T-Shaped Person, Profil Keahlian Paling Dicari Perusahaan Modern

Dina Pertiwi
8 Min Read
Published:
March 26, 2026
Updated:
March 26, 2026

Kenapa dua kandidat yang memiliki title, role, dengan scope pekerjaan yang sama, tetapi mempunyai nilai berbeda di mata HR? Apakah Teman Belajar pernah bertanya-tanya? Ini bukan karena ada “orang dalam”, melainkan value yang dimiliki kandidat berbeda. Jika dikutip dari TCW Global, perekrut sekarang menganggap title itu hanya label, sementara prioritas perusahaan telah tergeser kepada skill yang dimiliki, pengalaman, dan profil keahlian. Dan kebanyakan kandidat yang dicari adalah T-Shaped person.

Jika kita menilik kembali job description di portal pencari kerja, pasti sering menemukan T-Shaped skills sebagai salah satu requirement. Kemampuan T-Shaped juga banyak menjadi bahan diskusi di forum HR sampai Linkedin. Tetapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan T-Shaped? Dalam artikel ini, Teman Belajar akan menemukan pembahasan mengenai ini secara lengkap. Kita akan membahas pengertiannya, kenapa istilah ini naik daun, sampai apa yang perlu dilakukan agar kita memiliki keahlian ini. Yuk, kita bahas satu persatu!

Apa Itu T Shape? Lebih dari Sekadar "Serba Bisa"

T-Shape adalah individu yang mempunyai satu skill utama sekaligus menguasai base knowledge di berbagai bidang. Istilah ini dipakai karena kompetensi yang dimiliki itu mirip huruf T. Pada bagian garis horizontal merujuk pada wawasan lintas disiplin, sementara garis vertikal mewakili keterampilan utama yang dikuasai seperti gambar berikut:

T-Shaped Skills Model

Istilah ini sebenarnya sudah muncul di tahun 1980-an. Meskipun akhir- akhir ini jadi populer lagi. Dilansir dari Corporate Finance Institute, istilah T-Shaped pertama kali dipakai sebagai sebutan internal di perusahaan consulting terkemuka, McKinsey & Company. Ini merujuk kepada seorang profesional yang tidak hanya memiliki satu skill yang tajam, tetapi juga pengetahuan pendukung yang luas.

Konsep T-Shaped kemudian menjadi lebih populer setelah IDEO mengadopsinya saat membentuk tim lintas divisi yang inovatif dan kolaboratif. Dan di tahun ini T-Shaped person kembali menjadi primadona, terutama saat industri berkembang di bidang tech dan startup. Hanya saja, Teman Belajar harus bisa membedakan antara T-Shaped, generalis, dan spesialis murni agar tidak salah kaprah.

Generalis itu sebutan untuk seseorang yang punya pengetahuan yang dangkal atau sekedarnya di berbagai bidang dan spesialis itu istilah untuk individu yang punya skill tajam di satu bidang, tapi di bidang lain justru tidak menguasai sama sekali. T-Shaped person ini ada di antaranya. Ini membuat T-Shaped lebih mudah untuk berkolaborasi dan melihat big picture dari sebuah project. Inilah kenapa orang dengan kemampuan ini banyak disukai perusahaan.

Jika masih bingung, Teman Belajar bisa membayangkan seorang chef yang tidak hanya punya skill masak mumpuni. Tetapi dia juga tahu bagaimana menghitung cost bahan dan bisa memperkirakan menu apa yang akan populer. Tentu saja skill masaknya sudah diakui, tetapi knowledge tambahannya membuat dia jadi lebih valuable.

Mengapa T-Shaped Skills Jadi Standar Baru Rekrutmen?

Saat ini flow di dunia kerja sudah banyak bergeser dari job orientation ke work orientation. Maksudnya seperti ini, dulu setiap orang hanya mengerjakan tugasnya saja dengan fokus. Sedangkan saat ini, pola kerja kolaboratif justru banyak dipakai perusahaan. Jadi untuk satu project, tim yang mengerjakan bisa terdiri dari beberapa divisi sekaligus dengan harapan hasil akhir yang memuaskan. Pam Sands juga mengatakan bahwa cara kerja lama sudah tidak relevan karena sebenarnya “work doesn’t fit neatly into those boxes.” Inilah kenapa T-Shaped skills menjadi standar baru rekrutmen di masa sekarang.

Fenomena ini juga sesuai dengan data dari TestGorilla yang menyatakan bahwa perusahaan yang menerapkan skills-based hiring sudah meningkat sekitar 85% dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dan jika perusahaan tidak menyertakan gelar atau title tertentu, kandidat potensial meningkat 19 kali lipat. Hal ini membuat proses rekrutmen lebih cepat sebesar 50% dan dan retensi karyawan akan meningkat sebesar 89%. Hal yang krusial mengingat quiet quitting masih menjadi tantangan nyata bagi banyak perusahaan saat ini.

