- Tools AI untuk penelitian jenisnya sangat beragam dan dapat Teman Belajar pakai sesuai tahapan proses penelitiannya.
- Penggunaan tools AI untuk penelitian oleh dosen secara spesifik bisa dilakukan pada proses mencari literatur, memahami paper, mengolah data, hingga menyunting tulisan. Namun, perumusan argumen serta kesimpulan ilmiah dalam penelitian tetap menjadi tanggung jawab dosen sebagai pengguna.
- Kenali rekomendasi tools AI untuk penelitian serta kesalahan-kesalahan yang wajib dihindari dalam penggunaannya.
Penggunaan tools AI untuk penelitian sebenarnya mulai banyak dilakukan oleh para akademisi seperti dosen. Secara umum, AI bisa membantu dosen dalam menyusun paper, terutama pada tahap proses riset maupun memahami literatur. Meski begitu, keberadaan AI tidak akan dapat sepenuhnya menggantikan peran dosen dalam penelitian tersebut.
Dengan banyaknya tools AI yang tersedia, mana yang lebih cocok untuk kebutuhan penelitian? Artikel kali ini akan membahas beberapa tools AI untuk penelitian, kewaspadaan pada sitasi palsu, dan kesalahan apa yang sebaiknya dihindari para pengguna. Buat Teman Belajar yang bergelut di bidang akademisi, wajib mencermati ulasan berikut ini!
Apa yang Bisa dan Tidak Bisa Dibantu AI dalam Penelitian
Penggunaan tools AI untuk penelitian oleh dosen secara spesifik bisa dilakukan pada proses mencari literatur, memahami paper, mengolah data, hingga menyunting tulisan. Akan tetapi, AI tidak akan pernah mampu terlibat dalam perumusan argumen serta kesimpulan ilmiah dalam penelitian. Dua hal penting tersebut tetap akan menjadi kontribusi utama dosen.
Dalam profesi akademisi seperti dosen, ada beberapa hal penting ditekankan terkait publikasi hasil penelitian, yaitu integritas, transparansi, serta tanggung jawab ilmiah. Oleh sebab itu, Kemdiktisaintek sendiri mengeluarkan Panduan Penggunaan Generative AI pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi pada tahun 2024. Panduan tersebut mengatur pemakaian AI, termasuk di antaranya batasan etis AI dalam konteks aktivitas penelitian.
Topik ini melengkapi pembahasan soal halusinasi AI yang relevan juga untuk konteks sitasi palsu dalam penelitian.
Di sisi lain, penerbit besar seperti Elsevier, Springer, dan IEEE secara tegas menyatakan AI tidak boleh dicantumkan sebagai penulis. Sementara, pemakaian AI sendiri juga sifatnya wajib diungkapkan jika memang punya pengaruh pada substansi isi naskah. Itu artinya, sebuah jurnal yang terbit haruslah benar-benar tetap menjadi hasil pemikiran akademisi, bukan 100% kerja AI.
Mengapa batasan etis perihal kontribusi AI dalam penelitian menjadi begitu penting? Alasan kuatnya adalah karena sebuah status kepenulisan akan menuntut pertanggungjawaban atas kebenaran isi penelitian. Maka, AI sendiri tidak akan mungkin bisa dimintai pertanggungjawaban tertentu di dewan etik, hanya manusia yang bisa. Ini menegaskan bahwa AI itu sebatas alat bantu dengan dosen sebagai penanggung jawab akhirnya.
Tools AI untuk Penelitian Berdasarkan Tahapannya
Masing-masing tahapan proses penelitian umumnya membutuhkan tools AI yang berbeda-beda. Teman Belajar dapat mencermati tiap tahapan serta rekomendasi tools AI-nya melalui tabel ini:

Berikut penjelasan singkat dari masing-masing tools AI untuk penelitian tadi:
- Semantic Scholar. Dapat diakses secara gratis untuk menemukan berbagai penelitian dengan lebih dari 200 juta paper beserta ringkasannya.
- Google Scholar. Pencarian makalah secara menyeluruh dan paling luas dari banyak literasi dan mampu melacak sitasi.
- Consensus. Menyediakan literatur yang mampu menjawab pertanyaan “ya atau tidak” berbasis dengan bukti.
- Connected Papers. Memberikan peta kemiripan visual dari banyak paper dengan menghasilkan grafik dari satu seed paper.
- ResearchRabbit. Pencarian jaringan sitasi dengan menyediakan grafik visual yang mencakup lebih dari 310 juta artikel.
- Litmaps. Bagus untuk peta literatur dinamis dengan notifikasi sekaligus memantau banyak sitasi baru dari waktu ke waktu.
