Perbedaan Retargeting dan Remarketing serta Cara Pakainya

Dina Pertiwi
8 Min Read
Published:
September 21, 2026
Updated:
September 22, 2026

Key Takeaways

  • Sumber data jadi pembeda utama. Retargeting memakai data pihak ketiga (pixel, cookie), remarketing memakai first-party data (CRM, email, riwayat transaksi).
  • Status audiensnya berbeda. Retargeting menyasar orang anonim yang belum tentu pernah memberi data, remarketing menyasar orang yang sudah teridentifikasi.
  • Privasi mengubah lanskap keduanya. ATT dan pemblokiran cookie pihak ketiga menekan efektivitas retargeting tradisional, sehingga first-party data makin bernilai.
  • Strategi paling efektif menggabungkan keduanya. Retargeting menangkap pengunjung baru, remarketing menjaga dan mengaktifkan pelanggan lama.
  • First-party data adalah aset jangka panjang yang membuat brand lebih tahan terhadap perubahan aturan privasi ke depannya.

Retargeting dan remarketing sering dianggap sama, padahal keduanya berbeda dari segi sumber data dan bagaimana cara menjangkaunya. Retargeting mengandalkan sinyal perilaku anonim lewat pixel atau cookie, sementara remarketing memakai data milik brand sendiri seperti email dan CRM. Miskonsepsi ini penting diluruskan karena cara memilih strategi menentukan efisiensi budget ads yang kamu jalankan.

Sekarang aturan mainnya sudah berubah. Safari dan Firefox memblokir cookie pihak ketiga secara default, sementara App Tracking Transparency di iOS membatasi tracking lintas aplikasi. Artikel ini membahas keduanya dari definisi, cara kerja, dampak era cookieless, sampai kerangka memilih strategi yang tepat.

Apa Itu Retargeting dan Cara Kerjanya

Retargeting adalah teknik menampilkan iklan kepada orang yang pernah berinteraksi dengan situs atau aplikasi tapi belum konversi. Sinyal yang dipakai bersifat anonim, dikumpulkan lewat pixel iklan atau conversion API, bukan identitas personal yang diberikan langsung oleh pengguna.

Mekanismenya berjalan dalam tiga tahap. Pixel merekam kunjungan atau interaksi seseorang di situs, sistem membangun audiens dari kumpulan sinyal itu, lalu iklan "mengejar" audiens tersebut saat mereka membuka platform lain seperti media sosial atau jaringan display. Dikutip dari Decentriq, setup retargeting yang lebih matang kini mulai memakai koneksi server-side seperti Conversion API untuk mengompensasi keandalan cookie yang terus menurun.

Ada empat jenis retargeting yang umum dipakai praktisi ads:

  • Site retargeting: menyasar ulang pengunjung yang meninggalkan situs tanpa transaksi.
  • Dynamic retargeting: menampilkan otomatis produk spesifik yang pernah dilihat pengguna. Performanya juga ditentukan oleh kualitas landing page tempat audiens diarahkan.
  • Social retargeting: menjangkau ulang audiens di platform seperti Instagram atau TikTok. Pendekatan ini bisa dipadukan dengan strategi konten TikTok marketing agar kontennya juga relevan buat audiens yang sedang di-retarget.
  • Search retargeting: menargetkan berdasarkan perilaku atau intent pencarian pengguna.

Kuncinya, retargeting bekerja pada audiens anonim yang dijangkau lewat platform pihak ketiga. Karena mereka warm traffic yang sudah kenal brand, konversinya biasanya lebih tinggi dibanding cold audience. Insight yang sering luput, warm traffic ini juga lebih rentan terhadap ad fatigue, jadi frequency capping tetap perlu diperhatikan supaya audiens tidak merasa dikejar berlebihan.

Apa Itu Remarketing dan Cara Kerjanya

Remarketing adalah strategi menjangkau kembali audiens memakai data milik perusahaan sendiri, seperti daftar email, CRM, dan riwayat pembelian. Bedanya dengan retargeting terletak pada status audiens. Remarketing bicara pada orang yang sudah teridentifikasi, bukan sinyal anonim.

Cara kerjanya dimulai dari data pelanggan yang sudah dimiliki brand. Data itu lalu dipakai untuk mengirim email, notifikasi push, atau diunggah sebagai daftar kontak ke platform iklan supaya iklan menyasar orang spesifik, bukan audiens acak. Dikutip dari Addict Mobile, remarketing berjalan sebagai komunikasi langsung berbasis izin, dibangun di atas data yang sepenuhnya dikuasai perusahaan, bukan lewat perantara platform iklan pihak ketiga.

Contoh penerapan remarketing yang lazim dipakai tim marketing:

  • Email keranjang belum checkout: mengingatkan pelanggan menyelesaikan transaksi yang tertunda. Efektivitasnya sangat bergantung pada conversion copywriting yang dipakai dalam pesannya.
  • Penawaran win-back: menyasar pelanggan lama yang sudah tidak aktif bertransaksi.
  • Reminder reorder: mendorong pembelian ulang produk yang siklus konsumsinya berulang.

