindungan tambahan melalui BPJS sebagai bagian dari jaminan sosial.

Sick Leave with Doctor's Note

Sick leave with doctor's note artinya dalam bahasa Indonesia adalah cuti sakit yang disertai surat keterangan dokter sebagai bukti resmi. Jenis ini memberikan perlindungan hukum paling kuat bagi karyawan. Dengan adanya surat dokter, hak Anda atas upah, perlindungan kerja, dan klaim BPJS menjadi aktif sepenuhnya.

Surat izin dokter bukan sekadar formalitas. Di dalamnya tercantum informasi penting seperti diagnosis, durasi istirahat yang dianjurkan, dan rekomendasi medis. Tanpa dokumen ini, perusahaan bisa menganggap ketidakhadiran Anda sebagai mangkir, yang berpotensi berujung pada sanksi jika terjadi berulang.

Sick Leave Without Doctor's Note

Sick leave without doctor's note artinya dalam bahasa Indonesia adalah cuti sakit tanpa surat keterangan dokter. Jenis ini paling sering menimbulkan kebingungan karena tidak diatur secara spesifik dalam undang-undang, sehingga kebijakannya sepenuhnya bergantung pada aturan internal perusahaan.

Umumnya, perusahaan memberi toleransi satu hingga tiga hari tanpa surat dokter. Namun, toleransi ini tidak selalu berarti upah tetap dibayar penuh. Jika melampaui batas yang ditentukan, perusahaan bisa menghentikan pembayaran. Karena itu, penting bagi Anda untuk memahami aturan di tempat kerja masing-masing, dan bagi HR, kebijakan ini sebaiknya dibuat secara tertulis agar tidak memicu salah paham.

DP Sick Leave

Berbeda dari tiga jenis sebelumnya, DP sick leave bukan istilah hukum ketenagakerjaan. Ini adalah istilah yang digunakan dalam sistem HR untuk mengelompokkan data cuti sakit berdasarkan departemen. Fungsinya lebih sebagai alat analisis internal, misalnya untuk melihat pola absensi di unit kerja tertentu atau mendeteksi beban kerja yang tidak seimbang. Bagi karyawan, istilah ini tidak berdampak langsung pada hak cuti Anda.

Baca juga 12+ Alasan Izin Tidak Masuk Kerja Agar Bos Tidak Marah 

Aturan Hukum Sick Leave di Indonesia

Sick leave indonesia diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 dan pembaruannya melalui UU Cipta Kerja. Secara garis besar, karyawan tetap berhak menerima upah saat tidak bekerja karena sakit, selama ada bukti medis yang sah. Ini menegaskan bahwa sakit bukan pelanggaran disiplin, melainkan kondisi yang diakui dan dilindungi negara.

Dari sisi perlindungan kerja, karyawan yang sakit tidak dapat di-PHK selama belum melewati batas 12 bulan berturut-turut, dengan catatan kondisinya dibuktikan secara medis. Jika lebih dari itu, PHK memang dimungkinkan, tetapi tetap harus disertai kompensasi sesuai aturan yang berlaku. Jadi, posisi Anda sebagai karyawan tetap terlindungi, baik selama masa sakit maupun saat transisi keluar dari pekerjaan.

Satu hal yang menarik dan sering terlewat adalah bahwa perlindungan ini kini juga mencakup kesehatan mental. Kondisi seperti burnout, depresi, dan gangguan kecemasan bisa dikategorikan sebagai sakit jika ada diagnosis dari profesional. Artinya, karyawan tidak perlu merasa takut untuk mengambil waktu pemulihan tanpa kehilangan haknya, selama ada dokumen medis yang mendukung.

Baca juga Apa Itu Annual Leave? Pengertian, Syarat, dan Kebijakannya 

Cara Mengajukan Sick Leave dengan Benar

Mengetahui arti sick leave saja tidak cukup. Anda juga perlu tahu cara mengajukannya dengan tepat agar hak Anda terlindungi dan tim tidak terganggu.

1. Beri Tahu Atasan atau HR Sesegera Mungkin

Langkah pertama yang paling krusial adalah komunikasi awal. Begitu Anda merasa tidak mampu masuk kerja, segera hubungi atasan atau HR melalui WhatsApp, Slack, atau email. Tujuannya agar tim dapat mengatur ulang pekerjaan yang terdampak sejak dini. Menunda informasi justru bisa membuat Anda dianggap tidak hadir tanpa keterangan, yang berpotensi menimbulkan masalah administratif. Bahkan jika kondisi Anda masih belum pasti, tetap lebih baik memberikan pemberitahuan awal dan memperbarui situasi kemudian.

