Popularitas artis bisa menjadi modal untuk membangun bisnis. Namun, tidak semua artis menjalankan bisnis dengan cara yang sama. Ada yang membangun usaha sendiri, bekerja sama dengan partner, atau memanfaatkan nama dan popularitasnya untuk memasarkan produk milik pihak lain.
Fenomena ekspansi bisnis Aldi Taher menarik untuk dibahas karena menunjukkan bagaimana popularitas figur publik dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan berbagai produk. Meski begitu, perhatian publik belum tentu menjamin bisnis bertahan lama. Artikel ini membahas tiga skema bisnis artis sekaligus pelajaran marketing yang bisa diambil dari fenomena tersebut.
Bagaimana Personal Brand Membantu Ekspansi Bisnis Aldi Taher
Aldi Taher merupakan figur publik Indonesia yang dikenal sejak awal 2000-an. Belakangan, persona dan tingkahnya yang unik kembali menarik perhatian masyarakat. Popularitas tersebut menjadi modal pemasaran yang potensial ketika ia memperkenalkan berbagai lini usaha.
Berdasarkan pemberitaan media, Aldi Taher pernah menjalankan bisnis mi ayam sejak 2021. Pada 2026, ia juga memperkenalkan sejumlah bisnis lain, termasuk Aldi’s Burger, Aldi’s Hotdog, Aldi’s Coffee, Aldi’s Perfume, dan Ayam Goreng Basah Aldi Taher.
Dari perspektif marketing, fenomena ini menarik karena personal brand dapat membantu produk mendapatkan perhatian tanpa harus membangun pengenalan merek sepenuhnya dari awal. Nama yang sudah dikenal publik bisa memicu rasa penasaran, mendorong percakapan di media sosial, hingga menghasilkan pemberitaan organik.
Namun, popularitas figur publik hanyalah salah satu aset pemasaran. Setiap kategori produk memiliki karakteristik pasar, kebutuhan konsumen, dan tantangan operasional yang berbeda. Karena itu, ekspansi ke banyak kategori tidak otomatis menjamin keberhasilan seluruh bisnis.
Untuk memahami bagaimana bisnis berbasis figur publik dijalankan, ada tiga skema yang bisa digunakan sebagai kerangka analisis.
3 Skema Bisnis Artis yang Umum Ditemukan
Setidaknya ada tiga skema bisnis artis yang umum ditemukan di Indonesia, berikut detailnya.
1. Bisnis Milik Sendiri
Dalam skema ini, artis menjadi pemilik usaha dan memiliki kendali atas arah bisnis. Artis dapat terlibat dalam penyediaan modal, pengambilan keputusan, pengembangan produk, hingga pengawasan operasional, baik secara langsung maupun melalui tim yang dibentuknya.
Kelebihan model ini adalah kontrol yang lebih besar terhadap arah bisnis dan identitas merek. Artis juga berpotensi memperoleh keuntungan sebagai pemilik usaha. Namun, tanggung jawab finansial dan risiko bisnis bergantung pada struktur kepemilikan serta perjanjian yang berlaku.
Dari sisi marketing, keterlibatan pemilik dapat membantu menjaga konsistensi antara personal brand dan identitas bisnis. Meski demikian, keberhasilan tetap membutuhkan sistem operasional yang baik, bukan hanya keterlibatan figur publik.
2. Share Percentage atau Kepemilikan Bersama
Dalam skema ini, artis bekerja sama dengan pihak lain melalui kesepakatan kepemilikan saham atau pembagian keuntungan. Bentuk kerja samanya dapat berbeda-beda, tergantung pada kontribusi modal, pembagian tanggung jawab, dan perjanjian antara para pihak.
Model ini memungkinkan artis membangun portofolio bisnis tanpa harus menangani seluruh operasional secara langsung. Partner yang memiliki pengalaman di industri terkait dapat mengelola produksi, distribusi, keuangan, dan pengembangan produk. Sementara itu, artis dapat berkontribusi melalui modal, promosi, atau penguatan merek.
Dari perspektif marketing, kerja sama ini dapat menggabungkan dua kekuatan, yaitu jangkauan audiens figur publik dan keahlian operasional partner bisnis. Namun, pembagian peran, standar kualitas, dan tujuan bisnis perlu disepakati sejak awal agar strategi pemasaran sejalan dengan kemampuan bisnis dalam memenuhi permintaan.
3. Titip Nama atau Lisensi Penggunaan Nama
Dalam skema ini, nama, citra, atau popularitas artis digunakan untuk membantu memasarkan produk milik pihak lain. Artis tidak selalu menjadi pemilik bisnis maupun terlibat dalam operasional sehari-hari. Bentuk kerja samanya dapat berupa endorsement, lisensi nama, atau perjanjian komersial lainnya.
Fenomena kue artis yang ramai bermunculan sekitar 2017–2019 menjadi salah satu contoh yang relevan untuk membahas hubungan antara popularitas figur publik dan pemasaran produk. Meski begitu, skema setiap bisnis tidak bisa disamaratakan tanpa informasi mengenai struktur kerja samanya.
