d'Besto dan Lazatto Satu Grup, Strategi Diversifikasi Bisnis Keluarga

Sales

Kalau kamu penggemar brand ayam goreng krispi lokal, tentu sudah tidak asing dengan nama d’Besto dan Lazatto. Keduanya ternyata ada di satu grup bisnis keluarga yang sama, lho. Tetapi mereka hadir dengan identitas dan strategi pasar yang berbeda.

Keputusan menghadirkan kedua brand ini menarik untuk dibahas dari segi marketing.  Lantas seperti apa strategi diversifikasi bisnis keluarga ala d’Besto dan Lazatto? Berikut tim Belajarlagi jelaskan, ya!

Dari Gerobak Kaki Lima ke Kentuku Fried Chicken (KuFC)

Sebelum dikenal lewat bisnis ayam goreng, pasangan dokter hewan lulusan IPB yaitu drh. Setyajid dan drh. Evalinda Amir, sempat mencoba berbagai usaha kecil. Titik baliknya datang pada 1993, ketika Evalinda melihat pedagang ayam goreng kaki lima yang ramai pembeli. Ia kemudian mencoba resepnya selama setahun dan melakukan berbagai uji coba hingga menemukan formula yang dianggap pas.

Pada 1994, keduanya mulai menjual ayam goreng kaki lima dengan nama Kentuku Fried Chicken (KuFC). Bisnis tersebut berkembang pesat dan pada 1997 dilaporkan mampu mencatat omzet hingga Rp5 juta per hari.

Sayangnya pertumbuhan bisnis ini sempat berhenti ketika krisis moneter 1998 menghantam Indonesia. KuFC bangkrut dan meninggalkan utang sekitar Rp50 juta, menjadikannya titik terberat dalam hidup keduanya sebelum akhirnya kembali membangun bisnis ayam goreng dari awal.

Dari KuFC ke d’Besto

Nama KuFC akhirnya bertahan selama 17 tahun sebelum akhirnya berubah menjadi d’Besto pada 2011. Perubahan ini disebabkan karena namanya yang terlalu mirip dengan KFC sehingga tidak lolos proses paten. Pemilihan nama d’Besto sendiri diambil dari pelafalan Jawa “The Best to”.

Pergantian nama ini sekaligus menjadi momentum untuk meng-upgrade konsep bisnis, dari gerai kaki lima menjadi mini resto dengan sistem kemitraan agar ekspansi dapat dilakukan lebih luas.

Pengalaman ini menunjukkan pentingnya melakukan riset merek dagang sejak awal supaya masalah seperti ini tidak terjadi. Nama yang terlalu mirip dengan kompetitor terlebih brand besar dapat menimbulkan risiko hukum yang menghambat pertumbuhan jangka panjang.

Satu Keluarga, Tiga Anak Perusahaan

Kesuksesan bisnis ayam goreng yang dibangun Setyajid dan Evalinda kemudian berkembang menjadi perusahaan induk, PT Setyanda Duta Makmur. Seiring bisnis keluarga yang semakin besar, pengelolaannya pun dibagi ke dalam tiga anak perusahaan sesuai jumlah tiga putra mereka, yaitu SMK (Setya Mitra Kuliner), SKM (Setya Kuliner Mandiri), dan Team Lazatto. Ketiganya berada di bawah naungan d’Besto Grup.

Menariknya, Lazatto yang hadir pada 2018 bukanlah kompetitor yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari strategi diversifikasi produk yang sama. Dengan begitu, grup dapat mengembangkan konsep dan target pasar yang berbeda tanpa harus bergantung pada satu merek saja.

Strategi ini sangat tepat untuk mengembangkan bisnis keluarga lewat ahli waris tanpa memberikan celah konflik yang biasa terjadi di bisnis keluarga lainnya. Sebab bisnis dipisahkan menjadi beberapa unit dan masing-masing anak punya ruang berkembangnya sendiri. Contoh brand yang mengalami kebangkrutan ketika memasuki fase suksesi dihadapi Nyonya Meneer karena satu perusahaan diserahkan ke semua anaknya.

d'Besto vs Lazatto, Siapa yang Tumbuh Lebih Cepat?