2. Siapkan Surat Keterangan Dokter Jika Diperlukan

Untuk sakit ringan satu hingga dua hari, beberapa perusahaan memberi kelonggaran tanpa dokumen. Namun jika durasi lebih panjang atau kondisi berulang, surat dokter hampir selalu diperlukan. Ingat, surat ini bukan formalitas semata, melainkan dasar legal yang melindungi hak Anda atas upah dan perlindungan kerja. Tanpa dokumen ini, izin sakit Anda bisa tidak diakui secara resmi oleh perusahaan.

3. Ajukan Secara Resmi Melalui Sistem HR

Setelah memberi tahu atasan, jangan berhenti di pesan chat saja. Ajukan izin sakit secara formal melalui sistem HRIS atau aplikasi internal perusahaan. Proses ini penting karena berkaitan langsung dengan pencatatan absensi dan penggajian. Tanpa pengajuan resmi, status sick leave Anda bisa tidak tercatat, yang berpotensi mengganggu hak upah Anda.

4. Atur Handover Pekerjaan

Mengambil sick leave bukan berarti melepas semua tanggung jawab. Justru, profesionalisme Anda terlihat dari bagaimana Anda memastikan pekerjaan tetap berjalan meski sedang tidak ada. Tunjuk rekan yang bisa menggantikan sementara, atau tinggalkan catatan singkat tentang pekerjaan yang sedang berjalan beserta prioritasnya. Kebiasaan ini tidak hanya menjaga kelancaran tim, tetapi juga membangun reputasi Anda sebagai karyawan yang dapat diandalkan.

Baca juga 10 Contoh Surat Izin Tidak Masuk Kerja untuk Semua Alasan 

Tips Membangun Kebijakan Sick Leave yang Adil

Bagi Anda yang bekerja di bidang HR atau memimpin tim, kebijakan sick leave yang baik adalah investasi jangka panjang, bukan sekadar aturan administratif. Riset menunjukkan bahwa karyawan yang dipaksa masuk kerja saat sakit justru cenderung kurang produktif dan memperpanjang masa pemulihan mereka sendiri, bahkan berisiko menyebarkan penyakit ke rekan lain.

Beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan: 

  • Buat kebijakan tertulis yang jelas agar tidak ada ruang untuk salah tafsir.
  • Gunakan sistem HR digital untuk memantau absensi secara akurat.
  • Bangun budaya kerja yang aman sehingga karyawan tidak merasa segan melaporkan kondisi kesehatannya. 

Investasi pada program kesehatan karyawan dan pelatihan lintas fungsi juga membantu menjaga stabilitas operasional saat ada anggota tim yang sedang cuti sakit.

Pada akhirnya, cara perusahaan mengelola status sick leave karyawannya mencerminkan bagaimana organisasi itu memandang manusia sebagai aset. Ketika karyawan merasa aman dan terlindungi, kepercayaan mereka terhadap perusahaan akan tumbuh secara alami, dan dari situlah tim yang produktif dan berkelanjutan terbentuk.

Baca juga Kesejahteraan Karyawan: Definisi, Manfaat, dan Implementasinya 

Memahami sick leave adalah langkah awal yang penting, baik bagi karyawan maupun perusahaan. Namun, kebijakan yang tertulis dengan baik saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan kompetensi tim yang mampu menjalankannya secara konsisten di lapangan.

Di sinilah peran HR dan manajer menjadi sangat menentukan. Mereka perlu memahami tidak hanya aturan teknisnya, tetapi juga bagaimana membangun budaya kerja yang mendukung kesehatan karyawan tanpa mengorbankan produktivitas tim.

Corporate Training Belajarlagi

Jika perusahaan Anda ingin membangun fondasi yang lebih kuat di area ini, program Corporate Training Belajarlagi hadir untuk membantu. Konsultasikan kebutuhan pelatihan tim Anda sekarang dan temukan program yang paling sesuai dengan tantangan organisasi Anda. Segera kunjungi Corporate Training Belajarlagi.

Referensi

#
karyawan
#
Perusahaan
Belajarlagi author:

Ayu Novia

A Strategist and Copywriter with more than 3 years in the creative industry. Passionate in data-driven writing for various niches of content.

Temukan Hal Menarik dan Asyik Lainnya

Yuk, Langganan Newsletter Kami

Topik apa yang paling menarik untuk anda?
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Cookie Consent

By clicking “Accept”, you agree to the storing of cookies on your device to enhance site navigation, analyze site usage, and assist in our marketing efforts. View our Privacy Policy for more information.