- Kamu bisa memakai Excel untuk melakukan pembersihan data, tabulasi, hingga statistik deskriptif sebelum masuk ke tahap analisis.
- SPSS paling sesuai untuk uji hipotesis dasar, regresi, dan analisis faktor pada data yang memenuhi asumsi normalitas.
- SmartPLS lebih fleksibel untuk Structural Equation Modeling dengan variabel laten, sampel terbatas, dan data yang tidak berdistribusi normal.
- Pemilihan alat analisis data sebaiknya ditentukan oleh tujuan penelitian dan jenis data, bukan oleh kebiasaan atau popularitas.
Tools analisis data yang paling banyak dipakai oleh akademisi di Indonesia ada 3, yakni Excel untuk pengolahan awal, SPSS untuk analisis statistik, dan SmartPLS untuk pemodelan hubungan antar variabel yang kompleks. Banyak dosen dan peneliti memilih tools berdasarkan yang paling sering disebut rekan sejawat, lalu menyadari di tengah proses bahwa datanya tidak cocok dengan metode analisis yang dipilih.
Pola pikir ini mirip dengan yang dibahas di jenis bimtek untuk dosen, di mana pemilihan yang tepat harus berbasis kebutuhan, bukan tren.
Ketiga tools analisis data ini sebenarnya bukan pilihan yang saling menggantikan, melainkan dipakai pada tahap berbeda dalam satu alur penelitian yang sama. Dalam artikel ini akan menjelaskan peran masing-masing tools, kapan sebaiknya dipakai, dan cara memilihnya sesuai dengan desain penelitian Anda.
Tiga Tools yang Paling Sering Dipakai untuk Olah Data Penelitian
Sebelumnya sudah dibahas bahwa ketiga tools analisis data ini menempati tahap berbeda dalam alur penelitian. Berikut tabel yang memetakan posisi masing-masing tools:
Jika kamu ingin memakai ketiganya dalam satu analisis, maka berikut alur pemakaiannya:
- Gunakan Excel digunakan untuk mengolah data mentah, dari mulai cleaning gingga tabulasi.
- SPSS atau SmartPLS digunakan untuk menganalisis data. Penggunaanya tergantung dari tujuan dan struktur model penelitian.
Jangan terburu-buru dalam mempersiapkan data, karena jika sudah masuk ke analisis lanjutan, akan sulit mendeteksi kesalahan. Di tahap awal ini, penting untuk mengolah data secara benar agar hasil analisis dapat dipercaya.
Excel untuk Persiapan dan Pengolahan Awal Data
Excel adalah tools paling dasar sekaligus paling sering dipakai peneliti untuk mentabulasi data kuesioner, membersihkan data, dan menghitung statistik deskriptif sebelum masuk ke analisis lanjutan. Fungsinya cukup konkret, memasukkan dan merapikan data responden, memeriksa data yang kosong atau ganda, menghitung rata-rata dan sebaran, serta membuat tabel dan grafik untuk gambaran awal sebelum data diolah lebih jauh dengan aplikasi olah data penelitian yang lebih kompleks.
Kualitas analisis pada tahap berikutnya sangat ditentukan oleh kerapian data di Excel. Data yang formatnya tidak konsisten atau memuat kesalahan input akan menghasilkan analisis yang keliru meski tools yang dipakai selanjutnya sudah canggih. Excel memang kurang memadai untuk uji statistik yang kompleks dan pemodelan hubungan antarvariabel, sehingga tetap diperlukan tools lanjutan untuk tahap analisis.
Menguasai Excel dengan baik justru membuat tahap analisis berikutnya jauh lebih lancar dan meminimalkan revisi berulang saat data sudah masuk ke SPSS atau SmartPLS.
SPSS untuk Analisis Statistik Deskriptif dan Inferensial
Berdasarkan IBM SPSS Statistics, SPSS merupakan platform analisis statistik komprehensif yang menggabungkan pengujian statistik, pemodelan prediktif, regresi, dan peramalan dengan persiapan data yang lebih ringkas, dan kini juga dilengkapi asisten AI untuk membantu menerjemahkan output menjadi bahasa yang lebih mudah dipahami.
Sebagai software analisis data penelitian, kekuatan utamanya terletak pada antarmuka yang relatif ramah bagi pengguna tanpa latar belakang pemrograman serta kemampuannya menyediakan beragam teknik statistik dalam satu tempat, mulai dari statistik deskriptif, uji t, ANOVA, korelasi, hingga regresi.
Dikutip dari Formosa News, SPSS paling tepat digunakan saat data bersifat numerik dengan skala interval atau rasio dan memenuhi asumsi normalitas, sehingga cocok untuk uji hipotesis dan analisis regresi yang bersifat konfirmatif sederhana. Syarat normalitas data inilah yang sering membuat peneliti kesulitan ketika datanya tidak memenuhi asumsi tersebut, terutama pada penelitian dengan sampel kecil.
