Cara Membuat Landing Page yang Convert Tinggi dan Contohnya 2026

Ayu Novia
8 Min Read
Published:
August 29, 2024
Updated:
June 15, 2026

Key Takeaways

  • Landing page merupakan halaman dengan satu tujuan konversi yang dirancang berdasarkan perilaku pengunjung. 
  • Message match antara pesan di iklan dengan headline landing page, adalah faktor yang paling sering diabaikan dan paling cepat membuat pengunjung kabur.
  • Trafik dari email menghasilkan konversi tertinggi di angka 19,3%, jauh melampaui paid search maupun social media.
  • Landing page yang ditulis dengan bahasa tingkat baca kelas 5 hingga 7 SD menghasilkan konversi 11,1%, dua kali lipat dari yang menggunakan bahasa level profesional.
  • Halaman yang memuat lebih dari 3 detik kehilangan sebagian besar peluang konversinya sebelum pengunjung sempat membaca satu kata pun.

Mengapa landing page-mu ramai dikunjungi tapi sepi yang beli/daftar? Jawabannya hampir selalu bukan di produknya. Masalahnya ada di struktur dan pesan landing page yang gagal meyakinkan pengunjung untuk melakukan action.

Banyak orang sudah punya produk yang bagus dan trafik yang cukup. Sebaliknya, landing page mereka menampilkan banyak informasi tanpa maksud yang jelas. Padahal, halaman ini dirancang untuk mendorong pengunjung melakukan satu aksi spesifik. Artikel ini membahas prinsip psikologi di balik landing page yang berkonversi hingga kesalahan paling umum yang membuat konversi anjlok.

Apa Itu Landing Page yang Convert dan Bedanya dengan Homepage

Landing page adalah halaman yang berdiri sendiri dengan satu tujuan konversi (Pembelian, pendaftaran, pengisian formulir, atau download). Landing page berbeda dari homepage yang bertugas memberi gambaran umum tentang sebuah bisnis. Landing page tidak memberi banyak pilihan dan hanya meminta visitor melakukan satu hal. Homepage biasanya punya puluhan tautan keluar yang memberi pengunjung terlalu banyak jalan untuk keluar tanpa melakukan apa-apa.

Teman Belajar perlu tahu adanya konsep message match, yaitu keselarasan antara pesan yang iklan atau konten yang membawa pengunjung ke page tertentu. Contohnya, iklan yang berbunyi "Kelas Desain Grafis Gratis untuk Pemula" namun landing page-nya bertuliskan "Belajar Desain Sekarang". Ketidakselarasan ini menyebabkan pengunjung merasa berada di informasi yang salah. 

Dari sisi tipe, ada dua kategori utama landing page, salah satunya lead generation. Jenis ini bertujuan mengumpulkan informasi kontak sebagai langkah awal sebelum konversi terjadi. Sedangkan, landing page click-through atau sales langsung mendorong visitor menuju halaman pembayaran atau pendaftaran. Pilihan landing page biasanya bergantung pada panjang siklus pembelian produk atau layanan yang ditawarkan.

Baca juga Apa Itu Digital Performance Marketing? Cara Kerja, Funnel, dan Metriknya 

Langkah Cara Membuat Landing Page dari Nol Tanpa Coding

Proses membuat landing page sering kali dimulai dari tempat yang salah, yaitu langsung membuka tools dan mulai mendesain tanpa tahu dulu apa yang ingin dicapai. Hal ini menyebabkan page tidak berdampak optimal karena fondasinya tidak dibangun dengan urutan yang benar. Tujuh langkah berikut memetakan langkah-langkah page siap tayang, termasuk pilihan tools yang tidak butuh kemampuan coding sama sekali.

1. Tentukan Goal dan Target Audience

Sebelum melangkah ke teknis pembuatan, cari tahu “why”, “who”, serta “what” dari landing page, spesifiknya:

  • Why: Kenapa kamu membuat landing page ini?
  • Who: Siapa yang akan berkunjung ke landing page tersebut?
  • What: Apa saja langkah-langkah yang harus dilewati customer untuk membantumu mencapai goal?

