- Jika memiliki cara mengelola keuangan pribadi yang baik, Teman Belajar tidak akan kesulitan menyisihkan gaji pertama untuk menabung dan investasi.
- Formula 50-20-10-20 dapat dijadikan patokan dalam mengalokasikan dan mengatur uang gaji. Kuncinya bukan pada penghematan luar biasa, melainkan punya sistem pengelolaan yang jelas.
- Prioritaskan dana darurat dan pelunasan utang sebelum memutuskan berinvestasi. Jangan lupa berinvestasi juga ke peningkatan skill diri agar bisa berpeluang mengalami kenaikan gaji di pekerjaan.
Menerima gaji pertama memang sungguh berkesan. Namun, dua minggu kemudian Teman Belajar menyadari saldo di rekening mendadak menyusut banyak. Pertanyaan pun muncul, “Ke mana semua uang tadi pergi?” Data dari Populix di tahun 2025 menunjukkan generasi milenial dan gen Z menghabiskan 74% gaji untuk kebutuhan dasar dan cicilan. Bagaimana mungkin gaji bisa habis hanya di cicilan?
Cara mengelola keuangan sebenarnya tidak hanya bertumpu pada kedisiplinan maupun karakter. Ketiadaan sistem pengelolaan uang mengakibatkan Teman Belajar tak tahu apakah semua pengeluaran dipakai untuk keperluan yang tepat. Artikel kali ini akan memberi gambaran cara mengatur gaji dengan alokasi paling realistis untuk konteks pekerja di Indonesia. Mulai dari penentuan prioritas keuangan sampai perkenalan instrumen investasi bagi pemula. Teman Belajar pun dapat langsung membuat perencanaan keuangan yang bisa dipraktikkan di bulan ini.
Mengapa Gaji Naik tapi Tabungan Tetap Nol?
Merasa gaji stagnan dapat terjadi karena adanya fenomena lifestyle inflation. Fenomena ini muncul ketika kenaikan gaji berjalan beriringan dengan peningkatan gaya hidup seseorang. Akibatnya, selisih antara pendapatan dan pengeluaran pun tidak pernah bertambah. Bahkan, tabungan pun rentan tergerus demi memenuhi gaya hidup.
Katakanlah Teman Belajar memiliki gaji pertama sebesar 5 juta rupiah dan mampu menabung 1 juta rupiah per bulan. Ketika sudah beberapa tahun bekerja dan memperoleh kenaikan gaji hingga 15 juta, bisa jadi proporsi menabungmu tidak berubah. Penyebabnya adalah Teman Belajar belum memiliki sistem mengelola keuangan pribadi yang jelas.
Coba selidiki, seperti apa sistem yang Teman Belajar pakai untuk menabung? Agar bisa rutin menabung dengan proporsi tepat, terapkan konsep “Pay Yourself First”. Janganlah menabung dari sisa pengeluaran yang ada, tetapi sisihkan uang untuk tabungan atau investasi sejak hari pertama gajian. Dari situ, Teman Belajar dapat mengamankan pos tabungan sebelum menggunakan gaji untuk keperluan lain.
Bayangkan ada dua orang menabung di instrumen yang memberikan return 10% per tahun. Orang pertama menabung 500 ribu rupiah per bulan sejak usia 22 tahun, sementara orang kedua menabung 1 juta rupiah per bulan di usia 30 tahun. Saat keduanya menginjak usia 55 tahun, jumlah tabungan orang pertama akan lebih banyak meskipun menyisihkan lebih sedikit. Itulah kekuatan dari compound interest, yaitu bunga sejak awal menabung yang terus berkembang seiring peningkatan saldo. Jadi, jangan tunda menabung sedari awal!
Baca juga Serba-Serbi Pengembangan Karir dan Kompetensi Karyawan
Cara Mengatur Uang Gaji dengan Formula 50-20-10-20 yang Realistis
Berikut formula cara mengelola keuangan dan gaji yang bisa Teman Belajar coba aplikasikan:
Cermati juga penjelasan dari masing-masing alokasi yang ada berikut ini:
- 50% untuk kebutuhan pokok. Biaya kos di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya bisa mengambil 25-30% gaji. Maka, usahakan agar porsi kos, makan, dan transportasi tidak melebihi 50%. Teman Belajar dapat cek ulang apakah ada alternatif untuk kos lebih murah, pengurangan kebutuhan yang dirasa tidak terlalu penting, atau mencari opsi penghasilan tambahan dari side job.
- 20% untuk tabungan dan investasi. Alokasi ini harus ada, bukan opsional. Agar bisa membangun kebiasaan menabung yang baik, atur autodebit ke rekening lain tepat saat hari gajian. Dengan begitu, Teman Belajar sudah pasti menyisihkan uang untuk tabungan sejak awal.
