13 Istilah Media Buying dari CPM, CPC, hingga CPL serta Cara Hitungnya

Jessica Dima
8 Min Read
Published:
September 11, 2026
Updated:
September 11, 2026

Key Takeaways

  • CPM, CPC, CPL, dan istilah digital marketing sejenisnya merupakan bentuk pricing model dalam media buying.
  • Media buying model akan menentukan dasar penagihan biaya iklan, apakah itu berdasarkan hasil, jumlah tayang, jumlah klik, dan lain sebagainya.
  • Memahami pengkategorian media buying model berdasarkan tujuan campaign akan mempermudah Teman Belajar dalam menentukan metrik yang tepat.
  • Pelajari apa itu CPM, CPC, CPL, beserta model lainnya lengkap dengan rumus dan contoh perhitungannya.

CPM, CPC, CPL, dan istilah digital marketing sejenisnya merupakan bentuk pricing model dalam media buying. Ketika Teman Belajar menjalankan sebuah iklan, pembayarannya akan didasarkan pada basis yang berbeda-beda. Mulai dari tayangan, aksi, leads, dan sebagainya. 

Istilah-istilah seperti CPM, CPC, CPL, dan sebagainya harus Teman Belajar pahami saat memasang iklan di Meta Ads, Google Ads, hingga TikTok Ads. Kurang memahami istilah akan berpotensi menimbulkan kesalahan dalam alokasi bujet iklan. Jadi, pelajari dulu 13 istilah digital marketing berikut ini lengkap dengan cara menghitung dan memilih sesuai tujuan.

Apa Itu Media Buying Model dan Cara Mengelompokkannya

Secara definisi, media buying adalah proses pembelian ruang iklan di berbagai platform untuk menjangkau audiens tertentu. Dalam konteks di ini, cakupannya ada pada pemasaran digital. Media buying model akan menentukan dasar penagihan biaya iklan, apakah itu berdasarkan hasil, jumlah tayang, jumlah klik, dan lain sebagainya.

Dalam pemasaran digital, Teman Belajar pasti sudah tidak asing dengan istilah semacam CPM, CPC, maupun CPL. Itu merupakan beberapa bentuk dari media buying model. Google Ads mengelompokkan strategi media buying model ke dalam tiga kategori berikut:

  • Berbasis eksposur → Bayar untuk dilihat, contoh CPM, CPV. Model ini berfokus pada seberapa banyak audiens yang terekspos oleh iklan. Gambarannya, Teman Belajar membayar sejumlah uang agar iklan tersebut dilihat audiens. Model berbasis eksposur cocok untuk iklan yang bertujuan meningkatkan reach, awareness, hingga jumlah penayangan.
  • Berbasis interaksi → Bayar untuk aksi ringan, contoh CPC, CPE, CPF. Pada model ini, audiens tidak sebatas melihat iklan, melainkan sampai melakukan aksi tertentu. Dapat berupa klik atau engagement lainnya. Ringkasnya, Teman Belajar membayar ketika audiens memberikan aksi.
  • Berbasis hasil → Bayar untuk konversi, contoh CPL, CPA, CPS, CPI, CPD. Model ini satu tingkat lagi di atas dua model sebelumnya, yakni biaya iklan akan dikenakan pada setiap hasil atau konversi. Sederhananya, Teman Belajar membayar ketika iklan menghasilkan sesuatu sesuai target campaign.

Teman Belajar hanya dapat memilih model paling tepat ketika sudah benar-benar paham pengkategorian tadi. Implikasinya, pemilihan model nantinya akan relevan dengan tujuan campaign sehingga bujet untuk menjalankan iklan pun menjadi lebih efektif.

Istilah Media Buying dan Cara Menghitungnya

Tim Belajarlagi sudah merangkum beberapa istilah media buying yang sudah familiar di dunia digital marketing sekaligus bagaimana cara menghitungnya:

1. CPM (Cost Per Mille)

CPM adalah biaya yang dikeluarkan untuk setiap 1.000 impresi atau tayangan. Cara menghitung CPM menggunakan rumus:

CPM = (Biaya iklan Jumlah impresi) 1.000

Contoh penggunaan hitungan CPM:

  • Biaya iklan = Rp500.000
  • Impresi = 100.000
  • CPM = (500.000 : 100.000) x 1.000 = Rp5.000

Artinya, biaya rata-rata yang dikeluarkan untuk setiap 1.000 impresi adalah Rp5.000

Teman Belajar dapat memakai model CPM jika memiliki campaign yang fokusnya pada visibilitas, brand awareness, dan reach.

