Strategi Branding: Arti, Elemen, Metode, Cara Efektif (2024)

Belajarlagi Writer
8 Min Read
Published:
May 16, 2024
Updated:
May 16, 2024

Menyiapkan strategi branding dengan baik adalah kunci dalam mempertahankan sebuah bisnis. Penyusunan branding bukan hanya perusahaan lakukan di awal saat membangun bisnis. Branding merupakan kegiatan berkelanjutan yang mesti dikembangkan seiring berjalannya bisnis.

Rencana branding sangat membantu perusahaan dalam menciptakan citra diri spesifik sekaligus yang membedakannya dengan kompetitor. Selain itu, sebuah branding yang terjaga baik juga turut menaikkan loyalitas atau kesetiaan pelanggan pada merek.

Pada artikel kali ini, Tim Belajar Lagi akan mengulas tentang apa itu strategi branding, apa saja elemen strateginya, hingga contoh metodenya. Buat perusahaan yang tengah menyusun rencana branding dalam bisnisnya, bisa banget simak artikel ini sampai akhir, ya!

Mengenal Strategi Branding

Menurut HubSpot, strategi branding merupakan bagian dari rencana bisnis yang menguraikan bagaimana sebuah perusahaan akan membangun hubungan baik dengan pasar. Salah satu tujuan utama dalam pembuatan strategi ini adalah agar pelanggan mudah mengingat merek. Dengan begitu, pelanggan dapat ikut mendorong pertumbuhan bisnis.

Branding strategy yang baik akan berpengaruh ke semua aspek bisnis dan berhubungan langsung dengan emosi, kebutuhan pelanggan, hingga lingkungan kompetitif. Sementara, selama ini banyak orang salah kaprah mengartikan branding sebagai logo, nama merek, dan produk. Kenyataannya, branding jauh melebihi hal-hal tersebut, lho.

Branding itu semacam perasaan spesifik yang dirasakan audiens. Sesuatu yang unik dan tidak bisa disamai oleh merek sejenis lainnya. Branding akan membuat audiens maupun pelanggan tahu perbedaan merek satu dengan merek lain sehingga akan tetap bertahan pada merek tersebut.

Karena branding cenderung kompleks dalam pelaksanaannya, maka perusahaan butuh menyiapkan rencana yang matang. Ingat, pelaksanaan branding tidak hanya selesai sampai logo sudah jadi ataupun rilis produk baru. Implementasi branding akan terus ada selama bisnis berjalan.

Tanpa adanya branding, mustahil sebuah merek bisa bertahan sampai puluhan tahun. Absennya branding juga tidak akan mendatangkan pelanggan loyal.

Apple merupakan contoh perusahaan yang mampu membangun branding dengan baik. Seberapa mahalnya harga produk-produk Apple, para pelanggan tetap setia membeli dan menggunakannya. Ini bukan hanya karena produk Apple berkualitas, melainkan ada story dan value kuat di balik brand tersebut.

Elemen Strategi Branding

elemen dalam strategi branding

Sebelum perusahaan menyusun strategi branding untuk jangka panjang, ada baiknya perusahaan juga memahami dulu elemen apa saja yang jadi penyusun branding. Elemen-elemen ini sangat esensial untuk membantu perusahaan bertahan dalam bisnisnya, bahkan sampai bertahun-tahun.

Pada dasarnya, elemen dalam strategi branding meliputi tujuh hal berikut ini:

  • Purpose
  • Consistency
  • Emotion
  • Flexibility
  • Employee involvement
  • Loyalty
  • Competitive awareness

Yuk, sama-sama simak penjelasan lengkapnya:

1. Purpose

Meski perusahaan paham akan solusi apa yang mereka janjikan ke pelanggan, perusahaan harus punya alasan kenapa brand mereka harus ada. Apa yang membuat pelanggan harus memakai produk atau jasa mereka, bukan merek lain.

Oleh sebab itu, sebuah brand harus memiliki tujuan spesifik yang menjadikan pembeda dengan merek-merek lain. Nah, menyusun tujuan ini pun tidak bisa sembarangan. Persaingan dengan kompetitor sudah amat ketat, jadi tanpa ada tujuan jelas akan makin menyulitkan suatu brand.

