Apa Itu Corporate Training serta Jenis dan Manfaatnya bagi Perusahaan 2026

Jessica Dima
8 Min Read
Published:
May 20, 2024
Updated:
August 26, 2026

Key Takeaways

  • Corporate training adalah program dan metode terstruktur yang perusahaan rencanakan guna menaikkan pengetahuan sekaligus keterampilan karyawan yang punya tujuan jangka panjang untuk keberlangsungan bisnis.
  • World Economic Forum merilis dalam laporannya bahwa 39% dari keterampilan karyawan saat ini akan mengalami transformasi pada periode 2025-2030. Sementara, 59% karyawan saat ini akan sangat butuh reskilling maupun upskilling.
  • Pelaksanaan corporate training sejatinya dapat memberikan manfaat ganda, baik itu untuk perusahaan maupun karyawan.
  • Pelajari jenis, manfaat, serta cara merancang corporate training dengan tepat.

Corporate training merupakan salah satu program pengembangan yang perusahaan lakukan untuk meningkatkan keterampilan, kompetensi, sekaligus kinerja karyawan di dalam tim. Tidak banyak perusahaan cukup memberi perhatian pada pentingnya mengadakan pelatihan ini. Padahal, era serba AI seperti sekarang sangat menuntut kompetensi karyawan untuk beradaptasi.

Dalam The Future of Job Reports 2025, World Economic menyebut 59% para pekerja di seluruh dunia sangat memerlukan pelatihan untuk menghadapi perubahan kebutuhan keterampilan kerja di tahun 2030. Berkaca pada hal tersebut, artikel kali ini akan membahas apa itu corporate training secara mendalam, termasuk jenis, manfaat, sampai dampaknya ke bisnis.

Apa Itu Corporate Training dan Mengapa Penting di Era AI

Corporate training adalah program dan metode terstruktur yang perusahaan rencanakan guna menaikkan pengetahuan sekaligus keterampilan karyawan yang punya tujuan jangka panjang untuk keberlangsungan bisnis. Adanya pelatihan ini juga memastikan karyawan mampu mengikuti dan beradaptasi pada perkembangan tren industri, regulasi, maupun teknologi. 

Anda tidak boleh memandang training perusahaan hanya sebagai program kerja yang sifatnya rutin saja. World Economic Forum merilis dalam laporannya bahwa 39% dari keterampilan karyawan saat ini akan mengalami transformasi pada periode 2025-2030. Bahkan, ada potensi keterampilan yang ada sekarang tak lagi dipakai. Oleh sebab itu, WEF pun juga mencantumkan 59% karyawan saat ini akan sangat butuh reskilling maupun upskilling.

Perkembangan teknologi, terutama AI, yang kian pesat pasti mau tak mau menuntut perusahaan untuk segera beradaptasi. Tanpa adanya bekal yang cukup bagi karyawan, perusahaan akan kian tertinggal. Begitu pula dengan karyawan, mereka akan kesulitan memenuhi tujuan perusahaan yang kian dinamis seiring perkembangan zaman.

Dari definisi tersebut, Anda bisa membayangkan kalau training perusahaan itu tidak semata-mata bicara tentang biaya. Lebih dari itu, pelatihan bagi karyawan merupakan bentuk investasi terukur yang bisa perusahaan kerjakan demi kelangsungan bisnis.

WEF pun juga mencantumkan 59% karyawan saat ini akan sangat butuh reskilling maupun upskilling.

Jenis dan Kategori Program Corporate Training

Beberapa jenis dan kategori program pelatihan karyawan yang bisa Anda siapkan untuk karyawan antara lain:

Berdasarkan Cara Pelaksanaan

Ada dua tipe pelatihan paling umum, yaitu in house training dan public training. In house training merupakan pelatihan yang mengajarkan kemampuan tertentu bagi karyawan di dalam perusahaan. Sementara, public training lebih ke perusahaan mengirimkan karyawan ke sebuah pelatihan di luar yang terbuka bagi siapa saja, termasuk orang-orang di luar perusahaan.