Jawaban dari tiga pertanyaan utama tersebut akan menuntun proses penulisan copywriting, penyusunan lead magnet, dan penambahan elemen penting pada landing page.

Contohnya, alasanmu membuat landing page adalah menghasilkan leads untuk launching game yang akan datang (why). Kamu perlu menargetkan para gamer sesuai genre yang diangkat (who).

Untuk mendapatkan e-mail list, siapkan form ketika mereka sudah masuk ke landing page (what). Beberapa contoh CTA yang digunakan dalam pengumpulan leads, antara lain:

  • Subscribe ke newsletter
  • Download panduan disini
  • Daftarkan diri untuk FREE TRIAL
  • Download kupon diskon

Maksimalkan satu CTA untuk mendapatkan hasil terbaik. Sebuah call to action akan memudahkan pembuatan landing page efektif dan mengurangi effort pengunjung agar tidak terjadi bounce.

2. Pilih Platform yang Sesuai

Langkah penting berikutnya dalam cara membuat landing page adalah ketepatan platform. WordPress dan Wix termasuk populer di kalangan website development.

Gunakan landing page template supaya kamu tidak perlu membuatnya sendiri dari nol. Pilih platform dengan personalisasi yang built-in. Tujuannya menyesuaikan konten page dengan audiens.

Pilih platform yang menyediakan informasi analitik mengenai audiens yang berkunjung hingga terkonversi dari page. Platform yang tepat juga memudahkan optimasi tanpa memerlukan pengalaman di dunia IT.

3. Lakukan Custom Design

Ketika memilih template, pastikan layouting sudah sesuai dengan persona brand atau bisnis. Ada tips yang bisa digunakan, yaitu:

  • Pilih hero image yang merepresentasikan penawaranmu
  • Gunakan gambar dan ilustrasi yang menggambarkan manfaat serta value bagi pengunjung
  • Jika memungkinkan, pakai aset foto asli customer menggunakan produk atau jasa
  • Lakukan optimasi image untuk meningkatkan performa web loading

4. Tulis Copywriting yang Meyakinkan

Dua kerangka penulisan yang paling banyak dipakai adalah AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) dan PAS (Problem, Agitation, Solution). Keduanya bekerja karena mengikuti alur logis bagaimana orang membuat keputusan. Pastikan copy di halaman selaras dengan pesan dari sumber trafik yang mengirim pengunjung ke halaman tersebut.

Satu temuan dari laporan Unbounce menyatakan landing page yang ditulis dengan bahasa anak-anak menghasilkan konversi dua kali lipat dari yang menggunakan bahasa level profesional. Bahasa yang lebih sederhana bukan berarti lebih murah. Bahasa ini lebih mudah diproses oleh otak yang sedang memindai halaman dengan waktu terbatas.

5. CTA yang Persuasif

Setelah mengkomunikasikan manfaat produk dan jasa, cara membuat landing page berikutnya adalah memandu pengunjung menuju CTA. Elemen inilah yang mengundang terjadinya konversi.

Bentuknya berupa button sehingga harus menonjol diantara elemen lainnya. Pakai colour contrast dan pastikan CTA sudah mengandung kata kerja.

6. Buat Form

Terkadang, kurang afdol bila tidak menggunakan online form. Fungsinya sebagai database yang mencakup informasi pribadi pengguna. Formulir ini dapat dikombinasikan dengan tools CRM dan strategi e-mail marketing.

Bila belum terjadi subscription, kamu bisa mengedukasi listing potensial agar terjadi konversi di masa depan. Menarik, kan?

7. Pasang Tracking Sebelum Launching

Landing page tanpa tracking adalah seperti toko tanpa kasir, tidak ada yang tahu berapa banyak yang masuk dan berapa yang benar-benar membeli. Pasang Google Analytics atau Pixel platform iklan yang digunakan sebelum halaman dipublikasikan, dan tentukan event konversi yang ingin dilacak sejak awal. 

