Strategi 4 Brand Ambassador Fore Coffee, Cerdas atau Boros?

Marketing Theory
Sales

Mengapa Fore Coffee menggandeng empat brand ambassador (BA) sekaligus dalam satu kampanye? Saat banyak brand mengandalkan satu figur publik untuk membangun citra dan menarik perhatian konsumen, Fore Coffee mengambil langkah berbeda dengan menggandeng Sheila Dara, Syifa Hadju, Afgan, dan Baskara Mahendra dalam kampanye #SetiapForePunyaCerita.

Strategi ini memunculkan pertanyaan, mengapa harus sampai empat BA? Apakah semakin banyak figur publik yang dilibatkan, semakin efektif pula kampanyenya? Respons netizen memberikan perspektif menarik, termasuk munculnya konten organik dari para followers yang ingin ikut menjadi bagian dari kampanye tersebut.

Mengenal Campaign #SetiapForePunyaCerita

Pemilihan keempat BA ini tidak hanya berkaitan dengan popularitas. Sheila Dara (aktris), Afgan (penyanyi dan penulis lagu), Baskara Mahendra (aktor), dan Syifa Hadju (aktris) juga memiliki kedekatan personal dengan Fore Coffee. Melalui kampanye #SetiapForePunyaCerita, kedekatan tersebut diangkat menjadi bagian dari narasi brand.

Setelah pengumuman empat BA tersebut, kolom komentar ramai dengan respons pelanggan. Ada yang memamerkan banyaknya kopi Fore yang pernah dibeli, bahkan mengedit foto sendiri seolah-olah menjadi BA kelima Fore Coffee.

Respons ini menunjukkan potensi kampanye untuk membangun keterlibatan audiens, bukan sekadar memperkenalkan figur publik. Ketika pelanggan merasa dekat dengan brand, mereka bisa terdorong untuk ikut berpartisipasi dan membagikan pengalaman secara sukarela.

Mengapa Harus 4 Brand Ambassador, Bukan 1?

Bagi Fore Coffee, penggunaan empat BA berpotensi memperluas jangkauan audiens sekaligus menghadirkan narasi brand yang lebih beragam. Dibandingkan hanya menggunakan satu figur, strategi multi-brand ambassador menawarkan beberapa keuntungan.

1. Menjangkau Segmen Audiens yang Lebih Luas

Selebritas memiliki basis penggemar dan karakter audiens yang berbeda. Dengan menggandeng Sheila Dara, Syifa Hadju, Afgan, dan Baskara Mahendra, Fore Coffee berpeluang menjangkau konsumen dengan minat dan latar belakang yang lebih beragam dibandingkan jika hanya menggunakan satu BA.

Namun, luasnya jangkauan tidak otomatis menghasilkan pelanggan baru. Brand tetap perlu memastikan bahwa audiens setiap figur sesuai dengan target pasar dan tujuan kampanye.

2. Membangun Narasi yang Beragam

Empat BA memberi ruang bagi Fore Coffee untuk mengangkat berbagai sudut pandang tentang kebiasaan menikmati kopi. Ceritanya bisa dikaitkan dengan rutinitas kerja, perjalanan, hingga momen bersama orang terdekat.

Pendekatan ini membuat komunikasi brand berpotensi terasa lebih relevan bagi konsumen dengan kebutuhan dan kebiasaan berbeda. Produk tidak hanya ditampilkan sebagai minuman, tetapi juga sebagai bagian dari keseharian audiens.

3. Mengurangi Ketergantungan pada Satu Figur Publik

Mengandalkan satu BA membuat kampanye lebih bergantung pada reputasi figur tersebut. Jika terjadi kontroversi atau perubahan citra, dampaknya dapat memengaruhi persepsi terhadap brand.

Dengan empat BA, ketergantungan pada satu figur dapat dikurangi. Meski begitu, strategi ini tidak menghilangkan risiko reputasi dan tetap membutuhkan pengelolaan yang cermat.

Di balik keunggulan tersebut, penggunaan beberapa BA juga membawa konsekuensi, mulai dari biaya kontrak dan produksi konten hingga koordinasi kampanye. Karena itu, brand perlu mempertimbangkan tujuan bisnis sebelum mengikuti tren multi-BA. Kuncinya bukan jumlah figur yang digunakan, melainkan kontribusi masing-masing terhadap hasil kampanye.

Efek Tak Terduga Ketika Followers Ingin Jadi “BA Kelima”

Setelah Fore Coffee mengumumkan keempat BA melalui Threads, sejumlah netizen ikut meramaikan percakapan dengan mengunggah foto editan seolah-olah mereka terpilih menjadi BA kelima.