2. CPC (Cost Per Click)

CPC adalah biaya yang dikenakan untuk setiap klik yang diperoleh dari iklan. Rumus penghitungannya:

CPC = Biaya iklan  Jumlah klik

Contoh penggunaan hitungan CPC:

  • Biaya iklan = Rp500.000
  • Jumlah klik = 250
  • CPC = 500.000 : 250 = Rp2.000 per klik

Model CPC lebih cocok digunakan untuk campaign yang bertujuan mendatangkan traffic, baik itu ke website, landing page, marketplace, dan sejenisnya.

Pelajari juga cara membuat landing page yang efektif mengonversi traffic tersebut.

3. PPC (Pay Per Click)

PPC merupakan model atau pendekatan iklan berdasarkan per klik. PPC sering disamakan atau tertukar dengan CPC, padahal keduanya berbeda. PPC bukanlah metrik pembayaran seperti CPC, melainkan hanya strategi atau model. Oleh sebab itu, tidak ada rumus untuk PPC ini.

Sederhananya, PPC dapat menjawab pertanyaan “Saya membayar berdasarkan apa?”, sementara CPC menjawab pertanyaan “Berapa biaya yang dikeluarkan untuk setiap klik?”.

4. CPL (Cost Per Lead)

CPL adalah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh satu lead, misalnya pengisian formulir atau pemberian informasi kontak. Rumus menghitung CPL adalah:

CPL = Biaya iklan / Jumlah lead

Contoh penggunaan hitungan CPL:

  • Biaya iklan = Rp1.000.000
  • Jumlah lead = 40
  • CPL = 1.000.000 : 40 = Rp25.000 per lead

Jika Teman Belajar hendak menjalankan iklan untuk mendapatkan data pelanggan, pendaftaran webinar, atau lead generation lainnya, cocok menggunakan CPL ini.

Pastikan juga pesan iklannya didukung conversion copywriting yang tepat agar lead yang masuk berkualitas.

5. CPA (Cost Per Action/Acquisition)

CPA merupakan biaya yang dikenakan untuk memperoleh aksi atau tindakan yang ditetapkan sebagai konversi. Rumus CPA adalah:

CPA = Biaya iklan / Jumlah aksi/konversi

Contoh penggunaan hitungan CPA:

  • Biaya iklan = Rp2.000.000
  • Jumlah konversi = 80
  • CPA = 2.000.000 : 80 = Rp25.000 per konversi

Sesuai namanya, CPA cocok Teman Belajar gunakan untuk campaign yang secara jelas menargetkan konversi (pembelian).

6. CPS (Cost Per Sale)

CPS adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu penjualan. Rumus CPS sebagai berikut:

CPS = Biaya iklan / Jumlah penjualan

Contoh penggunaan hitungan CPS:

  • Biaya iklan = Rp3.000.000
  • Jumlah sale = 100
  • CPS = 3.000.000 : 100 = Rp35.000 per penjualan

CPS dapat dipakai untuk campaign yang tujuan akhirnya adalah penjualan, seperti pada marketplace ataupun affiliate marketing, relevan juga dengan pembahasan TikTok Shop marketing secara lebih spesifik. Secara umum, CPS lebih spesifik daripada CPA karena hasil yang dihitung spesifik dari penjualan. Berbeda dengan CPA yang memakai berbagai aksi atau konversi.

7. CPI (Cost Per Install)

CPI merupakan biaya yang dikenakan guna memperoleh satu instal aplikasi. Istilah ini punya keterkaitan erat dengan ekosistem iklan mobile app. Rumus CPI adalah:

CPI = Biaya iklan / Jumlah instal

Contoh penggunaan hitungan CPI:

  • Biaya iklan = Rp2.000.000
  • Jumlah instalasi = 500
  • CPI = 2.000.000 : 500 = Rp4.000 per instal

CPI biasanya dipakai untuk campaign mobile app yang menargetkan penambahan jumlah instalasi aplikasi melalui platform tertentu, misalnya Google Ads.