- Elicit. Penelusuran lebih dari 138 juta literatur sekaligus penyaringan untuk menyusun tinjauan sistematis dan mengekstrak temuan ke dalam tabel sistematis.
- Scite. Memeriksa bagaimana sebuah makalah sudah disitasi dengan mengklasifikasikan lebih dari 1,2 miliar pernyataan sitasi sebagai pendukung, kontras, maupun penyebutan.
- SciSpace. Membedah makalah yang kompleks dengan AI Copilot yang menjelaskan istilah teknis langsung di dalam teks.
- NotebookLM. Mensintesis berbagai bentuk sumber tulisan dengan jawaban berdasarkan dokumen yang diunggah melalui teks ataupun ringkasan audio.
- Claude. Melakukan penalaran terhadap dokumen yang panjang serta memproses keseluruhan isi makalah.
- Paperpal. Penyuntingan bahasa akademik dan memberikan saran untuk penyesuaian yang relevan.
- Writefull. Memberikan umpan balik bahasa pada teks yang diunggah secara menyeluruh.
- Grammarly. Mengecek dan mengoreksi tata bahasa tulisan dalam bahasa Inggris dan memberi rekomendasi berupa umpan balik.
- NVivo. Melakukan pengodean metode kualitatif dan metode campuran dengan cepat melalui asisten AI.
- ATLAS.ti. Pengodean kualitatif dan multimedia, membuat memo, dan terintegrasi dengan LLM lokal.
- Zotero. Membantu mengumpulkan, mengatur, dan mengutip berbagai sumber makalah.
- Mendeley. Menyimpan dan membuat sitasi serta daftar pustaka secara otomatis.
Dosen tidak harus memakai semua tools AI yang ada. Dalam praktiknya, dosen cukup menggunakan dua sampai tiga tools. Misalnya, satu untuk pencarian paper, satu untuk pemahaman paper, dan satu untuk kebutuhan manajemen referensi.
Sebagian besar tools juga menyediakan akses gratis dengan fitur yang sudah sangat cukup untuk membantu proses penelitian. Ini menjadi sebuah kabar baik karena dosen tidak perlu berlangganan mahal guna memanfaatkan AI pada proses riset.
Kenapa Sebagian Tools Bisa Menghasilkan Sitasi Palsu
Tidak semua perangkat AI mengambil sitasi berbasis data yang nyata, bahkan sebagian tools AI hanya menghasilkan sitasi dari model bahasa saja. Hal itulah yang kemudian menjadi penyebab banyaknya sitasi palsu bermunculan.
Ambil contoh perangkat seperti Semantic Scholar, Elicit, Consensus, dan lain-lain mampu menarik sitasi dari sumber data akademik yang nyata. Berbeda dengan perangkat AI umum seperti ChatGPT dan Gemini yang memberikan jawaban berdasarkan model bahasa tanpa ada basis data nyata. Alhasil, informasi soal judul makalah, tahun, dan penulis yang muncul pada jawaban malah tampak meragukan dan tidak kredibel.
Contoh kasus lainnya adalah penggunaan Scopus AI. Tools ini mampu memberikan rangkuman dari sumber akademik kredibel untuk membantu proses penelitian. Namun, rangkuman dari Scopus tersebut tidaklah boleh dikutip sebagai sumber, melainkan tetap harus mengutip dari artikel aslinya.
Penggunaan AI untuk penelitian cukup Teman Belajar pakai untuk membantu memahami paper yang sudah ada, bukannya untuk mencari sumber referensi terbaru. Memahami hal ini dapat membantu Teman Belajar terhindar dari masalah publikasi ilmiah dengan memanfaatkan AI. Berikut alur sitasi secara tepat yang bisa diikuti:
- Temukan artikel atau paper melalui tools pencarian akademik. Eksplorasi sumber relevan dari rekomendasi perangkat AI yang sudah dijelaskan tadi.
- Telusuri lewat Google Scholar atau DOI aslinya. Manfaatkan Google Scholar untuk verifikasi akurasi paper yang menjadi sumber dan buka DOI untuk memeriksa identitas publikasi.
- Baca artikel atau paper tersebut. Jangan hanya membaca ringkasan dari AI, tetapi pahami juga metode dan konteks dari penelitian yang tercantum pada paper.
- Pastikan artikel mengandung pernyataan. Cocokkan klaim yang ingin Teman Belajar tuliskan dengan temuan dan batasan paper.
- Masukkan sitasi ke naskah. Setelah selesai verifikasi, masukkan metadata paper untuk membuat sitasi.
Cara Menyusun Instruksi AI agar Hasilnya Layak Akademik
Seperti yang sudah Teman Belajar ketahui, kualitas dari output AI sangat ditentukan oleh kualitas instruksi yang diberikan melalui prompt. Untuk instruksi AI dalam cakupan akademik, ada tiga muatan yang tidak boleh dilewatkan, yaitu konteks bidang ilmu, tujuan spesifik, dan batasan yang jelas.
