- AI content memang mampu berkontribusi pada lonjakan traffic, tetapi sifatnya hanya sementara. Setahun berikutnya, konten tersebut justru anjlok, bahkan sampai kehilangan 30% traffic.
- Dari Helpful Content Update dan Scaled Content Abuse, target Google sebenarnya bukanlah AI, melainkan besaran skala sekaligus tujuan manipulatif dari konten-konten yang tidak sepenuhnya berfokus ke pengguna (pembaca).
- Pelajari delapan pola konten AI yang berpotensi menurunkan traffic dan bagaimana cara menggunakan perangkat AI secara lebih aman untuk keperluan SEO maupun GEO.
Banyak situs yang traffic-nya melonjak berkat AI content, tetapi setahun kemudian malah anjlok. Mengapa bisa begitu? Profesional SEO bernama Lily Ray menyebut bahwa meningkatkan produksi konten AI bukanlah strategi berisiko rendah dalam pencarian organik. Meski dapat membuat lonjakan cepat, konten AI dapat menyebabkan hilangnya 30% traffic setahun berikutnya.
Artikel kali ini tidak bermaksud untuk mendorong Anda menjauhi AI. Tim Belajarlagi justru mencoba memberi pandangan berbeda dengan mengupas penggunaan AI melalui cara lebih tepat. Mengejar search volume tinggi tanpa pengawasan adalah hal yang gegabah. Anda akan mempelajarinya secara lebih mendalam lewat ulasan berikut ini.
Pola "Naik Cepat lalu Jatuh" Konten AI Apa Buktinya
Sebagai praktisi SEO, Anda pasti tidak bisa menyangkal bahwa dalam beberapa tahun terakhir, alat pembuat konten berbasis AI telah banyak digunakan dalam pekerjaan SEO maupun GEO. Hasilnya pun efektif, terjadi lonjakan traffic yang signifikan, setidaknya dalam enam hingga dua belas bulan. Hanya saja, kondisi tersebut kebanyakan tidak bertahan lama, bahkan traffic malah kian menurun di bulan-bulan berikutnya.
Dalam observasi dan analisis Lili Ray terhadap lebih dari 220 situs, muncul data-data menarik. Pertama, 54% situs kehilangan lebih dari 30% traffic puncaknya. Kedua, 39% situs kehilangan 50% atau lebih traffic terbaiknya. Terakhir, 22% situs bahkan kehilangan lebih dari 75% traffic tertingginya.
Dari ketiga data tadi, Lily Ray menemukan kesamaan pola yang tidak bisa Anda abaikan. Memang betul ada pertumbuhan halaman organik secara cepat dalam rentang waktu 6-12 bulan. Puncak traffic sendiri biasanya terjadi pada 3-6 bulan awal. Namun, siapa sangka satu tahun kemudian, traffic tersebut perlahan-lahan terus merosot.
Fenomena tersebut dikenal dengan istilah Mount AI, yaitu kurva pertumbuhan pesat yang kemudian dilanjutkan dengan penurunan signifikan ataupun naik-turun secara simetris. Penurunan traffic biasanya disebabkan oleh sistem Google yang berhasil mengumpulkan “sinyal” kualitas guna mengidentifikasi konten-konten AI.
Sejarah Berulang, Helpful Content Update dan Scaled Content Abuse
Lantas, apakah fenomena Mount AI itu baru terjadi sekarang ini? Jawabannya, tidak. Ini bukanlah fenomena baru. Pada September 2023, Google Helpful Content Update yang menyoroti konten-konten yang terindikasi dibuat hanya untuk mesin pencari, bukan audiens manusia. Selanjutnya pada Maret 2024, Elizabeth Tucker (Product Management Google) menyebut ada pembaruan yang melibatkan penyempurnaan sistem yang mampu mengurangi konten tidak orisinal sampai 45%.
Bersamaan dengan hal tersebut, Google kemudian meluncurkan kebijakan spam Scaled Content Abuse, yaitu kondisi yang mana terjadi banyak halaman disalahgunakan untuk memanipulasi peringkat pencarian - bukan untuk membantu pengguna. Google menitikberatkan kondisi tersebut terlepas dari siapa pun penulisnya, entah itu AI, menusia, ataupun campuran.
