Pada tahun 2014-an, Transmart sempat jadi mall yang cukup banyak diperbincangkan. Salah satu stasiun swasta bahkan getol menayangkan iklan tentang Transmart yang identik dengan mall yang punya wahana hiburan keren dan tempat belanja yang murah.
Sayangnya outlet Transmart makin ke sini makin banyak yang “berguguran” dan bahkan banyak narasi memprediksi kalau mereka akan sulit bertahan lama.
Kalau tim Belajarlagi telisik lebih dalam, Transmart ini punya strategi-strategi yang cukup oke salah satunya konsep 4 in 1 Experience Layout di mana pengunjung bisa belanja + makan + main + nonton bioskop di 1 tempat.
Terus kenapa eksistensi Transmart makin menurun? Tim Belajarlagi ulik di sini!
Awal Mula Kemunculan Transmart
Transmart ini punya CT Corp yang outlet awalnya berdiri tahun 2014.
Ini bermula dari CT Corp yang mengakuisisi Carrefour Indonesia dari perusahaan Prancis, Carrefour SA.
Tahun 2013 – 2014, mulai dilakukan rebranding bertahap dari Carrefour menjadi Transmart Carrefour lalu dibangunlah ekosistem terintegrasi antara Bank Mega, Trans Studio, Trans TV, dan Trans Fashion.
Rebranding dilakukan untuk mengubah tempat belanja kebutuhan pokok menjadi tempat belanja + rekreasi keluarga atau retailtainment.
Keberhasilan mereka menyebarkan informasi atau awareness nggak lepas dari peran Bank Mega dan Trans TV yang terus-terusan mengiklankan Transmart.
Konsep retailtainment inilah yang berhasil mengantarkan Transmart ke puncak kejayaannya pada tahun 2016 – 2019 sampai punya kurang lebih 130 outlet aktif.
Penutupan 80 Outlet Lebih dalam 1 Tahun
Pandemi covid-19 nggak cuma merugikan UMKM, bahkan perusahaan besar sekelas Transmart juga termasuk yang terkena dampak negatifnya.
Ini bermula dari habit belanja yang berbuah, di mana customer lebih belanja online di marketplace dan e-grocery.
Akhirnya gerai Transmart mengalami penurunan traffic yang signifikan dan hingga 2012 Transmart telah menutup 12 gerai yang tersebar di Jabodetabek dan Sumatera.
Selain habit belanja yang berubah, downfall era Transmart juga disebabkan beberapa hal lain, seperti:
1. Model Bisnis Hypermarket sudah Tidak Relevan
Data NielsenIQ (2022) juga menunjukkan kalau pangsa pasar hypermarket di Indonesia turun dari 25% (2015) jadi cuma 12% (2022).
Alasannya karena masyarakat sekarang mau yang serba cepat. Dari pada harus muter-muter mall yang besar, mereka memilih datang ke minimarket saja untuk belanja.
2. Ukuran Outlet Terlalu Besar
Ada juga alasan ukuran toko yang besar nggak sesuai dengan daya beli konsumen lokal.
Beberapa outlet Transmart yang ada di kota tier 2 dan 3 punya ukuran yang sama dengan Transmart di Jakarta. Tapi traffic-nya berbeda karena daya beli konsumennya juga berbeda, sehingga jadi nggak sebanding dengan biaya operasionalnya.
3. Persaingan Ketat
Muncul banyak mall pesaing tetapi sayangnya Transmart belum punya inovasi yang bisa dirasakan secara personal oleh para konsumennya.
Mereka relatif lambat untuk memberikan strategi-strategi marketing baru, seperti:
- Aplikasi Transmart Delivery baru aktif setelah 2021;
- Belum ada sistem membership digital kaya Alfagift atau Indomaret Poinku. Membership cuma berlaku buat pengguna Bank Mega atau Allo Bank;
- Banyak diskon yang cuma berlaku untuk pengguna Bank Mega atau Allo Bank.
4. Persepsi “Mahal” di Mata Konsumen
Banyak yang punya persepsi harga di Transmart lebih tinggi dibanding pasar tradisional atau marketplace.
Nah lagi-lagi banyak produk yang promo cuma buat pengguna Bank Mega atau Allo Bank saja. Karena terlalu tersegmentasi akibatnya Transmart sulit menjangkau pasar yang lebih luas.
Bijak Menerapkan Strategi untuk Perusahaan
Sampai sekarang sepertinya Transmart masih struggling untuk bisa fit dengan market. Makannya nggak heran kalau outletnya makin banyak yang tutup.
Dari Transmart sebenarnya kita bisa belajar kalau strategi dalam mengelola bisnis harus dipikirkan matang-matang. Sebab salah dalam melangkah bisa mengakibatkan kerugian yang besar.
Begitu pun dalam menjalankan pemasaran digital. Pastikan untuk berkonsultasi dengan para ahli dari Belajarlagi Agency untuk mendapatkan insight baru yang berguna bagi kelangsungan bisnis perusahaanmu. Jika ada pertanyaan terkait paid ads, SEO, manajemen sosial media hingga 360 digital marketing, segera hubungi Belajarlagi Agency, ya!
Referensi
- NielsenIQ. The 2022 state of consumers.