Lalu, bagaimana sebuah brand bisa menentukan tujuannya? Melansir dari HubSpot, penyusunan tujuan dapat dilihat dari dua konsep:

  • Functional. Fokusnya ada pada keberhasilan yang berkaitan langsung dan cenderung komersial. Contoh: tujuan bisnis adalah untuk menghasilkan uang.
  • Intentional. Fokusnya pada keberhasilan untuk memberikan dampak ke orang lain ataupun dunia secara umum.

Jika menilik brand IKEA, tujuan bisnisnya bukan hanya sekadar menghasilkan uang. IKEA memiliki visi “create a better everyday life”. Pendekatan ini mampu menarik lebih banyak pelanggan karena IKEA menunjukkan sebuah komitmen untuk membantu pelanggan ke kehidupan lebih baik.

2. Consistency

Konsistensi menjadi elemen penting selanjutnya dalam membangun branding. Sebuah brand tidak boleh membicarakan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan nilai brand. Ini harus menjadi perhatian mengingat konten-konten yang pelanggan konsumsi lewat media sosial pun harus konsisten dan tidak asal.

Untuk memperkuat brand, perusahaan mesti memastikan pesan yang mereka sebar ke pelanggan selalu konsisten. Konsistensi akan mendorong pertumbuhan merek sekaligus meningkatkan loyalitas pelanggan.

Konsistensi dapat terlihat dari jenis konten, warna, brand voice, dan lain-lain. Pelanggan akan tahu ketika sebuah brand mulai tidak konsisten, apalagi jika sudah melenceng dari value yang sebelumnya ada.

3. Emotion

Konsumen tidak selalu bersikap logis. Demi sebuah barang yang mereka sukai, mereka rela merogoh kocek dalam-dalam dan membelinya. Bahkan, tidak jarang pembelian tersebut bersifat kurang masuk akal.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Pada dasarnya, manusia memiliki kebutuhan dasar untuk membangun sebuah hubungan, salah satunya ya dengan brand tertentu. Secara psikologis, keterikatan secara emosional sudah menjadi sifat alami manusia.

Maka, perusahaan mesti memiliki strategi tertentu untuk terhubung dengan para pelanggan di tingkat lebih dalam. Beberapa pemicu emosional yang bisa perusahaan refleksikan antara lain:

  • Apakah brand mampu memberikan ketenangan pikiran bagi pelanggan?
  • Dampak apa yang bisa brand berikan ke pelanggan?
  • Dalam hal seperti apa brand dapat mempermudah hidup pelanggan?

Loyalitas pelanggan pun dapat otomatis meningkat ketika sebuah brand mampu mengikat emosi positif dengan mereka. Pelanggan tidak lagi melihat produk atau harga, melainkan value yang ikut melekat ke diri mereka.

4. Flexibility

Konsistensi sangat perlu, namun sebuah brand mesti tetap meluangkan ruang untuk fleksibilitas. Dunia bergerak dan berubah dengan cepat. Untuk bisa menjaga relevansi dengan pelanggan, ada kalanya brand juga butuh bersikap fleksibel.

Selera target pasar bisa berubah dan bergeser seiring tren yang sedang berkembang. Tanpa siap mengikuti perubahan tren, sebuah brand justru akan tertinggal bahkan bisa saja dilabeli sebagai “kuno”. Beberapa perubahan dan improvisasi mesti dilakukan secara berkala, misalnya refreshment logo, packaging baru, produk baru, dan lain-lain.

Perusahaan tidak perlu ragu mengubah strategi ketika cara lama sudah tak lagi berhasil. Manfaatkan momen untuk lebih fleksibel dan melibatkan audiens dengan cara terbaru dan menyenangkan.

5. Employee involvement

Ruang lingkup branding tidak hanya pada produk, melainkan juga pada karyawan. Ketika bicara branding, maka para karyawan pun bertugas mewakilinya ke hadapan publik.

