Beberapa tahun terakhir, kita banyak membaca berita tentang toko buku legendaris yang gulung tikar. Alasannya beragam, seperti meningkatnya biaya operasional, penurunan penjualan, tidak bisa beradaptasi dengan digitalisasi, dan lain-lain.
Namun di tengah hiruk pikuk tersebut, Gramedia masih berdiri gagah dan bahkan banyak melakukan terobosan-terobosan baru yang membuatnya tidak dimakan zaman.
Misalnya Gramedia banyak melakukan renovasi di beberapa cabangnya supaya lebih keren dan estetik, penyediaan fasilitas buat WFA, bahkan aktif jualan di TikTok Shop.
Triple Truths Framework ala Gramedia
Dari gebrakan yang banyak dibuat Gramedia, tim Belajarlagi jadi inget sama triple truths framework, sebuah cara brand bikin produk dan kampanye yang bisa fit sama market mereka. Ada 3 poin penting dalam framework ini:

1. Human truth
Dari kasus Gramedia, kita bisa tahu kalau masalah yang dialami pelanggan mereka ada di pergeseran gaya belanja dari offline ke online. Makannya toko fisik jadi relatif sepi pengunjung.
Belum lagi layout toko Gramedia nggak ada perubahan besar, bentuknya terkesan gitu-gitu aja dari dulu.
2. Brand truth
Gramedia itu brand toko buku tua dan besar di Indonesia. Sejak berdiri tahun 1970, Gramedia nggak cuma mengelola retail toko buku, tapi juga punya percetakan, penerbitan buku, sampai jaringan media TV dan digital.
Gramedia sebagai toko buku udah punya value yang dipercaya sama banyak generasi. Itu juga yang jadi alasan kenapa Gramedia bisa tetap bertahan sampai sekarang.
3. Cultural truth
Sekarang tren belanja buku nggak cuma belanja langsung di toko, tapi udah mulai mix antara online dan offline.
Belum lagi tren seperti bookdate yang spesifik di Gramedia.
Ada juga tren yang lagi naik daun seperti WFA atau kerja remote yang biasanya dilakukan di cafe atau perpustakaan.
Dari ketiga framework di atas, solusi dan ide yang muncul supaya Gramedia tetap bisa diterima sama market mereka adalah dengan menciptakan toko buku yang:
1. Punya desain interior estetik dan cozy;
2. Punya koleksi buku yang lengkap;
3. Punya banyak fasilitas penunjang seperti spot baca, meja kerja, children corner, dan lain-lain.

Wujud Gramedia “idaman” itu bisa kamu lihat pada Gramedia Jalma yang ada di pusat keramaian Jakarta alias Blok M, Melawai.
Jalma sendiri berasal dari bahasa Sunda – Jawa yang artinya manusia. Gramedia pengin ngasih ruang buat setiap individu yang terhubung lewat buku.
Apalagi di sana Blok M banyak orang-orang dengan berbagai macam aktivitas kaya berwisata kuliner, nongkrong, dating sampai jadi tempat kumpul komunitas.
Menjadi Bisnis yang Sustainable dengan Dukungan Digital Marketing
Kisah Gramedia membuktikan bahwa bisnis yang bertahan dan bertumbuh adalah bisnis yang bisa beradaptasi. Makannya Gramedia gencar banget melakukan perubahan yang sesuai dengan perilaku konsumennya sekarang dan pastinya mulai melakukan digitalisasi.
Di sinilah peran digital marketing menjadi penting. Dengan digital marketing, bisnismu bisa mudah memahami habit pelanggan berbasis data, menjangkau audiens yang luas dan spesifik, dan meningkatkan awareness sekaligus konversi.
Melalui layanan Digital Marketing dari Belajarlagi Agency, kamu bisa mendapatkan strategi end-to-end mulai dari perencanaan, produksi konten, pengelolaan iklan, hingga optimasi performa berbasis data.
Tertarik untuk menggunakan layanan digital marketing Belajarlagi? Hubungi Belajalagi Agency untuk informasi lebih lanjut!
