Memahami Design Thinking untuk Memecahkan Masalah Bisnis Secara Kreatif

Jessica Dima
8 Min Read
Published:
April 25, 2025
Updated:
June 18, 2026

Key Takeaways

  • Design thinking adalah pola pikir serta pendekatan yang dipakai untuk memecahkan masalah maupun berinovasi yang berpusat pada manusia (human-centered). Solusi yang dihasilkan merupakan pertemuan dari tiga lensa: desirable, feasible, dan viable.
  • Ada lima tahapan design thinking: empathize, define, ideate, prototype, dan test.
  • Design thinking bermanfaat untuk mengurangi risiko keputusan yang salah, memfokuskan bisnis pada pelanggan, mengembangkan inovasi yang relevan, dan menghasilkan keputusan berbasis bukti (bukan asumsi).
  • Pelajari contoh penerapan design thinking dan kapan memakainya di sini.

Saat menemui masalah dalam pekerjaan, banyak profesional langsung melompat pada solusi tanpa benar-benar sepenuhnya memahami akarnya. Akibatnya, solusi yang dilakukan pun memberikan hasil yang malah meleset. Oleh sebab itu, Anda perlu memiliki design thinking, yang mana adalah kerangka memecahkan masalah dalam bisnis dengan berpusat pada manusia.

Jangan salah, design thinking bukanlah kerangka yang hanya dipakai para desainer. Baik perusahaan rintisan maupun korporasi besar dapat memanfaatkan kerangka ini untuk mengembangkan bisnis. Melalui artikel ini, Anda akan belajar pengertian design thinking, proses, contoh, dan kapan Anda bisa mengaplikasikannya ke pekerjaan.

Apa Itu Design Thinking dan Kenapa Relevan untuk Profesional Non-Desainer

Harvard Business School menyebut bahwa design thinking adalah pola pikir serta pendekatan yang dipakai untuk memecahkan masalah maupun berinovasi yang berpusat pada manusia (human-centered). Dari pengertian tersebut, tujuan akhir dari design thinking berfokus pada solusi yang yang menjadi pertemuan tiga lensa: desirable, feasible, dan viable.

Proses berpikir harus dimulai dari desirable, yakni memahami apa yang menjadi kebutuhan pelanggan dan mengidentifikasi solusinya. Lalu, lanjut ke feasible yang menentukan apakah solusi-solusi tadi dapat diimplementasikan secara teknis. Terakhir, viable harus memastikan produk yang dibuat nantinya benar-benar masuk akal dalam skala bisnis. Titik temu ketiga lensa tadi mampu menghasilkan inovasi yang tepat sasaran dan pastinya menguntungkan.

Anda perlu memahami bahwa proses berpikir ini bukanlah kreativitas bebas yang mementingkan estetika. Design thinking jelas memiliki proses sistematis yang akan mengarahkan Anda pada pemecahan masalah, tidak sekadar menemukan solusi.

Dalam praktiknya ke dalam bisnis, design thinking juga berbeda dengan metode problem-solving tradisional. Problem-solving cenderung top-down dengan basis asumsi, sementara design thinking berfokus pada human-centered dengan basis observasi pelanggan atau pengguna. Relevansi kedua hal tersebut ke dalam beberapa pekerjaan bisa digambarkan sebagai berikut:

Pekerjaan Problem-Solving Design Thinking
Marketer Asumsi internal:
Pelanggan pasti tertarik pada diskon 35%.
Human-centered:
Seperti apa perilaku pelanggan? Apa hambatan mereka membeli? Antara kualitas dan diskon, mana yang lebih penting bagi pelanggan?
Project Manager Asumsi internal:
Menambahkan fitur yang paling sering diminta pengguna.
Human-centered:
Apa yang menjadi akar dari permintaan tersebut? Seperti apa konteks penggunaan produk ini?
Operations Asumsi internal:
Proses harus dipercepat.
Human-centered:
Bagaimana customer journey-nya? Di bagian mana pengguna merasa frustrasi?
Founder Asumsi internal:
Membuat produk berdasarkan intuisi.
Human-centered:
Keluar menemui pelanggan, melakukan wawancara dan observasi, lalu memvalidasi temuan.