Berdasarkan Kategori Keterampilan

Training dapat pula Anda selenggarakan dengan mempertimbangkan keterampilan apa yang akan diajarkan ke karyawan. Misalnya, digital skill (SEO, digital marketing, AI for business), soft skill, sales skill, management skill, dan lain-lain. Jenis pelatihan ini sifatnya menjurus spesifik ke keterampilan yang memang nantinya berguna dalam pekerjaan.

Berdasarkan Metode

Contoh jenis pelatihan berdasarkan metode antara lain:

  • Kelas. Ini salah satu training paling konvensional yang berfokus pada penyampaian ilmu dan pelatihan. Kelas lebih cocok untuk on boarding maupun knowledge transfer.
  • Workshop. Secara umum, workshop lebih praktikal dibandingkan kelas. Di sini peserta berkesempatan mempraktikkan keterampilan selama pelatihan.
  • Online. Pelatihan ini dilaksanakan secara daring dengan memakai berbagai metode. Misalnya, live online class, webinar, video learning, dan sebagainya. Model pelatihan ini mampu menjangkau peserta lebih banyak dan luas.
  • Blended learning. Prinsip dalam training ini adalah menggabungkan beberapa jenis pelatihan sehingga makin memperkaya peserta. Blended learning efektif untuk mendukung perubahan perilaku, tidak sekadar menambah ilmu baru.

Lalu, bagaimana cara Anda memilih jenis pelatihan paling tepat? Tentu Anda tidak boleh asal menentukan tanpa mempertimbangkan banyak hal. Salah satu hal penting yang perlu Anda lakukan adalah melaksanakan Training Needs Analysis (TNA) terlebih dahulu.

Melalui TNA, Anda dapat mengidentifikasi kesenjangan (gap) apa saja yang muncul antara pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan aktual karyawan di pekerjaan. Cermati juga kebutuhan paling mendesak apa yang perusahaan butuhkan saat ini dan apakah kapasitas karyawan sudah mampu memenuhinya.

Manfaat Corporate Training bagi Perusahaan dan Karyawan

Pelaksanaan corporate training sejatinya dapat memberikan manfaat ganda, baik itu untuk perusahaan maupun karyawan. Bagi karyawan, beberapa manfaat yang diperoleh antara lain:

  • Meningkatkan keterampilan. Kebutuhan keterampilan yang terus berubah mampu dipenuhi oleh karyawan. Itu artinya, pelatihan membantu karyawan beradaptasi pada perubahan zaman.
  • Menaikkan kepercayaan diri. Kompetensi dan keterampilan yang meningkat akan secara otomatis berdampak ke rasa percaya diri karyawan. Karyawan menjadi lebih bersemangat dalam melakukan inovasi maupun kreativitas.
  • Merasa dihargai perusahaan. Adanya pelatihan menunjukkan kepedulian perusahaan akan pengembangan karyawan. Dengan memperoleh pelatihan, karyawan menjadi merasa lebih dihargai.

Sementara, manfaat pelatihan bagi perusahaan dapat berupa:

  • Kenaikan produktivitas dan kinerja. Bekal keterampilan baru karyawan dapat mendongkrak kinerja hingga produktivitas yang nanti berdampak ke kualitas bisnis perusahaan.
  • Meningkatkan daya saing dengan kompetitor. Dengan sumber daya yang makin terampil, perusahaan lebih siap bersaing dengan pesaing karena lebih adaptif terhadap perubahan.
  • Mempercepat inovasi. Perkembangan zaman akan selalu menuntut inovasi. Karyawan yang lebih terampil dan kompeten akan memberikan banyak ide kreatif untuk inovasi produk. Akhirnya, perusahaan pun berkembang dengan lebih cepat.
  • Menguatkan kolaborasi kerja. Perusahaan mengandalkan kolaborasi kerja antartim untuk kemajuan bisnis. Kompetensi karyawan yang meningkat akan berdampak ke cara mereka bekerja sama karena tidak ada lagi ketimpangan keterampilan.
  • Menaikkan retensi karyawan. Saat karyawan merasa lebih dihargai perusahaan lewat pelatihan, loyalitas mereka ke perusahaan ikut naik. Alhasil, retensi karyawan di perusahaan pun tinggi sehingga menurunkan turnover.