- 10% untuk pengembangan diri. Banyak orang tidak memikirkan mengalokasikan dana untuk mengikuti kelas maupun sertifikasi. Padahal, ini adalah bentuk investasi terbaik di awal usia 20-an. Investasi pada skill mampu menghasilkan return tinggi. Ikut kursus seharga 500 ribu rupiah bisa berpotensi menghasilkan kenaikan gaji 2 juta rupiah per bulan.
- 20% untuk gaya hidup dan hiburan. Fokus menabung bukan berarti mengabaikan porsi untuk gaya hidup. Teman Belajar berhak makan di tempat mahal atau bersenang-senang sesekali, asalkan porsinya tidak lebih dari 20% per bulan. Dengan gaji 5 juta, kamu boleh memakai 1 juta untuk gaya hidup. Begitu pula saat gaji naik menjadi 8 juta, ada alokasi 1,6 juta untuk hiburan.
Baca juga Strategi Perencanaan Karir yang Efektif bagi Fresh Graduate
Urutan Pengelolaan Gaji Pertama, Mana yang Jadi Prioritas?
Mengelola gaji pertama sebaiknya Teman Belajar lakukan secara bertahap agar kondisi keuangan tetap sehat sejak awal karier. Urutan prioritas yang bisa Teman Belajar ikuti adalah:
- Siapkan dana darurat guna mengantisipasi kebutuhan mendesak.
- Lunasi utang konsumtif agar tak membebani pengelolaan keuangan.
- Mulai menabung untuk tujuan jangka pendek dan menengah (pembelian barang, aset, pendidikan, menikah, dan lain-lain).
- Lengkapi perlindungan finansial yang dibutuhkan (BPJS kesehatan, asuransi, dan lain-lain).
- Alokasikan sebagian dana untuk investasi dengan sesuai profil risiko.
Prioritas utama adalah mengumpulkan dana darurat sebagai perlindungan saat menghadapi kondisi tak terduga, misalnya PHK, sakit, atau kebutuhan mendesak lainnya. Dana darurat ideal bagi lajang tanpa tanggungan adalah tiga kali pengeluaran bulanan. Sementara, bagi yang sudah berkeluarga usahakan mempunyai dana darurat minimal enam kali pengeluaran bulanan.
Andaikan pengeluaran Teman Belajar mencapai Rp4 juta per bulan, maka target dana darurat yang perlu dikumpulkan adalah Rp12 juta. Pastikan simpan dana ini di rekening terpisah atau instrumen yang mudah dicairkan. Tujuannya agar bisa Teman Belajar gunakan kapan saja saat dibutuhkan.
Setelah dana darurat mulai terkumpul, fokus berikutnya adalah melunasi utang konsumtif yang masih dimiliki. Teman Belajar dapat menggunakan metode debt avalanche, yaitu dengan melunasi utang berbunga tertinggi terlebih dahulu. Selain itu ada pula cara debt snowball yang memprioritaskan pelunasan utang dengan nominal paling kecil. Terakhir, Teman Belajar baru bisa mengalokasikan pendapatan untuk investasi setelah dana darurat dan pelunasan utang teratasi. Pastikan investasi tersebut harus sesuai profil risiko dan punya tujuan keuangan jelas.
Baca juga 10 Soft Skill Paling Dicari HRD Perusahaan Top Indonesia
Cara Mulai Investasi dengan Gaji Pertama
Andai kebutuhan dana darurat Teman Belajar sudah tercapai, ada baiknya kamu mulai belajar juga untuk berinvestasi. Untuk jangka panjang, investasi sangat disarankan daripada sekadar menabung di bank. Kebanyakan karyawan fresh graduate berpikir bahwa investasi itu susah dan butuh modal besar. Padahal, Teman Belajar bisa memulainya dari nominal.
Beberapa instrumen investasi berikut ini cocok untuk para pemula yang ingin menyisihkan sebagian uang dari gaji pertama:
- Reksa Dana Pasar Uang (RDPU). Menurut Bareksa, RDPU merupakan aset paling berkinerja positif sejak awal tahun ini. Jenis instrumen investasi ini memang berisiko rendah dan cocok untuk Teman Belajar yang ingin memperoleh imbal hasil lebih menguntungkan daripada sekadar tabungan. Kamu bisa memulai berinvestasi sebesar 10 ribu rupiah di RDPU dengan rata-rata return 4-6% per tahun (biasanya lebih tinggi dari deposito).
