3 Tools Analisis Data Penelitian Dosen dan Kapan Sebaiknya Dipakai

Dina Pertiwi
8 Min Read
Published:
September 21, 2026
Updated:
September 21, 2026

Key Takeaways

  • Kamu bisa memakai Excel untuk melakukan pembersihan data, tabulasi, hingga statistik deskriptif sebelum masuk ke tahap analisis.
  • SPSS paling sesuai untuk uji hipotesis dasar, regresi, dan analisis faktor pada data yang memenuhi asumsi normalitas.
  • SmartPLS lebih fleksibel untuk Structural Equation Modeling dengan variabel laten, sampel terbatas, dan data yang tidak berdistribusi normal.
  • Pemilihan alat analisis data sebaiknya ditentukan oleh tujuan penelitian dan jenis data, bukan oleh kebiasaan atau popularitas.

Tools analisis data yang paling banyak dipakai oleh akademisi di Indonesia ada 3, yakni Excel untuk pengolahan awal, SPSS untuk analisis statistik, dan SmartPLS untuk pemodelan hubungan antar variabel yang kompleks. Banyak dosen dan peneliti memilih tools berdasarkan yang paling sering disebut rekan sejawat, lalu menyadari di tengah proses bahwa datanya tidak cocok dengan metode analisis yang dipilih.

Pola pikir ini mirip dengan yang dibahas di jenis bimtek untuk dosen, di mana pemilihan yang tepat harus berbasis kebutuhan, bukan tren.

Ketiga tools analisis data ini sebenarnya bukan pilihan yang saling menggantikan, melainkan dipakai pada tahap berbeda dalam satu alur penelitian yang sama. Dalam artikel ini akan menjelaskan peran masing-masing tools, kapan sebaiknya dipakai, dan cara memilihnya sesuai dengan desain penelitian Anda.

Tiga Tools yang Paling Sering Dipakai untuk Olah Data Penelitian

Sebelumnya sudah dibahas bahwa ketiga tools analisis data ini menempati tahap berbeda dalam alur penelitian. Berikut tabel yang memetakan posisi masing-masing tools:

Tools Tahap Penelitian Paling Cocok untuk
Excel Pengumpulan dan persiapan data Tabulasi kuesioner, pembersihan data, statistik deskriptif sederhana, grafik dasar
SPSS Analisis statistik Uji hipotesis dasar, regresi, uji t, ANOVA, analisis faktor, uji validitas dan reliabilitas
SmartPLS Pemodelan hubungan antarvariabel Structural Equation Modeling berbasis varians, model dengan banyak variabel laten, sampel terbatas

Jika kamu ingin memakai ketiganya dalam satu analisis, maka berikut alur pemakaiannya:

  • Gunakan Excel digunakan untuk mengolah data mentah, dari mulai cleaning gingga tabulasi.
  • SPSS atau SmartPLS digunakan untuk menganalisis data. Penggunaanya tergantung dari tujuan dan struktur model penelitian.

Jangan terburu-buru dalam mempersiapkan data, karena jika sudah masuk ke analisis lanjutan, akan sulit mendeteksi kesalahan. Di tahap awal ini, penting untuk mengolah data secara benar agar hasil analisis dapat dipercaya.

Excel untuk Persiapan dan Pengolahan Awal Data

Excel adalah tools paling dasar sekaligus paling sering dipakai peneliti untuk mentabulasi data kuesioner, membersihkan data, dan menghitung statistik deskriptif sebelum masuk ke analisis lanjutan. Fungsinya cukup konkret, memasukkan dan merapikan data responden, memeriksa data yang kosong atau ganda, menghitung rata-rata dan sebaran, serta membuat tabel dan grafik untuk gambaran awal sebelum data diolah lebih jauh dengan aplikasi olah data penelitian yang lebih kompleks.