Terkait turnover dan retensi karyawan, data dari SHRM menunjukkan biaya penggantian seorang karyawan dapat mencapai total 150% dari kompensasi tahunan karyawan tersebut. Untuk posisi yang sifatnya manajerial, angka tersebut bisa lebih tinggi antara 200-250% dari kompensasi tahunan.

Sementara, penelitian dari Deloitte memperkirakan training yang baik dan efektif dari perusahaan dapat berkontribusi pada pengurangan penggantian karyawan sebesar 30-50%. Dari situ, Anda bisa melihat bahwa sebenarnya training justru mampu memberikan ROI sepadan bagi perusahaan, terutama dalam jangka panjang.

Kompetensi karyawan yang meningkat akan berdampak ke cara mereka bekerja sama, sejalan dengan peran HRD dalam membangun sistem dan kapabilitas tim secara menyeluruh.

Cara Memilih dan Merancang Program yang Efektif

Ikuti langkah-langkah ringkas berikut guna membantu Anda menentukan dan merancang program pelatihan yang efekfif:

1. Selalu Mulai dari Training Needs Analysis

TNA akan membantu Anda memetakan kesenjangan keterampilan sehingga dapat memilih jenis pelatihan yang tepat. Aplikasi praktis TNA dapat berupa:

  • Menentukan satu fokus masalah. Mulai dengan pertanyaan “Di mana terdapat gap kinerja yang berdampak besar ke bisnis?” Anda dapat mencari tahu lewat KPI, divisi dengan keluhan paling sering muncul, dan lain-lain.
  • Kumpulkan beberapa data sebelum berkesimpulan. Misalnya, cermati data kinerja, lakukan wawancara dengan manajer, dan pelajari sampel pekerjaan karyawan. Dari situ, Anda bisa memperoleh beberapa keterampilan yang jadi titik penting saat ini.
  • Pertimbangkan urgensi keterampilan. Dari data yang diperoleh, cermati area keterampilan mana yang Anda nilai sangat paling mendesak untuk dikembangkan dan tidak bisa ditunda-tunda.

2. Pertimbangkan Antara In-house Training atau Public Training

Setelah kebutuhan dan keterampilannya jelas, Anda perlu memilih jenis pelatihan seperti apa yang paling tepat bagi karyawan. Tabel ini dapat memandu Anda dalam mempertimbangkan:

Aspek Pertimbangan In House Training Public Training
Sifat kebutuhan perusahaan Spesifik pada bidang atau keterampilan tertentu General atau masih sangat umum
Jumlah peserta > 20 orang 3–5 orang
Kebutuhan kustomisasi materi Tinggi (simulasi dan studi kasus kondisi nyata perusahaan) Rendah
Biaya Anggaran terbatas untuk tiap peserta Tidak ada masalah dalam membiayai setiap peserta

Jika Anda hendak memakai vendor untuk corporate training, beberapa hal yang perlu Anda perhatikan:

  • Relevansi industri
  • Kemampuan kustomisasi kurikulum
  • Kualifikasi trainer
  • Metode pembelajarannya
  • Post training support
  • Kapabilitas dalam mengukur dampak
  • Transparansi dalam kontrak dan biaya

3. Hitung Kisaran Biaya dan Anggaran Lengkapnya

Pastikan pelatihan yang Anda rencanakan tetap realistis secara biaya. Maka, Anda harus menghitung biaya dari keseluruhan program, dari awal sampai akhir, pelajari rincian lengkapnya di biaya corporate training.

Sebagai contoh:

Total biaya = fee vendor + konsumsi + venue (jika ada) + materi + follow up

Di sisi lain, bandingkan pula dengan nilai atau dampak apa yang Anda harapkan dari adanya pelatihan tersebut. Dengan begitu, anggaran yang muncul bukan merupakan bentuk “buang-buang uang”.

