Produk luar negeri seringkali dikaitkan dengan kualitasnya yang premium, sehingga awet dan tahan lama. Padahal, banyak juga produk lokal dengan kualitas dunia yang saking bagusnya sampai dikira produk impor. Selain kualitasnya, strategi brand lokal yang “selangkah lebih maju” juga membuatnya dapat nilai plus sendiri di mata masyarakat.
Misalnya, sepeda Polygon yang sering bikin orang kegocek dan akhirnya mengucap, “Loh, ini sepeda dari Indonesia?”. Yap, lebih tepatnya brand sepeda ini berasal dari Kota Sidoarjo, Jawa Timur.
Banyak orang mengira Polygon sebagai merek luar karena dia punya reputasi cakep di dalam dan luar negeri. Mulai dari jadi sepeda pilihan presiden ke-7 Joko Widodo, udah diekspor ke 60+ negara, sampai jadi sponsorship atlet dan event balap internasional. Kalau berdasarkan riset tim Belajarlagi, ada beberapa strategi marketing yang terbukti sukses dipakai Polygon.
Menemani Gowes dari Generasi ke Generasi
Sejarah Polygon dimulai sejak 1989, di mana pada saat itu PT Insera Sena masih menjadi manufaktur kecil di Sidoarjo, Jawa Timur. Di sini, sepeda dirancang dan diproduksi sendiri, berbeda dari brand sepeda kebanyakan yang hanya merakit dari komponen pihak ketiga. Dengan segala pengalaman dan eksperimennya, terus muncul inovasi produk Polygon yang jadi pilihan semua generasi. Ada Polygon tipe junior untuk anak, Polygon tipe urban untuk temani mobilitas remaja dan dewasa, hingga tipe adventure untuk kamu si petualang.
Kiat Sukses Polygon
Polygon memang terkenal dengan kualitas dunianya yang terkesan premium dan awet dipakai. Tapi lebih dari itu, Polygon juga punya strategi marketing sendiri yang layak untuk kamu ketahui!
1. Punya tim R&D sendiri

Seperti yang sudah disinggung di atas, proses pembuatan Polygon nggak sekedar urusan merakit komponen saja. Polygon punya tim research and development sendiri sehingga pengerjaan sepedanya dilakukan bener-bener dari hulu ke hilir.
Kalau dikutip dari website resminya, Polygon sampai punya pabrik berukuran 6 hektar supaya mereka bisa menggabungkan keterampilan, pengetahuan, dan teknologi untuk memproduksi hampir 1 sepeda setiap tahun.
Kualitas Polygon yang terkenal awet nggak lepas dari hasil penelitian yang dilakukan di pusat riset mereka di Jerman dan Indonesia. Di pusat riset ini, mereka mengembangkan teknologi suspensi, geometri frame, dan bahan ringan. Contoh teknologi suspensi yang mereka kembangin sendiri yaitu FS3 Suspension System.
2. Best value for money
Polygon terkenal sebagai merek sepeda yang best value for money. Maksudnya, sepeda ini punya kualitas yang sesuai dengan uang yang kamu keluarkan. Nggak selalu paling murah, tapi jadi kombinasi ciamik antara kualitas, manfaat, dan harga.
Nah, ngomong-ngomong soal harga, harga sepeda Polygon ini bisa dibilang masih lebih rendah dari merek luar dengan kualitas yang sama, lho. Faktor harga ini dipengaruhi beberapa hal, termasuk karena penggunaan komponen buatan sendiri yang harganya 20-30% lebih murah dari pada produksi luar.
3. Sponsorship atlet dan event sepeda internasional

Nggak cuma ekspor sepeda ke luar negeri, nama Polygon juga dikenal secara global karena mereka jadi sponsor buat tim balap sepeda dunia Polygon UR Team (Downhill / Endura World Cup) dan banyak atlet sepeda seperti Mick Hannah, Tracey Hannah, dan Kenta Gallagher.
Selain itu, Polygon juga kasih exposure global di event-event seperti UCI MTB World Cup (kejuaraan dunia sepeda gunung), Crankworx (balap sepeda gunung dunia), dan dukung tim nasional Indonesia di Sea Games.
4. Community marketing

Untuk kasih pengalaman terbaik customer loyalnya, mereka bangun komunitas dengan bikin acara fun bike dan gowes bareng komunitas, kolaborasi dengan komunitas MTB dan road bike lokal, serta penjualan eksklusif via Rodalink yang kasih after-sales dan bengkel.
Di Agustus 2025, Polygon juga mengadakan challenge seru untuk pengguna setianya dengan nama #IndonesiaBisa. Pengguna Polygon diminta menceritakan kisah hidupnya yang tumbuh bersama sepeda Polygon dan harapannya untuk negara Indonesia. Dari banyaknya peserta yang mengikuti challenge ini, orang-orang awam pun jadi tahu kalau ternyata sepeda Polygon bisa awet dipakai sampai belasan hingga puluhan tahun.
5. Digital content marketing

Polygon aktif menggunakan platform digital seperti media sosial dan website untuk terhubung dengan masyarakat luas. Mereka sering upload konten review dan unboxing sepeda, video behind the scene produksi sepeda, sampai storytelling atlet dan event global di Instagram dan YouTube. Konten dibuat bilingual (Bahasa Indonesia dan Inggris) untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Tips bersepeda pun bisa kamu dapatkan dengan membaca artikel di website resmi mereka.
6. Omnichannel
Polygon punya strategi omnichannel yang mengombinasikan antara toko offline mereka (Rodalink) dan platform online. Toko fisik menyediakan layanan bike fitting, service center, dan pengalaman test ride. Sedangkan toko online bisa kamu akses di e-commerce atau aplikasi resmi Polygon. Keduanya menawarkan user experience end-to-end yang holistik dan pastinya membuat customer mereka nyaman.
Kunci keberhasilan Polygon jadi brand sepeda yang menguasai pasar dalam negeri nggak lepas dari konsistensi mereka menjaga kualitas dan terus berinovasi. Penerapan strategi marketing yang tepat juga memainkan peran penting, sebab segala keputusan diambil berbasis riset, data, dan pemahaman mendalam tentang brand serta audiens.
Perusahaan Anda pun juga bisa menerapkan hal yang sama lewat strategi digital marketing yang dirancang oleh Belajarlagi Agency. Dengan layanan 360 Digital Marketing, Belajarlagi Agency dapat membantu perusahaan menyusun strategi end-to-end mulai dari branding, pengelolaan media sosial, SEO hingga pengelolaan iklan. Untuk informasi atau konsultasi, kamu bisa hubungi langsung Belajarlagi Agency, ya!