Kualitas analisis pada tahap berikutnya sangat ditentukan oleh kerapian data di Excel. Data yang formatnya tidak konsisten atau memuat kesalahan input akan menghasilkan analisis yang keliru meski tools yang dipakai selanjutnya sudah canggih. Excel memang kurang memadai untuk uji statistik yang kompleks dan pemodelan hubungan antarvariabel, sehingga tetap diperlukan tools lanjutan untuk tahap analisis. 

Menguasai Excel dengan baik justru membuat tahap analisis berikutnya jauh lebih lancar dan meminimalkan revisi berulang saat data sudah masuk ke SPSS atau SmartPLS.

SPSS untuk Analisis Statistik Deskriptif dan Inferensial

Berdasarkan IBM SPSS Statistics, SPSS merupakan platform analisis statistik komprehensif yang menggabungkan pengujian statistik, pemodelan prediktif, regresi, dan peramalan dengan persiapan data yang lebih ringkas, dan kini juga dilengkapi asisten AI untuk membantu menerjemahkan output menjadi bahasa yang lebih mudah dipahami. 

Sebagai software analisis data penelitian, kekuatan utamanya terletak pada antarmuka yang relatif ramah bagi pengguna tanpa latar belakang pemrograman serta kemampuannya menyediakan beragam teknik statistik dalam satu tempat, mulai dari statistik deskriptif, uji t, ANOVA, korelasi, hingga regresi.

Dikutip dari Formosa News, SPSS paling tepat digunakan saat data bersifat numerik dengan skala interval atau rasio dan memenuhi asumsi normalitas, sehingga cocok untuk uji hipotesis dan analisis regresi yang bersifat konfirmatif sederhana. Syarat normalitas data inilah yang sering membuat peneliti kesulitan ketika datanya tidak memenuhi asumsi tersebut, terutama pada penelitian dengan sampel kecil. 

SPSS juga berlisensi berbayar dengan skema langganan mulai dari kisaran ratusan ribu rupiah per bulan (cek terbaru), dan untuk model struktural yang kompleks dengan banyak variabel laten, tools lain umumnya lebih sesuai.

SmartPLS untuk Model Kompleks dengan Sampel Terbatas

Dikutip dari SmartPLS, perangkat lunak ini dirancang untuk Partial Least Squares dan Covariance Based Structural Equation Modeling yang menganalisis hubungan antarvariabel laten dalam satu pengujian sekaligus, dan telah dipakai lebih dari 350.000 peneliti di lebih dari 150 negara untuk mendukung publikasi puluhan ribu jurnal ilmiah. 

Kompetensi digital semacam ini juga sejalan dengan tren reskilling dan upskilling yang makin dibutuhkan di dunia akademik.

Sebagai salah satu tools analisis data penelitian yang paling relevan bagi banyak dosen, SmartPLS dapat dipakai ketika jumlah sampel terbatas namun model yang dibangun kompleks, dan tidak mensyaratkan data berdistribusi normal seperti halnya SPSS.

Berdasarkan UPT Jurnal UMSU, keunggulan praktis SmartPLS terletak pada tampilan berbasis grafik sehingga model dapat divisualisasikan langsung, sehingga memudahkan peneliti memahami dan mempresentasikan hasil analisis kepada penguji maupun pembaca jurnal. Tools ini paling tepat dipakai pada penelitian yang bersifat eksploratif atau prediktif, terutama di bidang sosial, ekonomi, manajemen, dan pendidikan yang banyak melibatkan variabel laten seperti persepsi, motivasi, dan kepuasan. 

Kurva belajarnya memang lebih curam dibanding SPSS, dan pemahaman konsep Structural Equation Modeling tetap dibutuhkan agar hasilnya dapat diinterpretasikan dengan benar, bukan sekadar dijalankan sebagai kotak hitam statistik.