Baca juga Google IO 2026 dan Strategi SEO Bertahan di Era AI Search 

Tahapan Proses Design Thinking dan Cara Menerapkannya

Stanford menjelaskan proses design thinking melibatkan empathize, define, ideate, prototype, dan test. Proses ini dapat bersifat non-linier dan iteratif, tidak berupa tangga lurus ataupun checklist yang mesti berurutan. Penjelasannya sebagai berikut:

Empathize

Ini adalah inti dari proses berpikir dengan basis manusia. Melalui empati, Anda berupaya memahami pelanggan: apa masalah mereka, bagaimana sudut pandang mereka, apa yang mereka perlukan, dan lain-lain. Lalu, seperti apa contoh penerapan proses ini?

Katakanlah sebuah aplikasi marketplace mengalami cart abandonment yang tinggi. Pada tahapan ini, Anda mulai mencari dan mengamati proses checkout beberapa pelanggan. Anda juga melakukan survei atau wawancara guna memahami apa yang membuat pelanggan menunda pembelian. Dari proses itu, Anda menemukan ternyata pelanggan batal membeli karena ada kenaikan biaya tambahan yang dinilai terlalu tinggi.

Define

Setelah menemukan apa yang menjadi masalah pelanggan, Anda mulai merumuskan temuan ke dalam sebuah pernyataan masalah yang lebih spesifik dan jelas. Intinya, tahap ini merupakan awal dari tindak lanjut tahapan sebelumnya. Define adalah tahap yang penting. Salah merumuskan masalah dapat berakibat pada kesalahan-kesalahan besar lainnya.

Dari kasus sebelumnya, Anda dapat membuat pernyataan masalah dengan jelas. Contohnya: Pelanggan tidak jadi checkout karena menganggap tidak ada transparansi mengenai biaya tambahan.

Ideate

Pada proses ini, Anda akan berkonsentrasi dalam membangkitkan ide-ide terbaik. Umumnya, ideasi memungkinkan Anda memperluas berbagai kemungkinan sebelum menentukan solusi mana yang terbaik. Teknik yang Anda gunakan dapat berupa brainstorming, mind mapping, dan sebagainya.

Jika melanjutkan proses sebelumnya, Anda dapat merumuskan ide-ide untuk upaya transparansi biaya tambahan. Misalnya: menampilkan estimasi total biaya sejak masuk keranjang, simulasi total biaya sebelum checkout, kalkulator perhitungan biaya otomatis berdasarkan lokasi, dan lain-lain.

Prototype

Inti dari tahapan ini adalah mengubah ide-ide yang ada ke dalam bentuk lebih sederhana untuk bisa segera diuji dengan cepat, murah, dan low-fidelity. Prototype ini bukan produk final, melainkan proses belajar yang membantu menekan keluarnya biaya produksi yang terlalu besar. Pembuatan prototype juga harus dalam beberapa hari saja, bukan berbulan-bulan.

Bayangkan ide-ide yang tadi sudah disebutkan dibuatkan prototype-nya. Contoh, membuat mockup keranjang belanja yang baru serta membuat desain sederhana yang menampilkan total biaya berikut estimasi ongkos kirim. Prototype ini nantinya menjadi versi awal dari solusi yang siap diuji.

Test

Proses ini melibatkan pengguna yang memakai prototype serta Anda mengumpulkan umpan balik dari mereka. Yang perlu Anda pahami, tahap ini tidak sekadar mencari mana yang paling benar. Anda mesti berfokus pada area apa yang masih perlu diperbaiki.

Misalnya, dari 20 pelanggan yang mencoba desain baru checkout, 4 pelanggan menyatakan masih bingung membedakan ongkos kirim dan biaya tambahan. Dari situ, Anda dapat merancang perbaikan seperti menambahkan penjelasan sederhana atau mengubah label pada biaya.