Dari Helpful Content Update dan Scaled Content Abuse itu, apa yang bisa Anda pelajari? Secara mengejutkan, target Google bukanlah AI. Yang menjadi perhatian penting Google adalah skala sekaligus tujuan manipulatif dari konten-konten pada situs tertentu. Dampaknya, konten-konten buatan manusia pun dapat kena getahnya jika diproduksi dalam skala besar untuk kebutuhan pencarian.
Baca juga Cara Pakai AI Marketing untuk Produksi Konten 10x Lebih Cepat
Pola Konten AI yang Berisiko Memicu Penurunan Trafik
Lili Ray berpendapat konten yang dimulai dengan pendekatan untuk memberikan manfaat ke pengguna pun akhirnya dapat dengan mudah dideteksi jejaknya oleh Google. Terutama ketika mulai banyak situs menerbitkan halaman yang sama. Menurut analisis Lily Ray, ada beberapa pola konten AI yang punya potensi mengalami penurunan traffic. Coba Anda pelajari satu per satu:
1. Halaman Perbandingan yang Bersifat Massal
Perhatikan jika pola /blog/[produk-A]-vs-[produk-B] dipublikasikan secara luas di sebagian besar halaman situs, bahkan di banyak kategori. Amati apakah halaman-halaman tersebut masih terkait dengan konteks situs atau justru sebaliknya. Terlalu banyak halaman ini dapat memicu traffic anjlok.
2. Glosarium “Apa itu X?”
Halaman dengan pola /resources/apa-itu-[X] biasanya dirancang agar bisa dikutip oleh AI search. Hati-hati, hal ini juga rentan menurunkan traffic secara drastis meskipun di awal dapat memberikan keuntungan bagi Anda untuk menaikan views dari pengguna.
Pahami cara kerjanya lewat strategi agar website dikutip AI agar tetap aman dari risiko penurunan traffic.
3. Listicle “[X] Terbaik untuk [Y]”
Model listicle ini tentu sudah sangat familer bagi Anda. Ini juga menjadi template konten AI yang paling umum sehingga dapat mudah menurunkan traffic secara drastis dalam jangka waktu panjang.
4. Artikel Promosi Nomor #1
Hati-hati jika Anda sering mengklaim sebagai yang terbaik atau nomor satu dalam konten dibandingkan pesaing sejenis. Google dapat membacanya sebagai konten tanpa bukti nyata. Konten semacam ini umumnya paling sering muncul pada konten untuk layanan B2B.
5. Halaman Kompetitor vs Alternatif
Google juga jeli dalam menyasar halaman yang memuat pola /blog/[merek-pesaing]-alternatif dan punya potensi besar memicu penurunan traffic. Bahkan, Google melakukan pendekatan di seluruh data aset.
6. Penskalaan Lokasi dan Bahasa secara Terprogram
Konten yang memuat satu template yang digandakan ke banyak kota atau bahasa juga rentan mengalami identifikasi Google. Pasalnya, beberapa halaman seperti ini dari perusahaan sering kali tidak memiliki lokasi nyata di setiap titik yang ditargetkan.
7. FAQ Farm
Konten ini berupa satu pertanyaan “apa itu …” yang dibuat dalam satu URL beserta schema-nya. Artinya, setiap halaman menjawab tepat satu pertanyaan saja. Masalahnya, cara ini memunculkan banyak konten berkualitas rendah dan malah menjadi beban situs saat diimplementasikan dalam skala besar.
8. Konten Tidak Relevan yang Dipublikasikan Luas
Traffic situs Anda jelas akan bermasalah ketika Anda menerbitkan konten yang isinya sama sekali tidak relevan dengan bisnis. Algoritma Google akan dengan mudah membaca hal ini. Lili Ray mencontohkan konten-konten tidak relevan itu mencakup humor, lelucon, horoskop, kutipan lucu, dan sebagainya.
Delapan pola tadi sebenarnya efektif untuk menaikkan ranking maupun masuk ke kutipan AI sehingga banyak pengguna akan mengunjunginya. Hanya saja, mesin pencari justru makin mudah mengidentifikasikannya sebagai footprint spam ketika sedang melakukan scale.
