Strategi Viral Marketing Chikuro, Formula UGC dan Scarcity

Marketing Theory
Sales

Media sosial Thread sempat heboh karena ada thread yang menginformasikan kalau gerai Chikuro di Gandaria City, Jakarta Selatan, sempat tutup lebih awal setelah turis asal Malaysia memesan hingga 300 porsi sekaligus. Hal ini di latar belakangi oleh tren jastip Chikuro, di mana orang-orang Malaysia meminta bantuan untuk dibawakan produk makanan tersebut dari Indonesia langsung.

Fenomena jastip Chikuro ini adalah contoh sukses bagaimana strategi viral marketing Chikuro yang melibatkan dua elemen, yaitu User Generated Content (UGC) dan Fear of Missing Out (FOMO) saling memperkuat. Lantas seperti apa formula marketing yang mereka terapkan? Tim Belajarlagi akan bahas semuanya termasuk proteksi kekayaan intelektual di dalamnya.

Fenomena Jastip Chikuro

Bagi yang belum tahu, Chikuro merupakan merek makanan yang menyajikan ayam guling krispi dengan isian saus keju. Popularitasnya di Indonesia ternyata turut membawa Chikuro viral di negeri jiran Malaysia. Karena sangat viral tetapi belum ada outlet di sana, banyak orang Malaysia yang memesan Chikuro lewat perantara jastip yang datang langsung ke Indonesia.

Bahkan sempat jadi perbincangan juga di Thread ketika salah satu outlet Chikuro di mall Jakarta Selatan menutup gerainya lebih awal karena ada pesanan dari salah satu jastip asal Malaysia yang memesan sekitar 300 porsi sekali pada April 2026.

Harga Chikuro yang dipesan lewat jastip dibanderol dengan harga yang cukup mahal, yaitu RM18 – 25 atau sekitar Rp78 ribu – Rp109 ribu atau dua kali lipat dari harga di Indonesia. Meskipun mahal, menariknya minat warga Malaysia untuk mencoba Chikuro ini tetap tinggi. Keputusan membeli makanan viral seperti ini tidak hanya didorong oleh rasa atau harga, tetapi juga oleh rasa penasaran, tren, dan takut ketinggalan momen atau biasa disebut FOMO.

Formula UGC & Scarcity, Mesin di Balik Viralnya Chikuro

Selain karena produknya menarik, viralnya Chikuro juga didukung oleh dua elemen marketing yang bekerja bersamaan, yaitu UGC dan scarcity.

User Generated Content (UGC)

Salah satu bahan bakar utama viralnya Chikuro berasal dari konten yang dibuat oleh konsumennya sendiri atau biasa disebut UGC. Konten-konten seperti ASMR makan Chikuro, review Chikuro, hingga konten “berburu” Chikuro berhasil mencuri perhatian sehingga masuk FYP media sosial. Karena dibuat oleh user langsung, konten seperti ini justru bisa menghasilkan kesan kredibel karena terasa lebih autentik, relatable, dan personal.

Scarcity

Faktor scarcity juga berhasil membentuk persepsi bahwa produk Chikuro yang cepat sold out, sulit didapatkan, jumlahnya terbatas, dan antriannya panjang layak untuk diperjuangkan. Sebab ketika konsumen melihat orang lain rela mengantre atau bahkan sulit mendapatkan produk, mereka akan mereka akan mengira bahwa produk Chikuro sangatlah bernilai dan sangat diminati.

Scarcity ini menciptakan urgensi. Jika produk selalu tersedia kapan saja, konsumen  bisa menunda-nunda rencana pembeliannya.

UGC menciptakan awareness dan scarcity menciptakan dorongan untuk segera membeli. UGC tanpa scarcity membuat orang menunda untuk membeli sesuatu. Sedangkan scarcity tanpa UGC membuat produk sulit tersebar luas karena tidak ada bukti sosial yang menyebar secara organik

Kombinasi UGC dan scarcity menimbulkan persepsi psikologis “Semua orang sedang mencoba ini, kecuali aku.” Kondisi FOMO semacam ini jauh lebih kuat dari sekedar promosi konvensional.

Psikologi FOMO Lintas Negara, Kenapa Validasi Sosial Bekerja Dua Arah

Strategi viral marketing Chikuro tidak hanya terjadi di Indonesia, validasi sosial justru bergerak dua arah hingga ke Malaysia.

