Mengenal Profesi Machine Learning Engineer yang Gajinya Menggiurkan

Jessica Dima
8 Min Read
Published:
March 10, 2026
Updated:
March 10, 2026

Pernahkah Teman Belajar bertanya-tanya, “Mengapa ya Netflix selalu tahu tontonan film atau series apa yang ingin aku tonton selanjutnya?” Di balik “kecerdasan” Netflix tersebut, ada peran machine learning engineer yang perlu Teman Belajar ketahui. Dilansir dari Start Us Insight, machine learning engineer adalah salah satu pekerjaan yang paling dicari dunia saat ini dengan gaji yang tinggi pula.

Sebenarnya apa itu machine learning engineer (MLE)? Karena erat kaitannya dengan dunia teknologi, banyak orang sulit membedakan profesi tersebut dengan data scientist ataupun software engineer. Pada artikel kali ini, Teman Belajar akan mencermati apa saja yang jadi tugas MLE, keterampilan apa saja yang dibutuhkan, bagaimana prospek kariernya, hingga estimasi gaji yang didapatkan. 

Definisi Machine Learning Engineer dan Posisinya di Dunia Teknologi

Menurut Coursera, machine learning engineer adalah sosok profesional yang bertugas menjadi jembatan antara riset pembelajaran mesin dengan produksi. Ruang lingkup dari pekerjaan ini tidak sekadar membuat model. MLE juga memastikan model yang dibuat mampu berjalan dengan stabil, cepat, serta akurat untuk dipakai oleh jutaan pengguna.

Di sisi lain, MLE memiliki peran sebagai “hybrid role” yang menggabungkan keahlian dalam software engineering dengan pemahaman mendalam akan algoritma pada machine learning. Jika bicara dalam suatu siklus kecerdasan buatan (AI), maka MLE ini merupakan sosok penting yang bertanggung jawab untuk memastikan AI tersebut bekerja dengan baik di dunia nyata.

Untuk membedakan MLE dengan data scientist dan software engineer, Teman Belajar perlu memahami peran masing-masing dari profesi tersebut. Data scientist bekerja dengan banyak berfokus pada eksperimen dan analisis. Sementara menurut Futurice, software engineer berperan dalam membangun aplikasi tanpa perlu memiliki keahlian dalam machine learning.

Agar lebih mudah membayangkan ketiga peran, coba analogikan dengan produk obat yang diproduksi oleh perusahaan farmasi dan didistribusikan ke apotek sebagai berikut:

Machine Learning Engineer

Apa yang Dikerjakan MLE Setiap Hari? (Bukan Sekadar Coding)

Tugas dari seorang MLE itu kompleks, tidak sekadar membuat coding setiap hari. Beberapa tanggung jawab dari machine learning engineer antara lain:

  • Membangun dan memelihara pipeline (alur kerja) dari machine learning, mulai dari data masuk hingga prediksi keluar
  • Melakukan deployment project ke produksi
  • Mengawasi kinerja model saat sudah berjalan, termasuk di dalamnya mendeteksi data drift dan model degradation
  • Bekerja sama dengan divisi lain seperti data scientist, data engineer, sampai product manager

Konsep MLOps (machine learning operations) merupakan inti kerja dari MLE, yaitu praktik DevOps yang diadaptasi secara khusus untuk siklus hidup model machine learning. Misalnya, versioning data, experiment tracking, automated retraining, dan continuous delivery.

Katakanlah sebuah perusahaan e-commerce memiliki model machine learning yang mampu merekomendasikan produk kepada pengguna. Model ini sudah dibuat oleh data scientist dan terbukti akurat saat diuji pada data. Ada kebutuhan agar sistem tersebut mampu melayani 10 juta request per hari dengan latency di bawah 100 milidetik. Tujuannya agar rekomendasi tersebut muncul hampir seketika saat pengguna membuka aplikasi.

Dari kasus tersebut, tugas dari MLE bisa seperti ini:

Tugas Machine Learning Engineer

Berkaca dari contoh tadi, keahlian seorang MLE bukan saja sekadar di area machine learning, melainkan juga system design. Tugas MLE tidak berhenti pada membangun model yang akurat. MLE juga mesti memastikan model yang dibuat tetap akurat setelah di-deploy ke dunia nyata meskipun data yang ada senantiasa berubah.

Skill yang Wajib Dimiliki MLE dan Mana yang Sering Diabaikan Pemula

Lalu, apa saja skill yang wajib dimiliki oleh seorang machine learning engineer? Ada tiga lapisan skill yang sifatnya saling menopang satu sama lain:

  • Lapisan fondasi, kemampuan yang menguasai python, matematika machine learning (linear algebra, statistik, kalkulus), dan memahami algoritma machine learning klasik maupun deep learning.
  • Lapisan engineering, kemampuan yang menguasai software design patterns, REST API, containerisasi dengan Docker & Kubernetes, serta version control (Git + DVC untuk data versioning).
  • Lapisan MLOps dan cloud, kemampuan yang menguasai experiment tracking (MLflow, Weights & Biases), workflow orchestration (Airflow, Kubeflow), dan platform cloud machine learning seperti AWS SageMaker, Google Vertex AI, atau Azure ML.

Area skill yang sering biasanya diabaikan pemula adalah system design untuk ML systems. Keterampilan tersebut sejatinya menjadi pembeda antara machine learning engineer junior dan senior. Ruang lingkup kemampuan system design adalah merancang arsitektur sistem yang scalable, fault tolerance (kemampuan suatu sistem tetap beroperasi secara normal tanpa gangguan meskipun terjadi kegagalan pada perangkat keras maupun lunak), dan efisien dari segi biaya komputasi.

