- CPM, CPC, CPL, dan istilah digital marketing sejenisnya merupakan bentuk pricing model dalam media buying.
- Media buying model akan menentukan dasar penagihan biaya iklan, apakah itu berdasarkan hasil, jumlah tayang, jumlah klik, dan lain sebagainya.
- Memahami pengkategorian media buying model berdasarkan tujuan campaign akan mempermudah Teman Belajar dalam menentukan metrik yang tepat.
- Pelajari apa itu CPM, CPC, CPL, beserta model lainnya lengkap dengan rumus dan contoh perhitungannya.
CPM, CPC, CPL, dan istilah digital marketing sejenisnya merupakan bentuk pricing model dalam media buying. Ketika Teman Belajar menjalankan sebuah iklan, pembayarannya akan didasarkan pada basis yang berbeda-beda. Mulai dari tayangan, aksi, leads, dan sebagainya.
Istilah-istilah seperti CPM, CPC, CPL, dan sebagainya harus Teman Belajar pahami saat memasang iklan di Meta Ads, Google Ads, hingga TikTok Ads. Kurang memahami istilah akan berpotensi menimbulkan kesalahan dalam alokasi bujet iklan. Jadi, pelajari dulu 13 istilah digital marketing berikut ini lengkap dengan cara menghitung dan memilih sesuai tujuan.
Apa Itu Media Buying Model dan Cara Mengelompokkannya
Secara definisi, media buying adalah proses pembelian ruang iklan di berbagai platform untuk menjangkau audiens tertentu. Dalam konteks di ini, cakupannya ada pada pemasaran digital. Media buying model akan menentukan dasar penagihan biaya iklan, apakah itu berdasarkan hasil, jumlah tayang, jumlah klik, dan lain sebagainya.
Dalam pemasaran digital, Teman Belajar pasti sudah tidak asing dengan istilah semacam CPM, CPC, maupun CPL. Itu merupakan beberapa bentuk dari media buying model. Google Ads mengelompokkan strategi media buying model ke dalam tiga kategori berikut:
- Berbasis eksposur → Bayar untuk dilihat, contoh CPM, CPV. Model ini berfokus pada seberapa banyak audiens yang terekspos oleh iklan. Gambarannya, Teman Belajar membayar sejumlah uang agar iklan tersebut dilihat audiens. Model berbasis eksposur cocok untuk iklan yang bertujuan meningkatkan reach, awareness, hingga jumlah penayangan.
- Berbasis interaksi → Bayar untuk aksi ringan, contoh CPC, CPE, CPF. Pada model ini, audiens tidak sebatas melihat iklan, melainkan sampai melakukan aksi tertentu. Dapat berupa klik atau engagement lainnya. Ringkasnya, Teman Belajar membayar ketika audiens memberikan aksi.
- Berbasis hasil → Bayar untuk konversi, contoh CPL, CPA, CPS, CPI, CPD. Model ini satu tingkat lagi di atas dua model sebelumnya, yakni biaya iklan akan dikenakan pada setiap hasil atau konversi. Sederhananya, Teman Belajar membayar ketika iklan menghasilkan sesuatu sesuai target campaign.
Teman Belajar hanya dapat memilih model paling tepat ketika sudah benar-benar paham pengkategorian tadi. Implikasinya, pemilihan model nantinya akan relevan dengan tujuan campaign sehingga bujet untuk menjalankan iklan pun menjadi lebih efektif.
Istilah Media Buying dan Cara Menghitungnya
Tim Belajarlagi sudah merangkum beberapa istilah media buying yang sudah familiar di dunia digital marketing sekaligus bagaimana cara menghitungnya:
1. CPM (Cost Per Mille)
CPM adalah biaya yang dikeluarkan untuk setiap 1.000 impresi atau tayangan. Cara menghitung CPM menggunakan rumus:
CPM = (Biaya iklan Jumlah impresi) 1.000
Contoh penggunaan hitungan CPM:
- Biaya iklan = Rp500.000
- Impresi = 100.000
- CPM = (500.000 : 100.000) x 1.000 = Rp5.000
Artinya, biaya rata-rata yang dikeluarkan untuk setiap 1.000 impresi adalah Rp5.000
Teman Belajar dapat memakai model CPM jika memiliki campaign yang fokusnya pada visibilitas, brand awareness, dan reach.