Data dari Unbounce menunjukkan bahwa 82,9% pengunjung mengakses landing page lewat perangkat mobile. Menurut penelitian dari Portent, setiap tambahan satu detik loading time pada page berkorelasi dengan penurunan konversi. Tiga langkah paling mudah untuk mempercepat halaman adalah kompres semua gambar sebelum diunggah. Hindari elemen animasi berat dan gunakan hosting yang kecepatannya sudah teruji.

Baca juga Intip Strategi Iklan Kompetitor Gratis Pakai Meta Ads Library 

Cara Membuat Landing Page Gratis, Tanpa Website, di WordPress dan Canva

Pilihan tools untuk membuat landing page sekarang jauh lebih lbanyak. Perbedaan antar tools bukan soal mana yang paling canggih, tapi yang paling sesuai dengan kebutuhan spesifik. 

  • Gratis tanpa website (Carrd dan One-Page Builder): Carrd adalah pilihan paling sederhana untuk membuat landing page tanpa memiliki website. Gratis dengan hosting di subdomain builder, seperti namamu.carrd.co. Custom domain baru tersedia di paket berbayar sekitar 19 dolar per tahun. Cocok untuk promosi instan, event page, atau link hub yang tidak butuh sistem pengelolaan konten yang kompleks.
  • Canva: Memungkinkan pembuatan landing page secara visual dengan interface mudah dan familiar. Paket gratis bisa mempublikasikan halaman ke subdomain seperti namamu.my.canva.site. Kalau butuh custom domain dan penghapusan branding, gunakan Canva Pro.
  • WordPress: Kalau sudah punya website WordPress, menambahkan landing page bisa dilakukan lewat plugin page builder. Elementor paling banyak dipakai karena punya versi gratis yang sudah cukup untuk kebutuhan dasar. Versi Pro dibanderol sekitar 59 dolar per tahun untuk dapatkan akses menuju fitur popup dan formulir.
  • Landing Page Builder khusus: Platform seperti Landingi menawarkan paket gratis dengan batas sekitar 500 kunjungan per bulan dan branding platform. Hostinger punya paket terjangkau dengan fitur yang lebih lengkap. Tools khusus ini umumnya sudah dilengkapi template yang dirancang khusus untuk konversi, A/B testing, dan analitik yang lebih detail.

Baca juga Serba-Serbi Email Marketing: Definisi, Manfaat, dan Contohnya 

Elemen Wajib dalam Anatomi Landing Page

Memahami cara membuat landing page yang convert tinggi tidak bisa lepas dari pemahaman tentang anatomi halamannya. Setiap elemen berikut punya fungsi yang spesifik. Masing-masing harus diletakkan saat mempraktikkan cara membuat landing page pada posisi yang tepat.

1. Headline dan Sub-headline

Headline adalah janji utama pada landing page dan harus spesifik. "Belajar desain grafis" adalah headline yang lemah. Sebaliknya, pakai "Kuasai desain logo profesional dalam 30 hari, bahkan tanpa latar belakang seni" sebagai gambaran jelas mengenai hasil akhirnya. Sub-headline berfungsi memperluas janji utama atau menambahkan konteks yang memperkuat keyakinan.

2. Hero Section dan Visual

Visual di bagian paling atas halaman harus memperkuat pesan. Untuk produk fisik, gambar produk yang jelas dan detail menjawab pertanyaan soal produk. Untuk layanan atau software, screenshot interface atau foto situasi penggunaan lebih efektif dari ilustrasi abstrak.

3. Value Proposition dan Benefit

Ini adalah area di mana banyak landing page gagal karena terlalu fokus pada fitur, bukan manfaat. Fitur adalah apa yang ada. Manfaat adalah apa yang dirasakan pengguna karena fitur itu ada. "Enkripsi end-to-end" adalah fitur. "Percakapanmu tidak bisa dibaca siapa pun kecuali kamu dan penerimanya" adalah manfaat.