Karena menyasar orang yang sudah pernah bertransaksi atau memberi data, remarketing biasanya bermain di titik funnel yang lebih dalam, yaitu customer retention dan loyalitas, bukan sekadar akuisisi awal. Insight tambahan, kualitas remarketing sangat bergantung pada kebersihan data. CRM yang tidak dirapikan justru bisa menurunkan performa kampanye meski datanya first-party.

Perbedaan Utama Retargeting dan Remarketing

Retargeting dan remarketing adalah dua pendekatan yang kerap dianggap sama, padahal pembedanya cukup jelas kalau dilihat dari sumber data dan status audiens. Supaya lebih mudah dibandingkan, berikut rangkuman perbedaannya di lima aspek utama.

Perdebatan remarketing vs retargeting sebenarnya sering disederhanakan jadi "iklan vs email", padahal itu kurang akurat. Pembeda paling tepat ada pada sumber data (third-party vs first-party) dan status audiens (anonim vs teridentifikasi), bukan sekadar kanal yang dipakai.

Di lapangan, dua istilah ini malah sering dipakai bergantian oleh platform iklan maupun praktisi. Dikutip dari Google Ads Help, Google kini menyebut fitur remarketing sebagai "your data" pada antarmuka Audiences terbarunya, menandakan pergeseran istilah yang terus berkembang di industri. Insight tambahan, karena istilah terus berubah, yang lebih penting bagi praktisi bukan berdebat penamaan, melainkan memahami dua pendekatan data yang mendasarinya.

Dampak Era Cookieless dan Privasi pada Kedua Strategi

Aturan main retargeting dan remarketing berubah drastis di era privasi. Kebijakan seperti App Tracking Transparency dan pemblokiran cookie pihak ketiga membuat sinyal perilaku yang dulu jadi andalan retargeting kini jauh lebih terbatas.

Berdasarkan data Adjust Q2 2025, dikutip dari Adjust, rata-rata tingkat opt-in App Tracking Transparency bervariasi menurut kategori aplikasi, berkisar di kisaran 14 persen sampai 35 persen tergantung vertikal dan tahun pengukuran (cek terbaru). Sementara itu, dikutip dari InfoQ, Safari sudah memblokir seluruh cookie pihak ketiga secara default sejak versi 13.1, menyusul langkah serupa yang lebih dulu diterapkan Firefox. Kombinasi kedua kebijakan ini membuat sebagian audiens tidak lagi terjangkau lewat tracking tradisional, meski angka pastinya bervariasi tergantung kombinasi perangkat, browser, dan region pengguna.

Karena retargeting bergantung pada tracking lintas situs yang kini menyusut, nilai first-party data yang jadi basis remarketing justru naik. Perusahaan yang sudah membangun data pelanggan sendiri jauh lebih siap menghadapi perubahan aturan privasi dibanding yang masih mengandalkan cookie pihak ketiga. Prinsip ini jadi fondasi utama dalam performance marketing di era cookieless.

Beberapa pendekatan yang masih efektif di tengah pembatasan ini:

  • Data on-site sendiri: memanfaatkan cart abandonment dan product view sebagai sinyal first-party.
  • Audiens native platform: mengandalkan Google, Meta, atau LinkedIn yang berbasis user login, bukan cookie lintas situs. Pemanfaatan AI dalam menyusun dan mengoptimalkan kampanye semacam ini juga dibahas lebih dalam di AI untuk digital marketing.
  • Conversion API: mengirim data konversi langsung dari server, menggantikan peran pixel yang makin terbatas.

Insight yang jarang dibahas, transisi ke first-party data bukan cuma soal teknis tracking, tapi juga soal membangun kepercayaan lewat consent yang jelas. Brand yang transparan soal pemakaian data punya peluang lebih besar mendapat opt-in rate di atas rata-rata industri. Masa depan kedua strategi ini jelas condong ke first-party data dengan consent yang jelas sebagai fondasinya.

Kapan Memakai Retargeting dan Kapan Remarketing

Memilih antara keduanya bukan soal salah satu lebih unggul, melainkan soal siapa yang ditargetkan dan data apa yang brand miliki. Kerangka sederhana berikut membantu kamu menentukan kapan masing-masing strategi paling relevan dipakai.

Dalam praktiknya, funnel yang lengkap justru memakai retargeting maupun remarketing secara bersamaan. Retargeting menangkap pengunjung baru yang masih anonim, sementara remarketing memelihara orang yang sudah jadi pelanggan lewat data yang brand miliki sendiri.

Keputusan mana yang dipakai lebih dulu sebaiknya mengikuti siapa yang ditargetkan, bukan sekadar preferensi kanal. Kombinasi keduanya, dengan fondasi first-party data yang kuat, jadi strategi paling tahan terhadap perubahan aturan privasi di masa depan. Menguasai kedua strategi ini sekaligus beradaptasi dengan era cookieless menuntut skill yang terus mengikuti perubahan platform ads, bukan sekali belajar lalu selesai.

