- Cara cek tulisan AI dapat menggunakan tools seperti GPTZero, ZeroGPT, Originality.ai, Copyleaks, dan Turnitin.
- Cermati bahwa penggunaan tools pendeteksi AI tidaklah 100% akurat sehingga tidak bisa dijadikan dasar pengecekan sepenuhnya.
- Studi yang dilakukan Weber-Wulfi dkk (2023) meneliti 14 tools AI detector dan menemukan bahwa tingkat akurasi semua perangkat adalah di bawah 80%.
- Pelajari apa itu false positive pada pendeteksi AI, boleh tidaknya menggunakan AI dalam menulis konten menurut Google, serta bagaimana cara bijak memakainya.
Cara cek tulisan AI sebenarnya mudah karena Teman Belajar dapat menggunakan detector tools tertentu. Namun, penting untuk Teman Belajar pahami juga bahwa tidak ada tools pendeteksi AI yang benar-benar 100% akurat. Bahkan, tulisan yang jelas-jelas buatan manusia dapat pula ditandai sebagai hasil bikinan AI!
Meski begitu, mengecek sebuah tulisan mengandung AI atau tidak tetaplah penting. Terutama bagi orang-orang yang bekerja di bidang akademis, editorial, penelitian, dan profesional lainnya. Artikel ini akan menjabarkan lebih mendalam mengenai cara cek tulisan AI, apa saja tools-nya, serta penjelasan mengenai akurasinya.
Ciri-Ciri Tulisan AI yang Bisa Dikenali Manual
Sebelum mempelajari cara cek tulisan AI, Teman Belajar sebenarnya bisa pula mengenali ciri-cirinya secara manual. Beberapa tanda yang dapat dicek antara lain:
- Tulisan tidak konsisten dan muncul pengulangan berkali-kali. Kalimat dalam tulisan terkesan ambigu dan sehingga tulisan menjadi tidak masuk akal. Selain itu, ada pengulangan frasa dan pola yang banyak dan membuat tulisan tidak nyaman dibaca.
- Isi konten dan konteks tidak sesuai. Jika informasi dalam konten menjadi begitu banyak dan melebar dari konteks, bisa jadi itu buatan AI.
- Penggunaan kata kunci berlebihan. Dalam penulisan konten SEO, memasukkan kata kunci ke tulisan memang penting. Namun, tulisan buatan AI dapat menggunakan kata kunci terlalu banyak dan cenderung “memaksakan” masuk ke kalimat.
- Tidak adanya pencantuman sumber tulisan yang jelas. Tulisan buatan AI rentan memiliki kredibilitas rendah karena pengambilan sumber kurang jelas. Maka, sebuah tulisan tanpa referensi jelas bisa terindikasi buatan AI.
- Muncul frasa klise khas AI. Betul, bahwa makin lama AI makin mahir membaca gaya menulis manusia. Alhasil, ada beberapa frasa klise yang menjadi andalan AI. Misalnya, “penting untuk dicatat”, “tidak hanya …, melainkan juga…”, “in today's fast-paced world”, dan sebagainya.
- Struktur bisa jadi terlalu rapi. Ajaibnya, tulisan buatan AI juga dapat tampak terlalu rapi dan simetris secara struktur. Meski begitu, struktur yang terlalu rapi ini justru jadi masalah karena terkesan kurang luwes saat dibaca.
- Tidak adanya pengalaman personal (first-hand). Semirip-miripnya AI dengan manusia, AI tetap tidak bisa memberikan sentuhan pengalaman personal ke dalam tulisan.
Beberapa tanda yang mampu Teman Belajar cek secara manual tadi sebenarnya hanya jadi indikasi awal. Artinya, Teman Belajar tidak bisa langsung melabeli sebuah tulisan merupakan buatan AI tanpa ada bukti yang cukup kuat. Di sisi lain, tools AI generasi baru zaman sekarang justru makin menyulitkan orang-orang membedakan mana tulisan asli buatan manusia dan mana yang bukan.
Oleh sebab itu, Teman Belajar dapat menggunakan tools pendeteksi AI ketika hendak mengecek orisinalitas tulisan. Gejala awal yang tadi ditemukan dapat dicek kembali dengan tools tersebut.
Tools untuk Cek Tulisan AI dan Cara Memakainya
Cara cek tulisan AI dapat dilakukan dengan beberapa tools populer berikut ini:
GPTZero
Perangkat pendeteksi AI ini termasuk yang paling populer dan cukup kredibel. Data benchmark independen menunjukkan false positive dari GPTZero sangat rendah, yaitu ~0.25% pada kondisi yang terkontrol. Teman Belajar dapat menggunakan tools ini secara gratis dengan fitur terbatas (hanya 10.000 kata per bulan). Harga berlangganan mulai dari Rp83.999 sampai Rp153.999 per bulan.
Cara menggunakannya pun mudah. Cukup membuka situs https://gptzero.me/, salin tulisan yang ingin dicek ke kolom tersedia, lalu klik “Scan”. GPTZero akan memproses dan mendeteksi tulisan dan memunculkan hasilnya.