4. Call-to-Action

CTA harus punya teks yang berorientasi pada aksi dan hasil. Gunakan "Mulai Gratis Sekarang" daripada sekadar "Submit". "Dapatkan Panduan Lengkapnya" lebih kuat dari arahan dalam bentuk "Download". Tombol CTA harus punya warna yang kontras dengan latar halamannya dan diulang di beberapa titik strategis sepanjang halaman, terutama setelah konten yang berbobot.

5. Social Proof

Testimoni, studi kasus, logo klien, atau rating adalah bukti bahwa orang lain sudah mengambil keputusan yang sama dan hasilnya baik. Testimoni yang paling efektif spesifik dan menyebut hasil yang terukur, bukan pujian umum seperti "pelayanannya bagus sekali."

6. Trust Signals

Badge keamanan, kebijakan privasi yang terlihat, garansi uang kembali, atau jaminan apapun yang mengurangi risiko yang dirasakan pengunjung. Semakin besar komitmen yang diminta (uang, data pribadi, waktu), semakin penting trust signals ini hadir.

7. Formulir yang Ramping

Menurut penelitian dari Cobloom, setiap penambahan kolom di formulir berkorelasi dengan penurunan konversi. Untuk lead generation awal, nama dan email sering sudah lebih dari cukup. Tanyakan informasi yang benar-benar dibutuhkan untuk langkah pertama.

8. FAQ

Bagian FAQ bukan hanya untuk menjawab pertanyaan umum. Pakai kesempatan ini untuk menangani keberatan pengunjung sebelum mereka menutup landing page. Setiap pertanyaan di FAQ idealnya keberatan yang pernah didengar dari calon pelanggan sungguhan. Bonus: FAQ yang ditulis dengan baik juga membantu halaman muncul di hasil pencarian untuk pertanyaan spesifik.

Semua elemen kritis, yaitu headline, value proposition, dan CTA pertama, harus terlihat tanpa perlu menggulir. Situasi ini disebut Above the Fold dan butuh perhatian paling besar serta singkat dari pengunjung. Kalau mereka tidak menemukan alasan untuk lanjut dalam beberapa detik pertama, mereka tidak akan scrolling ke bawah.

Baca juga Apa Itu Customer Retention? Kenali Strategi Buat Pelanggan Beli Lagi 

Contoh Landing Page Convert Tinggi dan Kenapa Berhasil

Contoh Tipe Satu Pelajaran yang Bisa Ditiru
Dropbox SaaS Screenshot produk menjawab pertanyaan pengguna sebelum mereka diminta mendaftar.
Lyft Lead Generation Satu kolom formulir pada langkah pertama dapat menurunkan hambatan masuk.
Webinar Event Countdown, daftar manfaat, dan testimoni bekerja bersama sebagai satu sistem yang mendorong konversi.
Kelas Online E-Course Headline berfokus pada hasil yang didapat, bukan pada programnya; testimoni menggunakan angka yang spesifik.

Melihat contoh landing page perlu dibarengi dengan memahami mekanisme di baliknya. Elemen mana yang dipilih, mengapa diletakkan di sana, dan prinsip apa yang sedang dijalankan. Empat contoh berikut dipilih dari tipe yang berbeda agar Teman Belajar bisa melihat penerapan prinsip dengan cara yang berbeda tergantung konteks dan tujuan halamannya.

SaaS: Dropbox

Dropbox terkenal dengan landing page awalnya yang sangat sederhana. Cukup screenshot produk menjawab pertanyaan yang dimaksud. Tidak ada daftar fitur atau paragraf penjelasan yang padat. Hanya visual yang menunjukkan bagaimana produknya terlihat dan satu tombol CTA. Pelajaran: tunjukkan, jangan cukup ceritakan.

Lead-Gen Minimalis: Lyft

Lyft

Halaman lead-gen Lyft untuk driver baru hanya meminta satu informasi di atas lipatan: kota tempat tinggal. Satu kolom, satu tombol. Semakin sedikit yang diminta di langkah pertama, semakin tinggi kemungkinan orang mau memulai. Komitmen besar bisa diminta setelah pengunjung sudah melangkah masuk. Pelajaran: turunkan hambatan awal sebisa mungkin.