Fenomena ini menunjukkan bahwa audiens tidak hanya menjadi penerima pesan, tetapi juga berpotensi ikut mengembangkan kampanye melalui konten mereka sendiri.

Dari perspektif marketing, respons tersebut dapat dikategorikan sebagai bentuk user-generated content (UGC), yaitu konten yang dibuat oleh pengguna atau konsumen. Ketika audiens secara sukarela ikut berpartisipasi, brand berpeluang memperluas jangkauan kampanye tanpa harus mengandalkan iklan berbayar untuk setiap interaksi.

Meski demikian, ramainya percakapan belum cukup untuk membuktikan peningkatan penjualan. Untuk mengukur efektivitasnya, brand tetap perlu melihat metrik seperti jangkauan, interaksi, sentimen audiens, kunjungan ke kanal penjualan, dan konversi.

Brand Ambassador Bukan Jaminan, Melainkan Akselerator

Di era digital, BA dan KOL dapat membantu brand menarik perhatian, meningkatkan brand awareness, dan menjangkau audiens baru. Namun, keputusan konsumen untuk membeli tetap dipengaruhi oleh kualitas produk dan pengalaman mereka.

Dalam bisnis F&B seperti Fore Coffee, rasa kopi, konsistensi kualitas, harga, dan pelayanan turut menentukan apakah pelanggan akan melakukan repeat purchase. Kampanye yang ramai belum tentu menghasilkan loyalitas jika pengalaman setelah pembelian tidak sesuai ekspektasi.

Bagi pelaku bisnis, hal ini menjadi pengingat bahwa endorsement sebesar apa pun tidak menjamin kesuksesan jangka panjang jika kualitas produk diabaikan. Kampanye mungkin mendatangkan pelanggan baru, tetapi pengalaman produk yang buruk dapat membuat mereka enggan kembali.

Karena itu, posisikan BA sebagai akselerator pemasaran, bukan satu-satunya solusi pertumbuhan bisnis. Brand tetap perlu mengembangkan produk, meningkatkan pelayanan, dan menjalankan strategi pemasaran berkelanjutan agar perhatian yang diperoleh dapat berkembang menjadi hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

Apa yang Bisa Dipelajari Brand Lain dari Strategi Ini?

Strategi empat BA Fore Coffee memberikan beberapa pelajaran bagi brand yang ingin mengoptimalkan endorsement dan mendorong interaksi organik. Berikut empat hal yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan bisnis:

  • Pilih jumlah BA berdasarkan target audiens. Strategi multi-BA relevan jika brand ingin menjangkau segmen yang beragam, sedangkan satu BA bisa lebih efisien untuk target pasar yang spesifik.
  • Utamakan cerita personal daripada endorsement generik. Narasi yang menghubungkan produk dengan pengalaman sehari-hari berpotensi terasa lebih relevan bagi audiens.
  • Rancang kampanye yang mengundang partisipasi. Respons “BA kelima” menunjukkan potensi konten organik ketika audiens memiliki ruang untuk berkreasi melalui template, challenge, atau konsep yang mudah diikuti.
  • Pastikan kualitas produk tetap menjadi prioritas. Awareness dan engagement perlu diikuti pengalaman yang memuaskan agar pelanggan memiliki alasan untuk kembali membeli.

Menerapkan strategi tersebut membutuhkan pemahaman audiens, perencanaan kampanye, pemilihan kanal, hingga evaluasi performa. Karena itu, kemampuan digital marketing tidak cukup berhenti pada pembuatan konten atau menjalankan iklan, tetapi juga mencakup analisis strategi berdasarkan tujuan bisnis.

Melalui program Corporate Training Belajarlagi, perusahaan dapat mengembangkan kompetensi tim dalam digital marketing, mulai dari strategi kampanye dan social media management hingga data analytics. Dengan pelatihan yang sesuai kebutuhan bisnis, tim dapat merancang pemasaran yang lebih terarah dan mengevaluasi efektivitasnya secara terstruktur.

Pelajari program Corporate Training Belajarlagi untuk menemukan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan tim Anda.

Referensi

Temukan Hal Menarik dan Asyik Lainnya

Yuk, Langganan Newsletter Kami

Topik apa yang paling menarik untuk anda?
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Cookie Consent

By clicking “Accept”, you agree to the storing of cookies on your device to enhance site navigation, analyze site usage, and assist in our marketing efforts. View our Privacy Policy for more information.

Cookie preferences