Cara Memilih Tools Sesuai Desain Penelitian

Pilihan tools analisis data sebaiknya ditentukan oleh tujuan penelitian, jenis data, dan jumlah sampel, bukan oleh popularitas atau kebiasaan olah data penelitian dosen di lingkungan kerja Anda. Berikut kerangka keputusan praktis yang dapat dipakai sebagai acuan awal:

  1. Bila penelitian bertujuan mendeskripsikan data dan menguji hipotesis sederhana, SPSS umumnya sudah memadai.
  2. Bila model melibatkan banyak variabel laten dengan hubungan bertingkat, SmartPLS lebih sesuai.
  3. Bila jumlah sampel terbatas atau data tidak berdistribusi normal, SmartPLS lebih fleksibel dibanding SPSS.
  4. Apa pun tools analisis data yang dipilih untuk tahap akhir, Excel tetap dipakai untuk menabulasi dan merapikan data di awal.

Memahami perbedaan SPSS dan SmartPLS ini penting karena banyak penelitian sebenarnya memakai lebih dari satu tools secara berurutan, sehingga menguasai ketiganya memberi keleluasaan memilih metode yang paling tepat, bukan menyesuaikan penelitian dengan tools yang kebetulan dikuasai. 

Pelajari juga Serdos dari Syarat Terbaru Alur dan Tips agar Lolos

Prinsip ini sejalan dengan pendekatan Practice-Led Learning by Belajarlagi, yaitu metode belajar yang menekankan hands-on activity dan praktik langsung, karena retensi pengetahuan rendah bila peserta hanya mendengar, sehingga setiap kelas dikombinasikan dengan tugas dan latihan nyata. Menguasai instrumen olah data ini memang tidak cukup hanya dengan membaca panduan, melainkan perlu langsung dipraktikkan pada data penelitian yang sesungguhnya.

Kemampuan mengolah data adalah keterampilan yang menopang seluruh proses penelitian hingga publikasi, dan keterampilan ini dapat dilatih secara terstruktur, bukan sekadar dipelajari secara otodidak dari tutorial yang tersebar. Menguasai tools analisis data juga mendukung langsung produktivitas penelitian dan publikasi, sekaligus menjadi kompetensi yang dapat dibuktikan secara resmi melalui sertifikasi.

Pelajari juga pilihan sertifikasi kompetensi dosen: BNSP, MOS, Meta, atau PMI untuk melengkapi portofolio akademik Anda.
CertiHub by Belajarlagi

Ingin memperkuat kemampuan mengolah data penelitian sekaligus memiliki bukti kompetensi yang diakui? CertiHub by Belajarlagi menyediakan program pelatihan dan sertifikasi kompetensi dengan pendampingan menyeluruh, mulai dari materi persiapan hingga uji kompetensi. Pelajari selengkapnya di CertiHub by Belajarlagi.

FAQ

[open]
[collapse]

Kapan Excel dipakai dalam alur analisis data penelitian, dan apa batasannya?

Excel dipakai pada tahap pengumpulan dan persiapan data, yaitu untuk mentabulasi data kuesioner, membersihkan data, dan menghitung statistik deskriptif sederhana sebelum data masuk ke tahap analisis lanjutan. Fungsinya mencakup memasukkan dan merapikan data responden, memeriksa data kosong atau ganda, menghitung rata-rata dan sebaran, serta membuat tabel dan grafik dasar. Excel memang kurang memadai untuk uji statistik yang kompleks dan pemodelan hubungan antarvariabel, sehingga tetap diperlukan tools lanjutan seperti SPSS atau SmartPLS untuk tahap analisis. Kualitas analisis pada tahap berikutnya sangat ditentukan oleh kerapian data di Excel, karena format yang tidak konsisten akan menghasilkan analisis yang keliru meski tools lanjutan yang dipakai sudah canggih.

Kapan SPSS paling tepat digunakan untuk analisis data penelitian?