Program pelatihan berbasis praktik lebih mampu menyiapkan karyawan dalam menghadapi masalah nyata di pekerjaan. Hal ini sejalan dengan Belajarlagi Practice-First Method, yaitu metode belajar yang menempatkan praktik langsung, studi kasus nyata, dan hands-on assignment di depan, sehingga peserta belajar dengan mengerjakan, bukan sekadar mendengar.

Mengukur ROI dan Dampak Corporate Training

Mengapa mengukur ROI menjadi hal penting saat ini? Menurut SHRM, seiring bisnis berkembang dengan cepat, perusahaan tidak hanya cukup berinvestasi pada teknologi. Investasi pada manusia yang menggunakan teknologi jelas tidak kalah penting. Menghitung ROI pada pelatihan bukan hanya bicara angka. Ini tentang menunjukkan bagaimana investasi pada sumber daya sekarang akan memberi dampak jangka panjang ke perusahaan.

Sementara, beberapa metrik yang dapat Anda pakai dalam mengukur dampak training adalah:

  • Completion rate. Metrik ini mengukur berapa banyak karyawan yang menyelesaikan pelatihan dari jumlah peserta yang terdaftar.
  • Skill gain. Bagian ini mengukur seberapa meningkat kemampuan karyawan setelah pelatihan. Metrik ini bisa Anda lihat melalui nilai pada pre test dan post test.
  • Penerapan di pekerjaan. Nilai pada skill gain baru benar-benar akan berguna ketika karyawan mengimplementasikan keterampilan di pekerjaan. Dampaknya bisa terlihat melalui hasil kerja karyawan, misalnya seberapa baik karyawan memakai tools, bagaimana hasil penjualan, dan sebagainya.
  • Produktivitas. Metrik ini melihat seperti apa dampak pelatihan pada perubahan pola kerja karyawan dan kinerjanya ikut naik. Contohnya, waktu pengerjaan tugas, konversi penjualan, seberapa banyak leads yang masuk, dan sebagainya.
  • Retensi. Bagian ini mengukur dampak pelatihan terhadap tingkat retensi karyawan, artinya benarkah pelatihan turut mendukung karyawan lebih mau bertahan lama di perusahaan.
Dampak pelatihan yang berkelanjutan juga bergantung pada learning culture yang kuat di dalam organisasi, bukan sekadar program yang berjalan sekali lalu berhenti.

Ingat, dampak itu mesti terukur. Hal ini sejalan dengan pendekatan Impact-Proof Program dari Belajarlagi, yaitu setiap program dilengkapi pengukuran dampak terukur (pre-test dan post-test, skor kepuasan CSAT dan NPS, serta data sebelum dan sesudah), sehingga hasilnya dapat dibuktikan, bukan sekadar diklaim.

Menghitung ROI pada pelatihan bukan hanya bicara angka, pelajari lebih detail lewat cara mengukur ROI training karyawan, lengkap dengan metode Kirkpatrick dan Phillips serta contoh perhitungannya.

Maka, corporate training yang tepat seharusnya merupakan bagian dari investasi dengan dampak sekaligus ROI yang bisa terukur.

Corporate Training Belajarlagi

Rancang program pelatihan karyawan yang tepat sasaran sekaligus terukur bersama Corporate Training Belajarlagi. Kami menyediakan lebih dari 100 modul digital skill (Digital Marketing, SEO, Integration AI for Business, dan lainnya), sales, soft skill, hingga management skill. Corporate Training Belajarlagi dapat menyediakan kurikulum yang bisa Anda kustomisasi sesuai kebutuhan tim. Untuk informasi dan konsultasi, silakan cek Corporate Training Belajarlagi.

FAQ

[open]
[collapse]

Apa itu corporate training?