Corporate Training Belajarlagi

Bagi tim marketing atau bisnis yang ingin membekali karyawannya dengan skill ads yang relevan di era privasi ini, Corporate Training Belajarlagi bisa jadi opsi untuk membangun kemampuan tim secara terstruktur, mulai dari dasar strategi ads sampai adaptasi terhadap perubahan seperti cookieless dan first-party data. Pelajari selengkapnya di Corporate Training Belajarlagi.

FAQ

[open]
[collapse]

Apa perbedaan utama retargeting dan remarketing?

Pembeda utamanya ada pada sumber data dan status audiens, bukan sekadar kanal yang dipakai. Retargeting memakai data pihak ketiga seperti pixel dan cookie untuk menjangkau audiens anonim yang belum tentu pernah memberi data ke brand. Remarketing memakai first-party data seperti CRM, email, dan riwayat transaksi untuk menjangkau orang yang sudah teridentifikasi. Retargeting biasanya berjalan lewat iklan display dan media sosial, sementara remarketing lewat email, notifikasi, atau custom audience dari data yang brand miliki sendiri.

Bagaimana cara kerja retargeting?

Retargeting berjalan dalam tiga tahap: pixel merekam kunjungan atau interaksi seseorang di situs, sistem membangun audiens dari kumpulan sinyal itu, lalu iklan "mengejar" audiens tersebut saat mereka membuka platform lain seperti media sosial atau jaringan display. Ada empat jenis yang umum dipakai: site retargeting untuk pengunjung yang meninggalkan situs, dynamic retargeting untuk produk spesifik yang pernah dilihat, social retargeting di platform seperti Instagram atau TikTok, dan search retargeting berdasarkan intent pencarian. Karena menyasar warm traffic yang sudah kenal brand, konversinya biasanya lebih tinggi dibanding cold audience, meski risiko ad fatigue juga lebih besar sehingga frequency capping tetap perlu diperhatikan.

Bagaimana cara kerja remarketing?

Remarketing dimulai dari data pelanggan yang sudah dimiliki brand, lalu dipakai untuk mengirim email, notifikasi push, atau diunggah sebagai daftar kontak ke platform iklan supaya iklan menyasar orang spesifik, bukan audiens acak. Contoh penerapannya termasuk email keranjang belum checkout, penawaran win-back untuk pelanggan lama yang tidak aktif, dan reminder reorder untuk produk dengan siklus konsumsi berulang. Karena menyasar orang yang sudah pernah bertransaksi atau memberi data, remarketing biasanya bermain di titik funnel yang lebih dalam, yaitu retensi dan loyalitas, bukan sekadar akuisisi awal. Kualitas remarketing sangat bergantung pada kebersihan data, karena CRM yang tidak dirapikan bisa menurunkan performa kampanye meski datanya first-party.

Bagaimana era cookieless dan aturan privasi memengaruhi retargeting dan remarketing?

Kebijakan seperti App Tracking Transparency dan pemblokiran cookie pihak ketiga membuat sinyal perilaku yang jadi andalan retargeting kini jauh lebih terbatas. Data Adjust Q2 2025 mencatat rata-rata tingkat opt-in App Tracking Transparency berkisar di kisaran 14 persen sampai 35 persen tergantung vertikal aplikasi dan tahun pengukuran, sementara Safari sudah memblokir seluruh cookie pihak ketiga secara default sejak versi 13.1, menyusul langkah serupa yang lebih dulu diterapkan Firefox. Karena retargeting bergantung pada tracking lintas situs yang kini menyusut, nilai first-party data yang jadi basis remarketing justru naik. Beberapa pendekatan yang masih efektif di tengah pembatasan ini adalah memanfaatkan data on-site sendiri seperti cart abandonment, mengandalkan audiens native platform berbasis user login, dan memakai Conversion API untuk mengirim data konversi langsung dari server.

Kapan sebaiknya pakai retargeting dan kapan pakai remarketing?

Pilihan antara keduanya bergantung pada siapa yang ditargetkan dan data apa yang brand miliki, bukan soal salah satu lebih unggul. Retargeting cocok dipakai untuk cart abandonment lewat iklan dinamis produk yang ditinggalkan, awareness ke warm traffic lewat iklan display atau sosial, dan follow-up ke orang yang melihat halaman produk atau harga tapi belum beli. Remarketing lebih cocok untuk upsell atau program loyalitas lewat data CRM, serta win-back pelanggan tidak aktif lewat penawaran personal. Dalam praktiknya, funnel yang lengkap justru memakai keduanya secara bersamaan, dengan retargeting menangkap pengunjung baru dan remarketing memelihara pelanggan yang sudah ada.

#
Digital Marketing
Belajarlagi author:

Dina Pertiwi

Freelance SEO Content Writer dengan 3+ tahun pengalaman menulis artikel berbagai topik, seperti fashion, gaya hidup, edukasi, dan teknologi. Memiliki ketertarikan khusus pada storytelling yang engaging dan berbasis riset.

Temukan Hal Menarik dan Asyik Lainnya

Yuk, Langganan Newsletter Kami

Topik apa yang paling menarik untuk anda?
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Cookie Consent

By clicking “Accept”, you agree to the storing of cookies on your device to enhance site navigation, analyze site usage, and assist in our marketing efforts. View our Privacy Policy for more information.