Contohnya, sebuah merek mengusung brand voice yang fun dan simple ke para pelanggan. Ketika ada keluhan pelanggan, maka karyawan yang melayaninya juga harus membawa keramahan ke pelanggan. Jangan sampai muncul karyawan yang justru marah atau bersikap dingin ke pelanggan.

Strategi branding yang ini kerap dilewatkan oleh beberapa perusahaan. Menanamkan value branding ke internal perusahaan sebenarnya justru jauh lebih penting, lho.

6. Loyalty

Saat perusahaan sudah memiliki pelanggan yang mencintai dan setia pada brand, momen ini tidak boleh disia-siakan. Perusahaan mesti merespon dengan memberikan “penghargaan” ke pelanggan.

Apalagi jika pelanggan dengan loyal membagikan pengalaman bersama brand sekaligus merekomendasikannya ke banyak orang. Menumbuhkan loyalitas semacam ini akan sangat menguntungkan perusahaan, bahkan hingga tahun-tahun mendatang.

Ucapan terima kasih ke pelanggan terasa sudah cukup. Namun, ada kalanya brand dapat memberikan pesan yang terkesan lebih personal dan menyentuh untuk tiap pelanggan. Perusahaan dapat pula membuat loyalty programme untuk meningkatkan ikatan emosional ke pelanggan.

7. Competitive awareness

Branding juga tidak bisa lepas dari mengamati kompetitor. Sebuah perusahaan harus mencermati dan memperhatikan apa yang kompetitor lakukan. Logikanya, bukankah perusahaan juga mengejar pelanggan yang hampir sama dengan kompetitor?

Perhatikan, apakah taktik mereka berhasil? Kegagalan kompetitor mana apa yang bisa perusahaan pelajari? Apa yang bisa perusahaan lakukan untuk membangun branding sekuat kompetitor?

Yang terpenting adalah jangan sampai strategi kompetitor ditiru mentah-mentah. Ingat, masing-masing brand punya value dan tujuan spesifik yang berbeda-beda.

Baca Juga: Mengenal Brand Building dan Cara Memulainya untuk Bisnis

Apa Saja Metode Branding?

Bagi bisnis baru yang mengalami kesulitan dalam membangun branding, Belajar Lagi punya mini bootcamp yang bagus buat diikuti. Namanya Mini Bootcamp Brand Building.

mini bootcamp brand building belajarlagi

Dalam kelas tersebut, kamu akan belajar bagaimana membangun brand keren mulai dari dasar-dasarnya. Kurikulumnya lengkap dengan instruktur yang sudah berpengalaman di bidangnya, dijamin berkualitas deh. Untuk informasi lebih lanjut, silakan cek di website BelajarLagi, ya!

Selanjutnya, ada beberapa metode dalam strategi branding yang kerap perusahaan pakai. Misalnya, attitude branding, individual branding, product branding, dan lain-lain. Coba cermati penjelasan ringkasnya berikut ini, ya:

1. Attitude branding

Bentuk strategi branding ini berfokus pada perasaan atau sikap yang pelanggan asosiasikan dengan merek. Contoh brand yang sukses menerapkan strategi ini adalah Nike. Melalui slogan “Just Do It”, Nike mengedepankan gaya hidup yang bisa pelanggan nikmati saat memakai produk mereka.

Slogan itu juga secara tidak langsung mengarahkan gagasan bahwa pelanggan adalah atlet ketika mereka mengenakan produk Nike. Bisa dibilang loyalitas pelanggan Nike dapat terbentuk melalui slogan “Just Do It” tersebut.

2. Individual branding

Tipe branding ini biasa dipakai oleh perusahaan yang memiliki beberapa merek dengan ciri khas dan target market berbeda-beda. Misalnya, perusahaan seperti Unilever memiliki produk sabun, sampo, deodoran, es krim, dan lain-lain. Tiap produk memiliki pembangunan branding spesifik dan dilaksanakan secara berkelanjutan.

