Mengapa ya Perusahaan Bikin Dua Brand dengan Jenis yang Sama?

Teman Belajar, tahu nggak alasan mengapa sebuah perusahaan harus mengeluarkan dua jenis komoditi yang sama namun dengan brand yang berbeda? Misalnya brand air minum kemasan Vit dan Aqua atau brand minyak goreng Sania dan Fortune.

Ternyata, ini adalah bagian dari strategi marketing, loh, Teman Belajar. Strategi yang digunakan perusahaan terhadap dua brand masing-masing itu disebut "Fighter Brand Strategy". Strategi ini merupakan strategi yang mengharuskan untuk "membunuh" produknya sendiri demi popularitas produknya yang lain.

Strategi ini juga bisa dilakukan dengan membuat brand baru agar brand lain miliknya bisa berkembang lebih populer dan kompetitif pada satu jenis produk. Strategi ini mirip dengan sub brand, tapi memiliki tujuan yang berbeda. Brand baru seolah di-"anak tirikan", agar brand lama bisa populer.

 Contohnya, Aqua dan Vit merupakan dua brand yang masih satu pemilik. Kedua brand ini memiliki target market yang berbeda. 

 Vit lebih fokus kepada target market yang mengincar low price. Sementara Aqua fokus kepada target market yang mengincar best product. Akan tetapi, Vit cenderung di-"anak tirikan". Promosinya lebih jomplang dibanding Aqua yang dipromosikan lebih masif.

 Hmmm.. Agak aneh ya, Teman Belajar? Tapi justru itu lho strateginya. Startegi itu ditujukan agar kompetitor di luar kedua brand itu kewalahan. Kompetitor akan bingung mana yang harus dilawan: apakah Vit yang memiliki low price atau fokus fight dengan Aqua. 

 Sementara, pihak Aqua sih tenang-tenang saja, Teman Belajar. Jika Aqua diserang habis-habisan, mereka akan memaksimalkan promosi Vit yang low price.

 Contoh lain adalah brand minyak goreng dari Wilmar Group yaitu Fortune dan Sania. Keduanya termasuk salah satu minyak goreng terlaris di Indonesia. Namun, Sania lebih populer karena punya persona yang premium dibanding Fortune.

Wilmar Group sadar kalau persaingan minyak goreng di Indonesia begitu ketat. Oleh karenanya, mereka pun mengadakan sub brand untuk meningkatkan popularitas salah satu produknya.

Fortune merupakan sub brand yang "dikorbankan" untuk strategi ini nih. Maka Fortun pun sengaja seperri "dibunuh" untuk meningkatkan popularitas Sania. Penerapan strategi ini terlihat dari promosi Sania yang lebih gencar dibanding Fortune.

Teman Belajar, kira-kira ada lagi nggak contoh lainnya yang menggunakan strategi serupa? Garuda-Citilink atau Pantene-Rejoice pun menerapkan ini, loh. Mereka berusaha meramaikan kompetisi dan memecah fokus kompetitor.

Naaah itu tadi insight tentang Fighter Brand Strategy yang dilakukan oleh beberapa brand di Indonesia. Menarik kan, Teman Belajar?

Teman Belajar juga bisa membaca insight-insight tentang studi kasus marketing lainnya di website belajarlagi.id ya! Bagi kamu yang tertarik mendalami ilmu-ilmu digital marketing, yuk buruan daftarkan diri kamu di kelas-kelas digital marketing yang tersedia di BelajarlagiHQ. Sampai jumpa di kelas!