ZeroGPT
Berikutnya ada ZeroGPT yang juga cukup sering digunakan oleh para profesional di bidang akademik. Secara teknis, penggunaan tools deteksi AI ini sangat praktis. Cukup menyalin tulisan, klik “Detect Text”, tunggu sampai muncul hasilnya.


Originality.ai
Originality.ai sering digunakan pada industri penerbitan untuk mengecek tulisan para penulis. Teman Belajar dapat menggunakan perangkat ini secara gratis, tetapi hanya pada 3 kali scan tulisan per hari dengan batas maksimal 2.000 kata. Untuk berlangganan, harganya mulai $12.95 sampai $136.58 per bulan.
Cara menggunakannya sama seperti dua perangkat sebelumnya: salin tulisan, klik “Scan for AI Score”, dan tunggu hasil pemeriksaannya.


Copyleaks
Copyleaks sering dimanfaatkan para akademisi dalam mengecek tulisan untuk makalah maupun penelitian. Perangkat ini menawarkan dua opsi berlangganan, yaitu untuk Personal dan Pro. Harga Personal sebesar $13.99 per bulan, sementara harga Pro adalah $74.99 per bulan.
Cara memakainya sama: salin tulisan atau unggah dokumen, klik “Scan”, dan Copyleaks akan menyajikan hasil deteksinya.


Turnitin
Beberapa akademisi juga menggunakan Turnitin untuk mendeteksi ada tidaknya AI dalam setiap tulisan esai, laporan, makalah, hingga jurnal. Perangkat ini dapat digunakan secara gratis. Salin tulisan yang hendak dicek, klik “Check”, kemudian cermati bagaimana hasil analisisnya.


