- Financial literacy bukan hanya soal mengatur gaji, tetapi juga memahami pajak, benefit kerja, investasi, dan risiko keuangan.
- Budgeting dan cash flow membantu mengontrol penghasilan, mulai dari memahami take-home pay hingga mengatur alokasi kebutuhan, keinginan, tabungan, dan investasi.
- Side-hustler perlu memisahkan keuangan pribadi dan bisnis agar lebih mudah mengetahui pemasukan, biaya, serta keuntungan sebenarnya.
- Omzet dan profit bukan hal yang sama, sehingga penting memahami pricing, profit margin, break-even point, serta perbedaan profit dan cash flow.
- Semakin banyak sumber penghasilan, semakin penting pencatatan dan proteksi keuangan agar risiko seperti pengeluaran mendadak, keterlambatan pembayaran, dan masalah kontrak bisa dikelola.
Sekarang ini, orang-orang tidak lagi mengandalkan satu sumber pendapatan saja. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase pekerja di Indonesia yang memiliki side hustle meningkat dari 14,3% pada 2019 menjadi 17,8% di 2023.
Namun, semakin banyak sumber penghasilan tidak otomatis membuat kondisi keuangan lebih sehat. Seseorang bisa saja punya pemasukan yang cukup tinggi, tetapi masih kesulitan mengatur pengeluaran, memahami pajak, atau menentukan berapa banyak penghasilan yang sebaiknya disimpan dan diinvestasikan.
Karena itu, financial literacy jadi kemampuan yang penting, bukan hanya bagi pebisnis, tetapi juga bagi profesional dan side-hustler. Apa saja skill financial literacy yang perlu Teman Belajar kuasai? Simak penjelasannya di artikel ini.
Skill Financial Literacy yang Perlu Dimiliki Profesional dan Side-Hustler
Literasi keuangan mencakup kemampuan memahami penghasilan, benefit pekerjaan, pajak, hingga membuat keputusan terkait dana yang dimiliki.
1. Budgeting dan Cash Flow
Sebagai profesional, kamu perlu memahami berapa penghasilan yang benar-benar diterima setiap bulan dan bagaimana mengalokasikannya.
Salah satu hal dasar yang perlu dipahami adalah perbedaan antara gross salary dan take-home pay. Gross salary adalah penghasilan sebelum berbagai potongan, sedangkan take-home pay adalah jumlah yang benar-benar diterima setelah potongan seperti pajak dan iuran tertentu.
Setelah tahu pendapatan bersihmu, kamu bisa membuat budget bulanan dan menentukan batas pengeluaran untuk kebutuhan, keinginan, tabungan, maupun investasi.
Salah satu metode yang populer untuk pengelolaan ini adalah aturan 50/30/20 yang digagas oleh Senator Elizabeth Warren. Aturan 50/30/20 ini membagi pendapatan sekitar 50% untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan atau tujuan finansial.
Namun, pembagian ini bukan aturan baku, proporsi yang tepat tetap perlu disesuaikan dengan pendapatan, tanggungan, biaya hidup, dan tujuan finansialmu masing-masing.
Setelah tahu pendapatan bersihmu, kamu bisa membuat budget bulanan dan menentukan batas pengeluaran, gunakan kalkulator rasio keuangan gratis dari Belajarlagi untuk melihat sehat tidaknya alokasi keuanganmu berdasarkan angka nyata.
2. Memahami Pajak Penghasilan (PPh 21)
Pajak penghasilan adalah bagian penting dari financial literacy bagi karyawan. Kamu tidak harus jadi ahli pajak, tetapi setidaknya perlu memahami bagaimana penghasilan dikenakan pajak dan potongan apa saja yang muncul di slip gaji.
Beberapa konsep dasar yang perlu dipahami antara lain Penghasilan Kena Pajak (PKP), Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), dan tarif PPh.