Webinar dan Event

Webinar

Landing page webinar yang berkonversi tinggi hampir selalu menggabungkan dua elemen: countdown timer yang menunjukkan waktu tersisa hingga acara, dan daftar konkret "apa yang akan kamu pelajari." Keduanya bekerja karena satu memberi urgensi dan satu memberi kejelasan. Testimoni dari peserta webinar sebelumnya menambah lapisan ketiga: bukti bahwa pengalaman ini bernilai. Pelajaran: urgensi harus didukung oleh nilai yang jelas, bukan berdiri sendiri.

Kelas Online

E-Course

Landing page kelas online atau e-course yang efektif hampir selalu menempatkan headline pada hasil yang bisa dicapai peserta, bukan pada fitur kursusnya. "Bisa membuat iklan yang menghasilkan penjualan dalam 4 minggu" lebih kuat dari "Kelas Iklan Digital 4 Minggu." Testimoni alumni yang menyebut angka spesifik, misalnya berapa penjualan yang meningkat atau berapa waktu yang dihemat, bekerja jauh lebih baik dari pujian umum. Satu CTA yang diulang di beberapa titik, dengan teks yang tetap konsisten, memberi pengunjung kesempatan untuk mengambil aksi kapan pun mereka sudah siap. Pelajaran: jual hasilnya, bukan programnya.

Baca juga GEO: Strategi Baru Brand Visibility di Era Generative AI 

Berapa Conversion Rate Landing Page yang Bagus?

Angka yang paling sering beredar di internet sebagai "rata-rata konversi landing page" adalah 2,35%. Berdasarkan laporan Conversion Benchmark Report dari Unbounce yang menganalisis lebih dari 57 juta konversi di 41.000 landing page dan 464 juta pengunjung, median konversi lintas industri adalah 6,6%. Angka tengah dari dataset landing page yang memang dioptimasi untuk konversi. 

Sementara angka 2,35% yang lebih rendah berasal dari dataset yang lebih luas, termasuk berbagai jenis halaman, bukan hanya landing page. Membandingkan landing page kampanye dengan rata-rata semua jenis halaman web adalah membandingkan apel dengan jeruk. Landing page dengan performa bagus mencapai 10% atau lebih, sementara kelompok 10% teratas mulai dari 11,45% ke atas.

Perbedaan antar industri juga sangat besar. Berdasarkan data Unbounce, rentangnya mulai dari 3,8% untuk SaaS hingga 12,3% untuk sektor hiburan dan acara, dengan layanan keuangan berada di 8,4%. Untuk konteks B2B yang lebih spesifik, laporan dari FirstPageSage berdasarkan data 80 lebih klien menunjukkan angka yang lebih rendah karena definisi konversinya lebih ketat, yaitu pengisian formulir kontak, permintaan demo, atau pembuatan janji: jasa hukum di 7,4%, HVAC 3,1%, pendidikan tinggi 2,8%, properti 2,7%, dan B2B SaaS di angka 1,1%.

Sumber trafik juga memberi perbedaan yang dramatis. Menurut data Unbounce, trafik dari email menghasilkan konversi 19,3%, tertinggi dari semua sumber. Marketer yang sudah punya daftar email cenderung mendapat hasil yang jauh lebih baik dibanding yang hanya mengandalkan paid social atau display ads. CTA yang dipersonalisasi berkonversi 202% lebih baik dari versi generik, menurut data dari HubSpot. Personalisasi kadang cukup dengan menyesuaikan teks CTA berdasarkan sumber trafik yang masuk.

