Sekarang minum kopi identik dengan gaya hidup gen Z dan anak skena. Padahal sebelum tahun 2000, kopi justru melekat sebagai minumannya orang tua karena hanya ada rasa kopi hitam yang dominan pahit.
Baru 2000-an awal muncul varian kopi modern yang diinisiasi oleh Good Day. Anak brand dari Kapal Api Group ini masuk ke industri kopi instan yang target market-nya adalah anak muda, jadi rasanya manis dan kemasannya pun beda dari kopi-kopi terdahulu.
Di sini akan tim Belajarlagi ulik apa saja strategi Good Day bisa sustain jualan kopi sampai lebih dari 25 tahun!
Siapa Good Day dan Mengapa Posisinya di Kapal Api Group Itu Strategis
Salah satu faktor utama kenapa Good Day bisa bertahan lama dan laris di pasaran adalah karena dia merupakan sister brand dari kopi Kapal Api, ABC, kedai kopi Excelso, dan lain-lain. Sebagai informasi, Kapal Api Group sendiri sudah ada dari tahun 1970-an dan menguasai setidaknya 60 persen pasar kopi di Indonesia.
Berbeda dengan kopi Kapal Api yang identik dengan orang tua dan bercita rasa pekat serta pahit, Good Day justru diperkenalkan sebagai kopi instan 3-in-1 yang punya rasa-rasa playful. Untuk mengimbangi gaya hidup anak muda yang mobilitasnya tinggi, diciptakanlah Good Day kemasan botol di tahun 2001.
Mengapa Target Marketnya Remaja, Bukan Semua Orang?
Berbeda dari pendahulunya, Good Day fokus ke segmen remaja usia 13 – 25 tahun yang notabene masih pelajar, mahasiswa, atau pekerja muda. Langkah ini terbilang berani karena mereka ingin menguasai pasar yang belum banyak dilirik kompetitor. Tapi bukan sekedar coba-coba, pilihan segmen ini bersifat strategi karena beberapa alasan:
1. Belum Memiliki Brand Loyalty yang Kuat
Dibanding konsumen yang lebih dewasa, kelompok usia ini cenderung belum memiliki preferensi kopi yang sangat mapan. Mereka lebih terbuka mencoba rasa, format produk, dan merek baru sehingga biaya akuisisi pelanggan bisa lebih efisien.
2. Lebih Mudah Dikonversi Melalui Penetration Pricing
Dengan harga yang relatif murah, Good Day dapat menurunkan hambatan pembelian pertama atau trial. Strategi ini efektif pada segmen yang sensitif terhadap harga tetapi memiliki frekuensi konsumsi tinggi.
3. Memiliki Lifetime Value (LTV) yang Panjang
Jika merek berhasil masuk ke kebiasaan konsumsi sejak usia remaja hingga awal dewasa, peluang retensi jangka panjang menjadi lebih besar. Konsumen yang mulai membeli sejak usia 15–18 tahun berpotensi terus mengonsumsi selama bertahun-tahun ketika daya belinya meningkat.
Penetration Pricing dan Inovasi Rasa
Ada dua hal penting yang ikut mempertahankan eksistensi Good Day di industri kopi instan Indonesia, yaitu harga murah atau penetration pricing dan varian yang banyak.
Di tahun 2026 ini, harga satu sachet Good Day 20 gram masih di angka Rp2 ribuan, lalu untuk rasa, ada Good Day telah meluncurkan 12 rasa kopi. Ini termasuk murah sehingga memudahkan konsumen untuk mencicipi banyak varian rasa tanpa takut merasa rugi.
Good Day terbilang cukup cepat dalam mengeksplorasi rasa-rasa baru, berbeda dengan kompetitornya sebut saja Nescafe yang baru mengambil langkah serius setelah Good Day mulai mendominasi pasar.
Namun ini bisa dipahami karena positioning Good Day sebagai kopi instan kemasan saset yang murah meriah dan mengunggulkan banyak rasa, sedangkan Nescafe sebagai produk kopi siap minum yang unggul dari segi variasi produk premium seperti kopi kemasan kaleng, kopi UHT, dan beberapa varian yang lebih aromatik.
Pelajaran penting untuk marketer di sini adalah inovasi produk dan pricing strategy seharusnya tidak dirancang terpisah.
Banyak brand gagal bukan karena produknya kurang menarik, tetapi karena harga awal yang dipakai terasa tinggi sehingga orang takut mencoba. Inovasi baru membutuhkan mekanisme adopsi dengan waktu yang tidak sebentar. Good Day memahami bahwa cara tercepat membuat konsumen mau mencoba rasa baru bukan hanya menciptakan rasa yang unik, tetapi juga membuat keputusan membeli tanpa takut rugi karena harganya masih terjangkau.
Iklan TV dan Brand Memory, Kenapa Slogan Good Day Masih Kita Ingat?

Teman Belajar yang dulu suka nonton TV pasti nggak asing dengan iklan Good Day yang cukup sering tayang d tahun 2000 – 2015.
Visual iklan eye catching karena konsepnya ceria dengan setting dunia remaja (kampus, cafe, persahabatan, dan asmara), pakai musik-musik pop yang earworm, dan slogan “Karena Hidup Banyak Rasa” yang sesuai dengan kehidupan anak muda yang dinamis sekaligus banyaknya variasi rasa kopi mereka.
