Konten visual adalah salah satu strategi marketing untuk mendukung elemen storytelling, brand identity, sekaligus menaikkan engagement. Dengan kumpulan ide dan eksekusi yang bisa dilihat oleh mata kemudian dirasakan maknanya, visual content masih menjadi pendekatan yang umum untuk para creator serta marketer.
Dengan pemahaman dan praktik yang tepat, kita bisa hasilkan konten visual yang benar-benar memikat, berdasarkan identity suatu produk dan jasa secara digital. Apa saja yang perlu kita tahu? Simak selengkapnya melalui artikel di bawah ini!
Apa Itu Konten Visual?
Konten visual adalah konten yang mengkomunikasikan informasi bermanfaat melalui gambar, ilustrasi, dan graphic yang menarik perhatian. Contohnya berupa diagram, gambar, chart, video online, meme, sampai deck presentasi.
Berbeda dari konten berbasis teks, konten visual bisa menggaet audiens dengan cara yang unik dan meninggalkan kesan dalam waktu lama. Pada dasarnya, otak kita memang bekerja lebih responsif terhadap konten-konten gambar statis atau bergerak.
Objektifnya juga beragam sesuai kebutuhan bisnis, antara lain meningkatkan konversi atau sekadar boost awareness pada akun utama yang menggunakan strategi ini.
Mengapa Visual Content Penting?
Berpengaruh pada keberhasilan SEO
Semakin banyak konten yang sifatnya visual-based, semakin besar peluang suatu brand atau personal brand punya ranking SEO lebih tinggi. Semakin masif juga jumlah audiens yang menemukan kita secara online.
Hal ini dikarenakan Google memahami konteks pencarian yang kita lakukan lalu menghubungkannya dengan konten-konten yang relate dengan behavior pencarian tersebut. Dengan memasukkan keyword-keyword penting yang nggak jauh-jauh dari pencarian manusia umumnya, lebih banyak konten yang berpotensi masuk page terawal.
Boosting terjadinya conversion
Gambar yang high-quality dan video motion yang cantik di website berkontribusi pada funnel consideration audiens yang memungkinkan terjadinya sales. Tujuannya memudahkan mereka memvisualisasikan pemakaian produk dan warna yang diincar sesuai preferensi.
Selain menarik dilihat, audiens juga menumbuhkan rasa percaya melalui penampilan brand persona yang proper dan pantas diperhitungkan. Alhasil, mereka akan berupaya memiliki produk tersebut dengan sendirinya.
Mampu mempromosikan brand secara organik
Kalau sebagai creator atau marketer kita mempertimbangkan peluang untuk viral, maka strategi ini dapat membantu kita mencapai tujuan tersebut. Instagram, TikTok, hingga Facebook punya jutaan massa dengan niche dan minat spesifik. Bisa jadi algoritma menaikkan konten yang visualnya memang gamblang dan menarik minat audiens.
Alhasil, potensi jadi viral sekarang lebih mudah tercapai dengan adanya penarikan algoritma ini. Rajin-rajin menunjukkan wujud asli dari produk, experience jasa, dan kemampuan di bidang personal branding akan melekat secara digital.
Jenis-jenis Visual Content
1. Gambar
Merupakan elemen dasar yang memudahkan terjadinya persebaran informasi. Free stock images atau yang bebas copyright saja sudah cukup untuk menyampaikan maksud suatu informasi mengenai produk dan jasa.
Gambar yang jernih dapat menjadi media product showcase, mengubah emosi, sekaligus menyampaikan storytelling dalam lingkup campaign branding maupun marketing.
Sebaliknya, gambar dari infographic dan visualisasi data mampu menyajikan informasi sekompleks mungkin dalam bentuk yang mudah dipahami. Key message yang muncul lebih mudah ditelisik dan dianalisis oleh para audiens.
Kalau butuh materi yang lebih casual, fun, dan lucu, ada konten-konten visual berbentuk meme dan humor. Tipe konten ini lebih transparan menyampaikan komunikasi secara engaging pada lintas media sosial.
Baca juga: 15 Ide Konten Lucu yang Ampuh Menghibur Para Audiens
2. Video
Jenis konten visual ini punya cara yang dinamis ketika ingin mendistribusikan satu pesan. Jika ingin mengedukasi users di internet, pertimbangkan memakai konsep tutorial dan explainer menggunakan talent manusia. Human element dinilai lebih efektif sebagai hook yang menyita perhatian mereka.
Untuk objective yang ingin memamerkan kelebihan suatu produk, video mengenai demo dan review merupakan alternatif terbaik untuk kita. Namun, ada satu lagi yang nggak kalah interaktif.
Webinar dan live streaming memungkinkan brand untuk membangun koneksi dan interaksi lebih genuine. Ada nilai-nilai edukasi atau product-orientation yang cocok untuk segala bentuk brand.
3. Konten interaktif

Membuka pintu bagi audiens untuk mengambil bagian dalam content experience. Terutama ketika kita memakai quiz dan polling untuk menerima feedback sebagai insight mempersempit preferensi mereka sebenarnya.
Ada juga yang memakai teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) saat mau mengangkat topik berbasis storytelling. Audiens jadi lebih mudah teringat dengan brand atau personality yang kita bangun melalui pengalaman personal tersebut.