Seberapa Akurat Detektor AI Sebenarnya
Ambil contoh perangkat GPTZero mengklaim memiliki akurasi deteksi tulisan AI hingga 98%. Di sisi lain, Turnitin menuliskan di halaman situsnya bahwa jika ada tulisan terdeteksi AI sebesar 50%, dokumen tersebut bisa saja sebenarnya mengandung lebih dari 60% AI. Dengan klaim semacam itu, sebenarnya seberapa akurat kerja dari setiap perangkat AI detector itu?
Studi yang dilakukan Weber-Wulfi dkk (2023) meneliti 14 tools AI detector (termasuk di dalamnya GPTZero dan Turnitin) dan menemukan bahwa tingkat akurasi semua perangkat adalah di bawah 80%. Bahkan, hanya 5 tools yang melampaui akurasi di atas 70%. Hasil dari penelitian ini cukup jauh berbeda dengan klaim-klaim dari perangkat sebelumnya.
Sementara, studi dari Human-Centered Artificial Intelligence Stanford menunjukkan 61% esai TOEFL dari penulis non native English justru dituduh sebagai buatan AI. Studi itu juga menyebut alat pendeteksi AI sangat rentan mudah “dikelabui” melalui metode rekayasa prompt. Itu sebabnya, banyak tulisan asli buatan manusia malah diduga memakai AI.
Fenomena tersebut dikenal dengan istilah false positive, yaitu ketika sebuah tulisan orisinal bikinan manusia malah terdeteksi sebagai tulisan AI. False positive ini terjadi karena ada jenis tulisan yang sejatinya memiliki perplexity (tingkat kesulitan atau kerumitan) yang rendah sehingga malah mudah dianggap sebagai AI.
Biasanya masing-masing perangkat AI detector memiliki kisaran angka false positive tertentu yang dapat menjadi informasi penting bagi pengguna. Adanya false positive tersebut memberikan gambaran jelas bagi Teman Belajar bahwa tools tadi tidaklah 100% akurat. Maka, hasil yang diberikan oleh AI detector tidak boleh menjadi satu-satunya dasar untuk “menuduh” seseorang memakai AI dalam menulis.
Apakah Konten AI Dilarang dan Kata Google soal Ini
Setelah memahami akurasi tools pendeteksi AI, di benak Teman Belajar mungkin jadi muncul banyak pertanyaan. Apakah berarti memakai AI menjadi sebuah larangan keras dalam menulis? Apakah Google akan menghukum orang yang menggunakan AI dalam tulisannya? Apakah AI benar-benar tidak boleh dipakai sama sekali dalam semua konteks pekerjaan?
Menurut Google, apa yang ditekankan dari sebuah tulisan atau konten adalah soal kualitas, manfaat, dan orisinalitas, sesuai dengan prinsip E-E-A-T (expertise, experience, authoritativeness, and trustworthiness). Google tidak akan menghukum konten karena dibuat dengan AI. Google juga malah menyebut penggunaan AI generatif justru baik dalam membantu riset maupun menyusun konten yang orisinal.
Justru yang dianggap melanggar kebijakan Google adalah memakai AI untuk membuat banyak konten tanpa disertai pemberian nilai tambah bagi audiens atau pengguna. Apalagi jika tujuan pembuatan konten itu hanya untuk melakukan manipulasi pemeringkatan di Google.
Di konteks akademis, umumnya AI tidak boleh digunakan karena ada kaitannya dengan integritas kerja sebagai profesional. Sementara di konteks profesional lainnya, AI ditempatkan dalam kerangka kerja editorial sebagai tools untuk membantu menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Intinya, Teman Belajar tidak harus repot-repot menyembunyikan “jejak” AI, tetapi harus memastikan hasil akhir tulisan memang bagus dan berkualitas.
Google rewards original content of high quality yang menekankan prinsip E-E-A-T pemahaman ini juga relevan dengan pembahasan risiko konten AI untuk SEO secara lebih luas.
Cara Bijak Memakai AI agar Tulisan Tetap Berkualitas
Jelas sudah tidak ada larangan dalam pemakaian AI untuk membuat konten atau tulisan. Berikut beberapa cara menggunakan AI yang dapat Teman Belajar adaptasikan guna menghasilkan konten yang tetap berkualitas:
- Sunting hal-hal yang substansial. Ada hal-hal yang tidak bisa AI lakukan dan hanya bisa dikerjakan manusia. Misalnya, menambahkan sudut pandang yang unik ataupun pengalaman personal (first-hand). Kekuatan kisah manusia biasanya ada pada dua hal itu dan lakukanlah selama penyuntingan.
- Lakukan verifikasi data dan sumber. AI selalu punya potensi halusinasi sehingga hasilnya tidak dapat Teman Belajar pakai mentah-mentah. Dalam finalisasi tulisan, pastikan mengecek akurasi data dan verifikasi sumbernya. Dengan begitu, tulisan menjadi lebih kredibel.
- Sesuaikan gaya bahasa. Meski AI bisa menggunakan gaya bahasa sesuai persona Teman Belajar, tetap saja pasti terasa berbeda. Maka, sesuaikan hasil tulisan AI dengan gaya bahasa yang diinginkan, apakah itu formal, non formal, kasual, dan sebagainya.
- Gunakan AI untuk proses yang tepat dalam penulisan. Teman Belajar tidak bisa sepenuhnya mengandalkan AI untuk menulis. Ada kalanya AI justru bermanfaat di proses menulis lainnya, contohnya riset, membuat kerangka, dan menyusun draf awal.
Jangan lupakan juga bahwa kualitas dari tulisan AI sebenarnya sangat bergantung juga pada kualitas prompt yang diberikan. Pertanyaannya, sudahkah Teman Belajar mampu menyusun prompt berkualitas?
Pelajari dasarnya lewat teknik prompt engineering sebelum menerapkan kerangka P.R.O.M.P.T di bawah ini.
Kamu dapat mengadaptasikan kerangka P.R.O.M.P.T dari Belajarlagi, yaitu kerangka enam langkah menyusun instruksi AI yang efektif, sudah dipakai di kelas Gen AI dan dapat diadopsi untuk penggunaan AI secara umum. Keenam langkahnya adalah Pinpoint the Outcome, Relevant Context, Outline Task & Output, Make AI Think With You, Probe & Validate, dan Tune & Iterate.
Pelajari juga lebih dalam tentang halusinasi AI dan cara memverifikasinya secara sistematis.
Dari penjelasan mengenai cara cek tulisan AI ini, Teman Belajar dapat mengambil kesimpulan bahwa AI merupakan tools berharga untuk membantu pekerjaan menulis. Di sisi lain, penggunaan AI tetap harus dibarengi dengan tanggung jawab serta kualitas hasil akhir tulisan. Sebagai pengguna, Teman Belajar menjadi penentu keputusan akhir yang memastikan layak atau tidaknya tulisan tersebut diterbitkan.

Ingin menambah keterampilan menggunakan perangkat AI Claude untuk meningkatkan produktivitas kerja? Ikuti Mini Bootcamp Claude dari Belajarlagi yang dapat memperlengkapi diri kamu dalam bekerja, terutama bidang digital marketing. Simak informasi kelas dan pendaftaran Mini Bootcamp Claude di Mini Bootcamp Claude Belajarlagi.
.avif)