Baca juga Bukan Sekedar Tulisan, Kenali 10 Rumus Copywriting di Social Media 

Optimasi Konversi dan Kesalahan yang Bikin Konversi Anjlok

Landing page yang sudah tayang bukan berarti pekerjaannya selesai. Justru di sinilah proses yang paling menentukan dimulai, karena data dari pengunjung sungguhan jauh lebih jujur dari asumsi apapun yang dibuat sebelum halaman diluncurkan. Bagian ini membahas tiga cara utama untuk terus meningkatkan konversi setelah halaman tayang, diikuti daftar kesalahan yang paling umum ditemui dan checklist praktis sebelum publish.

  • A/B Testing: Uji satu variabel dalam satu waktu, baik headline, warna tombol CTA, atau gambar utama. Menguji semuanya sekaligus membuat tidak mungkin mengetahui mana elemen yang membuat perbedaan. 
  • Heatmap dan Analytics: Tools seperti Hotjar atau Microsoft Clarity menunjukkan posisi stop scroll. Informasi ini lebih berguna dari bounce rate karena memberi konteks tentang masalahnya.
  • Iterasi Berbasis Data: Optimasi landing page bukan proyek sekali jadi. Halaman yang paling berperforma tinggi adalah yang sudah melalui puluhan iterasi berdasarkan data penggunaan sungguhan, bukan asumsi tentang apa yang pengunjung inginkan.

Memberi pengunjung terlalu banyak pilihan sama dengan tidak memberi pilihan yang jelas. Navigasi yang bisa mengalihkan pengunjung keluar dari halaman sebelum mereka konversi adalah bagian yang sering diabaikan. Kalau pengunjung harus membaca tiga paragraf untuk mengerti apa yang halaman ini tawarkan, mereka sudah pergi duluan.

Fokus pada fitur, bukan manfaat. Pengunjung tidak membeli spesifikasi. Mereka membeli solusi untuk masalah yang sedang mereka hadapi. Halaman yang meminta kepercayaan tanpa memberi bukti bahwa orang lain sudah mempercayainya terasa seperti permintaan yang tidak wajar.

Menurut penelitian dari Portent, setiap detik tambahan waktu muat halaman menurunkan kemungkinan konversi. Dengan 82,9% trafik landing page datang dari perangkat mobile menurut data Unbounce, halaman yang tampilannya berantakan di layar kecil adalah masalah serius. Pesan di iklan tidak selaras dengan headline di halaman membuat pengunjung merasa tiba di tempat yang salah. Meski mereka sudah mengklik iklan yang tepat.

Sebelum mempublikasikan landing page, pastikan headline terlihat jelas tanpa perlu menggulir. CTA punya teks yang memprioritaskan warna cukup kontras. Formulir hanya meminta informasi yang benar-benar dibutuhkan. Minimal ada satu bentuk social proof di halaman. Tracking sudah terpasang dan diuji.

Baca juga Strategi Digital Marketing 2026, Wajib Paham 

Buat Landing Page yang Menghasilkan

Cara membuat landing page yang berkonversi tinggi bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dengan template. Butuh perpaduan antara pemahaman copywriting untuk menyusun pesan yang tepat. Ada sensibilitas desain untuk mengarahkan perhatian dan kemampuan membaca data untuk tahu apa yang perlu diperbaiki. Ketiga kemampuan itu bisa dipelajari secara terstruktur.

Fullstack Digital Marketing Belajarlagi

Jika Teman Belajar ingin membangun fondasi digital marketing yang menyeluruh, mulai dari strategi konten hingga optimasi konversi, program Digital Marketing Full Stack dari Belajarlagi dirancang untuk membangun kemampuan itu dari awal hingga siap diaplikasikan. Cek Fullstack Digital Marketing Belajarlagi sekarang!

#
Digital Marketing
Belajarlagi author:

Ayu Novia

A Strategist and Copywriter with more than 3 years in the creative industry. Passionate in data-driven writing for various niches of content.

Temukan Hal Menarik dan Asyik Lainnya

Yuk, Langganan Newsletter Kami

Topik apa yang paling menarik untuk anda?
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Cookie Consent

By clicking “Accept”, you agree to the storing of cookies on your device to enhance site navigation, analyze site usage, and assist in our marketing efforts. View our Privacy Policy for more information.