Dan data dari GDH juga membuktikan bahwa 87% perusahaan yang menerapkan skills-based hiring mengalami peningkatan inovasi dan problem-solving, yang menegaskan bahwa pendekatan berbasis skill bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan kerja saat ini. Inilah yang menjadi alasan kenapa banyak perusahaan, khususnya startup, tech company, dan konsultan lebih memilih T-Shaped professional dibanding spesialis murni atau I-Shaped. Karena T-Shaped lebih adaptif terhadap perubahan dan mampu berkomunikasi lebih efektif. Kemampuan ini erat kaitannya dengan strategic thinking, cara berpikir yang membantu profesional melihat gambaran besar dari sebuah situasi kerja.

Grokipedia juga menyatakan bahwa meskipun profil I-Shaped kuat di satu bidang, tetapi cenderung terbatas dalam kolaborasi lintas fungsi dan berisiko menciptakan silo di perusahaan, sehingga menghambat kerja tim. Sifat I-Shaped yang repetitif juga membuatnya lebih mudah digantikan AI. Sebaliknya, T-shaped professional lebih unggul karena menggabungkan keahlian teknis, problem-solving, dan kemampuan kolaborasi lintas fungsi.

Baca juga Cara Meningkatkan Skill Komunikasi Anti Gagal Interview 

T-Shaped Person, Seperti Apa Wujudnya di Lapangan?

Jika Teman Belajar masih bingung seperti apa wujud T-Shaped person di lapangan, berikut beberapa profesi yang menggambarkan bagaimana kombinasi T-Skills tersebut:

  • Content Strategist biasanya memiliki keahlian utama dalam bidang SEO dan Content Writing. Tetapi profesi ini juga memiliki pengetahuan yang luas dalam memahami data analytics, UX sebuah platform, dan sales funnel.
  • Software Engineer, skill utamanya adalah backend development, tetapi mereka juga memiliki kemampuan umum dalam product thinking, UX dasar, dan business metrics.
  • HR Generalist memiliki kemampuan utama sebagai talent acquisition. Tetapi, mereka juga memiliki knowledge tentang budgeting, employer branding, dan organizational psychology, bahkan kerap terlibat dalam menyusun program pengembangan diri karyawan secara sistematis.

Jika dilihat pola dari ketiga profesi di atas, kita bisa melihat bahwa T-Shaped person tidak sekedar tahu banyak hal secara dangkal. Tetapi mereka punya kompetensi standar di bidang terkait, sehingga bisa berkontribusi secara aktif saat diskusi, memahami sudut pandang dari divisi lain, dan bisa mengambil keputusan yang relevan. Tapi meskipun T-Shaped banyak dicari, HR sebetulnya juga menyukai beberapa tipe lain.

Ada istilah π-shape (Pi-shape) dan comb-shape yang sebetulnya lanjutan dari T-Shaped itu sendiri. Dikutip dari Grokipedia, π-shaped (Pi-shaped) adalah individu yang memiliki dua keahlian utama dan comb-shaped memiliki banyak spesialisasi di berbagai bidang. Tapi sebelum kita memikirkan lebih jauh soal dua tipe tersebut, ada baiknya untuk memulai dari T-Shaped dulu. Ini adalah titik yang lebih realistis sekaligus bisa dicapai sebagai permulaan.

Cara Membangun T-Shaped Professional Secara Sistematis

Teman Belajar perlu hati-hati jika ingin memulai menjadi T-Shaped profesional, jangan sampai salah langkah. Karena banyak orang yang mempelajari banyak hal sekaligus dan malah berakhir jadi generalis. T-Shaped memang mengetahui banyak kompetensi, tapi bukan berarti harus belajar semua hal. Teman Belajar harus memilih skill yang ingin dikuasai secara strategis. Jika masih bingung, berikut diuraikan step-by-step yang harus dilakukan:

1. Temukan Keahlian Utama

Ikigai

Sebelum mulai belajar banyak hal, pastikan untuk menemukan keahlian utama terlebih dahulu. Masih bingung bagaimana menemukan skill utama? Kamu bisa coba memakai konsep ikigai. Caranya adalah mendaftar apa yang kamu suka, apa yang dibutuhkan di job market, apa yang kamu kuasai, dan keterampilan mana yang bisa menghasilkan uang. Ini efektif untuk mencari kemampuan, karena menurut Forbes, ikigai adalah reason for being untuk karir dan kehidupan bagi kebanyakan orang.

2. Perhatikan Bidang yang Bersinggungan di Tempat Kerja

Setelah menemukan keahlian inti, kamu bisa memperhatikan bidang keilmuan apa yang sering bersinggungan dengan keahlian yang kamu miliki. Divisi mana yang paling sering bekerja sama dengan Teman Belajar? Maka itulah yang harus dipelajari. Pelajari hal-hal umum di bidang tersebut sampai kamu bisa melihat big picture dan koneksi dalam pekerjaan. Dengan belajar hal tersebut, Teman Belajar bisa lebih mudah berkontribusi dalam sebuah proyek dengan memahami ekosistem kerja di sekitar.