Pelajari dasar-dasarnya lewat teknik prompt engineering sebelum masuk ke konteks akademik yang lebih spesifik.
Agar lebih mudah memahami ketiga muatan tersebut, Teman Belajar dapat menyimak perbedaan prompt berkualitas dengan prompt yang buruk untuk keperluan akademik:
Prompt berkualitas
Saya sedang menyusun bagian pembahasan penelitian di bidang psikologi untuk jurnal internasional.
Bantu saya memperbaiki struktur dan kejelasan bahasa dari paragraf pembahasan yang telah saya tulis, berdasarkan temuan penelitian dan referensi yang saya berikan.
Jangan mengubah makna ilmiah, menambahkan data, atau mengarang referensi. Jika terdapat interpretasi yang belum didukung bukti, tandai dan jelaskan. Pertahankan kendali saya atas argumen dan kesimpulan penelitian.
Prompt buruk
Tuliskan seluruh bagian pembahasan penelitian psikologi saya dari nol agar terlihat seperti artikel jurnal internasional yang berkualitas. Buat argumen yang kuat, tambahkan referensi jurnal terbaru yang relevan, dan pastikan hasilnya meyakinkan serta siap dipublikasikan.
Teman Belajar dapat pula mengadaptasikan penyusunan prompt melalui kerangka P.R.O.M.P.T by Belajarlagi, yaitu kerangka enam langkah menyusun instruksi AI yang efektif, sudah dipakai di kelas Gen AI dan dapat diadopsi untuk penggunaan AI secara umum. Keenam langkahnya adalah Pinpoint the Outcome, Relevant Context, Outline Task & Output, Make AI Think With You, Probe & Validate, dan Tune & Iterate.
Pada konteks akademik, langkah Probe & Validate paling relevan bagi dosen karena mendorong pengguna menggali dasar jawaban AI sebelum memakainya. Pada akhirnya, sebuah instruksi yang jelas akan mendorong AI bekerja secara terarah, bukan sebagai mesin penghasil naskah atau tulisan penelitian.
Kesalahan Fatal yang Harus Dihindari
Kesalahan paling fatal yang sering muncul adalah menggunakan AI sepenuhnya untuk menghasilkan tulisan utuh dan mencantumkan nama sendiri sebagai penulis, tanpa adanya intervensi intelektual di dalamnya.
Sebagai dosen, aktivitas ini melengkapi upaya pengembangan kompetensi lain seperti bimtek untuk dosen, khususnya dalam kategori digital dan teknologi pembelajaran.
Beberapa kesalahan lainnya yang wajib Teman Belajar hindari:
- Mengutip sitasi dari AI tanpa adanya verifikasi
- Mencantumkan AI sebagai penulis
- Menyalin seluruh rangkuman dari AI ke dalam penulisan artikel penelitian
- Tidak menyebutkan penggunaan AI dalam penelitian, padahal dari jurnal jelas mewajibkan
- Memasukkan data responden atau data yang belum dipublikasikan ke layanan AI publik
Lantas, apa dampak dari pelanggaran serius yang dilakukan dalam penelitian menggunakan AI? Kemungkinan besar naskah akan ditolak, berpotensi juga pada pencabutan publikasi, sampai sanksi etik dari institusi akademik. Semua dampak tadi jelas berbahaya dan tidak sebanding dengan kemudahan menyusun artikel dengan bantuan AI 100%.
Sebuah tips sederhana adalah cek dulu halaman kebijakan penggunaan AI pada jurnal yang hendak Teman Belajar tuju sebelum melakukan submit. Cermati seperti apa aturannya karena masing-masing jurnal umumnya punya kebijakan yang berbeda-beda.
Dari penjelasan pemakaian tools AI untuk penelitian ini, Teman Belajar dapat menyimpulkan bahwa keterampilan menggunakan AI secara tepat dapat membantu menghasilkan tulisan akademik yang berkualitas. Oleh sebab itu, penting bagi para akademisi untuk mempelajari AI dan secara kontinu berupaya meningkatkan keterampilannya.

Sebagai dosen, penguasaan AI yang etis dan tepat guna bukan sekadar soal efisiensi kerja, tapi juga cara menjaga kualitas Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek penelitian dan publikasi ilmiah. CertiHub by Belajarlagi menyediakan program sertifikasi kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dosen sekaligus ada pendampingan dari materi persiapan hingga pelaksanaan uji kompetensi. Cek informasi selengkapnya di CertiHub by Belajarlagi.
.webp)




