Modal Kamera Nganggur, Gen Z Ini Jadi Punya Omzet Ratusan Juta

Sales

“Do what you can, with what you have, where you are.”

Quotes dari mantan presiden ke-26 Amerika Serikat, Teddy Roosevelt mengingatkan kita untuk nggak perlu menunggu kondisi menjadi sempurna untuk mulai bertindak. Pesan ini kayaknya pas banget untuk diketahui orang-orang yang mau berbisnis tapi masih ragu lantaran sumber daya yang dia punya masih terbatas.

Salah satu gen Z keren asal Indonesia, Rafif Adhikara berhasil membuktikannya. Hanya bermodal kamera nganggur di rumah dan belajar dari podcast di Youtube, dia sekarang punya bisnis bernama Photomatics dengan 100+ cabang photobox. Baru berdiri 5 tahun tapi sudah tersebar di 20 kota di Indonesia dan menghasilkan omzet ratusan juta perbulan.

Tim Belajarlagi coba beda apa aja strategi mereka sampai bisa berkembang dalam waktu singkat!

Background Photomatics

Founder Photomatics, Rafif Adhikara

Founder Photomatics, Rafif Adhikara adalah gen z berusia 26 tahun yang sejak sekolah sudah didorong buat jualan oleh orang tuanya. Waktu SD, Rafif pernah jualan minuman manis kemasan, lalu waktu SMP – SMA pernah usaha bikin jaket angkatan, di mana Rafif yang jadi makelarnya.

Setelah lulus SMA, Rafif bingung mau usaha apa dan dia melihat ada kamera nganggur di rumah. Di situ Rafif mikir buat bikin usaha photobox karena saat teman-teman sekolahnya ngerayain sweet seventeen selalu ada photobox di acara ulang tahunnya.

Strategi Photomatics Jadi Photobox

Kamera dan uang dari keuntungan usaha-usahanya semasa sekolah ditabung dan dijadikan modal awal. Secara bertahap Rafif juga belajar tentang bisnis dari podcast-podcast di Youtube. Baru saat masuk kuliah di 2017, Rafif memulai usaha photobox yang dinamai Posted Up Creative.

Posted Up Creative ini konsepnya project-based di mana dia nawarin jasa photobox ke teman atau relasinya, jadi belum permanen. Karena permintaan akan jasanya meningkat dan sudah dapat untuk yang lumayan, akhirnya di tahun 2020 dia coba buat “nebeng” photobox di café atau coffee shop.

Strategi Photomatics Jadi Photobox dengan Omzet Ratusan Juta

Setelah sukses mewujudkan idenya yang udah dipikirkannya sejak SMA, Rafif lantas terus belajar untuk mengembangkan bisnisnya lebih sukses lagi. Beberapa cara yang ia coba antara lain:

1. Key partnership

Strategi Photomatics Jadi Photobox

Nyambung dengan pembahasan sebelumnya, Rafif bermaksud buat nebeng atau naruh photoboxnya di dalem café atau coffeeshop. Makannya Rafif getol ngajak kerjasama pemilik coffee shop demi photoboxnya mejeng di sana. Nggak gratis, tapi dengan cara bagi hasil atau kesepakatan yang mereka setujui.

Nah, pas udah berpartner dengan banyak café dan coffee shop, Rafif mengganti nama Posted Up Creative menjadi Photomatics.

Nama bisnisnya dulu dihanti karena menurut Rafif pelafalannya agak belibet dan nggak gampang di otak. Photomatics sendiri punya arti, foto dengan mesin otomatis dan penambahan huruf “s” di belakangnya merupakan bentuk plural supaya bisnisnya berkembang dan punya banyak cabang.

Dan terbukti di 2020 Photomatics resmi buka 5 tempat baru dengan cabang pertamanya ada di M Bloc Space.

2. Competitor analysis

Pemilihan placement photobox di cafe ini bukan tanpa alasan. Rafif terlebih dahulu riset dan melakukan competitor analysis secara personal.

Salah satu yang Rafif riset adalah photobox di Timezone. Rafif melihat ada pain points di sana, pertama damage cost dan kedua adalah bottleneck antrean.

Damage cost di Timezone maksudnya banyak orang yang ke Timezone tapi cuma pengin photobox aja tapi tetap harus top up kartu minimal Rp100 ribu. Jadi mereka harus mengeluarkan uang yang lumayan. Kedua, photobox di Timezone ini antreannya panjang karena memang 1 mall cuma ada 1 Timezone.

Dari pain points itulah makannya Rafif pilih cafe, karena di cafe ada di mana-mana dan cukup bayar Rp25 ribu buat foto.

Orang yang mau foto juga nggak wajib buat jajan ke cafe, tapi keberadaan Photomatics ini justru yang dapat meningkatkan traffic ke cafe.

3. Segmented but scalable

Awalnya, Photomatics dibikin sangat segmented untuk orang-orang yang suka nongkrong di luar dan suka foto bareng teman. Tapi ternyata hasilnya scalable banget.

Photomatics terus bertumbuh dari tahun ke tahun. Di 2021 ada 15 cabang, 2022 ada 50 cabang, dan 2023 – 2024 ada 100 cabang.

Karena makin banyak bisnis serupa, Rafif juga berpikir kalau mereka perlu ada pembeda. Makannya sejak 2024 mereka mulai collab sama community atau fanbase musik, idol Korea, dan lain-lain yang konsepnya menampilkan foto idola customer. Selain itu, mereka juga sering hadir di event-event kaya Semasa, Bightspot, dll.

Sekarang Rafif nggak cuma punya Photomatics tapi juga bisnis event organizer, lho!

Dorong Pertumbuhan Bisnis Perusahaan dengan Digital Marketing

Keberanian untuk memulai jadi salah satu kunci kenapa Photomatics bisa sesukses sekarang. Walaupun cuma modal kamera nganggur, tapi Rafif terus berusaha untuk meningkatkan kualitas usahanya seiring waktu.

Kalau perusahaan kamu ingin grow secepat Photomatics, di sinilah Belajarlagi Agency siap membantu. Dengan layanan branding, jasa creative SEO, dan iklan digital, kami siap meningkatkan performa bisnismu. Hubungi Belajarlagi Agency untuk layanan digital marketing selengkapnya!

Temukan Hal Menarik dan Asyik Lainnya

Yuk, Langganan Newsletter Kami

Topik apa yang paling menarik untuk anda?
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Cookie Consent

By clicking “Accept”, you agree to the storing of cookies on your device to enhance site navigation, analyze site usage, and assist in our marketing efforts. View our Privacy Policy for more information.

Cookie preferences