Corporate training adalah program dan metode terstruktur yang perusahaan rencanakan guna menaikkan pengetahuan sekaligus keterampilan karyawan yang punya tujuan jangka panjang untuk keberlangsungan bisnis. Pelatihan ini memastikan karyawan mampu mengikuti dan beradaptasi pada perkembangan tren industri, regulasi, maupun teknologi. World Economic Forum mencatat 39% dari keterampilan karyawan saat ini akan mengalami transformasi pada periode 2025-2030, sehingga 59% karyawan akan sangat butuh reskilling maupun upskilling. Corporate training karena itu bukan sekadar program rutin, melainkan bentuk investasi terukur bagi kelangsungan bisnis.

Apa beda in-house training dan public training?

In house training adalah pelatihan yang mengajarkan kemampuan tertentu bagi karyawan di dalam perusahaan, sementara public training adalah pengiriman karyawan ke pelatihan di luar yang terbuka bagi siapa saja, termasuk orang di luar perusahaan. In-house cocok untuk kebutuhan yang spesifik pada bidang tertentu dengan jumlah peserta di atas 20 orang dan kebutuhan kustomisasi materi yang tinggi, sedangkan public training lebih cocok untuk kebutuhan yang masih umum dengan jumlah peserta 3-5 orang dan kebutuhan kustomisasi yang rendah. Pemilihan format ini sebaiknya mengikuti hasil Training Needs Analysis (TNA) terlebih dahulu.

Bagaimana cara mengukur ROI dan dampak corporate training?

Ada lima metrik yang bisa dipakai: completion rate yang mengukur berapa banyak karyawan menyelesaikan pelatihan, skill gain yang dilihat dari nilai pre test dan post test, penerapan di pekerjaan yang terlihat dari hasil kerja nyata karyawan, produktivitas yang tercermin dari waktu pengerjaan tugas atau konversi penjualan, dan retensi yang mengukur apakah pelatihan mendukung karyawan bertahan lebih lama di perusahaan. Menurut SHRM, mengukur ROI penting karena investasi pada manusia yang menggunakan teknologi tidak kalah penting dibanding investasi pada teknologi itu sendiri.

Berapa biaya yang perlu dihitung untuk merancang program corporate training?

Total biaya program dihitung dari fee vendor ditambah konsumsi, venue jika ada, materi, dan follow up setelah pelatihan selesai. Selain menghitung biaya, penting juga membandingkannya dengan nilai atau dampak yang diharapkan dari pelatihan tersebut, supaya anggaran yang dikeluarkan tidak menjadi sekadar pengeluaran tanpa hasil terukur. Jika memakai vendor, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah relevansi industri, kemampuan kustomisasi kurikulum, kualifikasi trainer, metode pembelajaran, post training support, kapabilitas mengukur dampak, dan transparansi kontrak serta biaya.

Berapa besar dampak corporate training terhadap penurunan turnover karyawan?

Data dari SHRM menunjukkan biaya penggantian seorang karyawan dapat mencapai total 150% dari kompensasi tahunan karyawan tersebut, dan untuk posisi manajerial angka tersebut bisa lebih tinggi antara 200-250% dari kompensasi tahunan. Sementara penelitian dari Deloitte memperkirakan training yang baik dan efektif dari perusahaan dapat berkontribusi pada pengurangan penggantian karyawan sebesar 30-50%. Data ini menunjukkan bahwa training justru mampu memberikan ROI yang sepadan bagi perusahaan, terutama dalam jangka panjang.

#
Karir
#
Personal Development
Belajarlagi author:

Jessica Dima

Freelance SEO content writer yang 5+ berpengalaman menulis artikel dengan berbagai topik: pekerjaan, gaya hidup, edukasi, dan kesehatan mental. Selain SEO, ia mempunyai passion khusus pada storytelling.

Temukan Hal Menarik dan Asyik Lainnya

Yuk, Langganan Newsletter Kami

Topik apa yang paling menarik untuk anda?
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Cookie Consent

By clicking “Accept”, you agree to the storing of cookies on your device to enhance site navigation, analyze site usage, and assist in our marketing efforts. View our Privacy Policy for more information.