- Reksa Dana Indeks. Dalam bahasa yang sederhana, reksa dana indeks memiliki pergerakan yang “meniru” indeks tertentu. Indeks tersebut berasal dari pasar saham (LQ45, IDX30, dan lain-lain) serta obligasi. Teman Belajar dapat memilih reksa dana indeks untuk tujuan keuangan jangka menengah (3-5 tahun) dan dapat dimulai dari 10 ribu rupiah. Secara histori, reksa dana indeks mengalahkan mayoritas reksa dana aktif lainnya dalam jangka panjang.
- Saham Bluechip via Dollar-Cost Averaging. Andai Teman Belajar sudah mahir berinvestasi di reksa dana dan mulai tertarik saham, pilihan investasi ini bisa dimulai. Namun ingat, risikonya tinggi dan hanya boleh dilakukan jika dana darurat sudah terpenuhi ataupun ada keinginan untuk belajar. Metode pembelian saham bluechip yang disarankan adalah dengan Dollar-Cost Averaging, yaitu membeli jumlah tetap setiap bulan tanpa melihat harganya.
Hati-hati, jangan terburu-buru berinvestasi hanya karena mengikuti tren atau sekadar ingin mendapat return tinggi. Teman Belajar harus menentukan tujuan investasi secara jelas (jangka pendek, menengah, atau panjang): dana darurat, pensiun, liburan, dan lain-lain. Tujuan tersebut akan membantu Teman Belajar memilih instrumen paling tepat. Selain itu, lakukan diversifikasi alias tidak meletakkan semua uang hanya di satu instrumen saja.
Baca juga Berapa Estimasi Gaji Fresh Graduate? Cek Selengkapnya di Sini!
Tiga Kebiasaan Keuangan yang Membedakan yang Cepat Kaya dari yang Selalu Kurang
Cara mengelola keuangan akan selalu berhubungan erat dengan seperti apa kebiasaan Teman Belajar terhadap uang. Berikut beberapa kebiasaan spesifik yang bisa Teman Belajar terapkan jika ingin cepat “kaya”:
- Rutin mengevaluasi keuangan bulanan. Luangkan waktu 15-30 menit setiap akhir bulan untuk melihat seperti apa pola pergerakan keuangan pribadi Teman Belajar. Saat rutin melakukannya, Teman Belajar pun terbiasa untuk mengalokasikan pengeluaran secara lebih tepat di bulan berikutnya. Lakukan pencatatan menggunakan tools seperti spreadsheet, notes di ponsel, atau aplikasi keuangan. Kuncinya adalah konsisten.
- Menaikkan porsi tabungan dan investasi setiap kenaikan gaji. Saat gaji Teman Belajar naik 10%, tingkatkan pula alokasi tabungan minimal 5% lebih tinggi dari sebelumnya. Gaya hidup boleh naik, tetapi secukupnya. Misalnya, gajimu naik dari 5 juta rupiah ke 6 juta rupiah. Sisihkan 500 ribu rupiah untuk tabungan, kemudian pakai 500 ribu rupiah sisanya untuk peningkatan gaya hidup.
- Investasi pada income-producing skills sebelum passive income. Di usia 22-28 tahun, investasi terbesar bukanlah terletak di reksa dana maupun saham. Investasi terbaik ada pada peningkatan skill guna membuka peluang lebih besar dan menjanjikan di bursa kerja. Mengikuti sertifikasi profesional, kelas digital marketing, atau mengasah kemampuan analisis dapat menaikkan gaji Teman Belajar sebesar 30-50% dalam 1-2 tahun ke depan.
Berikut contoh "Financial Milestone Checklist" yang bisa Teman Belajar jadikan acuan dalam mengelola gaji selama bekerja. Namun ingat, pendekatan ini bukan menjadi target pasti. Andai Teman Belajar belum mencapainya, bukan berarti gagal. Yang penting adalah mulai memahami bagaimana cara mengatur keuangan pribadi secara lebih tepat.
Baca juga HR Lebih Melirik CV dengan Sertifikasi Internasional, Benarkah?
Memotong pengeluaran secara ketat bukan merupakan satu-satunya cara meningkatkan kondisi keuangan diri. Selain mahir dalam cara mengelola uang, Teman Belajar juga butuh memikirkan menaikkan nilai diri di bursa kerja agar bisa memperoleh pendapatan lebih tinggi.

Salah satu langkah menaikkan nilai diri adalah dengan memiliki kompetensi yang bisa diverifikasi melalui sertifikasi profesional. Bagi Teman Belajar yang tertarik mempercepat pertumbuhan karier sekaligus pendapatan, kamu bisa ikut program sertifikasi di CertiHub by Belajarlagi. Kunjungi CertiHub by Belajarlagi untuk mengetahui program apa saja yang tersedia!
.webp)