Pemahaman ini juga membantu kamu memeriksa slip gaji dengan lebih teliti. Kamu jadi tahu dari mana nominal take-home pay berasal, sekaligus memahami kewajiban pelaporan pajak, termasuk kapan perlu melaporkan SPT secara mandiri.
3. Memahami Manfaat dan Benefit Kerja
Kompensasi seorang profesional tidak hanya berupa gaji bulanan. Ada berbagai benefit yang juga punya nilai finansial dan perlu dipahami. Contohnya program BPJS Ketenagakerjaan seperti JHT, JP, JKK, dan JKM. Masing-masing punya fungsi, manfaat, serta ketentuan yang berbeda. Selengkapnya bisa Anda periksa di website BPJS Ketenagakerjaan.
Begitu juga dengan THR dan bonus. Selain memahami kapan dan bagaimana manfaat tersebut diberikan, kamu juga perlu tahu bagaimana tambahan penghasilan itu memengaruhi kondisi keuangan dan kewajiban pajakmu. Dengan memahami seluruh komponen kompensasi, kamu bisa melihat nilai pekerjaanmu secara lebih menyeluruh, bukan hanya dari nominal gaji.
4. Menyiapkan Dana Darurat
Dana darurat berfungsi sebagai cadangan ketika terjadi kondisi yang tidak direncanakan, seperti kehilangan pekerjaan, kebutuhan kesehatan, atau pengeluaran besar yang mendadak.
Angka yang sering dipakai sebagai panduan adalah sekitar 3–6 bulan pengeluaran untuk karyawan dengan penghasilan relatif stabil. Namun, angka ini bukan standar yang berlaku untuk semua orang.
Profesional dengan pekerjaan yang lebih berisiko, tanggungan lebih banyak, atau sumber penghasilan yang tidak stabil mungkin butuh cadangan yang lebih besar. Karena itu, yang lebih penting bukan sekadar mengejar angka tertentu, tapi menyesuaikan dana darurat dengan kondisi dan risiko finansialmu masing-masing.
5. Memahami Investasi Dasar
Ketika kebutuhan dasar dan dana darurat sudah diperhitungkan, investasi bisa jadi bagian dari perencanaan keuangan jangka panjangmu. Financial literacy membantu kamu memahami perbedaan karakteristik instrumen seperti deposito, reksa dana, saham, dan obligasi, termasuk potensi keuntungan dan risikonya.
Dua konsep penting yang perlu dipahami adalah risk tolerance dan time horizon. Risk tolerance berkaitan dengan seberapa besar risiko yang bisa kamu terima, sedangkan time horizon berkaitan dengan berapa lama dana tersebut akan diinvestasikan. Yang tidak kalah penting: kinerja atau imbal hasil masa lalu tidak menjamin hasil yang sama di masa depan.
Skill Financial Literacy Tambahan untuk Side-Hustler
Punya side hustle membuat kebutuhan financial literacy jadi sedikit lebih kompleks. Selain mengelola keuangan pribadi, kamu perlu memahami bagaimana penghasilan tambahan itu menghasilkan keuntungan dan kewajiban apa yang menyertainya.
6. Pembukuan Sederhana
Salah satu kebiasaan penting bagi side-hustler adalah memisahkan keuangan pribadi dari aktivitas side hustle. Idealnya, gunakan rekening atau pencatatan terpisah untuk transaksi side hustle. Dengan begitu, kamu bisa tahu persis berapa pemasukan dan pengeluaran yang benar-benar berasal dari aktivitas tersebut.
Pencatatan bisa dilakukan pakai spreadsheet atau software akuntansi. Yang terpenting adalah mencatat transaksi secara rutin dan memahami perbedaan antara gross revenue dan net profit. Pendapatan yang diterima dari klien belum tentu jadi keuntungan bersih, karena masih ada biaya seperti bahan, platform fee, transportasi, software, atau biaya operasional lainnya.