3. Belajar Sampai Paham, Bukan Sampai Menguasai

Saat mempelajari skill pendukung, tidak perlu sampai menguasai dan mahir sekali. Karena tujuan menjadi T-Shaped itu bukan agar ahli di semua bidang. Melainkan memahami berbagai keilmuan agar saat bekerja sama dengan tim lain bisa lebih mudah berkomunikasi sehingga tidak terjadi mispersepsi. Jadi perlu diingat bahwa fokus belajarnya bukan pada kedalaman materi, ya. Melainkan ke relevansi dan pengetahuan yang aplikatif

4. Coba untuk Mempraktikkannya

Pemahaman lintas bidang tidak cukup dibangun dari teori, tetapi dari pengalaman langsung. Teman Belajar bisa mulai dengan terlibat dalam project di luar divisi, membantu tim lain, atau mengambil peran kecil di luar jobdesc untuk membangun wawasan lintas fungsi secara praktis.

5. Gunakan Pendekatan 70-20-10

Sebelum menjalankan empat tips di atas, tim Belajarlagi akan mengulas konsep belajar 70-20-10. Tujuannya agar belajarnya lebih terarah dan tidak mengabaikan pendalaman pada skill utama. Lantas bagaimana caranya? Dilansir dari CCL, konsep 70-20-10 artinya membagi perhatian menjadi tiga bagian, yakni sebagai berikut:

  • 70% pembelajaran berasal dari pengalaman kerja, yang selama ini dilakukan
  • Kemudian sebanyak 20% pembelajaran bisa diambil dari interaksi dengan orang lain, terutama untuk rekan antar divisi yang saling bersinggungan
  • 10% dari pembelajaran bisa diambil dari pendidikan formal seperti training atau kursus. 

Jadi selain belajar dari pengalaman kerja dan mendapatkan insight dari divisi lain, Teman Belajar juga perlu pembelajaran formal seperti training atau kursus dan ahlinya. Mungkin di awal belajar, hal ini akan terasa membuang waktu. Tetapi membangun T-Shaped bisa dibilang sebagai investasi jangka panjang. Terutama dalam persaingan di  job market yang pasti akan semakin ketat di masa yang akan datang. 

Baca juga Bedanya Kursus yang Berguna untuk Kerja dengan yang Buang Waktu 

T-Shaped skills bisa dibilang sebagai salah satu cara agar kita tetap relevan. Jadi ini bukan sekedar tren Linkedin saja. Jika sudah memiliki T-Shaped, Teman Belajar bisa maju ke Phi-Shaped dan Comb Shaped yang lebih besar scale-nya. Dan meskipun bisa belajar secara mandiri, sebenarnya T-Shaped bukan skill yang bisa dikuasai dalam waktu semalam. Jadi, Teman Belajar tetap perlu program yang terstruktur dan relevan agar skill utama dan pendukung tetap valuable di industri yang ditekuni.

Corporate Training Belajarlagi

Jika kamu seorang HR, team leader, atau bahkan profesional yang ingin mempelajari T-Shaped skills secara sistematis, Corporate Training dari Belajarlagi hadir untuk memenuhi kebutuhan perusahaan. Pembelajaran dalam training ini ini bisa digunakan untuk kebutuhan pengembangan tim dan dirancang sesuai dengan dunia kerja modern. Yuk, lihat program selengkapnya dan diskusikan kebutuhan tim-mu di Corporate Training dari Belajarlagi!

Referensi

  • TCW Global. Does a Recruiter Share Title Discrepancy with the Hiring Manager?
  • The Wise Skill. T-shaped profile: why is it such a highly valued profile?
  • Corporate Finance Institute. T-Shaped Skills
  • Kelly Services. The End of 'Jobs' and the Rise of Work: Why Skills-Based Hiring is Changing How We Grow
  • Test Gorilla. 52 key skills-based hiring statistics
  • GDH. Skills-Based Hiring in Tech: The Key to Finding the Right IT Talent
  • Grokipedia. T-shaped skills
  • Forbes. Ikigai Is The Japanese Method Of Determining Whether Or Not Your Work Will Fulfill You
  • CCL. The 70-20-10 Rule for Leadership Development

#
Personal Development
Belajarlagi author:

Dina Pertiwi

Freelance SEO Content Writer dengan 3+ tahun pengalaman menulis artikel berbagai topik, seperti fashion, gaya hidup, edukasi, dan teknologi. Memiliki ketertarikan khusus pada storytelling yang engaging dan berbasis riset.

Temukan Hal Menarik dan Asyik Lainnya

Yuk, Langganan Newsletter Kami

Topik apa yang paling menarik untuk anda?
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Cookie Consent

By clicking “Accept”, you agree to the storing of cookies on your device to enhance site navigation, analyze site usage, and assist in our marketing efforts. View our Privacy Policy for more information.