Ringkasnya, apa yang berbahaya untuk konteks SEO sebenarnya berbahaya juga untuk konteks AI search. Meski begitu, Anda tidak sepenuhnya dilarang memproduksi konten dengan bantuan perangkat AI. Yang penting adalah Anda memakainya dengan cara lebih aman.
Baca juga Google IO 2026 dan Strategi SEO Bertahan di Era AI Search
Cara Memakai Tool AI untuk Konten dengan Aman
Pada dasarnya, perangkat AI bukanlah yang menjadi masalah utama. Anda tentu tahu perangkat AI berperan membantu tugas-tugas pembuatan konten. Sebut saja riset, menyusun kerangka, menarik data dan wawasan tertentu, dan masih banyak lagi. Penggunaan AI itu sah-sah saja selama ada profesional yang mampu mengawasi serta memahami pola-pola yang dilakukan Google.
Lili Ray menegaskan yang terpenting adalah tetap berpedoman pada E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, and Trustworthiness) yang menjadi kerangka bagi Google dalam meninjau konten berkualitas. Konten Anda harus menjawab pengalaman yang relevan bagi audiens, mengandung relevansi pengetahuan dan kemampuan, mengandung sumber kredibel, serta seberapa akurat isi kontennya.
Selain E-E-A-T tadi, Anda dapat pula menambahkan hal unik atau informasi orisinal yang tidak bisa pengguna temukan pada konten lainnya. Penting juga untuk mengedepankan transparansi penggunaan AI yang direkomendasikan Google dalam pembuatan konten.
Ada tiga hal yang membedakan konten-konten mampu bertahan ataupun anjlok: tetap in the loop, melakukan evaluasi berkala, memakai first party data, serta memiliki keunikan sudut pandang. Algoritma Google bisa terus berubah, sementara perkembangan teknologi juga makin cepat. Orisinalitas dan konsistensi memberikan konten bermanfaat bagi pengguna adalah kunci untuk bertahan.
Selain E-E-A-T, pahami juga GEO sebagai strategi brand visibility di era generative AI agar kontenmu direkomendasikan AI tanpa terjebak pola spam.
Checklist Sebelum Publish Pertanyaan yang Wajib Ditanyakan
Berikut beberapa checklist pertanyaan yang dapat Anda gunakan sebelum menerbitkan konten di suatu situs:
- Apakah halaman ini benar-benar ada untuk kebutuhan pengguna (pembaca) atau sekadar dikutip oleh mesin pencari?
- Apakah kompetitor mampu membuat konten serupa dengan kata kunci yang sama?
- Apakah nyaman jika Google atau pembaca membaca seluruh daftar URL dari sub-folder ini?
- Apakah konten ini terkesan bias dan jika iya, apakah ada transparansi ke pengguna (pembaca) terkait hal tersebut?
- Apakah ada first party data atau perspektif orisinal yang belum ada di deretan 10 hasil teratas?
Untuk menilai kualitas konten yang Anda buat, Anda perlu memposisikan diri sebagai pengguna. Pembaca akan merasa konten bermanfaat jika apa yang ada di dalamnya mampu menambahkan informasi baginya alias bukan sekadar mengulang apa yang sudah ada sebelumnya. Pemenang yang keluar dari berbagai risiko AI content ini adalah yang mampu menomorsatukan kualitas, keaslian, dan fokus.
Baca juga Cara Research Keyword SEO Gratis untuk Bisnis Lokal Indonesia
Dari ulasan ini, Anda dapat menangkap bahwa pemahaman akan SEO secara matang adalah kunci penting untuk memanfaatkan AI secara lebih tepat. Anda perlu tahu kapan AI dapat mempercepat atau membantu pekerjaan, kapan pula AI menjadi sesuatu yang membahayakan. Kabar baiknya, keterampilan dalam SEO dan penggunaan AI dapat Anda pelajari.

Ikuti Bootcamp Full Stack Digital Marketing dari Belajarlagi untuk mendalami pemasaran digital, termasuk di dalamnya SEO dan AI. Dengan para instruktur yang berpengalaman, Anda dapat belajar teori sekaligus praktik secara komprehensif. Untuk info kurikulum, jadwal, dan pendaftaran, silakan cek di Full Stack Digital Marketing.
.webp)