8. CPE (Cost Per Engagement)

CPE merupakan biaya yang dihitung untuk mendapatkan satu interaksi atau engagement dari sebuah campaign. Engagement ini dapat berupa like, share, maupun comment. Rumus CPE adalah:

CPE = Biaya iklan / Jumlah engagement

Contoh penggunaan hitungan CPE:

  • Biaya iklan = Rp1.000.000
  • Jumlah engagement = 5.000
  • CPE = 1.000.000 : 5.000 = Rp200 per engagement

Sejalan dengan namanya, CPE paling cocok untuk campaign yang ingin mendorong interaksi audiens. Sebagai catatan, penghitungan engagement dari masing-masing platform itu berbeda-beda. Jadi, perlu untuk dicek terlebih dahulu.

9. CPV (Cost Per View)

CPV adalah biaya yang dikeluarkan untuk setiap satu penayangan video ke audiens. Perlu dipahami, definisi “view” per platform berbeda-beda (tidak harus ditonton sampai selesai), jadi hasil hitungan CPV-nya juga akan berpengaruh. Rumus CPV:

CPV = Biaya iklan / Jumlah view

Contoh penggunaan hitungan CPV:

  • Biaya iklan = Rp1.000.000
  • Jumlah view = 200.000
  • CPV = 1.000.000 : 200.000 = Rp10 per view

Model CPV ini jelas paling pas untuk campaign dalam bentuk video, biasanya ada di YouTube dan TikTok.

Pelajari juga taktik short-form content agar video yang dipasang iklan punya retention rate tinggi.

10. CPD (Cost Per Download)

CPD merupakan biaya yang dibutuhkan untuk satu kali unduhan pada konten maupun aset digital seperti e-book, white paper, dan sebagainya. Rumus CPD adalah:

CPD = Biaya iklan / Jumlah unduhan

Contoh penggunaan hitungan CPD:

  • Biaya iklan = Rp1.500.000
  • Jumlah download = 300
  • CPD = 1.500.000 : 300 = Rp5.000 per download

Penggunaan CPD umumnya untuk campaign content marketing maupun lead generation.

11. CPF (Cost Per Follower/Fan)

CPF adalah biaya yang diperlukan untuk mendapatkan satu pengikut baru. Istilah ini sebenarnya muncul dari TikTok Ads. Rumus CPF:

CPF = Biaya iklan / Jumlah pengikut (followers) baru

Contoh penggunaan hitungan CPF:

  • Biaya iklan = Rp1.000.000
  • Jumlah followers baru = 2.000
  • CPF = 1.000.000 : 2.000 = Rp500 per followers

CPF cocok untuk campaign yang memang tujuannya secara spesifik ingin meningkatkan jumlah pengikut di media sosial.

Istilah ini sebenarnya muncul dari TikTok Ads, pelajari juga strategi konten TikTok marketing secara lebih menyeluruh untuk memaksimalkan hasil campaign di platform ini.

12. eCPM (effective CPM)

eCPM merupakan metrik yang mengubah pendapatan dari berbagai model monetisasi menjadi nilai per 1.000 impresi sehingga dapat dibandingkan. Rumus eCPM:

eCPM = (Total pendapatan / Jumlah impresi) x 1.000

Contoh penggunaan hitungan eCPM:

  • Total pendapatan = Rp2.000.000
  • Impresi = 500.000
  • eCPM = (2.000.000 : 500.000) x 1.000 = Rp4.000

eCPM sebenarnya lebih umum dipakai dari perspektif monetisasi, bukan sebagai pricing model. Metrik ini berguna untuk membandingkan monetisasi antar sumber iklan.

13. ROAS (Return On Ad Spend)

ROAS sebenarnya bukan bagian dari pricing model, tetapi kemunculannya selalu beriringan dengan model lain. ROAS berfungsi mengukur berapa banyak pendapatan yang diperoleh dibandingkan biaya iklan. Rumus ROAS:

ROAS = Pendapatan dari iklan / Biaya iklan

Contoh penggunaan hitungan ROAS:

  • Total pendapatan = Rp10.000.000
  • Biaya iklan = Rp2.000.000
  • ROAS = 10.000.000 : 2.000.000 = 5x

ROAS dipakai untuk mengukur efektivitas dan profitabilitas sebuah campaign, terutama yang menargetkan revenue.