Di sisi warga Malaysia karena Chikuro tidak ada di sana akhirnya terbentuk pola pikir “Mumpung sedang di Indonesia, aku harus cobain dan coba aku promosiin sebagai produk jastip.”

Sementara di Indonesia, muncul validasi sebaliknya, “Warga Malaysia aja sampai rela beli dan bawa pulang, masa aku belum coba?”. Ketika konsumen melihat orang asing menghargai produk lokal, muncul rasa penasaran, kebanggaan, sekaligus keinginan untuk ikut mencoba.

Pola validasi silang seperti ini adalah amplifier viral yang jarang bisa direncanakan lewat strategi marketing konvensional, tapi bisa dipahami dan diantisipasi ketika brand punya produk dengan diferensiasi kuat.

Pelajaran yang Sering Terlewat, Proteksi HAKI Sebelum Brand Viral

Di tengah euforia viralnya Chikuro, muncul persoalan lain di mana sejumlah outlet di Malaysia diketahui menggunakan nama, logo, kemasan, dan konsep yang menyerupai Chikuro tanpa kerja sama resmi.

Pihak Chikuro sendiri telah mengonfirmasi bahwa outlet tersebut bukan bagian dari jaringan mereka dan menyatakan penggunaan nama serta tampilan yang menyerupai brand mereka sudah menjadi perhatian internal dan siap untuk ditindaklanjuti.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa viralitas bukan hanya membawa pelanggan, tetapi juga meningkatkan risiko peniruan brand. Karena itu, proteksi HAKI sebaiknya tidak baru dipikirkan setelah brand mulai ditiru. Pendaftaran merek, perlindungan aset visual, serta pengecekan perlindungan di negara target idealnya disiapkan sejak sebelum ekspansi atau ketika brand mulai menunjukkan potensi viral.

Apa yang Bisa Dipelajari Brand Lain dari Fenomena Chikuro?

Strategi viral Chikuro terbukti bisa mendatangkan banyak views. Selain itu ada beberapa prinsip yang bisa diterapkan brand lain untuk membangun demand dan percakapan secara organik di dunia maya:

  1. Dorong konten organik dari konsumen, bukan hanya iklan. UGC membuat produk diperkenalkan melalui pengalaman nyata konsumen, sehingga dapat membangun kredibilitas dan social proof yang berbeda dari komunikasi iklan berbayar.
  2. Kelangkaan yang terjadi secara natural bukanlah sebuah masalah. Stok terbatas atau tingginya permintaan bisa dinarasikan sebagai cara untuk memperkuat urgensi dan rasa penasaran, sehingga konsumen yang ingin mendapatkannya harus cepat-cepat datang sebelum kehabisan.
  3. Amankan HAKI sejak awal, bukan setelah viral. Ketika brand mulai mendapatkan perhatian, risiko peniruan juga dapat meningkat. Karena itu, perlindungan merek dan aset intelektual sebaiknya disiapkan sebelum momentum besar datang.
  4. Viral marketing yang paling kuat ketika produk jadi “syarat dianggap keren”, bukan sekedar keinginan. Viral marketing menjadi semakin kuat ketika produk bukan lagi sekedar memenuhi kebutuhan tetapi menjadi sesuatu yang dapat membuat konsumen penasaran dan tidak ingin ketinggalan dari lingkungan sosialnya.

Pada akhirnya, fenomena Chikuro memperlihatkan bagaimana UGC, scarcity, dan psikologi FOMO dapat bekerja sebagai satu kesatuan. Framework ini juga relevan dengan praktik yang dipelajari dalam kelas digital marketing Belajarlagi, terutama dalam memahami bagaimana membaca perilaku konsumen untuk menjadi kebijakan marketing yang tepat.

Belajarlagi Corporate Training

Belajarlagi Corporate Training dapat membantu tim memahami dan mempraktikkan strategi digital marketing sesuai kebutuhan bisnis, mulai dari content marketing, UGC, hingga campaign strategy marketing yang tepat.

Pelajari program Belajarlagi Corporate Training dan siapkan tim Anda untuk membangun strategi digital yang lebih relevan.

Temukan Hal Menarik dan Asyik Lainnya

Yuk, Langganan Newsletter Kami

Topik apa yang paling menarik untuk anda?
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Cookie Consent

By clicking “Accept”, you agree to the storing of cookies on your device to enhance site navigation, analyze site usage, and assist in our marketing efforts. View our Privacy Policy for more information.

Cookie preferences