Baca juga GEO: Strategi Baru Brand Visibility di Era Generative AI 

Manfaat Design Thinking dan Bukti Nilai Bisnisnya

Harvard Business Review menerangkan mengapa design thinking itu penting untuk mengembangkan bisnis melalui beberapa manfaat berikut:

  • Mengurangi risiko keputusan yang salah. Karena prosesnya berupa human-centered, Anda berkesempatan menggali masalah langsung dari akarnya. Dalam hal ini adalah pendapat dari para pelanggan. Pada akhirnya, solusi yang dihasilkan pun lebih tepat sasaran.
  • Memfokuskan pada kebutuhan nyata pelanggan. Design thinking selalu mengarahkan Anda kepada kebutuhan pelanggan, bukan sekadar asumsi. Dengan menempatkan diri pada masalah pelanggan, Adan menjadi punya gambaran menyusun kerangka ide untuk menyelesaikannya.
  • Mengembangkan inovasi yang selalu sesuai kebutuhan. Inovasi amat diperlukan dalam bisnis. Pertanyaannya, inovasi yang seperti apa? Selama memakai design thinking, Anda tak akan berinovasi asal-asalan atau sekadar ikut-ikutan tren.
  • Menghasilkan keputusan berdasarkan bukti. Observasi atau pengamatan dalam proses design thinking nantinya akan mendorong pengambilan keputusan yang lebih objektif. Jadi, kemungkinan adanya keputusan yang bias dapat diminimalisasi.

Studi The Business Value of Design dari McKinsey & Company pada tahun 2018 meriset 300 perusahaan publik penting selama lima tahun. Hasilnya, perusahaan kuartil teratas yang menerapkan design thinking mencatat pertumbuhan pendapatan 32% lebih besar. Selain, pertumbuhan return ke pemegang saham juga lebih tinggi dari rata-rata industri, yaitu sebesar 56%.

Penelitian itu juga menekankan hanya 50% perusahaan yang melakukan riset pengguna sebelum mengembangkan inovasi. Kajian tersebut menyimpulkan bahwa hanya perusahaan yang konsisten menerapkan empati ke pelangganlah yang mampu unggul dari waktu ke waktu.

Untuk para profesional, design thinking bermanfaat berupa de-risking: melakukan uji dan iterasi ke pengguna sebelum perusahaan berkomitmen mengeluarkan anggaran lebih besar. Perusahaan seperti IBM bahkan mampu mengurangi biaya pengembangan dan pengujian sebesar 33% lewat kerangka ini. Dengan adanya de-risking, IBM juga meningkatkan keuntungan sebesar 38% sekaligus ada pengurangan risiko di dalamnya.

Baca juga Apa Itu Strategic Thinking? Cara dan Elemen Agar Kita Menguasainya

Contoh Penerapan Design Thinking di Dunia Nyata

Berikut contoh penerapan design thinking di dua industri, yaitu kesehatan dan keuangan:

  • GE Healthcare: Adventure Series. Sebuah masalah muncul ketika anak selalu ketakutan menjelang pemeriksaan MRI. Doug Dietz mengamati langsung pengalaman anak-anak dan berempati pada ketakutan mereka. Dari situ, dia mengubah proses pemeriksaan menjadi petualangan imajinatif yang menarik bagi anak-anak. Hasilnya, sedasi turun serta tingkat kepuasan pelayanan pun ikut naik. Proses empati pada design thinking mengarahkan solusi masalah bukan sebagai “mencari proses paling cepat”, melainkan “mengubah proses menjadi pengalamanan tak menakutkan”.
  • Bank of America: Keep the Change. Bank of America melihat banyak nasabah sulit konsisten menabung. Dari situ, bank kemudian melakukan pengamatan terhadap kebiasaan keuangan orang-orang. Pengamatan itu menghasilkan data bahwa orang lebih mudah membelanjakan uang daripada menabungnya. Bank lalu membuat program “Keep the Change” yang melakukan transaksi pembulatan otomatis pada setiap proses belanja menggunakan debit. Selisih uang yang ada langsung dipindahkan ke rekening tabungan. Melalui contoh ini, jelas bahwa solusi bisa lahir dari proses pengamatan yang tepat.