Aspek d’Besto Lazatto
Tahun berdiri 1994 (KuFC) berganti nama menjadi d’Besto pada 2011 2018
Perkiraan jumlah outlet/mitra Sekitar 500-an outlet Sekitar 700-an outlet
Posisi dalam grup Brand utama yang lebih dahulu berdiri Brand diversifikasi di bawah grup d’Besto

Dari jumlah outlet yang dilaporkan, Lazatto tumbuh lebih cepat dibandingkan d'Besto. Meski lahir sekitar 24 tahun setelah bisnis ayam goreng pertama keluarga tersebut dan jauh lebih muda sebagai brand, Lazatto telah mencapai sekitar 700 outlet, sementara d’Besto berada di bawahnya dengan jumlah 500 outlet.

Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah Lazatto tidak benar-benar memulai dari nol. Sebagai brand yang lahir dari grup yang sudah memiliki pengalaman panjang, Lazatto berpotensi memanfaatkan infrastruktur operasional, jaringan pemasok, sistem kemitraan, serta pembelajaran yang sebelumnya sudah dibangun melalui d’Besto.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Strategi Grup d’Besto–Lazatto?

Keputusan d’Besto dan Lazatto untuk berkembang dalam satu grup menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis keluarga bukan hanya soal meningkatkan omzet atau menambah jumlah outlet. Di balik ekspansi tersebut, ada kebutuhan untuk membangun struktur bisnis, sistem, dan strategi brand yang dapat mendukung pertumbuhan dalam jangka panjang.

Beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari strategi grup d’Besto dan Lazatto antara lain:

1. Diversifikasi Brand dapat Menjadi Strategi Suksesi

Mengembangkan bisnis menjadi beberapa unit atau brand dapat menjadi salah satu cara untuk menyiapkan proses suksesi bisnis keluarga, terutama ketika founder memiliki beberapa anak yang nantinya akan terlibat dalam pengelolaan bisnis.

Dengan pembagian unit bisnis yang jelas, setiap anggota keluarga dapat memiliki ruang untuk mengembangkan bisnis masing-masing tanpa harus memperebutkan kendali atas satu entitas bisnis. Di sisi lain, grup tetap dapat memanfaatkan sistem dan sumber daya yang telah dibangun bersama.

2. Brand Baru dapat Scaling Lebih Cepat dengan Infrastruktur yang Matang

Lazatto juga menunjukkan bahwa brand yang lahir belakangan tidak selalu harus membangun bisnis dari nol. Ketika infrastruktur bisnis seperti sistem operasional, rantai pasok, sumber daya manusia, hingga pengalaman mengelola outlet sudah tersedia, brand baru dapat memanfaatkannya untuk mempercepat proses scaling.

Artinya, pengalaman dan sistem yang dibangun oleh brand utama dapat menjadi fondasi bagi pengembangan brand berikutnya.

3. Riset Merek Dagang Perlu Dilakukan Sejak Awal

Perjalanan KuFC yang kemudian berganti nama menjadi d’Besto menunjukkan bahwa pemilihan nama brand bukan hanya persoalan kreativitas dan pemasaran. Nama yang digunakan juga perlu dipastikan tidak menimbulkan persoalan hukum atau konflik dengan merek yang sudah terdaftar.

Karena itu, riset merek dagang sebaiknya dilakukan sebelum nama digunakan secara luas, terutama ketika bisnis sudah memiliki rencana untuk membangun brand dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, pertumbuhan bisnis keluarga membutuhkan lebih dari sekadar ekspansi. Strukturisasi bisnis, strategi brand, sistem operasional, dan perencanaan suksesi perlu dipikirkan secara beriringan agar bisnis dapat terus berkembang sekaligus memiliki fondasi yang kuat untuk diteruskan ke generasi berikutnya.

Belajarlagi Corporate Training

Prinsip tersebut juga relevan dengan pembelajaran dalam program Belajarlagi Corporate Training. Melalui program yang berkaitan dengan sales maupun digital marketing, peserta tidak hanya mempelajari cara mempromosikan sebuah brand, tetapi juga memahami bagaimana menyusun strategi brand dan bisnis secara lebih menyeluruh di dunia digital.

Untuk mengetahui program dan kebutuhan pelatihan yang sesuai dengan bisnis Anda, kunjungi Belajarlagi Corporate Training.

Referensi

Temukan Hal Menarik dan Asyik Lainnya

Yuk, Langganan Newsletter Kami

Topik apa yang paling menarik untuk anda?
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Cookie Consent

By clicking “Accept”, you agree to the storing of cookies on your device to enhance site navigation, analyze site usage, and assist in our marketing efforts. View our Privacy Policy for more information.

Cookie preferences