Jika perusahaan lain mengalami peningkatan omset setelah menambah cabangnya, berbeda dengan CFC yang justru revenuenya meningkat lebih dari 56% setelah menutup 19 cabangnya pada 2019 – 2020. Pada tahun ini, diasumsikan terjadi pengurangan cabang efek dari pandemi Covid-19.
Dari data yang diperoleh Tim Belajarlagi, meskipun menutup banyak cabangnya, omset CFC pada 2020 – 2021 naik drastis dari Rp300an miliar ke Rp700-an miliar. Apa yang dilakukan CFC sampai bisa meningkatkan omsetnya setinggi itu? Untuk lebih detailnya, Tim Belajarlagi jelaskan di bawah, ya!
Data di Balik Turnaround CFC 2019 – 2021
Jika dilihat dari laporan tahunan 2019 CFC, mereka memiliki sekitar 287 gerai. Namun saat virus Covid-19 menjadi permasalahan global dan Indonesia menetapkan status pandemi, CFC terpaksa menutup sekitar 19 cabangnya. Akibat dari penutupan ini, revenue CFC turun ke sekitar Rp300 miliar pada 2020.

Anehnya, terjadi lonjakan omset pasca penutupan 19 outlet sebesar 56% lebih pada tahun 2021 menjadi Rp700 miliar. Ternyata ini semua bisa terjadi karena CFC menerapkan dua strategi penting.
2 Strategi di Balik Revenue CFC
Naiknya omset CFC secara “gila-gilaan” ini bukan hasil dari keberuntungan semata. Mereka menggunakan strategi utilize asset dan penetrasi pasar yang lebih sehat.
1. Optimalisasi Aset yang Sudah Ada, Bukan Ekspansi Baru
CFC mematahkan pendapat orang yang berekspektasi bisa menambah revenue dengan membuka cabang baru. CFC justru bisa meningkatkan revenue hingga berkali-kali lipat dengan fokus ke cabang yang sudah menguntungkan.
Dari sudut pandang ekonomi, cara ini lebih efektif karena ekspansi cabang baru justru menambah pengeluaran misalnya sewa lokasi, rekrutmen, dan peralatan yang butuh waktu lama untuk balik modal. Sementara cabang eksisting punya marginal cost yang jauh lebih rendah untuk peningkatan revenue yang sama. Perusahaan hanya perlu mengevaluasi performa, memberikan promo yang tepat, meningkatkan kualitas produk, dan investasi ke SDM.
2. Penetrasi Pasar Lewat Kolaborasi Strategis dengan KAI
Karena terus melakukan evaluasi dan berbenah, CFC jadi tahu cabang mana saja yang menghasilkan keuntungan dan produk mana yang laku.
Dari data tersebut, CFC memutuskan untuk memperluas kehadiran mereka di stasiun-stasiun kereta api di Indonesia. Bukan hanya stasiun kereta api lokal, tetapi juga stasiun KRL. Di lokasi khusus ini, mereka rutin mengganti menu meskipun ada menu favorit seperti side dish dan paket ayam yang tidak pernah diganti.
Meskipun ukuran outlet di stasiun lebih kecil, namun secara struktural itu lebih menguntungkan. Sebab biaya operasional rendah (tidak membutuhkan ruang besar dan sedikit staff) dikombinasikan dengan traffic tinggi dengan model beli – cepat atau grab and go yang mempercepat perputaran transaksi per jam dibandingkan outlet biasa.
Perbandingan dengan Strategi Brand F&B Lain
Setiap brand memiliki strategi pemasaran yang berbeda. Ada brand yang berfokus pada konsolidasi dan optimalisasi seperti CFC, namun ada juga yang melakukan ekspansi aktif seperti Kopi Kenangan yang bisa membuka 1.000 lebih outlet.
Menariknya, tidak ada strategi yang selalu lebih unggul. CFC membuktikan bahwa pertumbuhan revenue bisa dicapai melalui konsolidasi dan pemanfaatan aset yang sudah ada secara lebih efektif.
Di sisi lain, Kopi Kenangan menunjukkan bahwa ekspansi agresif dapat mempercepat pertumbuhan pasar ketika didukung modal, sistem operasional, dan permintaan yang kuat. Pilihan antara konsolidasi atau ekspansi pada akhirnya bergantung pada kondisi keuangan perusahaan, tingkat kematangan bisnis, serta peluang pasar yang tersedia.
Kapan Bisnis Sebaiknya Konsolidasi, Kapan Harus Ekspansi?
Pelajaran penting dari CFC adalah keputusan bisnis terbaik lahir dari analisis data yang mendalam. Selain itu ada empat hal penting yang diterapkan CFC, yaitu:
- Sebelum ekspansi, evaluasi dulu apakah cabang existing sudah optimal, banyak bisnis buru-buru buka cabang baru padahal masih ada ruang untuk perbaikan di cabang yang sudah ada
- Pertimbangkan cost structure lokasi baru, apakah menambah cost besar (sewa mahal, banyak staff) atau bisa mengambil model grab-and-go yang lebih efisien
- Kolaborasi strategis dengan partner yang punya traffic tinggi seperti KAI bisa jadi cara ekspansi yang lebih murah dibanding buka lokasi mandiri
- Data adalah kunci, CFC bisa bikin keputusan tepat karena mereka evaluasi performa cabang secara detail, bukan asumsi
Pendekatan seperti ini juga banyak dibahas dalam strategi bisnis dan digital marketing. Sebab pada akhirnya, pertumbuhan yang sehat bukan hanya soal menambah jumlah cabang atau pelanggan, melainkan memastikan setiap keputusan ekspansi didukung data, profitabilitas yang jelas, dan model bisnis yang dapat bertahan dalam jangka panjang.

Jika Teman Belajar tertarik untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis lewat digital marketing, silakan ikuti Program Fullstack Digital Marketing Belajarlagi!
Referensi
