Industri parfum di Indonesia memang sedang mengalami lonjakan yang signifikan. Hal ini tidak lepas dari pengaruh salah satu brand parfum lokal yang membuka jalan untuk perkembangan parfum di Indonesia yaitu HMNS. HMNS sendiri diciptakan dengan modal terbatas namun memiliki strategi marketing yang khas sehingga membuat mereka bisa berada di titik puncak saat ini.
Meskipun dihadapkan dengan berbagai tantangan, namun CEO HMNS yakni Rizky Arief Dwi berhasil melewatinya dengan menerapkan setidaknya tiga pilar strategi marketing yang sempat ia paparkan di podcast Raditya Dika. Berikut tim Belajarlagi jelaskan untuk Teman Belajar semua, ya!
Latar Belakang HMNS, Membangun Brand di Tengah Ekosistem yang Belum Ada
HMNS sendiri baru berdiri pada tahun 2019, pada saat itu parfumer di Indonesia masih sangat sedikit. Kak Rizky selaku CEO HMNS bahkan menyebutkan bahwa di awal peluncurannya, parfumer di Indonesia jumlahnya nggak lebih dari jari tangan. Jadi Kak Rizky sendiri sempat mengalami kesulitan untuk mencari referensi brand lokal untuk dijadikan benchmark.
Setelah sukses, HMNS bisa dibilang mampu membuka jalan bagi industri parfum lokal lainnya untuk berkembang. Berdasarkan data Statista, pasar industri beauty and personal care di Indonesia yang di dalamnya ada kategori parfum, diproyeksikan mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 4,40% per tahun selama periode 2023–2038.
Sejalan dengan tren tersebut, nilai industri parfum lokal diperkirakan meningkat dari US$ 373,09 juta (sekitar Rp5,54 triliun) pada 2018 menjadi US$ 491,36 juta (sekitar Rp7,68 triliun) pada 2028.
3 Strategi HMNS yang Bisa Dipelajari Founder dan Marketer
Ada banyak hal yang bisa dipelajari oleh founder dan marketer dari kesuksesan HMNS membangun bisnis parfum di Indonesia. Setidaknya ada tiga strategi penting yang berhasil tim Belajarlagi rangkum, yaitu soal copywriting, sistem build-measure-learn, dan campaign marketing yang unik.
1. Copywriting Marketing untuk Membangun Brand yang "Humanis"
Sebelum mendirikan bisnis parfum, Kak Rizky punya latar belakang di bidang content writer. Dengan berbekal kemampuan menulisnya itu, Rizky aktif mempromosikan HMNS lewat Twitter dengan metode story telling atau bercerita.
Dari copywriting ini, Kak Rizky membuat HMNS terkesan lebih humanis. Bukan sekedar brand yang menjual produk, tetapi brand yang membuat konsumen merasa diperhatikan dan dekat.
2. Sistem Build-Measure-Learn (BML), Validasi Pasar dengan Modal Terbatas
Saat mau memulai bisnis parfum, kak Rizky lamgsung menemui kendala lantaran tidak ada referensi brand lokal yang bisa ia jadikan referensi. Maklum saja, di tahun itu parfumer Indonesia sangat sedikit, mungkin berkisar di 3 – 5 orang saja.
Maka dari itu Kak Rizky menyusun strategi konkret dari hulu ke hilir:
- Hulu: Bekerja sama dengan 1 perfumer dari fragrance house, dengan modal terbatas nego vendor untuk produksi 100 botol sekitar Rp8 juta.
- Hilir: Menjual dengan sistem Pre-Order (PO) dalam jumlah terbatas untuk validasi pasar sebelum produksi massal.
Dalam dunia marketing, sebenarnya strategi ini lekat dengan filosofi lean start up. Maksudnya, brand mencoba memvalidasi permintaan pasar sebelum produksi besar-besaran. Ini sangat efektif mengurangi risiko modal yang terbuang untuk stok yang belum tentu terjual.
Orang-orang yakin melakukan PO meski belum pernah mencoba aromanya langsung, ini bukti bahwa trust yang dibangun lewat story telling di poin pertama benar-benar berbuah jadi keputusan pembelian nyata.
3. Marketing Campaign yang Beda dari Kebanyakan Brand
Marketing campaign yang dilakukan HMNS terbilang anti mainstream. Setidaknya ada dua contoh kasus yang berhasil menarik perhatian tim Belajarlagi:
Campaign Donasi Bencana Banjir Sumatera
HMNS mendonasikan nominal yang disamakan dengan jumlah followers Instagram mereka saat itu. Kampanye solidaritas ini bisa dinilai sebagai bentuk komitmen ke komunitas yang terukur dan transparan, bukan sekadar gesture public relation semata.
Kolaborasi dengan Sekolah Farmasi ITB
Jika kebanyakan brand besar Indonesia mulai collab dengan idol atau artis K-Pop, berbeda dengan HMNS yang justru memilih kolaborasi dengan sekolah farmasi ITB. Hal ini bisa kredibilitas keilmuan produk, bukan sekadar menambah exposure lewat fanbase.
Di tengah tren kolaborasi bersama brand-artis besar yang mulai terasa monoton, HMNS menunjukkan bahwa kolaborasi paling berdampak adalah yang relevan dengan value inti produk, bukan sekadar mengejar jumlah followers kolaborator.
Apa yang Bisa Dipelajari Founder Bisnis Lain dari HMNS?
Keberhasilan HMNS menunjukkan bahwa bisnis tidak selalu harus menunggu pasar untuk bertumbuh. Saat pasar dan kompetitor masih minim, founder memiliki peluang lebih besar untuk membentuk standar dan mengedukasi konsumen dari awal.
Beberapa pelajaran yang bisa diterapkan:
- Minimnya benchmark bukan hambatan, tetapi peluang untuk membangun kategori dan positioning yang lebih kuat.
- Sistem PO bisa menjadi cara efektif untuk memvalidasi permintaan pasar tanpa membutuhkan modal besar.
- Storytelling yang konsisten mampu membangun trust dan mendorong pembelian, bahkan untuk produk yang idealnya perlu dicoba langsung seperti parfum.
- Kolaborasi yang relevan dengan value produk seringkali memberikan dampak lebih besar dibanding kolaborasi yang hanya mengejar viralitas.
Sebenarnya pendekatan framework BML dan validasi yang dilakukan HMNS ini bisa teman Belajar dapatkan dengan mempelajari digital marketing dan entrepreneurship secara utuh.

Di program Full Stack Digital Marketing Belajarlagi, Teman Belajar akan mempelajari cara melakukan validasi pasar, menyusun storytelling yang efektif, menjalankan campaign digital, hingga mengukur performa bisnis secara terstruktur. Yuk, daftar Full Stack Digital Marketing Belajarlagi sekarang!
Referensi
- Podcast Raditya Dika. Inilah Bos Parfum Indonesia.
- UMKM ID. Bisnis Parfum ala HMNS, Produk Lokal Saingi Parfum Kelas Dunia.
- Shift ID. Rahasia Sukses HMNS: Storytelling, Komunitas, dan Inovasi.