Jenis konten visual ini bahkan bersifat fleksibel karena menggabungkan elemen gambar dan video secara bersamaan. Dari sekian funnel yang ada, konten interaktif mempercepat terjadinya koneksi dan hubungan yang sustainable antara pihak kita dengan audiens.
4. Live streaming
Sejak adanya pandemi, dunia livestream cukup diprioritaskan untuk menjual produk dan jasa secara strategis. Kondisi inilah yang memicu naiknya tren video marketing. Saat ini, semakin banyak platform social media yang mengadopsi fitur Live selain fitur Story.
Nah, gimana cara kita beradaptasi dengan environment live streaming ini sebagai marketer? Kembangkan konten behind the scene, interview, online tour, maupun konten-konten penjualan sejenis yang berpeluang menargetkan lebih banyak audiens dari lingkup lokal atau mancanegara.
Selain modal kamera dan microphone, visual value juga diperoleh dari penataan ruangan dan set up sesuai tema konten saat itu. Audiens nggak perlu scrolling karena menemukan hiburan atau toko yang bukan abal-abal atau akun iseng.
5. Materi presentasi
Semakin banyaknya kesempatan remote work, semakin tinggi juga urgensi untuk mengadakan meeting secara online. Salah satu konsekuensi yang harus kita cegah secara solutif adalah menghindari audiens yang kurang paham, bingung, atau mudah mengantuk ketika menyaksikan presentasi kita.
Inilah peran materi presentasi yang di-design secara jelas dan memanfaatkan elemen menarik sebagai acuan marketer ketika berinteraksi dengan stakeholder. Apalagi, jika kita harus masuk ke akuisisi segera untuk mengamankan kerja sama.
Presentasi nggak hanya berbentuk slideshow. Materi video yang dikombinasikan dengan slides akan mempermudah pihak-pihak yang harus bergabung dari jarah jauh.
6. Screenshot
Walau dianggap sederhana, nyatanya banyak pengguna internet dan brand yang memakai pendekatan konten visual organik. Tutorial dan preview jadi lebih mudah dipahami alurnya ketika kita menyediakan tangkapan layar berdasarkan layouting gadget yang berbeda-beda.
Ketimbang memberikan tahapan atau penjelasan listing dalam bentuk tulisan panjang, cukup persingkat dan perjelas konteksnya dengan bantuan konten visual seperti screenshot.
Jenis konten visual ini lebih cocok untuk produk yang sifatnya teknis dan ramah dipraktikkan buat pemula.
7. Koleksi visual
Merupakan kurasi visual berdasarkan kategori atau konsep yang kita inginkan. Selain konten yang dikurasi, visual juga membantu memetakan ide konten jadi lebih rapi dan selaras satu sama lain.
Salah satu tools yang bisa membantu kita mengkurasi koleksi visual adalah Pinterest dan Behance. Selain foto dan video estetik, para bookreader juga dimudahkan menyusun daftar bacaan karena ada visualisasi sampul sesuai edisi lama atau baru.
Koleksi visual dapat menjadi referensi tahunan untuk segala kebutuhan profesional atau pengembangan skill personal di bidang ini.
8. Kartun dan komik

Selain meme, keberadaan kartun dan komik sebagai media informasi yang menghibur memang nggak lekang oleh waktu. Kita bisa menciptakan karakter sendiri kemudian mengembangkan storyline menurut topik-topik preferensi target audiens.
Saat ini, komik jadi pendekatan yang wajib dicoba karena cocok untuk audiens dari berbagai kalangan. Terlebih lagi, gaya bahasanya sudah dibuat lebih sederhana, bahkan seringkali tersirat, terutama untuk audiens orang dewasa.
Nggak jarang, tipe konten ini cenderung shareable jika pembahasan atau alur ceritanya sesuai dengan minat di masa kini.
9. Visualisasi data
Masih menjadi agenda tahunan yang disusun oleh lembaga-lembaga atau perusahaan terkemuka. Biasanya beberapa platform menyajikan insight dan report pertumbuhan trend marketing dari tahun tersebut.
Inilah contoh visualisasi data yang sudah tersaji dalam bentuk PDF lengkap disertai elemen graphic sebagai pendukungnya.
Para pembaca akan lebih mudah menganalisis insight yang ingin dicari sebagai acuan menyusun strategi di tahun dan quarter berikutnya. Bahkan, data-data seperti ini juga sering muncul pada konten website atau artikel dengan pembahasan terkait.
Kesimpulan
Konten visual adalah segala sesuatu yang bisa kita lihat dan interpretasi, baik statis maupun bergerak, untuk mendukung aktivitas marketing. Dengan penerapan yang tepat sesuai channel, hasilnya bermanfaat bagi audiens yang membutuhkan sekaligus menumbuhkan kredibilitas ketika membantu suatu brand berkembang dari segi pemasarannya.
Ngomong-ngomong soal marketing, sekarang kita bisa belajar skill digital bareng lewat Full Stack Digital Marketing Bootcamp dari Belajarlagi. Kurikulum dan pengajarnya telah disesuaikan dengan demand industri masa kini. Kamu nggak perlu khawatir lagi karena ada akses ke komunitas untuk bantu akselerasi karier setelah lulus dari program ini. Yuk, daftarkan dirimu sekarang juga!





