“MR. DIY ini ad aitu ada…”
Siapa yang bacanya pakai nada jingle MR. DIY?
Bisa dibilang MR. DIY ini lagi jadi spot belanja hits yang selain terkenal sama jingle-nya juga terkenal sama produk-produknya yang lengkap.
MR. DIY sekarang menjadi salah satu IPO terbesar di sektor ritel asing. Outletnya semakin banyak apalagi yang stand alone.
Kesuksesan MR. DIY nggak lepas dari strategi low cost, high density expansion yang membuat mereka berhasil menambah 600 outlet dalam 2 tahun. Kalau ditotal per tahun 2026 ini ada kurang lebih 1.100 outlet. Ekspansinya mengalahkan brand coffee shop manapun!
Asal usul MR. DIY
MR. DIY merupakan toko ritel asal Malaysia yang udah ada sejak tahun 2005. Gerai mereka sudah melalang buana hingga India, Turki, dan Polandia namun baru membuka gerai pertamanya di Indonesia pada 2017, tepatnya ada di Mega Bekasi Hypermall.
Toko ritel ini fokus pada penjualan perlengkapan rumah yang kemudian berkembang pesat dan memiliki ribuan toko di seluruh Indonesia.
Penambahan gerai MR. DIY bukan dilakukan atas dasar FOMO tetapi juga melalui perhitungan dan strategi yang matang. Terbukti MR. DIY menjadi salah satu IPO terbesar di sektor ritel asing yang berhasil mencatatkan pendapatan hingga Rp5,7 triliun pada tahun 2025.
Strategi Low Cost High Density Expansion dan Smart Pricing MR. DIY
Slogan Always Low Price bukan sekedar omon-omon.
MR. DIY benar-benar mematok tarif murah di seluruh toko mereka untuk menyasar segmen pasar tier 2 dan 3. Makannya mereka dikenal sebagai brand yang hemat, lengkap, dan dekat.

Harga yang seragam dan konsisten ini didukung oleh efisiensi rantai pasok serta pengalaman operasional global mereka.
Lalu untuk urusan marketing, MR. DIY nggak mau pakai strategi kampanye mahal seperti memasang iklan di TV atau sewa billboard premium yang sudah dilakukan banyak pesaingnya.
Mereka justru memanfaatkan ekspansi tokonya sebagai ajang iklan. Tokonya yang udah tersebar di mana-mana udah otomatis mempromosikan MR. DIY secara permanen dan tanpa mengeluarkan budget tambahan.
Supaya awareness cepat naik, MR. DIY pun membangun toko mereka di lokasi strategis dengan traffic tinggi seperti mall, ruto utama, sekitar pasar atau stasiun, atau dekat kampus, jadi masyarakat secara nggak sadar “dipaksa” akrab sama logo kuning-merah khas mereka.

Selain itu, mereka juga menggunakan strategi omnichannel online-to-online (O2O) buat merancang kampanye yang lebih personal.
Oh iya, ngomongin MR. DIY nggak lengkap kalau nggak ngomongin jingle mereka yang ikonik.
Ini strategi andalan untuk meningkatkan ingatan brand mereka. Apalagi jingle-nya punya nada sederhana bikin gampang diingat oleh pelanggan.
Nah semua strategi MR. DIY ini jika bisa disimpulkan dalam 1 kalimat, yaitu strategi low cost, high density expansion.
Maksudnya MR. DIY menekan biaya dengan skala ekonomi (economies of scale), supply chain yang efisien, format toko sederhana supaya penetrasi pasar besar-besaran.
Nggak perlu pakai iklan yang ribet, endorse influencer, dan strategi mahal lainnya.
Mereka memperluas jangkauan di pasar dengan cara memperbanyak titik distribusi.
Staretegi ini mirip pendahulunya yaitu Walmart, Alfamart, atau Indomaret.
Menjadi Brand Besar dengan Strategi Tepat dan Terukur
Bagi MR. DIY yang sudah menjadi brand besar, mudah bagi mereka untuk membuka banyak cabang sebagai strategi marketing. Tetapi tentu saja strategi ini tidak bisa dilakukan oleh banyak brand atau perusahaan.
Ekspansi termudah di jaman sekarang adalah melalui digital marketing. Sebab cara ini memungkinkan bisnismu menjangkau lebih banyak orang dan meningkatkan konversi melalui platform digital seperti media sosial dan website.
Melalui layanan dari Belajarlagi Agency, perusahaanmu bisa meningkatkan traffic sosial media dan website melalui paid ads atau SEO.
Tertarik untuk menggunakan layanan digital marketing kami? Hubungi Belajarlagi Agency untuk informasi lebih lanjut!