Good Day juga konsisten bekerja sama dengan musisi yang sedang naik daun, seperti Afgan, Rizky Febian, Mahalini, El Rumi, dan baru-baru ini menggandeng idol Korea yaitu Baby Monster.
Konsistensi konsep iklan yang ditayangkan hingga belasan tahun terbukti sukses membuat Good Day menjadi top of mind kopi pilihan anak muda hingga saat ini.
Brand Activation dan Emotional Connection
Karena punya target market remaja, Good Day rajin jadi sponsor di event-eventnya anak muda, seperti event musik, festival remaja, roadshow ke universitas, mengadakan kreativitas kreatif digital #IndonesiaBanyakRasa, hingga kolaborasi dengan BT21 dan Quby.
Yang sedang dilakukan Good Day ini bukan sekedar meningkatkan exposure tetapi juga membangun emotional connection dengan pelanggannya.
Good Day tidak berusaha menjadi kopi yang hanya dikonsumsi, tapi ingin menjadi merek yang hadir di momen penting masa muda konsumennya, seperti nongkrong, nonton konser, menjalankan hobi, dan masih banyak lagi.
Ini yang membuat strategi mereka bersifat omnichannel activation:
- Offline. Hadir di tempat target audiens menghabiskan waktu (festival musik, roadshow sekolah/kampus, dan experiential booth).
- Online. Memperpanjang pengalaman melalui challenge, UGC, social campaign, dan interaksi digital.
- E-commerce. Mengubah engagement menjadi transaksi melalui marketplace dan channel penjualan.
Brand activation yang efektif bukan yang paling ramai atau paling viral tetapi yang paling relevan dengan daily life target audiens.
Karena konsumen jarang mengingat banner atau diskon. Tapi mereka akan mengingat memori yang terbentuk dari kebiasaan atau loyalitas.
Apa yang Bisa Dipelajari Marketer dari Good Day
Dari Good Day kita bisa melihat bahwa yang menarik justru bagaimana mereka membangun strategi yang saling terhubung: segmentasi, produk, harga, distribusi, sampai aktivasi brand.
Bagi Teman Belajar yang seorang marketer atau baru mulai belajar berbisnis, ada beberapa pelajaran yang bisa diterapkan dari Good Day sejauh ini:
1. Flanker Brand Strategy
Salah satu kesalahan umum perusahaan besar adalah mencoba membuat satu brand relevan untuk semua orang. Padahal ketika sebuah brand sudah punya positioning kuat, perubahan terlalu jauh bisa membingungkan konsumen lama.
Good Day menunjukkan logika flanker brand strategy dengan membuat identitas yang berbeda untuk menangkap segmen baru tanpa mengubah persepsi brand utama secara drastis.
2. Own a Segment First
Good Day tidak mencoba menjadi kopi untuk semua orang sejak awal. Mereka fokus ke kelompok yang belum punya loyalitas merek tinggi, sensitif terhadap harga, dan punya potensi konsumsi jangka panjang.
3. Inovasi Produk dan Pricing Harus Datang Bersama
Banyak bisnis percaya inovasi berarti menambah fitur, menambah varian, atau membuat sesuatu yang unik. Padahal inovasi hanya berhasil kalau konsumen mau mencoba. Good Day memberi contoh menarik, yaitu rasa baru = alasan untuk mencoba dan harga terjangkau = keberanian untuk mencoba.
4. Brand Memory Dibangun dari Konsistensi, Bukan dari Satu Viral Moment
Di era digital, banyak marketer mengejar satu kampanye viral. Tapi yang dilakukan Good Day selama bertahun-tahun justru berbeda, mereka konsisten mengulang asosiasi yang sama gembira, ekspresif, banyak rasa, dekat dengan anak muda.
5. Community & Event Marketing Bisa Lebih Kuat daripada Iklan Satu Arah
Good Day banyak hadir di tempat yang memang sudah menjadi bagian hidup target market. Mereka support acara musik, festival, kampus, komunitas, dan aktivitas kreatif. Karena perhatian bisa dibeli dengan iklan, tetapi kedekatan biasanya dibangun lewat pembiasaan.
Mau Belajar Marketing Strategy Lebih Dalam?
Memahami strategi seperti Good Day bukan cuma soal tahu teori pricing atau campaign activation. Yang lebih penting adalah belajar bagaimana menghubungkan semuanya menjadi keputusan bisnis yang benar-benar berdampak ke pertumbuhan brand.

Jika Teman Belajar ingin memahami strategi marketing platform digital secara lebih menyeluruh, program Full Stack Digital Marketing dari Belajarlagi bisa menjadi pilihan yang tepat. Kamu akan belajar mulai dari riset pasar, menyusun positioning, memilih channel pemasaran yang efektif, hingga menganalisis performa campaign dan paid ads. Materinya dirancang praktis agar dapat langsung diterapkan untuk kebutuhan bisnis maupun pengembangan karier.
Yuk, eksplor selengkapnya di Full Stack Digital Marketing Belajarlagi.
Referensi
- Grokipedia. Kapal Api.
- Steeped Content. Marketing Coffee.
- ResearchGate. Emotional Branding and Customer Loyalty: Gen Z in Japan and Indonesia.
- ResearchGate. The Effectiveness of Content Marketing Strategies in Enhancing Brand Awareness of Local Coffee Products Among Indonesian Millennials.