7. Memahami Pajak dari Side Hustle
Penghasilan dari freelance atau pekerjaan sampingan juga perlu diperhatikan dari sisi perpajakan. Kamu perlu memahami bagaimana penghasilan tersebut dilaporkan dan kewajiban pajak yang mungkin muncul.
Untuk pelaku usaha dengan kondisi tertentu, ada skema PPh Final UMKM. Namun, ketentuan seperti batas omzet, tarif, dan siapa yang bisa memakai skema tersebut perlu diperiksa berdasarkan aturan perpajakan yang berlaku.
8. Memahami Pricing dan Profit Margin
Sebagai side-hustler, kamu juga perlu bisa menentukan harga yang tidak hanya menghasilkan omzet, tapi juga memberikan keuntungan yang layak. Misalnya, seorang freelancer menetapkan harga Rp1 juta untuk sebuah proyek. Nominal itu belum tentu jadi keuntungan Rp1 juta, karena ada biaya software, transportasi, platform fee, serta waktu yang dipakai untuk mengerjakan proyek.
Karena itu, penting untuk memahami profit margin dan biaya yang sering tidak terlihat secara langsung. Kamu juga bisa memakai konsep break-even point untuk mengetahui titik ketika pendapatan sudah mampu menutup seluruh biaya.
Pelajari konsepnya lebih dalam lewat unit economics.
9. Memahami Arus Kas dan Keuntungan
Profit dan cash flow adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa saja mencatat keuntungan dari side hustle, tapi tetap kesulitan membayar kebutuhan karena pembayaran dari klien belum diterima.
Contohnya, kamu menyelesaikan proyek senilai Rp10 juta bulan ini, tapi klien baru membayar 30 hari kemudian. Secara pencatatan, proyek itu menghasilkan pendapatan dan keuntungan, tapi uangnya belum tersedia untuk dipakai.
Memahami perbedaan ini membantu side-hustler mengatur timing pemasukan dan pengeluaran dengan lebih baik.
Kamu bisa memvisualisasikannya secara instan lewat visualisasi laporan keuangan gratis dari Belajarlagi tanpa perlu menyusun rumus manual.
10. Memahami Proteksi dan Risiko
Financial literacy juga mencakup kemampuan mengidentifikasi risiko yang bisa mengganggu kondisi keuanganmu. Kalau kamu profesional yang punya side hustle, pertimbangkan apakah kamu sudah punya perlindungan kesehatan dan jiwa yang memadai, terutama jika tidak seluruhnya ditanggung employer.
Untuk side hustle berbasis jasa, risiko juga bisa muncul dari sisi legal, seperti kesalahpahaman dengan klien, keterlambatan pembayaran, atau tanggung jawab atas hasil pekerjaan. Karena itu, sebaiknya pahami kontrak kerja, ketentuan pembayaran, dan batas tanggung jawab sejak awal.
Financial literacy adalah kemampuan yang sangat penting, baik bagi profesional maupun pelaku side-hustle. Semakin kompleks sumber penghasilanmu, semakin penting pula pencatatan keuangan yang rapi. Untuk side-hustler, pencatatan yang rapi membantu melihat perbedaan antara pendapatan, biaya, dan keuntungan yang sebenarnya. Kamu juga bisa memakai laporan laba rugi untuk melihat apakah aktivitas tersebut menghasilkan profit dalam periode tertentu.
Jika transaksi side hustle-mu mulai bertambah dan pencatatan manual terasa kurang praktis, penggunaan software akuntansi seperti Kledo bisa membantu membuat pencatatan keuanganmu lebih terstruktur.
Selain rapi dalam pencatatan, memahami konsep keuangan secara lebih mendalam juga akan membuatmu lebih percaya diri mengambil keputusan finansial, baik untuk kariermu maupun side hustle yang sedang dijalani. Kalau kamu ingin memperdalam dasar-dasarnya, mulai dari bisa jadi titik awal yang baik, selengkapnya di Cara Membaca Laporan Keuangan Perusahaan dari Nol.