3. Product branding

Di sini sebuah brand akan mengasosiasikan logo, nama, warna, dan desain untuk menciptakan identitas unik pada sebuah produk. Ini merupakan metode branding terbaik karena dapat menonjolkan keunikan masing-masing produk ke pelanggan. Contohnya, Apple memiliki tiga branding MacBook: Air, Pro, dan Mac dengan masing-masing pesan unik.

4. Minimalist branding

Mastercard merupakan contoh dari minimalist branding yang sukses. Tanpa kita perlu tahu arti dari lingkaran merah dan kuning, kita sudah pasti tahu itu Mastercard dalam sekali lihat. Menciptakan minimalist branding memang tidak mudah, tetapi akan sangat berharga jika berhasil dilakukan.

5. Brand extension

Metode branding ini cukup unik karena perusahaan menggunakan salah satu nama merek yang sudah populer ke sebuah produk baru. Tujuannya adalah untuk mendongkrak terbarunya sehingga pelanggan menjadi lebih tertarik.

Baca Juga: Strategi Konten Sosial Media, Membangun Kehadiran yang Signifikan dan Keterlibatan yang Tinggi

Cara Membuat Strategi Branding yang Efektif

Setelah memahami apa itu branding dan manfaatnya, langkah selanjutnya adalah mengembangkan strategi branding yang efektif. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan agar strategi branding Anda menarik dan berhasil:

Pilih Nama Brand yang Singkat dan Mudah Diucapkan

Memilih nama brand yang mudah diingat dan diucapkan sangat penting untuk memudahkan konsumen mengenali dan mengingat brand Anda. Contohnya, merek-merek seperti Apple, Nike, dan Google memiliki nama yang sederhana namun kuat.

Lakukan Positioning yang Sempurna

Pastikan brand Anda memiliki posisi yang jelas di benak target pasar yang sesuai. Misalnya, Volvo dikenal dengan keamanannya, sementara Tesla diidentikkan dengan inovasi teknologi dalam kendaraan listrik. Positioning yang tepat akan membantu brand Anda menjadi top of mind di antara konsumen.

Identifikasi dan Tentukan Nilai Lebih atau Diferensiasi Brand

Menentukan apa yang membuat brand Anda unik dibandingkan dengan kompetitor sangat penting. Misalnya, Starbucks dikenal dengan kualitas kopi dan pengalaman pelanggan yang unik, sementara IKEA menonjolkan desain furnitur yang fungsional dan terjangkau.

Gunakan Desain dan Warna Logo yang Mencerminkan Produk

Logo dan warna brand harus mencerminkan identitas produk dan mempengaruhi persepsi konsumen. Sebagai contoh, warna merah pada logo Coca-Cola mencerminkan energi dan semangat, sementara warna biru pada logo Facebook menandakan kepercayaan dan profesionalisme.

Baca Juga: Mengenal Strategi Cutlery Branding: Logo- Logo Brand di Alat Makan Kita

Lakukan Promosi dengan Menonjolkan Brand Identity serta Pesan Produk

Promosi yang efektif harus menonjolkan identitas brand serta pesan utama produk yang ingin disampaikan. Misalnya, kampanye iklan Dove menekankan pada konsep kecantikan alami dan penerimaan diri, yang sesuai dengan nilai-nilai brand mereka.

Kesimpulan

Strategi branding harus direncanakan matang dan dijalankan secara berkelanjutan. Membangun branding tidak cukup hanya sebatas logo dan merilis produk. Branding yang terbentuk dengan baik dan kuat akan meningkatkan loyalitas para pelanggan.

Agar sebuah bisnis bisa bertahan hingga bertahun-tahun, kuncinya ada pada pembangunan branding. Maka, pastikan setiap elemen branding terus dipertahankan. Mulai dari purpose, consistency, emotion, flexibility, employee involvement, loyalty, dan competitive awareness.

No items found.
Belajarlagi author:

Belajarlagi Writer

Tim penulis Belajarlagi yang profesional dan berdedikasi untuk memberi informasi berkualitas demi Teman Belajar

Jadilah yang pertama tahu

Langganan Newsletter Kami

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.