Apakah design thinking dapat diterapkan untuk bisnis berskala menengah atau seperti UMKM? Coba perhatikan contoh berikut ini:

Sebuah kafe kopi yang berlokasi di dekat kampus sedang mengalami penurunan pelanggan. Semula pemilik mengira menu-menu kopi miliknya kalah bersaing dengan kafe-kafe lebih besar. Namun, dia memilih untuk mengobrol dengan beberapa pelanggan dulu untuk memastikannya. Ternyata masalah utamanya bukan pada menu ataupun harga, melainkan pada ketersediaan kursi dan penataan ruang yang kurang nyaman untuk tugas kelompok.

Dari situ, pemilik pun mulai menata pelayanan kafe dengan menambah stop kontak, meningkatkan kualitas jaringan Wi-Fi, dan menata ulang tata letak kafe. Ternyata berempati dan mendefinisikan ulang masalah dapat menuntun pada solusi yang lebih tepat guna.

Baca juga Cara Research Keyword SEO Gratis untuk Bisnis Lokal Indonesia 

Kapan Memakai Design Thinking dan Kesalahan yang Sering Menggagalkannya

Anda mungkin jadi bertanya-tanya, apakah semua masalah bisa mengadaptasi kerangka design thinking ini? Untuk masalah yang kompleks, ambigu, akarnya belum jelas, dan berpusat pada manusia, Anda dapat menggunakan proses design thinking. Jika masalahnya berupa hal teknis yang sudah terdefinisi, gunakan metode lean atau six sigma. Lain lagi jika Anda butuh eksekusi berulang yang terukur, metode agile jelas lebih cocok.

Baik design thinking, agile, maupun lean sifatnya itu komplementer alias tidak saling bersaing. Sederhananya, design thinking membantu Anda menemukan masalah dan ide yang paling tepat. Agile dan lean sifatnya lebih mengeksekusi sekaligus mengoptimasi. Saat masalah muncul, Anda pasti paham harus memakai metode yang mana.

Perhatikan juga ada beberapa kesalahan umum yang dilakukan dalam proses design thinking:

  • Melewatkan proses empati dan terburu-buru ke solusi
  • Tidak merumuskan masalah dengan tepat sehingga pernyataan masalah bersifat lemah
  • Hanya menyukai gagasan pertama sehingga mengabaikan proses iterasi
  • Membuat prototype dalam durasi yang panjang dengan biaya amat besar
  • Menjadikan design thinking sebagai aktivitas sekali jalan, bukan sebagai kebiasaan
  • Tidak memiliki metrik jelas untuk mengukur keberhasilan proses design thinking

Jadi, apa yang bisa Anda lakukan pertama-tama setelah memahami apa itu design thinking? Jawabannya jelas: praktikkan sekarang! Coba ambil satu masalah yang sedang Anda hadapi, lalu jalankan lima tahap tadi secara praktis. Mulai saja dari hal-hal kecil dulu, nantinya Anda pasti lebih siap dan terbiasa menghadapi hal-hal lebih besar di pekerjaan atau bisnis.

Baca juga Pahami Sertifikasi Project Management Professional, Solusi Karier Mandek

Memahami design thinking adalah proses awal untuk Anda belajar lebih dalam. Nilai sesungguhnya dari proses itu baru muncul saat Anda mampu mengubah ide-ide menjadi eksekusi yang terstruktur, sampai nantinya menjadi solusi bagi masalah bisnis.

Kembangkan kemampuan Anda melalui program Project Management Bootcamp dari Belajarlagi. Kelas ini akan membantu Anda meningkatkan keterampilan dalam project management yang nantinya berdampak pula ke karier. Untuk informasi lebih lengkap mengenai Project Management Bootcamp, cek di Project Management Bootcamp dari Belajarlagi.

#
Personal Development
Belajarlagi author:

Jessica Dima

Freelance SEO content writer yang 5+ berpengalaman menulis artikel dengan berbagai topik: pekerjaan, gaya hidup, edukasi, dan kesehatan mental. Selain SEO, ia mempunyai passion khusus pada storytelling.

Temukan Hal Menarik dan Asyik Lainnya

Yuk, Langganan Newsletter Kami

Topik apa yang paling menarik untuk anda?
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Cookie Consent

By clicking “Accept”, you agree to the storing of cookies on your device to enhance site navigation, analyze site usage, and assist in our marketing efforts. View our Privacy Policy for more information.