Tabel Ringkasan dan Hubungan Antar-Metrik

Jika dibuat dalam bentuk tabel, ringkasan 13 istilah media buying model tadi adalah sebagai berikut:

Tabel Ringkasan dan Hubungan Antar-Metrik

Teman Belajar perlu memahami juga bahwa masing-masing metrik sebenarnya saling berkaitan, bukan saja hanya berdiri sendiri. Misalnya, CPC dapat dipengaruhi oleh CTR maupun CPM. Jika CTR naik, CPC cenderung turun meski CPM tetap. CPA sendiri juga dipengaruhi oleh CPC dan conversion rate.

Memahami keterkaitan ini dapat membantu Teman Belajar dalam melakukan optimasi. Satu metrik yang diperbaiki dapat berdampak ke perbaikan metrik lainnya. Intinya, media buying bukan sekadar hafalan apa itu CPM, CPC, CPL, dan sebagainya. Angka-angka dari metrik yang ada mampu membentuk sebuah sistem guna memperoleh wawasan perbaikan pada  funnel secara tepat.

Memilih Metrik yang Tepat Sesuai Tujuan Kampanye

Tabel ini bisa Teman Belajar jadikan panduan untuk memilih metrik paling tepat yang sejalan dengan tujuan campaign:

Memilih Metrik yang Tepat Sesuai Tujuan Kampanye

Dalam pemasaran digital, kesalahan umum yang sering terjadi adalah mengukur campaign awareness menggunakan CPA atau bahkan sebaliknya. Jika tidak bisa memilih metrik yang sesuai dengan tujuan campaign, Teman Belajar hanya akan memperoleh sebuah kesimpulan menyesatkan.

Saat menjalankan iklan, selalu mulai dengan menetapkan tujuan campaign. Baru dari situ Teman Belajar menentukan metrik mana yang dipakai. Urutan ini wajib diikuti dan tidak bisa dibalik penggunaannya!

Kesalahan Umum dan Tips Mengoptimalkan Biaya Iklan

Beberapa kesalahan umum yang terjadi saat menjalankan iklan:

  • Mengejar CPM murah, padahal tujuan campaign adalah konversi. Dengan CPM rendah, biaya untuk memperoleh impresi memang lebih murah. Namun, CPM murah tidak lantas mengindikasikan campaign jadi lebih menguntungkan, apalagi tujuannya konversi.
  • Mengabaikan CTR. CTR berhubungan langsung dengan efisiensi klik. Dengan CPM sama, CTR yang tinggi berpotensi menghasilkan lebih banyak impresi yang berubah jadi klik. Maka, CPC pun bisa lebih rendah.
  • Berhenti di CPC tanpa menghitung CPA atau CPS. CPC hanya memberi tahu berapa biaya untuk satu klik, tetapi klik sendiri tidak selalu menghasilkan pembelian atau lead. Oleh sebab itu, perhitungan CPA atau CPS tetap perlu dicermati.
  • Membandingkan metrik antar platform tanpa konteks. CPC di satu platform belum tentu sama baiknya dengan platform lain. Saat membandingkan antar platform, pastikan cek tujuan, audiens, cost, dan sebagainya.

Guna mengoptimalkan biaya iklan, Teman Belajar bisa mengikuti tips berikut ini:

  • Naikkan CTR dengan meningkatkan relevansi agar CPC bisa turun
  • Lakukan testing A/B untuk mengetahui elemen mana yang paling memberikan respon terbaik (uji headline A vs headline B, video pendek vs video storytelling, dan sebagainya)
  • Sesuaikan targeting dengan mengevaluasi minat, lokasi, demografi, perilaku, dan sebagainya
  • Pantau metrik sepanjang funnel dari awal sampai akhir, bukan hanya di satu bagian saja, termasuk metrik pasca-konversi seperti customer retention, karena akuisisi murah tidak selalu berarti pelanggan bertahan lama.