SPSS paling tepat digunakan saat data bersifat numerik dengan skala interval atau rasio dan memenuhi asumsi normalitas, sehingga cocok untuk uji hipotesis dan analisis regresi yang bersifat konfirmatif sederhana. Kekuatan utamanya terletak pada antarmuka yang relatif ramah bagi pengguna tanpa latar belakang pemrograman serta kemampuannya menyediakan beragam teknik statistik dalam satu tempat, mulai dari statistik deskriptif, uji t, ANOVA, korelasi, hingga regresi. Syarat normalitas data inilah yang sering membuat peneliti kesulitan ketika datanya tidak memenuhi asumsi tersebut, terutama pada penelitian dengan sampel kecil, sehingga untuk model struktural yang kompleks dengan banyak variabel laten, tools lain umumnya lebih sesuai.

Kapan SmartPLS lebih tepat dipakai dibanding SPSS?

SmartPLS lebih tepat dipakai ketika jumlah sampel terbatas namun model yang dibangun kompleks, dan tidak mensyaratkan data berdistribusi normal seperti halnya SPSS. Perangkat lunak ini dirancang untuk Partial Least Squares dan Covariance Based Structural Equation Modeling yang menganalisis hubungan antarvariabel laten dalam satu pengujian sekaligus, dan telah dipakai lebih dari 350.000 peneliti di lebih dari 150 negara. Keunggulan praktisnya terletak pada tampilan berbasis grafik sehingga model dapat divisualisasikan langsung, cocok untuk penelitian eksploratif atau prediktif di bidang sosial, ekonomi, manajemen, dan pendidikan yang banyak melibatkan variabel laten seperti persepsi, motivasi, dan kepuasan. Kurva belajarnya memang lebih curam dibanding SPSS, dan pemahaman konsep Structural Equation Modeling tetap dibutuhkan agar hasilnya dapat diinterpretasikan dengan benar.

Bagaimana alur pemakaian Excel, SPSS, dan SmartPLS dalam satu penelitian?

Ketiga tools ini bukan pilihan yang saling menggantikan, melainkan dipakai pada tahap berbeda dalam satu alur penelitian yang sama. Alurnya berjalan berurutan: Excel digunakan lebih dulu untuk mengolah, mentabulasi, dan membersihkan data mentah dari kuesioner, baru kemudian SPSS atau SmartPLS digunakan untuk menganalisis data, tergantung dari tujuan dan struktur model penelitian. Bila penelitian bertujuan mendeskripsikan data dan menguji hipotesis sederhana, SPSS umumnya sudah memadai. Bila model melibatkan banyak variabel laten dengan hubungan bertingkat, atau jumlah sampel terbatas dan data tidak berdistribusi normal, SmartPLS lebih sesuai. Apa pun tools analisis yang dipilih untuk tahap akhir, Excel tetap dipakai untuk menabulasi dan merapikan data di awal.

Berapa kisaran biaya lisensi SPSS?

Berdasarkan halaman resmi IBM, SPSS Statistics Base Subscription berlisensi berbayar mulai dari USD 99 per user per bulan untuk paket bulanan, dengan opsi add-on tambahan yang membuat totalnya bisa lebih tinggi tergantung modul yang dipilih. Angka ini bisa berbeda tergantung edisi, wilayah, jumlah lisensi, dan apakah memenuhi syarat harga khusus akademik, sehingga sebaiknya dicek langsung ke halaman resmi IBM atau reseller SPSS untuk mendapatkan angka yang berlaku saat ini. Untuk model struktural yang kompleks dengan banyak variabel laten, SmartPLS umumnya lebih sesuai dibanding menambah modul SPSS yang lebih mahal.

#
Personal Development
Belajarlagi author:

Dina Pertiwi

Freelance SEO Content Writer dengan 3+ tahun pengalaman menulis artikel berbagai topik, seperti fashion, gaya hidup, edukasi, dan teknologi. Memiliki ketertarikan khusus pada storytelling yang engaging dan berbasis riset.

Temukan Hal Menarik dan Asyik Lainnya

Yuk, Langganan Newsletter Kami

Topik apa yang paling menarik untuk anda?
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Cookie Consent

By clicking “Accept”, you agree to the storing of cookies on your device to enhance site navigation, analyze site usage, and assist in our marketing efforts. View our Privacy Policy for more information.