SPSS juga berlisensi berbayar dengan skema langganan mulai dari kisaran ratusan ribu rupiah per bulan (cek terbaru), dan untuk model struktural yang kompleks dengan banyak variabel laten, tools lain umumnya lebih sesuai.
SmartPLS untuk Model Kompleks dengan Sampel Terbatas
Dikutip dari SmartPLS, perangkat lunak ini dirancang untuk Partial Least Squares dan Covariance Based Structural Equation Modeling yang menganalisis hubungan antarvariabel laten dalam satu pengujian sekaligus, dan telah dipakai lebih dari 350.000 peneliti di lebih dari 150 negara untuk mendukung publikasi puluhan ribu jurnal ilmiah.
Kompetensi digital semacam ini juga sejalan dengan tren reskilling dan upskilling yang makin dibutuhkan di dunia akademik.
Sebagai salah satu tools analisis data penelitian yang paling relevan bagi banyak dosen, SmartPLS dapat dipakai ketika jumlah sampel terbatas namun model yang dibangun kompleks, dan tidak mensyaratkan data berdistribusi normal seperti halnya SPSS.
Berdasarkan UPT Jurnal UMSU, keunggulan praktis SmartPLS terletak pada tampilan berbasis grafik sehingga model dapat divisualisasikan langsung, sehingga memudahkan peneliti memahami dan mempresentasikan hasil analisis kepada penguji maupun pembaca jurnal. Tools ini paling tepat dipakai pada penelitian yang bersifat eksploratif atau prediktif, terutama di bidang sosial, ekonomi, manajemen, dan pendidikan yang banyak melibatkan variabel laten seperti persepsi, motivasi, dan kepuasan.
Kurva belajarnya memang lebih curam dibanding SPSS, dan pemahaman konsep Structural Equation Modeling tetap dibutuhkan agar hasilnya dapat diinterpretasikan dengan benar, bukan sekadar dijalankan sebagai kotak hitam statistik.
Cara Memilih Tools Sesuai Desain Penelitian
Pilihan tools analisis data sebaiknya ditentukan oleh tujuan penelitian, jenis data, dan jumlah sampel, bukan oleh popularitas atau kebiasaan olah data penelitian dosen di lingkungan kerja Anda. Berikut kerangka keputusan praktis yang dapat dipakai sebagai acuan awal:
- Bila penelitian bertujuan mendeskripsikan data dan menguji hipotesis sederhana, SPSS umumnya sudah memadai.
- Bila model melibatkan banyak variabel laten dengan hubungan bertingkat, SmartPLS lebih sesuai.
- Bila jumlah sampel terbatas atau data tidak berdistribusi normal, SmartPLS lebih fleksibel dibanding SPSS.
- Apa pun tools analisis data yang dipilih untuk tahap akhir, Excel tetap dipakai untuk menabulasi dan merapikan data di awal.
Memahami perbedaan SPSS dan SmartPLS ini penting karena banyak penelitian sebenarnya memakai lebih dari satu tools secara berurutan, sehingga menguasai ketiganya memberi keleluasaan memilih metode yang paling tepat, bukan menyesuaikan penelitian dengan tools yang kebetulan dikuasai.
Pelajari juga Serdos dari Syarat Terbaru Alur dan Tips agar Lolos
Prinsip ini sejalan dengan pendekatan Practice-Led Learning by Belajarlagi, yaitu metode belajar yang menekankan hands-on activity dan praktik langsung, karena retensi pengetahuan rendah bila peserta hanya mendengar, sehingga setiap kelas dikombinasikan dengan tugas dan latihan nyata. Menguasai instrumen olah data ini memang tidak cukup hanya dengan membaca panduan, melainkan perlu langsung dipraktikkan pada data penelitian yang sesungguhnya.
Kemampuan mengolah data adalah keterampilan yang menopang seluruh proses penelitian hingga publikasi, dan keterampilan ini dapat dilatih secara terstruktur, bukan sekadar dipelajari secara otodidak dari tutorial yang tersebar. Menguasai tools analisis data juga mendukung langsung produktivitas penelitian dan publikasi, sekaligus menjadi kompetensi yang dapat dibuktikan secara resmi melalui sertifikasi.
Pelajari juga pilihan sertifikasi kompetensi dosen: BNSP, MOS, Meta, atau PMI untuk melengkapi portofolio akademik Anda.

Ingin memperkuat kemampuan mengolah data penelitian sekaligus memiliki bukti kompetensi yang diakui? CertiHub by Belajarlagi menyediakan program pelatihan dan sertifikasi kompetensi dengan pendampingan menyeluruh, mulai dari materi persiapan hingga uji kompetensi. Pelajari selengkapnya di CertiHub by Belajarlagi.





