Crisis Marketing SPBU Shell Di Tengah Kekosongan Bahan Bakar

Marketing Theory

Akhir 2025, timeline berita di Indonesia sempat ramai soal kelangkaan BBM di banyak SPBU swasta termasuk Shell. Kekosongan BBM di Shell membuat kondisi mereka  sangat mengkhawatirkan, terlebih banyak karyawan yang terancam terkena PHK karena masalah ini.

Tidak ingin tinggal diam, di beberapa SPBU Shell, muncul gerakan-gerakan yang dilakukan oleh para pekerja demi tetap bertahan di tengah krisis. Mulai dari berjualan kopi, makanan ringan, oli, hingga layanan bengkel.

Nah, dari berita ini tim Belajarlagi ingin menyoroti lebih jauh soal strategi marketing Shell yang disebut augmented product and cross selling sebagai crisis marketing. Karena bisa dilihat, usaha mereka terbukti mendatangkan banyak simpati dari masyarakat. Sejumlah aksi solidaritas bermunculan untuk selamatkan karyawan dan menjaga eksistensi Shell sebagai penyedia BBM di Indonesia.

Konsep Augmented Product dan Cross Selling ala Shell

Konsep Augmented Product dan Cross Selling ala Shell

Dalam konsep Product Levels Kotler di bisnis Shell, ada core product yaitu BBM, actual product yaitu jenis bensin, dan augmented product yaitu fasilitas tambahan seperti minimarket, bengkel, toilet bersih, dan kafe.

Karena core product alias BBMnya lagi kosong, Shell memilih buat memperkuat augmented product-nya supaya value experience tetap ada. Mereka masih ingin menjaga loyalitas pelanggan.

Ketika produk utama nggak bisa ditawarkan, brand mendorong layanan pendukung supaya konsumen tetap datang. Mereka mulai gencar promosi layanan non-bahan bakar seperti F&B dan bengkel.

Ini mirip strategi substitusi value, “Kamu tetap dapat manfaat dengan datang ke Shell meskipun nggak bisa isi BBM.”

Strategi ini umum di SPBU global, bahkan Exxon, BP, atau Total juga mengandalkan 30-40% revenue dari convenience store dan F&B, bukan hanya dari penjualan BBM aja.

Dalam kasus Shell Indonesia, langkah ini bisa dilihat sebagai survival marketing untuk menjaga arus kas ketika produk utama terganggu.

Karena masalah utama adalah supply disruption, maka pergeseran fokus ini juga bisa dikategorikan sebagai crisis marketing.

Intinya “turning a weakness into an opportunity” dengan mengandalkan ekosistem layanan. Di sini, Shell menjual produk atau jasa di luar core product agar brand tetap bertahan meski bahan bakar kosong.

Belajar Digital Marketing Bersama Belajarlagi

Penjualan kopi, makanan ringan, hingga layanan bengkel yang dilakukan SPBU Shell menunjukkan bahwa marketing bukan cuma soal menjual produk utama. Ketika situasi berubah, brand yang bisa beradaptasi dengan strategi marketing yang tepat justru punya peluang untuk tetap bertahan bahkan menarik pelanggan baru.

Kalau kamu ingin memahami strategi seperti ini lebih dalam, mulai dari konsep marketing, studi kasus brand, sampai cara menerapkannya di bisnis, kamu bisa memilih layanan pemasaran digital dari Belajarlagi Agency. 

Di sana kamu akan belajar strategi marketing di era digital, mulai dari teori hingga praktik langsung bersama profesional digital marketing. Hubungi Belajarlagi Agency untuk informasi lebih lanjut!

Temukan Hal Menarik dan Asyik Lainnya

Yuk, Langganan Newsletter Kami

Topik apa yang paling menarik untuk anda?
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.
Cookie Consent

By clicking “Accept”, you agree to the storing of cookies on your device to enhance site navigation, analyze site usage, and assist in our marketing efforts. View our Privacy Policy for more information.

Cookie preferences