Keuntungan utama model ini adalah bisnis dapat memanfaatkan popularitas artis untuk meningkatkan brand awareness dan menarik perhatian konsumen saat peluncuran. Di sisi lain, efektivitasnya bergantung pada kesesuaian antara citra artis, produk, dan target pasar.
Jika perhatian publik tidak diikuti kualitas produk dan pengalaman pelanggan yang baik, daya tarik awal tersebut belum tentu menghasilkan pembelian berulang. Karena itu, penggunaan nama artis sebaiknya dipandang sebagai salah satu instrumen pemasaran, bukan pengganti strategi produk dan bisnis yang matang.
Bisnis Artis Tak Cukup Mengandalkan Viralitas
Viralitas dapat mempercepat pengenalan merek, tetapi tidak otomatis membangun bisnis yang berkelanjutan. Saat sebuah produk diperkenalkan oleh figur publik yang sedang ramai dibicarakan, konsumen mungkin tertarik karena rasa penasaran, tren, atau keinginan mencoba sesuatu yang sedang populer.
Dalam marketing, perhatian tersebut merupakan peluang untuk mendapatkan pelanggan pertama. Tantangan berikutnya adalah mengubah perhatian menjadi pembelian dan, yang lebih penting, mendorong konsumen untuk kembali membeli.
Ada beberapa faktor yang menentukan apakah bisnis mampu melewati fase tersebut, mulai dari kualitas produk, harga yang sesuai dengan nilai yang ditawarkan, pelayanan, hingga pengalaman pelanggan. Bisnis juga perlu memiliki alasan yang kuat bagi konsumen untuk memilih produknya dibandingkan alternatif lain.

Hal ini semakin penting ketika figur publik memiliki beberapa bisnis dalam kategori berbeda. Setiap produk membutuhkan proposisi nilai yang jelas dan strategi pemasaran yang sesuai dengan target pasarnya. Popularitas pemilik dapat membantu mendatangkan perhatian, tetapi tidak menggantikan kebutuhan untuk memahami perilaku konsumen di masing-masing kategori.
Menurut analisis Inventure mengenai bisnis artis, efek FOMO dan rasa penasaran dapat mendorong antusiasme pada tahap awal. Namun, setelah perhatian tersebut mereda, konsumen akan kembali mempertimbangkan kualitas produk, harga, dan nilai yang mereka peroleh. Faktor lain, seperti keberlanjutan kerja sama dan perubahan popularitas artis, juga dapat memengaruhi bisnis yang terlalu bergantung pada figur publik.
Artinya, daya tahan bisnis tidak bisa dinilai hanya dari seberapa cepat produk menjadi viral atau seberapa sering merek tersebut muncul di media sosial. Indikator seperti pembelian berulang, kepuasan pelanggan, dan kemampuan menghasilkan pendapatan secara konsisten juga penting untuk diperhatikan.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Fenomena Bisnis Artis?
Fenomena bisnis Aldi Taher memberikan beberapa pelajaran mengenai hubungan antara personal branding, strategi pemasaran, dan keberlangsungan bisnis.
- Personal brand dapat mempercepat brand awareness. Figur publik membawa pengenalan dan jangkauan audiens yang sudah terbentuk. Namun, bisnis tetap perlu membangun identitas produk yang jelas agar konsumen mengenal nilai yang ditawarkan, bukan hanya sosok di baliknya.
- Viralitas perlu dikonversi menjadi pembelian berulang. Ramainya percakapan di media sosial belum tentu mencerminkan permintaan yang berkelanjutan. Bisnis perlu mengevaluasi konversi penjualan, kepuasan pelanggan, dan tingkat pembelian ulang untuk mengetahui apakah perhatian publik benar-benar menghasilkan pertumbuhan.
- Partner operasional berperan penting dalam ekspansi. Kerja sama dengan pihak yang memiliki keahlian di industri terkait dapat membantu bisnis mengelola produksi, distribusi, dan kualitas. Namun, keberhasilan tetap bergantung pada pembagian tanggung jawab dan keselarasan strategi di antara para pihak.
Pada akhirnya, fenomena bisnis artis bukan sekadar tentang memanfaatkan popularitas untuk menjual produk. Ada hubungan antara personal brand, proposisi nilai, perilaku konsumen, dan kemampuan operasional yang menentukan apakah perhatian publik dapat berkembang menjadi bisnis yang berkelanjutan.

Memahami hubungan tersebut juga penting bagi perusahaan yang ingin memperkuat strategi branding dan pemasaran digital. Melalui Corporate Training Belajarlagi, tim dapat mengembangkan kompetensi digital marketing, branding, dan penyusunan strategi pemasaran sesuai kebutuhan bisnis. Hubungi tim Corporate Training Belajarlagi untuk mengetahui program yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda.
Referensi