Setelah mempelajari istilah CPM, CPC, CPL, dan lainnya, kini Teman Belajar tahu bahwa mengelola metrik dengan efektif memerlukan pemahaman digital marketing yang menyeluruh. Menguasai metrik menjadi kunci penting dalam memaksimalkan bujet iklan.

Corporate Training Belajarlagi

Kabar baiknya, keterampilan dalam mengelola metrik iklan dalam bisnis atau perusahaan tadi bisa Teman Belajar pelajari. Corporate Training Belajarlagi menyediakan pelatihan digital skill, salah satunya pemasaran digital yang nantinya bisa membantu meningkatkan kinerja bisnis. Untuk konsultasi dan informasi lebih lanjut mengenai Corporate Training, silakan cek di Corporate Training Belajarlagi.

FAQ

[open]
[collapse]

Apa perbedaan CPM, CPC, dan CPL dalam media buying?

CPM (Cost Per Mille) adalah biaya untuk setiap 1.000 impresi, cocok untuk campaign brand awareness dan reach. CPC (Cost Per Click) adalah biaya untuk setiap klik yang diperoleh, cocok untuk campaign yang bertujuan mendatangkan traffic ke website atau landing page. CPL (Cost Per Lead) adalah biaya untuk memperoleh satu lead, misalnya pengisian formulir atau data kontak, cocok untuk campaign lead generation. Ketiganya berbeda kategori: CPM berbasis eksposur, CPC berbasis interaksi, dan CPL berbasis hasil.

Apa beda PPC dan CPC, apakah keduanya sama?

PPC (Pay Per Click) dan CPC (Cost Per Click) sering tertukar padahal berbeda. PPC bukan metrik pembayaran, melainkan strategi atau model iklan berbasis klik, sehingga tidak punya rumus perhitungan. CPC adalah metrik yang menghitung berapa biaya yang dikeluarkan untuk setiap klik. Sederhananya, PPC menjawab "saya membayar berdasarkan apa", sementara CPC menjawab "berapa biaya untuk setiap klik".

Bagaimana rumus dan contoh menghitung CPA?

CPA (Cost Per Action/Acquisition) dihitung dengan rumus biaya iklan dibagi jumlah aksi atau konversi. Sebagai contoh, biaya iklan Rp2.000.000 dengan 80 konversi menghasilkan CPA sebesar Rp25.000 per konversi. CPA cocok dipakai untuk campaign yang secara jelas menargetkan konversi seperti pembelian, dan hasilnya juga dipengaruhi oleh CPC serta conversion rate campaign tersebut.

Metrik apa yang cocok dipakai sesuai tujuan campaign iklan?

Pemilihan metrik sebaiknya mengikuti tahapan funnel dan tujuan campaign. Untuk brand awareness di tahap atas funnel (TOFU), gunakan CPM atau CPV. Untuk traffic dan engagement di tahap tengah (MOFU), gunakan CPC, CPE, atau CPF. Untuk lead dan konversi di tahap bawah (BOFU), gunakan CPL, CPA, atau CPS. Untuk install aplikasi gunakan CPI, sementara untuk evaluasi profitabilitas gunakan ROAS atau eCPM.

Apa kesalahan umum yang membuat biaya iklan jadi tidak efisien?

Empat kesalahan yang paling sering terjadi: mengejar CPM murah padahal tujuan campaign adalah konversi, mengabaikan CTR yang sebenarnya memengaruhi CPC, berhenti mengevaluasi di CPC tanpa menghitung CPA atau CPS lebih lanjut, serta membandingkan metrik antar platform tanpa mempertimbangkan konteks tujuan, audiens, dan biaya masing-masing platform.

#
Digital Marketing
Belajarlagi author:

Jessica Dima

Freelance SEO content writer yang 5+ berpengalaman menulis artikel dengan berbagai topik: pekerjaan, gaya hidup, edukasi, dan kesehatan mental. Selain SEO, ia mempunyai passion khusus pada storytelling.

Temukan Hal Menarik dan Asyik Lainnya

Yuk, Langganan Newsletter Kami

Topik apa yang paling menarik untuk anda?
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Cookie Consent

By clicking “Accept”, you agree to the storing of cookies on your device to enhance site navigation, analyze site usage, and assist in our marketing efforts. View our Privacy Policy for more information.