Kemampuan lain yang tidak kalah penting adalah komunikasi dan pemahaman bisnis. Pasalnya, seorang MLE harus mampu menjelaskan trade-off teknis (akurasi vs latency vs cost) kepada para stakeholder non-teknis (misalnya tim bisnis). Selain bicara tentang performa teknis, MLE juga mesti membantu tim bisnis memahami konsekuensi dari setiap pilihan teknis. Tujuannya agar solusi yang dipilih tetap relevan dengan kebutuhan produk dan tujuan perusahaan.

Jadi, portofolio dari seorang machine learning engineer bukanlah sekadar kumpulan notebook Kaggle. Machine learning engineer yang berkualitas adalah yang mampu menampilkan proyek end-to-end di portofolio, yakni mulai dari data raw hingga model ter-deploy sekaligus proses monitoring-nya.

Baca juga Data Analyst: Tugas, Jenjang Karier, dan Potensi Gaji 2026

Gaji Machine Learning Engineer dan Prospek Karir ke Depan

Sama halnya seperti pekerjaan lainnya, gaji dari machine learning engineer harus Teman Belajar lihat dari level, lokasi kerja, serta skala perusahaan. Lokasi kerja menentukan patokan UMR, sementara skala perusahaan juga tidak kalah menentukan. Dilansir dari Glassdoor, berikut kisaran gajinya di startup teknologi dan perusahaan multinasional yang berlokasi di Indonesia (Jakarta):

  • Level junior = 8-15 juta rupiah per bulan
  • Level middle = 15-30 juta rupiah per bulan
  • Level senior = 30-60 juta rupiah per bulan

Dikutip dari 365 Data Science, gaji machine learning engineer secara global (khususnya Amerika Serikat) adalah $90K–$120K/tahun untuk level junior. Sementara, gaji level senior berkisar pada angka $250K+. Angka tersebut belum termasuk bonus di perusahaan besar seperti Google, OpenAI, hingga Meta.

Dengan data estimasi gaji yang cukup menarik dan menggiurkan tersebut, bagaimana dengan prospek kariernya? Machine learning engineer memiliki jenjang karier jelas. Mulai dari:

  • Junior MLE 
  • MLE
  • Senior MLE
  • Staff/ Principal MLE
  • ML Architect/ Director of AI

Dalam dunia kerja, jalur  ke technical leadership (Staff/ Principal) adalah yang paling banyak dicari oleh perusahaan besar. Itu artinya, kesempatan untuk mengembangkan diri melalui profesi ini sangat terbuka dan pastinya butuh pembelajaran yang kontinu.

Jangan lupa juga peluang karier ini masih sangat terbuka di tengah ledakan LLM (Large Language Model) dan generative AI seperti sekarang. Kemampuan LME dalam memahami cara fine-tuning, deploying, dan monitoring model-model besar (seperti LLM dan diffusion model) pastinya sangat dibutuhkan pasar kerja. Perusahaan dari berbagai jenis bisnis tentunya bakal bergantung pada sosok machine learning engineer hingga tahun-tahun mendatang.

Tantangan untuk memasuki dunia karier sebagai MLE memang tinggi. Namun, bukan berarti Teman Belajar tidak punya kesempatan untuk mencobanya. Akses untuk belajar di zaman sekarang sangat terbuka, apalagi dengan sumber belajar online. Yang perlu diperkuat tentu saja adalah konsistensi dalam membangun keahlian agar bisa menyusun portofolio yang kian solid.

Baca juga Digital Skill: Pengertian, Manfaat, Contoh, dan Cara Mengasahnya

Perjalanan untuk menjadi machine learning engineer memang memerlukan banyak riset, eksplorasi perangkat, hingga trial and error. Sekilas terlihat panjang dan sulit, tetapi ada senjata rahasia yang bisa Teman Belajar andalkan adalah AI Belajarlagi.

AI Belajarlagi bukan sekadar platform belajar biasa. Dengan AI Belajarlagi, Temab Belajar bebas mengakses berbagai macam tools AI terbaik (ChatGPT, Gemini, Claude, Deepseek, dan masih banyak lagi) dalam satu tempat. Berbagai model AI yang banyak tersebut dapat mempercepat proses kerja dan belajar machine learning, seperti debug pipeline, brainstorm arsitektur sistem, menulis dokumentasi teknis, ataupun melakukan riset pada paper terbaru. 

Cek cara berlangganan sekarang, hanya di AI Belajarlagi! Selamat mencoba!

Referensi

  • Sophie Magnet. Machine Learning Engineer Job Outlook 2025 [Research on 1,000 Job Postings].
  • Coursera. MLOps Engineer: Roles, Skills, and Career Path
  • Coursera. Machine Learning Engineer vs. Data Scientist: What’s the Difference? 
  • Futurice. Differences between machine learning and software engineering
  • Glassdoor. How much does a Machine Learning Engineer make in Jakarta? 

#
ARTIFICIAL INTELLIGENCE
Belajarlagi author:

Jessica Dima

Freelance SEO content writer yang 5+ berpengalaman menulis artikel dengan berbagai topik: pekerjaan, gaya hidup, edukasi, dan kesehatan mental. Selain SEO, ia mempunyai passion khusus pada storytelling.

Temukan Hal Menarik dan Asyik Lainnya

Yuk, Langganan Newsletter Kami

Topik apa yang paling menarik untuk anda?
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Cookie Consent

By clicking “Accept”, you agree to the storing of cookies on your device to enhance site navigation, analyze site usage, and assist in our marketing efforts. View our Privacy Policy for more information.