2. CPC (Cost Per Click)
CPC adalah biaya yang dikenakan untuk setiap klik yang diperoleh dari iklan. Rumus penghitungannya:
CPC = Biaya iklan Jumlah klik
Contoh penggunaan hitungan CPC:
- Biaya iklan = Rp500.000
- Jumlah klik = 250
- CPC = 500.000 : 250 = Rp2.000 per klik
Model CPC lebih cocok digunakan untuk campaign yang bertujuan mendatangkan traffic, baik itu ke website, landing page, marketplace, dan sejenisnya.
Pelajari juga cara membuat landing page yang efektif mengonversi traffic tersebut.
3. PPC (Pay Per Click)
PPC merupakan model atau pendekatan iklan berdasarkan per klik. PPC sering disamakan atau tertukar dengan CPC, padahal keduanya berbeda. PPC bukanlah metrik pembayaran seperti CPC, melainkan hanya strategi atau model. Oleh sebab itu, tidak ada rumus untuk PPC ini.
Sederhananya, PPC dapat menjawab pertanyaan “Saya membayar berdasarkan apa?”, sementara CPC menjawab pertanyaan “Berapa biaya yang dikeluarkan untuk setiap klik?”.
4. CPL (Cost Per Lead)
CPL adalah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh satu lead, misalnya pengisian formulir atau pemberian informasi kontak. Rumus menghitung CPL adalah:
CPL = Biaya iklan / Jumlah lead
Contoh penggunaan hitungan CPL:
- Biaya iklan = Rp1.000.000
- Jumlah lead = 40
- CPL = 1.000.000 : 40 = Rp25.000 per lead
Jika Teman Belajar hendak menjalankan iklan untuk mendapatkan data pelanggan, pendaftaran webinar, atau lead generation lainnya, cocok menggunakan CPL ini.
Pastikan juga pesan iklannya didukung conversion copywriting yang tepat agar lead yang masuk berkualitas.
5. CPA (Cost Per Action/Acquisition)
CPA merupakan biaya yang dikenakan untuk memperoleh aksi atau tindakan yang ditetapkan sebagai konversi. Rumus CPA adalah:
CPA = Biaya iklan / Jumlah aksi/konversi
Contoh penggunaan hitungan CPA:
- Biaya iklan = Rp2.000.000
- Jumlah konversi = 80
- CPA = 2.000.000 : 80 = Rp25.000 per konversi
Sesuai namanya, CPA cocok Teman Belajar gunakan untuk campaign yang secara jelas menargetkan konversi (pembelian).
6. CPS (Cost Per Sale)
CPS adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu penjualan. Rumus CPS sebagai berikut:
CPS = Biaya iklan / Jumlah penjualan
Contoh penggunaan hitungan CPS:
- Biaya iklan = Rp3.000.000
- Jumlah sale = 100
- CPS = 3.000.000 : 100 = Rp35.000 per penjualan
CPS dapat dipakai untuk campaign yang tujuan akhirnya adalah penjualan, seperti pada marketplace ataupun affiliate marketing, relevan juga dengan pembahasan TikTok Shop marketing secara lebih spesifik. Secara umum, CPS lebih spesifik daripada CPA karena hasil yang dihitung spesifik dari penjualan. Berbeda dengan CPA yang memakai berbagai aksi atau konversi.
7. CPI (Cost Per Install)
CPI merupakan biaya yang dikenakan guna memperoleh satu instal aplikasi. Istilah ini punya keterkaitan erat dengan ekosistem iklan mobile app. Rumus CPI adalah:
CPI = Biaya iklan / Jumlah instal
Contoh penggunaan hitungan CPI:
- Biaya iklan = Rp2.000.000
- Jumlah instalasi = 500
- CPI = 2.000.000 : 500 = Rp4.000 per instal
CPI biasanya dipakai untuk campaign mobile app yang menargetkan penambahan jumlah instalasi aplikasi melalui platform tertentu, misalnya Google Ads.
8. CPE (Cost Per Engagement)
CPE merupakan biaya yang dihitung untuk mendapatkan satu interaksi atau engagement dari sebuah campaign. Engagement ini dapat berupa like, share, maupun comment. Rumus CPE adalah:
CPE = Biaya iklan / Jumlah engagement
Contoh penggunaan hitungan CPE:
- Biaya iklan = Rp1.000.000
- Jumlah engagement = 5.000
- CPE = 1.000.000 : 5.000 = Rp200 per engagement
Sejalan dengan namanya, CPE paling cocok untuk campaign yang ingin mendorong interaksi audiens. Sebagai catatan, penghitungan engagement dari masing-masing platform itu berbeda-beda. Jadi, perlu untuk dicek terlebih dahulu.
9. CPV (Cost Per View)
CPV adalah biaya yang dikeluarkan untuk setiap satu penayangan video ke audiens. Perlu dipahami, definisi “view” per platform berbeda-beda (tidak harus ditonton sampai selesai), jadi hasil hitungan CPV-nya juga akan berpengaruh. Rumus CPV:
CPV = Biaya iklan / Jumlah view
Contoh penggunaan hitungan CPV:
- Biaya iklan = Rp1.000.000
- Jumlah view = 200.000
- CPV = 1.000.000 : 200.000 = Rp10 per view
Model CPV ini jelas paling pas untuk campaign dalam bentuk video, biasanya ada di YouTube dan TikTok.
Pelajari juga taktik short-form content agar video yang dipasang iklan punya retention rate tinggi.
10. CPD (Cost Per Download)
CPD merupakan biaya yang dibutuhkan untuk satu kali unduhan pada konten maupun aset digital seperti e-book, white paper, dan sebagainya. Rumus CPD adalah:
CPD = Biaya iklan / Jumlah unduhan
Contoh penggunaan hitungan CPD:
- Biaya iklan = Rp1.500.000
- Jumlah download = 300
- CPD = 1.500.000 : 300 = Rp5.000 per download
Penggunaan CPD umumnya untuk campaign content marketing maupun lead generation.
11. CPF (Cost Per Follower/Fan)
CPF adalah biaya yang diperlukan untuk mendapatkan satu pengikut baru. Istilah ini sebenarnya muncul dari TikTok Ads. Rumus CPF:
CPF = Biaya iklan / Jumlah pengikut (followers) baru
Contoh penggunaan hitungan CPF:
- Biaya iklan = Rp1.000.000
- Jumlah followers baru = 2.000
- CPF = 1.000.000 : 2.000 = Rp500 per followers
CPF cocok untuk campaign yang memang tujuannya secara spesifik ingin meningkatkan jumlah pengikut di media sosial.
Istilah ini sebenarnya muncul dari TikTok Ads, pelajari juga strategi konten TikTok marketing secara lebih menyeluruh untuk memaksimalkan hasil campaign di platform ini.
12. eCPM (effective CPM)
eCPM merupakan metrik yang mengubah pendapatan dari berbagai model monetisasi menjadi nilai per 1.000 impresi sehingga dapat dibandingkan. Rumus eCPM:
eCPM = (Total pendapatan / Jumlah impresi) x 1.000
Contoh penggunaan hitungan eCPM:
- Total pendapatan = Rp2.000.000
- Impresi = 500.000
- eCPM = (2.000.000 : 500.000) x 1.000 = Rp4.000
eCPM sebenarnya lebih umum dipakai dari perspektif monetisasi, bukan sebagai pricing model. Metrik ini berguna untuk membandingkan monetisasi antar sumber iklan.
13. ROAS (Return On Ad Spend)
ROAS sebenarnya bukan bagian dari pricing model, tetapi kemunculannya selalu beriringan dengan model lain. ROAS berfungsi mengukur berapa banyak pendapatan yang diperoleh dibandingkan biaya iklan. Rumus ROAS:
ROAS = Pendapatan dari iklan / Biaya iklan
Contoh penggunaan hitungan ROAS:
- Total pendapatan = Rp10.000.000
- Biaya iklan = Rp2.000.000
- ROAS = 10.000.000 : 2.000.000 = 5x
ROAS dipakai untuk mengukur efektivitas dan profitabilitas sebuah campaign, terutama yang menargetkan revenue.
Tabel Ringkasan dan Hubungan Antar-Metrik
Jika dibuat dalam bentuk tabel, ringkasan 13 istilah media buying model tadi adalah sebagai berikut:

Teman Belajar perlu memahami juga bahwa masing-masing metrik sebenarnya saling berkaitan, bukan saja hanya berdiri sendiri. Misalnya, CPC dapat dipengaruhi oleh CTR maupun CPM. Jika CTR naik, CPC cenderung turun meski CPM tetap. CPA sendiri juga dipengaruhi oleh CPC dan conversion rate.
Memahami keterkaitan ini dapat membantu Teman Belajar dalam melakukan optimasi. Satu metrik yang diperbaiki dapat berdampak ke perbaikan metrik lainnya. Intinya, media buying bukan sekadar hafalan apa itu CPM, CPC, CPL, dan sebagainya. Angka-angka dari metrik yang ada mampu membentuk sebuah sistem guna memperoleh wawasan perbaikan pada funnel secara tepat.
Memilih Metrik yang Tepat Sesuai Tujuan Kampanye
Tabel ini bisa Teman Belajar jadikan panduan untuk memilih metrik paling tepat yang sejalan dengan tujuan campaign:

Dalam pemasaran digital, kesalahan umum yang sering terjadi adalah mengukur campaign awareness menggunakan CPA atau bahkan sebaliknya. Jika tidak bisa memilih metrik yang sesuai dengan tujuan campaign, Teman Belajar hanya akan memperoleh sebuah kesimpulan menyesatkan.
Saat menjalankan iklan, selalu mulai dengan menetapkan tujuan campaign. Baru dari situ Teman Belajar menentukan metrik mana yang dipakai. Urutan ini wajib diikuti dan tidak bisa dibalik penggunaannya!
Kesalahan Umum dan Tips Mengoptimalkan Biaya Iklan
Beberapa kesalahan umum yang terjadi saat menjalankan iklan:
- Mengejar CPM murah, padahal tujuan campaign adalah konversi. Dengan CPM rendah, biaya untuk memperoleh impresi memang lebih murah. Namun, CPM murah tidak lantas mengindikasikan campaign jadi lebih menguntungkan, apalagi tujuannya konversi.
- Mengabaikan CTR. CTR berhubungan langsung dengan efisiensi klik. Dengan CPM sama, CTR yang tinggi berpotensi menghasilkan lebih banyak impresi yang berubah jadi klik. Maka, CPC pun bisa lebih rendah.
- Berhenti di CPC tanpa menghitung CPA atau CPS. CPC hanya memberi tahu berapa biaya untuk satu klik, tetapi klik sendiri tidak selalu menghasilkan pembelian atau lead. Oleh sebab itu, perhitungan CPA atau CPS tetap perlu dicermati.
- Membandingkan metrik antar platform tanpa konteks. CPC di satu platform belum tentu sama baiknya dengan platform lain. Saat membandingkan antar platform, pastikan cek tujuan, audiens, cost, dan sebagainya.
Guna mengoptimalkan biaya iklan, Teman Belajar bisa mengikuti tips berikut ini:
- Naikkan CTR dengan meningkatkan relevansi agar CPC bisa turun
- Lakukan testing A/B untuk mengetahui elemen mana yang paling memberikan respon terbaik (uji headline A vs headline B, video pendek vs video storytelling, dan sebagainya)
- Sesuaikan targeting dengan mengevaluasi minat, lokasi, demografi, perilaku, dan sebagainya
- Pantau metrik sepanjang funnel dari awal sampai akhir, bukan hanya di satu bagian saja, termasuk metrik pasca-konversi seperti customer retention, karena akuisisi murah tidak selalu berarti pelanggan bertahan lama.
Setelah mempelajari istilah CPM, CPC, CPL, dan lainnya, kini Teman Belajar tahu bahwa mengelola metrik dengan efektif memerlukan pemahaman digital marketing yang menyeluruh. Menguasai metrik menjadi kunci penting dalam memaksimalkan bujet iklan.

Kabar baiknya, keterampilan dalam mengelola metrik iklan dalam bisnis atau perusahaan tadi bisa Teman Belajar pelajari. Corporate Training Belajarlagi menyediakan pelatihan digital skill, salah satunya pemasaran digital yang nantinya bisa membantu meningkatkan kinerja bisnis. Untuk konsultasi dan informasi lebih lanjut mengenai Corporate Training, silakan cek di Corporate Training Belajarlagi.
.webp)




